Senin, 07 Desember 2015

Sebuah Pengalaman Selama di Yogyakarta



Hmm... Senin ini saya meliburkan diri dari aktivitas kuliah karena badan masih pegal-pegal akibat kemarin Sabtu sampai Minggu saya pergi ke Yogyakarta untuk mengikuti Japanese Language Proficiency Test (JLPT) yang gut ikuti untuk kedua kalinya. Ditambah masuk angin yang saya derita sejak hari Jumat, alhasil saya nggak bisa menjalani aktivitas berat dan memutuskan untuk mengambil satu hari libur untuk beristirahat penuh. Tahu batasan diri itu penting, lho.


Hmm... Mungkin saya akan sedikit bercerita mengenai pengalaman saat mengikuti JLPT di Yogyakarta kemarin.


Saya berangkat ke Yogyakarta hari Sabtu siang, bareng sama temen-temen serta adik-adik kelas yang juga berniat mengikuti JLPT dengan mengambil level yang berbeda. Saya saat itu ngambil level N3, karena saat di Jakarta kemarin, saya udah lulus level N4. Kami berangkat ke Yogyakarta naik bus, yang udah dipesan khusus untuk mengantar rombongan dari Unnes yang akan mengikuti JLPT di Yogyakarta.



Hayo, saya yang mana?


Malam, sekitar pukul 18:00, kami transit di sebuah rumah makan untuk makan malam serta beribadah, istilahnya ishoma. Nggak banyak waktu yang diberikan untuk ber-ishoma saat itu, sekitar 45 menit barangkali, karena kami harus segera sampai ke hotel untuk beristirahat. Setelah makan, kami menuju ke hotel. Tapi nggak disangka-sangka, kemacetan parah terjadi di sepanjang perjalanan yang kami lewati, ditambah — dan ini yang bikin saya gedek — Yogyakarta punya banyak banget lampu lalu-lintas yang lampu merahnya menyala lama banget ketimbang lampu hijaunya. Alhasil, kami yang dijadwalkan sampai di hotel pukul 20:00 jadi mundur sampai pukul 21:30. Saya yang saat itu pengen nonton pertandingan antara Manchester United vs West Ham United yang disiarkan di salah satu stasiun TV swasta mulai pukul 22:00, mau nggak mau berharap-harap cemas bus akan sampai di hotel tepat pukul 22:00. Syukurnya, masih ada sisa waktu 30 menit sampai saya bisa menonton pertandingan yang saya tunggu-tunggu selama perjalanan.





Kami sampai di Rosalia Indah Hotel (yang namanya memang mirip sama nama sebuah PO bus) dan check-in disana. Saya sekamar sama Hanif, menempati kamar nomor 210 di lantai dua, yang letaknya persis di depan tangga. Kamarnya enak, mempunyai ranjang yang luas (yang harusnya bisa ditempati sampai empat orang) dan empuk. Ber-AC udah pasti, dan yang paling saya syukuri adalah adanya TV flat lebar agar saya bisa langsung nonton bola sesampainya di kamar. Saya paling betah kalo udah nginap di hotel, karena nyaman banget buat saya yang suka mager dan ngebo. Ditambah dengan aktivitas nonton bola ditemani dua bungkus Chitato dan sekaleng Milo dingin, saya jadi makin happy dan malah jadi males belajar untuk persiapan JLPT keesokan harinya. Walaupun pertandingan bola yang saya tonton berakhir dengan hasil imbang, yeah it's worth it, yang penting saya tetep bisa nonton pertandingannya.



Begini ranjangnya.



Begini isi ruangannya.



Ber-AC udah pasti.




Nonton MU udah jadi kebiasaan wajib.


Keesokan paginya, saya yang masih ngantuk, mau nggak mau harus mandi dan turun ke lantai satu untuk sarapan. Setelah sarapan, saya yang harusnya prepare untuk check-out malah balik lagi ke kamar hanya untuk sekedar rebahan di ranjang. Ngantuk banget, soalnya. Pukul 07:00, kami check-out dan bersiap menuju lokasi JLPT sesuai dengan level masing-masing. Lokasi tes saya berada di SMK Negeri 2 Yogyakarta.





Suasana mendung mulai menyelimuti waktu saya mau check-out.



SMK Negeri 2 Yogyakarta.




Suasana sebelum ujian dimulai.


