Jumat, 06 Maret 2020

Psikologi dan Parapsikologi



Menurut saya, psikologi itu sebenarnya adalah ilmu jiwa, bukan ilmu tingkah laku. Katakanlah seseorang yang bergelar ilmu psikologi apakah dia mempelajari segala tindak-tanduk manusia hanya dari buku-buku serta dari pengalaman mentornya? Manusia itu makhluk yang kompleks, untuk memahami satu manusia bisa membutuhkan puluhan bahkan ratusan buku untuk dibaca. Juga, nggak semua psikolog bisa memahami satu klien dengan baik jika hanya memutuskan segala sesuatunya berdasarkan ilmu eksak atau hanya dari buku-buku yang udah dipelajari (inget sama film Joker dan psikolognya di beberapa adegan? Seperti itulah...) Sebenarnya ini hanya kesalahkaprahan manusia yang keliru dalam mengartikan psikologi dengan antropologi atau mungkin sosiologi.


Untuk benar-benar memahami manusia atau orang lain, setidaknya kita harus bisa menempatkan diri di posisi orang tersebut untuk ikut merasakan apa yang dia rasa, untuk ikut memikirkan apa yang dia pikir, baru kita bisa membantu orang tersebut untuk mengatasi apapun yang sedang dia alami. Singkatnya, empati lebih berperan aktif daripada hanya sekadar simpati dalam urusan memahami manusia. Berempati dulu, lalu memberi solusi. Jika seseorang berkata dia berempati hanya sebagai profesi atas ilmu-ilmu yang udah dia baca, bukannya itu sama saja kita memaksa orang lain untuk mengakui bahwa kondisinya kita yang memutuskan? Orang berilmu psikologi mendapat gelarnya dari sesama manusia, namun jika dalam profesinya dia hanya menggunakan nalar tanpa nurani dan empati pemberian Tuhan, itu sama aja dia membohongi orang lain.




Secara edukasi formal, memang sih kami para parapsikolog melakukan hal ini tanpa adanya gelar dari sesama manusia demi profesi untuk mendapatkan penghasilan. Tapi tolong, jangan seolah-olah menilai bahwa segala apa yang kamu baca tanpa kamu ikut merasa adalah segala sesuatu yang paling benar. Kami di sini hanya membantu tanpa dibayar sepeser pun. Bukan demi popularitas, bukan juga untuk menyaingi kalian yang menilai segala sesuatunya dari sisi materialisme dan sisi duniawi. Namun kami melakukan hal seperti ini demi humanisme. Everything only for humanity. Tuhan nggak serta-merta memberi kami kemampuan seperti ini secara cuma-cuma, melainkan ada tanggung jawab yang dibebankan ke pundak kami yang harus kami lakukan dengan pertanggungjawaban langsung kepada Semesta.