Senin, 07 Desember 2015

Menunggu Seseorang itu Ibarat Jadi Hantu



Semalam, di sepanjang perjalanan di dalam mobil, kami bernyanyi bersama. Setiap lagu kami nyanyikan dengan penuh semangat. Walaupun lagu yang terdengar adalah lagu slow yang terkesan galau dan mellow, toh kami tetap aja menyanyikan lagu tersebut dengan setengah berteriak. Menyenangkan rasanya. Dan kalau ada lagu yang bertema penantian cinta yang panjang, seperti lagunya Seventeen yang berjudul Untuk Mencintaimu, atau Seberapa Pantas-nya Sheila On 7, entah kenapa temen-temen saya pasti nyeletuk:


"Hei Dik, ini lagumu!"

"Wah Dik, lagu iki cocok banget nggo kowe." (Wah Dik, lagi ini cocok banget buat kamu.)

"Wah, lagune Dika iki." (Wah, lagunya Dika nih.)


Apakah saya punya image sebagai seorang cowok yang sedang menunggu karena saking putus asanya dalam mencari seseorang yang pas?


Nggak usah dijawab pun, saya udah menyelipkan jawaban tersirat dalam pertanyaan retoris di atas.





Entah kenapa, setiap bener-bener jatuh cinta dengan seseorang, saya diharuskan menunggu untuk beberapa waktu sampai kemudian saya sukses menjalin hubungan dengan seseorang yang saya cinta. Dengan Vanny, contohnya. Perlu beberapa waktu dari kelas VIII sampai di akhir kelas IX bagi saya untuk menunggunya dan sampai akhirnya saya mendapatkannya dan berhasil menjalin hubungan dalam kurun waktu yang lumayan panjang. Walaupun dalam kasus ini, saya juga sempat dekat dengan seseorang yang lain sebelum dengan Vanny. Tapi toh kedekatan dengan seseorang yang lain itu nggak bertahan lama-lama amat, paling lama hanya sekitar 3 bulanan. Saya melakukannya hanya untuk sekedar mengisi kekosongan. Saat SMP dulu, ada kala dimana kamu benar-benar menginginkan seseorang untuk kamu jadikan pacar, dan ada kala dimana kamu butuh pacar hanya untuk dijadikan status. Kedua hal yang kontras itu pasti ada di dalam benak remaja tanggung yang bahkan belum tahu apa arti cinta sebenarnya.


Tapi entah kenapa sampai sekarang saya masih melakukannya.


Saya masih menunggu seseorang, jujur aja. Dari beberapa waktu silam sampai dengan sekarang, ada sebuah rasa yang tak terbantahkan saat saya dekat dengan seseorang yang saya tunggu ini. Ada perasaan canggung, malu, sebal, dan bahkan sedikit rasa takut saat saya sedang berada di dekatnya. Tapi dalam lubuk hati yang paling dalam, saya malah ingin dekat dengannya selama mungkin. Memang sih kelihatan awkward, saya jadi kelihatan tsundere, tapi begitulah rasanya, begitulah cinta. Berbeda dengan perasaan terhadap seseorang yang ingin saya dekati hanya untuk dijadikan selingan aja dalam kehidupan percintaan ini. Saya merasa bebas dalam berekspresi di depan mereka, bisa ngomong tanpa gagap, dan berani memandang wajah serta mata mereka secara langsung. Itu semua karena perasaan yang ada di dalam hati saya hanyalah sebatas rasa suka, bukannya cinta. Perbedaan yang kontras itulah yang sedang saya pikirkan akhir-akhir ini. Orang bilang, naksir seseorang itu hanya bertahan maksimal selama 4 bulan aja, sedangkan kalau perasaan itu masih bertahan lebih dari 4 bulan, itu tandanya kamu bener-bener jatuh cinta.


Jadi, kalau menunggu seseorang itu udah pasti jatuh cinta dong ya?


