Hi again, folks. Nah, setalah di post sebelumnya kita udah membahas mengenai spiritual awakening atau kebangkitan spiritual, maka di post kali ini kita akan lanjut membahas mengenai apa itu spiritual ascension atau lebih umum disebut dengan istilah ascension aja. Ascension ini masih berhubungan erat dengan spiritual awakening, karena keduanya sebenarnya adalah hubungan sebab-akibat. Bisa dibilang, ascension adalah proses berkelanjutan dari spiritual awakening, dimana kita masih harus terus belajar dari kehidupan untuk menjadi manusia yang lebih baik dan mengalami perkembangan positif sebagai seorang individu (mengingat ascension sendiri bisa diterjemahkan sebagai kenaikan dalam bahasa Indonesia). Ibarat sekolah, kehidupan akan terus memberi kita banyak banget pelajaran yang mau nggak mau harus kita pelajari sebagai makhluk hidup. Di saat kita mau dan bisa mempelajari berbagai pelajaran yang diberikan, maka kita akan bisa "naik kelas" dan otomatis akan mengalami perubahan secara positif di dalam keseharian dan pribadi kita. Namun, ketika kita nggak mau mempelajari apapun pelajaran yang diberikan oleh kehidupan, maka kita pasti akan "tinggal kelas" alias stuck dan akan terus mengalami kesalahan yang sama. Beruntungnya, kehidupan akan selalu memberi kita pelajaran yang sama berulang-ulang kali sampai kita pada akhirnya mau mempelajarinya. Karena sejatinya, kehidupan ini selalu bermuara tentang perubahan dan perkembangan.
Mungkin, dalam istilah yang lagi ngetren dipakai saat ini, spiritual awakening bisa juga disebut dengan istilah taubat, dan ascension bisa disebut juga dengan istilah hijrah.
Anyway, let's get to the main topic.
Kegaduhan, kepanikan, dan rasa takut yang setiap kali menjumpai kita mulai terlihat bentuk aslinya: semuanya adalah sistem, dogma, maupun aturan yang dibuat oleh manusia untuk manusia, dan kita menyadari boleh saja untuk tidak harus hidup di dalam sistem, dogma, maupun aturan-aturan tersebut. Kita bisa memilih secara sadar untuk memikirkan pikiran-pikiran yang positif dan empowering, serta menerapkan mindfulness: menyadari kita 100% hadir di dalam setiap momen di dalam kehidupan kita.
Untuk bisa membiasakan diri membaur dengan sesama setelah mengalami spiritual awakening, dibutuhkan fokus dan keinginan yang kuat. Proses ini bukan proses yang bisa dilakukan sehari-dua hari, sebab proses ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk benar-benar membekas dan membuat kita bisa menjalani kehidupan dengan bebas dan sepenuh hati. Yang seringkali menjadi masalah adalah fakta bahwa mayoritas dari orang-orang di sekitar kita ini masih ada didalam keadaan unawakened atau belum sadar secara spiritual. Masih begitu banyak orang yang hidup di dalam kesadaran 3D, yang bahkan memilih untuk melindungi hal-hal yang bersifat duniawi tanpa memikirkan bahwa spiritualisme juga ada. Hal ini wajar, karena ketika kita hidup dan diajarkan satu hal sejak kita kecil, akan membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama untuk bisa melepas kepercayaan bahwa mungkin apapun yang mereka percayai sebagai ‘seluruh hidup mereka’ adalah sebuah ilusi.
![]() |
| World of Illusion |
Akan sangat mengecewakan untuk kita jika kita memutuskan untuk memberitahu orang lain mengenai spiritual awakening secara blak-blakan dan mengharapkan mereka menyadari apa yang udah kita sadari hanya untuk mendapati bahwa mereka nggak akan peduli. Malah akan ada dari mereka yang menghakimi, menganggap kita nggak waras, dan mengatakan bahwa kita hanya melebih-lebihkan kenyataan. Sedihnya, ada pula orang-orang yang berkecimpung dalam hal supranatural yang belum tentu sadar juga spiritualitasnya.
Hal tersebut memang sudah digariskan seperti itu.
