Hello, folks. Well, udah kurang lebih satu bulanan ini saya sedang mengalami fase yang bisa dibilang berat. Kenapa? Karena saya sedang mengalami fase hidup yang disebut dengan istilah ascension. Sebagai seseorang yang memang mendedikasikan hidup di jalan spiritualisme ketimbang religius, saya udah pernah dan akan mengalami fase ascension ini sampai waktu yang nggak ditentukan. Nah, fase ascension yang saya maksud punya kaitan erat dengan satu istilah lagi dalam dunia spiritual yang bernama spiritual awakening yang udah saya alami beberapa tahun yang lalu.
Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan spiritual awakening maupun ascension di atas? Nah di sini saya akan menjelaskan sedikit-banyak mengenai keduanya berdasarkan pengetahuan yang udah saya pahami dan tentu aja udah saya alami pula.
"Going through a spiritual awakening is one of the most confusing, lonely, alienating, but also supremely beautiful experiences in life."
Spiritual awakening atau kebangkitan spiritual adalah tanda awal bahwa seseorang akan (dan pasti) mendedikasikan hidupnya di jalan spiritual. Tanpa mengalami adanya kebangkitan spiritual, kita hanya akan menjalani kehidupan untuk mengejar kehampaan dunia, misalnya uang, ketenaran, kekuatan, dan rasa gila hormat dalam upaya untuk menemukan apa itu makna "kebahagiaan."
Hal yang menandai datangnya kebangkitan spiritual biasanya munculnya sebuah perasaan hampa sekaligus keinginan kuat untuk "bahagia" di jalan yang lain, terlebih di jalan non-duniawi, dan perasaan tersebut biasanya datang pada saat yang paling nggak diharapkan, sebab nggak mungkin pula bagi kita untuk bisa merencanakannya. Kesadaran spiritual datang ke dalam hidup seseorang dan mengguncang segalanya layaknya tornado. Tapi hal tersebut sebenarnya merupakan karunia tersembunyi dari Tuhan karena kesadaran spiritual biasanya akan terjadi pada waktu yang tepat yang paling kita butuhkan.
"Spiritual awakenings are the soul’s cry for freedom. Listen to its call and your life will be transformed into something meaningful and significant. Refuse its call and your life will be like a graveyard."
Pada dasarnya seluruh manusia hidup memiliki tugasnya sendiri-sendiri ketika dilahirkan ke dunia, meski dengan tujuan yang sama yaitu berguna bagi sesamanya, dan satu tujuan bebas untuk diri sendiri yaitu menjadi pribadi yang bahagia dan tahu tujuan hidupnya di dunia. Namun, hal ini baru bisa dilakukan jika kita telah berkembang menjadi seseorang yang lebih baik.
Nah, untuk menjadi seseorang yang lebih baik, kita harus mau berproses, dan proses yang harus dihadapi oleh tiap manusia itu berbeda-beda. Ada yang harus mengalami krisis finansial dulu, atau mengalami masalah dalam hubungan percintaan dulu, atau nggak juga mendapat pekerjaan, atau selalu merasa belum menemukan jati diri yang sebenarnya yang biasanya akan terjadi di setelah seseorang menginjak usia tertentu (I figured it out that I am an empath and an indigo adult when I'm 22 and 23 respectively). Kondisi tersebut biasanya merupakan titik start dimana seseorang akan mulai mengembangkan dirinya, terlebih di kualitas spiritualnya. Ketika proses ini dijalani dengan penuh kesabaran, kita akan menemukan diri kita yang baru. Kita akan meninggalkan diri kita yang menyedihkan, tertekan, bingung, maupun khawatir tentang masa depan. Kita akan terlahir kembali menjadi pribadi yang bahagia, optimis, dan penuh harapan akan masa depan.
| "Kebangkitan spiritual dimulai ketika seseorang menyadari bahwa dia tidak akan bisa pergi kemana pun dan tidak mengetahui pula kemana dia harus melangkah." |
Nah, gimana sih proses kebangkitan spiritual ini terjadi?
Ketika kita mengalami kebangkitan spiritual, kita secara harfiah “terbangun” untuk hidup. Kita mulai mempertanyakan kepercayaan lama kita, kebiasaan lama, aturan-aturan dan kondisi sosial kita, serta melihat bahwa sebenarnya ada lebih banyak hal dalam kehidupan yang belum kita ketahui dan pelajari.
