Whatever we imagine, especially if it's in a positive way, it will manifest into reality if we can work on it. If you're imagining to be something since you're a kid up until now, the universe will make it happen eventually. Even if you think that you are a failure or you think that your desire is not a rational thing to be done, if you keep dreaming about something you desire, the universe will manifest your fantasy in a nearest identical thing in a real world. For example, if you're wishing to help people by becoming a doctor one day but now you can't be one, perhaps you can help people in another way until your desire to helping people is fulfilled. So, however old we are, just keep dreaming and working on it. Yes, we can!
![]() |
| Keep dreaming! |
Orang jaman dulu pasti sering berandai-andai,
"Seandainya melalui surat, aku bisa denger suara dia juga..."Terciptalah telepon.
Setelah itu, mereka berfantasi juga,
"Wah seandainya telepon bisa dibawa kemana-mana, pasti enak kalo komunikasian sama orang lain..."Terciptalah ponsel.
Yes, fantasy is a delayed form of reality. Ego yang memaksa kita untuk mempercayai kalimat 'ah nggak mungkin.'
Jangan terfokus untuk selalu berpikir apalagi mempercayai bahwa kita tidak bisa. Selama ada keinginan yang diperkuat oleh afirmasi diri, kita bisa kok menjadikan keinginan atau fantasi itu jadi sebuah kenyataan, meskipun terkadang apa yang jadi kenyataan tidak sama persis dengan apa yang kita bayangkan selama ini. Tapi selama kita bisa menerima sesuatu yang udah kita dapatkan berdasarkan fantasi, mimpi, maupun keinginan yang selama ini kita bayangkan, kepuasan pasti akan juga kita dapatkan.
Kalo orang sekarang bilang, "Yang penting yakin dulu."
