Jangan pernah membahas masa lalu kita seolah kita adalah manusia yang paling menderita di dunia ini. Semua orang diberikan penderitaan sesuai dengan kapasitas dirinya, begitu pula kebahagiaan yang ditakar juga sesuai dengan kapasitas orang tersebut, sebab kebahagiaan berlebih pasti akan jadi kesombongan pada akhirnya. Hidup adalah selalu tentang keseimbangan, susah-senang udah ditakar sama Tuhan. Cuman masalahnya, orang-orang jaman sekarang selalu merasa kebahagiaan itu dikasih sama orang lain, padahal kebahagiaan itu sebenarnya datang dari diri sendiri. Pola pikirmu sendiri yang menentukan. Lihat aja, kan ada tuh orang-orang yang bisa bahagia meskipun dengan hal-hal yang sederhana. Jadi kalau kamu susah bahagia, coba cek lagi deh pola pikirmu tentang definisi kebahagiaan itu sendiri.
Buat siapapun yang sedang mengalami, kalau kamu merasa hidupmu adalah yang paling menderita di dunia ini, lihat saya sekarang. Menurutmu kenapa saya bisa ngomong ini-itu dengan gampangnya? Ya karena saya pernah mengalami penderitaan yang lebih daripada kamu. Tapi saya nggak mau merasa menderita, karena penderitaan itu udah jadi pelajaran yang membangun saya sampai seperti ini sekarang.
Kamu pernah dikuasai kebencian nggak? Pernah dikuasai rasa pengen bunuh orang nggak? Pernah se-depresi apa kamu sama hidup? Pernah ngata-ngatain Tuhan nggak? Pernah dikuasai keinginan untuk bunuh diri nggak? Pasti nggak. Itu yang selama ini saya alami, mulai dari saat saya bersekolah di SMP sampai pada tahun 2018 yang benar-benar udah menggojlok saya sedemikian rupa hingga sekarang saya mulai bisa menerima diri saya secara apa adanya dan mencintai diri sendiri secara tulus dan sadar. Alhasil, saya pada akhirya bisa menjadi seseorang yang lebih baik daripada saya di masa lalu. Kalau kamu selalu merasa penderitaan itu ada hanya untuk menghukummu, mentalmu aja yang lemah. Bagi saya, seseorang yang terus berlindung di balik trauma masa lalunya, dan merasa bahwa dia adalah orang yang paling menderita dibandingkan yang lainnya, adalah orang terlemah di antara sekian pecundang yang ada.
Secara metafora, nggak ada superhero (atau setidaknya tokoh utama dalam banyak cerita) yang datang dari background kehidupan yang menyenangkan terus. Nggak ada sama sekali. Even the richest heroes Batman and Iron Man, mereka jadi superhero bukan cuman karena kekayaan mereka doang. Ada banyak sekali penderitaan yang harus mereka jalani untuk membuat mereka menjadi superhero yang dikenal banyak orang. Lagipula, kita toh juga tokoh utama dalam kehidupan kita sendiri, tinggal kitanya aja mau bikin hidup kita jadi good ending atau bad ending.
Kalau kamu mau jadi kuat, ya ubah penderitaanmu jadi kekuatan untukmu sendiri. Jangan malah merasa menderita mulu, terpenjara oleh pola pikir yang salah tentang kebahagiaan terlebih karena trauma masa lalu yang dipiara terus-menerus.