Di saat itu, wajar bagi kita untuk bertanya-tanya seperti, "Kenapa saya hidup di sini?" "Apa sih tujuan hidup saya?" "Apa ya yang terjadi setelah kematian?" "Masa benar seperti itu? "Bukannya Tuhan itu Maha Penyayang? Kenapa Dia menyiksa hamba-Nya? Bukannya itu kontradiksi?" "Kenapa sih orang baik sering menderita?" dan pertanyaan lain yang berlandaskan fundamental mengenai kehidupan, yang selama ini terpendam karena nggak terpikirkan atau kita takut untuk mempertanyakan sebelum kebangkitan spiritual ini terjadi. Ketika kita mengalami kebangkitan spiritual, kita mungkin ingin menemukan arti hidup itu sebenarnya apa, dan ingin mencari tahu apakah ada "keadaan yang lebih baik" daripada sekadar hidup. Mencari Tuhan, atau Sang Sumber, atau Semesta (terserah gimana kamu mau menyebutnya) adalah keinginan utama selama pengalaman ini terjadi.
Spiritual awakening terjadi sebagai hasil dari jiwa seseorang yang mengalami proses evolusi, perkembangan, dan mengalami pendewasaan. Sama seperti segala sesuatu dalam kehidupan, ibarat pohon, hewan, bahkan kita sendiri yang tumbuh dan berkembang, jiwa kita pun juga mengalami hal yang serupa. Semakin kita terhubung ke jiwa kita (baik secara sengaja atau nggak sengaja), semakin kita akan mengalami sebuah transformasi. Semakin kita mengenali jiwa kita, semakin kita akan merasakan kebahagiaan, kedamaian, kepuasan, kebebasan, dan tentu aja cinta.
Tapi namanya juga proses, proses terjadinya spiritual awakening dapat terasa menyakitkan dan mengganggu pada awalnya. Ibarat seekor ulat yang sedang bermetamorfosis untuk menjadi seekor kupu-kupu, atau seekor ular yang sedang berganti kulit, yang pada akhirnya hasilnya akan membantu kita untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Akan ada sebuah sensasi bahwa hidup kita sebelumnya terasa nggak masuk akal lagi, itu karena semua kepercayaan, keinginan, dan paradigma lama kita udah terbukti nggak benar. Awalnya memang susah dipercaya, tetapi hal tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan kita untuk lebih sadar akan adanya sesuatu yang lebih dalam dan bermakna.
Berikut ini adalah tahap-tahap dimana seseorang sedang mengalami kebangkitan spiritual, di antaranya adalah:
Tahap 1 - Ketidakbahagiaan, kesedihan, dan perasaan tersesat.
Pada tahap ini kita mengalami masa-masa kebingungan, terputusnya hubungan dengan orang-orang di sekitar, merasakan keterasingan, depresi, dan ketidakbahagiaan besar dalam hidup. Kita seolah ingin mencari sesuatu, tetapi kita nggak tahu itu apa. Ada kekosongan yang menganga di dalam diri kita. Tahap ini bisa muncul secara spontan atau bisa aja karena terjadinya suatu krisis kehidupan (misalnya perpisahan dengan seseorang yang disayang, perceraian dengan pasangan, kematian, trauma, penyakit, maupun perubahan besar dalam kehidupan karena terkuaknya jati diri yang sebenarnya).Tahap 2 - Perubahan perspektif.
Di tahap ini, kita mulai memahami realita dengan cara yang sangat berbeda. Pada tahap ini, kita mulai melihat kebohongan dan khayalan yang disebarkan oleh masyarakat. Kita merasa nggak bahagia atau nggak sreg dengan kehidupan saat ini, terganggu oleh penderitaan yang kita lihat dimana-mana, dan merasa nggak ada harapan bagi dunia jika selalu begini terus. Kita tidak lagi melihat kehidupan seperti yang pernah kita lakukan dalam keadaan ketidaksadaran diri sebelumnya.
Tahap 3 - Mencari jawaban dan makna.
Tahap kritis kita ada di sini. Di tahap ini, kita tergugah untuk mengajukan semua pertanyaan mendalam yang terpikirkan di benak kita. Kita sedang mengalami pencarian tujuan hidup, apa itu esensi Tuhan, dan makna hidup itu sendiri pada tahap ini. Kita akan mulai berkecimpung di berbagai bidang metafisik, swadaya, konseling, dan esoteris dalam mencari jawaban dan kebenaran yang kita butuhkan.
Tahap 4 - Menemukan jawaban dan mengalami perkembangan diri.