Bisa iya, bisa nggak. Tapi sebagai diri sendiri, saya bisa menjawab: Iya. Karena kalau saya udah cinta dengan seseorang, sulit banget buat saya untuk melepasnya, terlebih jika seseorang yang sedang saya tunggu itu punya status single. Masalahnya, seseorang yang sedang saya tunggu ini punya status in a relationship dan saya nggak punya kesempatan untuk mendekatinya lebih jauh lagi. Eh... mendekatinya pun bagi saya juga perjuangan yang berat. Kenapa? Lha wong deket sama dia aja udah bikin saya malu, gimana caranya saya deket sama dia?


Lagian, seperti judul di atas, menunggu seseorang itu ibarat kamu sedang menjadi hantu.


Kok bisa?



Saya ingin berbagi pemikiran mengenai hal ini.






Jadi, saya tanya dulu, apa sih yang kamu pikir tentang hantu? Menakutkan? Menyeramkan? Atau justru bikin penasaran? Kata orang sih, hantu adalah perwujudan mereka-mereka yang udah meninggal yang tertahan di dunia ini tanpa bisa lanjut ke dunia sana dan terpaksa tetap 'hidup' di dunia ini tanpa adanya tujuan. Mereka hanya 'hidup', tanpa passion, tanpa hasrat, hanya mengambang, walaupun dalam perwujudan yang berbeda. Mereka ingin ada seseorang yang mau mendoakan agar mereka bisa lanjut ke dunia sana. Yaaa kata orang sih begitu.


Bagi saya, begitulah rasanya menunggu seseorang yang kamu harapkan untuk balik mencintaimu. Kamu jadi hantunya, cinta adalah doanya, dan seseorang itu adalah orang yang selama ini kamu tunggu-tunggu untuk mendoakanmu, atau dalam hal ini, untuk mencintaimu. Seberapa banyak cewek/cowok yang hadir dan berlalu-lalang masuk-keluar di kehidupan, kamu nggak akan benar-benar tertarik kepada mereka, kecuali hanya satu orang yang sedang kamu tunggu selama ini, yang menurutmu bisa memberi tujuan untuk hidup. Nggak ada passion dan keinginan sama sekali untuk mencintai orang yang berbeda. Toh boro-boro mencintai, naksir aja cepet banget hilangnya. Mungkin kamu bisa mendapatkan seseorang sebagai pengganti, tapi kamu nggak merasakan sesuatu yang seharusnya kamu rasakan. Kamu nggak akan mendapatkan passion dan tujuan darinya. Setidaknya, begitulah yang saya rasakan selama ini.


Berarti, selama ini saya udah berubah jadi hantu?


Kalau secara majas, mungkin iya, saya hidup bagai hantu. Yang saya lakukan hanyalah menanti dan menanti seseorang yang sekiranya bakal masuk ke kehidupan saya suatu hari nanti, entah itu kapan.


Kenapa hanya menanti? Kenapa hanya menunggu? Nggak bisakah melakukan sesuatu agar dekat dengan dirinya?


Sayangnya, nggak ada yang bisa saya lakukan.



Saya udah bilang, bahwa dia udah ada yang punya, dan segala yang saya lakukan untuknya bernilai nol alias nggak membawa efek apapun. Jadi, bisa dibilang saya nggak bisa melakukan sesuatu agar dekat dengan dirinya. Padahal, sebenarnya passion saya berada disitu. Saya bisa aja melakukan hal ini ke cewek lain, tapi sebagai akibatnya, saya nggak ada tujuan. Sama aja saya kayak hantu: 'Hidup' tanpa passion. Saya mungkin bisa mendapatkan sesuatu, tapi saya nggak tahu mau diapakan sesuatu itu untuk kedepannya. Nggak ada gunanya mendekati seseorang yang selama ini kamu nggak merasakan apa-apa terhadapnya. Kamu cuma akan buang-buang waktu, tenaga, pikiran, dan uang.




