Minggu, 03 Mei 2020

Korelasi antara Kelemahan Diri dengan Spiritualitas


Hai, folks. Well, lama saya nggak blogging, mencurahkan segala sesuatunya ke dalam blog yang mungkin udah agak ketinggalan jaman akibat banyak orang yang mulai malas baca akhir-akhir ini (dan hal tersebut juga sebenarnya jadi salah satu keuntungan bagi saya, karena saya jadi lebih leluasa untuk mengeluarkan uneg-uneg yang ada di pikiran selama ini sih hehehe). By the way, di masa-masa pandemi seperti ini, segala sesuatunya sedang mengalami penundaan, mulai dalam bidang pekerjaan, perencanaan liburan, niatan-niatan tertentu, dan tentu aja sampai ke dalam hal relationship bersama seseorang.


Untuk urusan relationship, saya sedang mengalaminya.


Hari ini, di samping saya menulis di blog lagi untuk mengutarakan uneg-uneg, saya juga sempat mengekspresikan uneg-uneg tersebut melalui sebuah gambar sederhana. Ini dia gambarnya:

Ini adalah gambar saya sendiri beserta ilustrasi seseorang yang suatu saat akan jadi 'the right one' bagi saya.
Oh belum, saya belum menemukan siapa orangnya.


Gambar di atas menjelaskan ungkapan saya mengenai 'the right one' alias seseorang yang akan menjadi pasangan yang tepat untuk diri kita. Saya berpikiran bahwa seseorang yang mempunyai frekuensi yang sama dengan kitalah yang nantinya akan benar-benar bisa memahami kita, ibarat hanya serigala aja yang bisa membalas lolongan antar sesamanya.


Hal tersebut pun diamini oleh Ana, salah seorang teman saya yang berasal dari Spanyol.


I'm glad to know that I'm not the only one who has a concept, thought, or an ideology about understanding as a ground rule of a relationship.


Here we go to the main topic.


Kalian tahu nggak apa kendala saya dalam mencari seseorang sebagai pasangan? Biasanya cewek yang saya deketin:

  1. Lama-lama menjauh entah apa sebabnya.
  2. Lama-lama malah terobsesi sampai melakukan hal-hal yang nggak wajar.

I'm not lying about this, seriously. Tanya aja siapapun teman-teman yang ngerti pengalaman saya ini. Menurut saya, kedua hal tersebut terjadi akibat perbedaan frekuensi yang terlalu mencolok. Saya memang kalau udah sayang sama orang, apapun saya kasih buat dia. Mulai dari perhatian, nasihat, waktu, prioritas, everything. Jor-joran kalau saya boleh bilang, and of course I do it passionately, and intensely. Masalahnya, ada yang terlalu takut untuk meneruskan, ada pula yang terlalu meminta. Semuanya sama sebabnya: karena mereka sebelumnya nggak pernah dicintai oleh seseorang sampai segitunya. Makanya sampai saat ini saya lebih memilih untuk nunggu, lagi, cari yang beneran 'aman' untuk dicintai sesuai dengan cara saya mencintai (meskipun risiko pasti tetap ada ya). Ada nggak sih yang beneran bisa klop sama saya? Udah, pertanyaan satu itu aja yang masih ada di pikiran. It's always about such a question.




No, I'm not whining or something. Justru malah bertanya-tanya sendiri, kenapa yang lain bisa semudah itu, tapi saya kok malah sesulit ini? Padahal butuhnya satu orang aja lho, nggak usah banyak-banyak, bikin pusing. Saya bertanya-tanya begini: apa sih yang Universe mau dari situ? Biar saya makin banyak belajar? Supaya dari kesalahan saya itu, saya bisa kasih wejangan atau coaching ke yang lain? Mungkin, bisa jadi. Tapi mau sampai kapan? Itu udah. Meskipun kepastian itu malah seperti jadi semacam blockage untuk surrender ya, tapi yang namanya manusia itu ya pasti masih merasakan capek. Ya mau nggak mau kan.


Biasanya ya, buat menghibur diri dari kegagalan yang berulang ini, saya balik ke spiritual mode. Itu pasti. Soalnya saya bisa jadi masa bodo sama segalanya, bahkan sama keinginan saya sendiri. Ingatnya malah mati mulu lho, jadi punya pikiran:

"Duh kalau gue mati juga semua yang ada di sini juga nggak bakal gue bawa kan? Why bother? Why needing? Toh gue juga udah dikasih apapun yang sebetulnya gue butuhkan. Kurang bersyukur amat ya gue."

Alhasil jadi total surrender pada akhirnya, meski kadang masih kumat-kumatan kudu beginilah, kudu begitulah. But it works, eventually. Dari situ saya malah merasa jadi makin dekat sama Tuhan, karena cuma Dia yang saya butuhkan pada saat itu.




Daaan... ya begitulah spiritualisme bekerja. Jadi dengan penempaan seperti itulah saya bisa merasa Tuhan itu sebenarnya deket banget kalau kita ngerti gimana cara ngontak Dia. Yang jelas, Dia nggak akan bisa dikontak melalui omongan, bacaan, atau apapun yang masih dipikir pakai akal. Bisanya pakai apa? Nurani, rasa, jiwa. Itu udah. Pernah kejadian kok, mau saya baca surat apalah sampai 1000x yang mungkin bisa bikin bibir saya jadi monyong, atau dzikir sampai sebanyak 999x juga, malah ujung-ujungnya saya jadi stress. Karena dengan hal seperti itu, saya malah jadi fokus ke keinginan saya supaya segera terwujud, bukan fokus ke bagaimana saya bisa keluar dari permasalahan yang saya hadapi. Padahal, nggak semua keinginan bisa terwujud kan, karena keinginan yang nggak terwujud itu terkadang adalah sebuah bentuk pengalihan dari Tuhan agar kita mendapatkan sesuatu atau seseorang yang lebih baik, yang tentu aja kita butuhkan. Nah beda cerita lagi, saya pernah melakukan ibadah malam (shalat tahajjud kalau kepercayaanmu Islam ya). Di saat ibadah malam, apalagi dengan niatan surrender dalam sujud atau apapun cara ibadahmu, itu menurutku yang BISA BANGET untuk mengontak Tuhan. Dari situ saya bisa mengerti bahwa Tuhan itu baru bisa dirasakan kehadirannya kalau kamu udah surrender atau pasrah aja mau gimana sama hidupmu. Pasrah bukan berarti niat mati lho ya, itu nyerah namanya.




"Ah Dika mulai baper lagi kan."


Ada lho yang berkomentar begitu. Masih aja.


Mereka bisa bilang begitu karena kelemahan mereka memang bukan di bidang relationship. It's my biggest weakness because I prone to feel lonely, especially since not everybody can understand me easily. Tuhan itu ngasih kita cobaan berdasarkan titik lemah kita. Supaya apa? Supaya bisa atau nggak kita memperkuat diri berdasarkan kelemahan itu. Katakanlah lemahmu itu dalam hal finansial, di saat Tuhan ngasih cobaan dengan memberi kamu kerugian finansial secara signifikan, kamu pasti juga akan jadi sebaper ini. Itu jelas. Saya pun pasti ada pikiran buat ngatain kamu,

"Ah elah, uang mah bisa dicari lagi."

Kesel nggak kamu dikatain begitu? Iyalah.


Because everyone has their own weakness, including you. But how to make your own weakness as something which can strengthen you and can define your worthiness, that's a whole different thing, and it can be a sign that you are indeed a mentally strong person.