Setelah banyak melakukan pencarian jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak kita, kita akan menemukan beberapa mentor, pembelajaran, atau sistem kepercayaan yang meringankan penderitaan eksistensial kita saat hidup di dunia ini. Kita akan merasakan ekspansi; kebiasaan-kebiasaan lama kita akan sedikit demi sedikit berubah, dan diri sejati kita akan mulai muncul. Kita mungkin akan mengalami beberapa pengalaman supranatural atau momen singkat suatu pencerahan (biasa disebut juga dengan enlightenment, satori, apapun itu) yang memberi kita pengetahuan sekilas mengenai dimensi yang lebih tinggi (kamu bisa baca juga tentang kesadaran diri di blog ini). Ini adalah waktu-waktu krusial bagi kita untuk dapat merasakan adanya harapan lain, koneksi, dan kekaguman akan Semesta.
Tahap 5 - Kekecewaan dan adanya perasaan tersesat kembali.
Hidup selalu tentang perubahan dan pergerakan. Begitu pula dengan proses kebangkitan spiritual, selalu ada pasang surutnya. Pada tahap ini, kita akan menjadi bosan atau jenuh dengan mentor atau pembelajaran spiritual kita. Kita bahkan mungkin pernah mengalami diskonektivitas dengan Sang Sumber, tapi tenang aja karena hal ini normal, meskipun kita akan merasa terganggu dan sangat sedih dengan pengalaman ini. Selain itu, walaupun kita mungkin telah mengalami banyak pelajaran mengenai kondisi mental, emosional, maupun spiritual, ketiganya seolah jadi nggak berarti lagi bagi kita. Kita mendambakan spiritualitas yang mendalam yang bisa meresap ke dalam hidup dan mengubah setiap bagian dari diri kita. Ketidakbahagiaan dan stagnasi yang kita rasakan ini akan memotivasi kita untuk mencari lebih banyak lagi, terutama mengenai Sang Sumber.
Tahap 6 - Pergolakan batin dan perenungan yang lebih dalam.
Pada tahap ini, kita udah nggak tertarik lagi mempelajari filosofi spiritual yang bisa ditemui di buku, internet, maupun sumber yang lainnya. Rasa sakit yang kita rasakan di dalam diri udah bisa memotivasi kita untuk mengalami pergolakan batin atau perenungan yang mendalam.
Tahap 7 - Integrasi, ekspansi, dan munculnya kebahagiaan batin.
Integrasi berarti mengambil pelajaran spiritual yang telah kita pelajari dari perenungan yang selama ini kita lakukan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Integrasi terjadi baik secara alami maupun secara sadar sebagai kebiasaan dari kesadaran spiritual yang mendalam. Di tahap ini, kita akan mengalami perubahan yang lebih mendalam dan long lasting. Banyak orang mengalami pengalaman supranatural dalam fase integrasi ini. Ingatlah bahwa pencerahan atau kesadaran diri nggak selalu bisa dijamin: kita dapat mengusahakannya, tetapi bisa juga pada akhirnya itu adalah hadiah dari Sang Sumber sendiri. Setidaknya kedamaian, cinta, dan kegembiraan yang mendalam akan muncul dan dirasakan pada tahap ini. Kita mungkin merasa siap dan terpanggil untuk menjadi mentor spiritual, coach, atau figur panutan dalam komunitas maupun circle kita, dan meneruskan wawasan spiritual kita kepada orang lain. Hidup akan menjadi lebih sedikit membicarakan tentang diri kita dan lebih banyak tentang membantu sesama. Perspektif kita akan berkembang dan kita akan mulai melihat sesuatu dari gambaran besar. Selebihnya, kita akan merasa terhubung, damai dengan diri sendiri, dan sangat selaras dengan kehidupan.
Perlu diingat, wajar untuk mengalami tahap-tahap di atas secara acak karena tahapan-tahapan tersebut bukanlah sebuah proses linier. Kita nggak harus menjalani dari tahap pertama, lalu kedua, lalu ketiga, dan seterusnya, sebab perjalanan spiritual setiap orang adalah unik dan berbeda. Misalnya perjalanan spiritual seorang indigo akan berbeda dengan perjalanan spiritual seseorang pada umumnya.
Spiritual awakening juga memiliki ciri-ciri dan gejala spesifik lho, yang meliputi lahiriah (fisik) maupun batiniah (mental). Apa sajakah hal tersebut? Dari segi batiniah, di antaranya:
- Kita merasa seolah-olah cara lama hidup kita adalah sebuah kekeliruan.
- Kita mulai mendambakan makna dan tujuan hidup.
- Kita mulai merenungi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendalam.
- Kita menyadari bahwa banyak dari apa yang telah diajarkan kepada kita adalah sebuah kebohongan.
- Kita merasa benar-benar tersesat dan sendirian suatu waktu.
- Kita mampu melihat menembus ilusi aturan-aturan irasional di masyarakat.
