Masalahnya di sini adalah dia nanya saya dari segi fisik, bukan dari segi kepribadian. Katakanlah, kalau kita dapet pasangan yang (sorry to say) lebih jelek dari mantan kita tapi kepribadian dia justru lebih baik, bagi saya itu sebenarnya udah beruntung karena nantinya kita juga akan berubah jadi lebih baik berkat hadirnya dia, dan kita nggak akan punya tanggung jawab tambahan untuk mengubah dia menjadi seorang pasangan yang baik buat kita.
Kalau mau serius, carilah pasangan yang bukan hanya baik buat kamu doang, tapi baik buat keluarga dan baik sebagai ibu/bapak dari anak-anakmu besok, itupun kalau kamu udah yakin juga bakal jadi pasangan yang baik buat dia. Gini, jangan jadikan segala sesuatu sebagai sebuah akhir karena segala fase hidup kita sebenarnya ibarat sebuah bab buku yang harus kita selesaikan sampai bab selanjutnya. Misalnya, kita cari pasangan nih, trus pacarin dia, apa udah selesai gitu aja? Apakah hal itu bisa disebut selesai satu buku kehidupan? Kan enggak.
Jangan sekali-kali bandingin gebetan sama mantan pacar karena itu useless. Itu aja masih gebetan, belum resmi jadian. Semua orang yang masuk ke kehidupan kita sebenernya memberi hal baru ke kita, batas waktunya antara mereka yang pergi dari kita atau mereka nggak ada lebih dulu dari kita. Bukan berarti kita kudu gonta-ganti juga karena hal seperti itu biasanya terjadi secara alamiah dan nggak bisa dipaksakan. Yah... dinikmati aja selagi dipertemukan sama seseorang, karena bagi saya setiap pertemuan itu nggak ada yang kebetulan.
Kamu punya satu orang tapi dia bener-bener berarti buat kamu, itu jauh lebih baik daripada:
- Kamu ada banyak tapi belum ada yang masuk ke hatimu.
- Kamu ada satu tapi dia masih meragukan bagimu.
- Kamu sendirian tapi nggak bisa menyayangi diri sendiri.