Suatu hari, saya menyadari hal ini dan memutuskan untuk keluar dari loop yang memutar-mutar saya sejak lama. Singkatnya, saya memutuskan untuk kembali lagi menjadi 'manusia'. Gimana caranya? Dengan cara me-refresh semuanya. Mensugesti pikiran bahwa cewek bukan cuma dia di dunia ini, untuk melupakan bahwa saya sedang menunggu seseorang, sampai saya menghapus kontaknya di BBM agar saya nggak mengganggu kehidupannya lagi. Saya ingin meninggalkan kesan bahwa saya menjauhi dia, padahal nyatanya itu semua hanya dalih yang saya lakukan karena saya sering salah tingkah dan malu setengah mati kalau ngobrol sama dia, apalagi kalau berhadapan langsung. Lalu, segala sugesti juga udah saya tanamkan di kepala, sampai saya bikin tujuan jangka pendek yang — anehnya — udah hampir semuanya terealisasi. Di saat tujuan-tujuan jangka pendek ini udah hampir semuanya tercapai, saya malah jadi susah untuk membuat tujuan baru lagi. Malahan, saya jadi nggak tahu setelah ini harus melakukan apa, dan bagaimana.


Sampai akhirnya, demi melupakannya lebih jauh lagi, saya nekat untuk 'berteman' dengan orang yang sekiranya bisa saya jadikan selingan di masa kekosongan ini. Yeah, awalnya nggak buruk-buruk amat. Saya jadi bisa ketawa dan senyum-senyum lagi, walaupun untuk sementara. Seperti yang saya bilang di atas, saya bisa mendapatkan apa yang saya mau untuk sementara, tapi namanya juga selingan, lama-lama saya merasa nggak ada passion dengan orang yang saya jadikan pengisi kekosongan ini. Saya jadi merasa bersalah harus meninggalkan dia tanpa sebab, yang ada hanyalah alasan saya meninggalkan dirinya karena kerugian yang saya derita karenanya. Ya gimana nggak rugi, dari awal cocok aja enggak. Asal ada tujuan jangka pendek, semua saya lakukan. Seperti yang saya bilang di atas, saya hanya buang-buang waktu, tenaga, pikiran, dan terlebih uang.


Pertanyaannya sekarang adalah: Gimana cara menghentikan ini semua?


Saya lagi-lagi balik jadi hantu, hanya menanti dan melakukan apa yang biasanya saya lakukan dalam hidup. Makan, minum, kuliah, main, refreshinghang-out, kumpul bareng temen-temen, dan lain sebagainya. Semuanya saya nikmati, tapi kadang di titik tertentu, saya punya keinginan untuk — setidaknya — punya seseorang untuk diajak berbagi bersama. Banyak orang yang dekat, dan banyak orang yang ingin mendekatkan. Tapi sayangnya, jawaban yang saya punya selalu sama:



"Mending single dulu daripada salah pilih lagi."



Selalu begitu. Bisakah saya mengganti 'target' untuk ditunggu? Siapa tahu, kalau saya mengganti target yang dimaksud, target baru saya nggak akan setega ini untuk membuat saya menunggu lagi dan lagi selama ini.


Bukannya saya berharap untuk segera dapat seseorang yang tepat atau si dia akhirnya luluh dan ngerti seberapa lama saya menunggunya, tapi saya bener-bener kesiksa dengan penantian yang nggak ada ujungnya ini. Pengen rasanya saya hilangkan perasaan ini ke dia, dan hidup bebas tanpa terikat dengan pikiran-pikiran yang muaranya selalu mengarah ke dia yang saya tunggu. Tapi masalahnya, saya nggak bisa menghilangkannya, caranya aja saya nggak ngerti. Tapi kata temen, bagusnya 'kejelekan' yang saya punya ini menandakan bahwa saya sebenarnya orang yang setia. Entah itu benar atau fitnah bagi siapapun yang membaca ini, saya nggak begitu peduli karena saking kesiksanya dengan mental perfeksionis yang saya punya sejak lahir ini. Ditambah dengan insecurity yang menjangkiti, alhasil, saya jadi makin complicated dalam menentukan tipikal seseorang yang saya inginkan.


Intinya adalah, nggak semua cowok mengejar banyak cewek. Satu pun udah cukup, asal cowok tersebut bener-bener yakin bahwa cewek itulah yang tepat. Tapi sayangnya ya... penantian panjang mau nggak mau pasti menghalanginya.