Sesampainya di SMK Negeri 2 Yogyakarta, saya ketemu sama temen-temen angkatan yang juga mengambil level yang sama, sebut aja nama-nama familiar yang udah pernah saya tulis dalam blog ini, seperti Angger, Nasila, Aufa, Bayu, dan masih banyak lagi. Malah, saya juga ketemu sama kakak kelas dan temen saya waktu SMA, serta temen saya waktu SMP yang semuanya berkuliah di universitas yang sama: Undip. Nggak nyangka juga sih, sebenernya. Saya malah jadi canggung saat ketemu sama mereka. Mereka jadi ganteng dan cantik, dan saya jadi tambah ancur setelah sekian lama nggak ketemu.


Saya mendapatkan ruangan nomor 111 (nomor cantik, asoyyy!), dan ketemu lagi dengan temen-temen satu angkatan yang ternyata satu ruangan juga sama saya. Sebut aja Ai, Nova, Dona, Atika, dan lagi-lagi Bayu juga masih ngikut. Masih banyak lagi sih, cuma saya rada sungkan menyebut nama mereka satu per satu, takut kena pasal pencatutan nama yang akhir-akhir ini lagi booming. Nomor tes yang saya dapet adalah 30163, dan bangku-bangku di dalam ruangan ternyata udah diatur sedemikian rupa berdasarkan nomor tesnya.


Begitu tes akan segera dimulai, saya masuk ke dalam ruangan dan mencari bangku yang sesuai dengan nomor tes. Dan alangkah terkejutnya — iya saya tahu ini terkesan lebay — seseorang yang menyebalkan duduk persis di belakang saya saat tes! Perasaan campur aduk mulai muncul kepala: Saya kecewa, saya senang, dan saya agak khawatir juga karena takut nggak bisa berkonsentrasi pada tes gara-gara keberadaan dia. Ini hal yang bodoh, saya tahu, karena saya merasa nggak nyaman jika — seseorang yang saya bahkan males hanya untuk sekedar mengajak ngobrol aja — bisa punya celah untuk melihat saya persis dari belakang... Saya toh sebenernya juga nggak tahu apa dia mau ngelihatin saya dari belakang atau nggak, tapi menyadari ada seseorang yang begitu ada di belakang... saya merasa bener-bener nggak nyaman. Maka dari itulah, saya bilang dia adalah seseorang yang menyebalkan. Toh se-menyebalkan apapun, saya kadang ngarep juga sih bisa sedekat itu sama dia.


Saya tsundere juga ya, ternyata.


Tapi, alhamdulillah saya bisa melewati tes dengan lancar (melewati ya, bukan mengerjakan) meski jika diibaratkan, kepala saya bakal penuh dengan asap berkebulan setelah tes usai karena keberatan mikir. Maka dari itulah, untuk refreshing, saya memutuskan untuk membelot dari kubu bus ke kubu mobil. Maksud saya adalah, saya pulang dengan menebeng temen yang bawa mobil sendiri ketimbang ikut rombongan yang naik bus. Saya butuh kumpul sama temen-temen yang sehari-hari udah deket sama saya. Kebetulan, temen saya yang bawa mobil adalah si Wahyu dan temen-temen yang ikut adalah si Angger, Bayu, Nikmah, dan Yuli — yang notabene udah deket sama saya dan saya bisa lepas ngobrol sama mereka.


And you know what, the refreshing worked.


Di sepanjang perjalanan, si Wahyu kadang woles dan kadang ngebut saat menyetir, yang bikin saya kadang woles dan kadang ngebut deg-degan juga. Kami sempat mampir ke Muntilan dan mengunjungi sanak famili dari Angger di sana. Kami disuguhi bakso porsi gede, teh hangat, dan kopi sembari mengobrol ditemani dengan syahdunya gerimis dan hawa dingin yang nyaman. Bener-bener enak. Pulang dari Muntilan, kami membawa satu plastik pisang goreng hangat yang — karena kekenyangan dan saya nggak sempat mencicipi — kelihatannya menggoda selera yang diberi oleh saudara dari si Angger tadi. Di sepanjang perjalanan, kami kadang ngobrol sendiri, galau sendiri, dan nyanyi-nyanyi bareng untuk mengusir rasa bosan. Singkat cerita, pada pukul 21:00 saya udah selamat sampai di rumah.


Hmm... dan badan saya masih pegal-pegal setelah bercerita panjang lebar begini.


Begitulah secara singkat saya ceritakan pengalaman saat berada di Yogyakarta. Asyik dan menyebalkan campur-aduk jadi satu. Tapi ya begitulah pengalaman, ada senangnya, ada juga sedihnya. Life is never flat, anyway.