- Kita mampu melihat betapa tidak bahagianya kebanyakan orang karena mereka saling berkompetisi menjadi yang terbaik.
- Kita ingin 'membersihkan' hidup dari karma buruk dengan memperbanyak karma baik.
- Kita mulai merasakan empati dan belas kasih yang mendalam (sangat mendalam bagi seorang empath).
- Kita mulai memikirkan waktu-waktu di mana ingin sendirian.
- Small talk maupun percakapan basa-basi terdengar dangkal dan nggak penting bagi kita.
- Kadang kita ingin berhenti dari pekerjaan akibat nggak adanya makna maupun passion dalam melakukan pekerjaan tersebut.
- Kita selalu mencari akan ketulusan dan kebenaran orang-orang.
- Kita menjadi sadar akan kebiasaan-kebiasaan negatif lama kita.
- Terkadang kita akan mengalami kecemasan atau depresi (tergantung pribadi masing-masing orang).
- Kita akan menjadi lebih sensitif terhadap vibrasi dan energi orang lain.
- Kita ingin membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
- Kita pasti akan selalu sangat ingin memahami siapa diri kita sebenarnya, proses penemuan jati diri yang kuat.
- Intuisi kita akan terbangun.
- Mengalami sinkronisitas dengan Semesta.
- Kita akan merasa lebih kritis dan selalu ingin tahu.
- Kita mulai bisa mencintai seseorang tanpa syarat.
- Kita mulai mampu memahami bahwa kita semua adalah satu-kesatuan di dalam Semesta.
Dilihat dari segi lahiriah, berikut adalah gejala-gejala spesifik yang sering dijumpai:
- Penguatan indera-indera yang kita miliki. Misalnya, indera penglihatan, pendengaran, perasa, sentuhan, atau penciuman yang akan menjadi semakin sensitif. Kita bahkan mungkin aja mengetahui bahwa kita adalah seorang indigo, empath, maupun HSP (Highly Sensitive Person) lainnya.
- Kita mengalami beberapa intoleransi makanan yang sepertinya nggak pernah kita miliki sebelumnya (atau mungkin kitanya aja yang nggak memperhatikan). Misalnya, kita jadi alergi terhadap gandum, kacang-kacangan, kopi, kedelai, dan lain sebagainya.
- Perubahan pada pola tidur. Misalnya kita tidur lebih sering atau mengalami lebih banyak gangguan tidur seperti insomnia.
- Mimpi yang sangat terlihat jelas (vivid dream), terkadang membingungkan, aneh, atau tampak intens daripada sebelumnya.
- Sering merasa pusing, apalagi merasakan kepala jadi enteng akibat kita nggak membatasi energi dari orang lain di sekitar kita (terlebih bagi HSP).
- Perubahan pada berat badan, misalnya kita jadi tambah gemuk atau makin kurus.
- Kebiasaan makan yang berubah. Misalnya makanan apa yang dulunya kita sukai udah nggak lagi menggugah selera. Selain itu, kita mungkin ingin bereksperimen dengan makanan lain yang belum pernah kita coba.
- Mengalami fluktuasi energi, sering merasa uring-uringan atau mood swing bagi HSP, dan perasaan kurang berenergi daripada sebelumnya.
- Penurunan atau peningkatan gairah seks. Nggak perlu dijelasin lagi ya tentang hal ini hehe.
- Fungsi kekebalan tubuh mengalami penurunan (awalnya kita jadi lebih rentan terkena penyakit macam flu atau demam), namun pada akhirnya fungsi kekebalan tubuh kita akan jadi semakin kuat.
Oh nggak, kita nggak akan mengalami semua gejala ini (ada yang mengalami semua, ada juga yang hanya mengalami beberapa aja tergantung masing-masing kemampuan orangnya). Jika kita merasa akan adanya perubahan yang cepat dalam kesehatan kita selama periode ini, itu mungkin karena adanya perubahan drastis yang terjadi di dalam hubungan pikiran-tubuh-jiwa kita. Namun jika kita merasa khawatir, tetap periksakan atau konsultasikan kondisi diri ke dokter atau praktisi yang kita percayai.
Oke, segini aja penjelasan mengenai spiritual awakening yang bisa saya jelaskan dari berbagai sumber, semoga bermanfaat bagi kamu yang membaca, khususnya bagi siapapun yang mendapatkan dorongan untuk lebih memahami tentang spiritualisme dan ingin mempelajarinya. Mengenai ascension akan saya tulis di bagian yang berbeda setelah postingan ini ya. Stay tune, and see you to the next post. Thank you for coming by. :)