Nggak semua orang yang ada di kehidupan ini dijadwalkan untuk sadar pada saat ini juga. Banyak dari kita yang disadarkan dan mengalami ascension pada saat ini untuk menjadi katalis bagi jiwa-jiwa lain untuk ikut sadar juga dan hal itu membutuhkan proses, meski proses tersebut nggak dapat dipaksa. Spiritual awakening pada dasarnya adalah perjalanan personal seorang manusia, dan hal ini terserah kepada orang tersebut untuk mengalami awakening-nya di kehidupan yang ini, atau di kehidupan mereka yang selanjutnya.
Pada saat fase ascension, terus lakukan integrasi antara shadow self kita dan diri kita yang ada di permukaan, atau dalam artian kita melakukan shadow work. Shadow work sendiri adalah bagaimana kita menyadari ego kita dan berusaha untuk mengubahnya menjadi segala perbuatan yang dilakukan atas kesadaran diri dan nurani (kamu dapat membaca artikel mengenai shadow self maupun shadow work di sini). Dengan melakukan proses ini, kita secara otomatis mempercepat proses evolusi dan ascension kita sebagai seorang jiwa. Pasang batasan atau boundary untuk berinteraksi dengan orang-orang, situasi, dan aktivitas yang sekiranya memiliki potensi untuk merugikan, misalnya mengenai harta, nafsu, maupun emosi merugikan. Biasanya, jika kita mengafirmasi secara jelas bahwa kita ingin membantu proses spiritual awakening orang lain demi kehidupan mereka yang lebih baik, universe akan membantu kita dalam melakukan hal ini.
Hal tersebut biasa dilakukan universe dengan menjauhkan orang-orang tertentu yang dulunya dekat dengan kita sebab orang-orang tersebut bisa aja toxic people, energy vampire, dan lain sebagainya, Bisa juga memberhentikan kita dari pekerjaan yang lama agar kita bisa mendapatkan pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan tujuan hidup kita, atau memindahkan kita dari lokasi atau kota tempat kita tinggal, dan berbagai hal lain yang akan terasa tiba-tiba dan ‘berat’ atau menantang. Kunci untuk menjalani hal ini adalah mencoba untuk let go; memasrahkan semuanya kepada Tuhan dan berusaha semampu mungkin untuk mengikuti apa rencana dari-Nya. Percayakan aja kepada Tuhan bahwa Dia tahu apa yang Dia lakukan. Pada akhirnya semua akan berjalan jauh lebih baik dari apa yang kita pikirkan. Because our higher selves is always one step ahead of us.
Proses ascension bukanlah proses yang linear. Terkadang, proses kita untuk mencapai enlightenment dan hidup yang kita idam-idamkan pasti akan mengalami fluktuasi atau pasang-surut. Akan ada saat-saat dimana kita akan merasa sangat terkoneksi dengan Tuhan dan siap melakukan apapun dengan semangat dan optimisme tinggi. Sementara itu, beberapa waktu setelahnya kita akan merasa nggak memiliki tenaga, dorongan, motivasi, dan bahkan merasa hampa maupun depresi. Nikmati proses ini, karena proses ini merupakan proses yang dilalui hampir semua orang yang mengalami ascension. Jangan paksakan waktu dan kejadian, selalu percaya bahwa universe memiliki waktu yang paling tepat untuk semua hal yang kita inginkan. Let the divine timing works, hal itu juga kata kunci yang penting.
Ketika kita udah berada di dalam fase ‘menikmati proses’ dan nggak lagi memaksakan untuk ada di dalam fase kesempurnaan sepanjang waktu, disitulah kita bisa melepas resistance (sikap menentang atau menolak sesuatu yang direncanakan Tuhan oleh kita) dan membuat diri kita bisa jauh lebih menikmati hidup. Lakukan apa yang harus dilakukan, dan sering-sering bersyukur karena kita sedang mengalami pengalaman menjadi seorang manusia di saat-saat yang menyenangkan ini.
Nikmati setiap momen yang terjadi di hidup kita, baik momen positif maupun momen negatif. Sadari bahwa ini semua adalah bagian dari dualitas hidup: hal istimewa yang menyadarkan kita bahwa kita sedang benar-benar ‘HIDUP’. Terus bagikan kebaikan kita kepada sesama, dan nikmati setiap proses dan sinkronisitas yang akan kita alami.
We are in for a wild ride! God bless us.
We are in for a wild ride! God bless us.
SUMBER dengan sedikit perubahan.




