Semalam, di sepanjang perjalanan di dalam mobil, kami bernyanyi bersama. Setiap lagu kami nyanyikan dengan penuh semangat. Walaupun lagu yang terdengar adalah lagu slow yang terkesan galau dan mellow, toh kami tetap aja menyanyikan lagu tersebut dengan setengah berteriak. Menyenangkan rasanya. Dan kalau ada lagu yang bertema penantian cinta yang panjang, seperti lagunya Seventeen yang berjudul Untuk Mencintaimu, atau Seberapa Pantas-nya Sheila On 7, entah kenapa temen-temen saya pasti nyeletuk:
"Hei Dik, ini lagumu!"
"Wah Dik, lagu iki cocok banget nggo kowe." (Wah Dik, lagi ini cocok banget buat kamu.)
"Wah, lagune Dika iki." (Wah, lagunya Dika nih.)
Apakah saya punya image sebagai seorang cowok yang sedang menunggu karena saking putus asanya dalam mencari seseorang yang pas?
Nggak usah dijawab pun, saya udah menyelipkan jawaban tersirat dalam pertanyaan retoris di atas.
Entah kenapa, setiap bener-bener jatuh cinta dengan seseorang, saya
diharuskan menunggu untuk beberapa waktu sampai kemudian saya sukses menjalin
hubungan dengan seseorang yang saya cinta. Dengan Vanny, contohnya. Perlu
beberapa waktu dari kelas VIII sampai di akhir kelas IX bagi saya untuk
menunggunya dan sampai akhirnya saya mendapatkannya dan berhasil menjalin
hubungan dalam kurun waktu yang lumayan panjang. Walaupun dalam kasus ini, saya
juga sempat dekat dengan seseorang yang lain sebelum dengan Vanny. Tapi toh
kedekatan dengan seseorang yang lain itu nggak bertahan lama-lama amat, paling
lama hanya sekitar 3 bulanan. Saya melakukannya hanya untuk sekedar mengisi
kekosongan. Saat SMP dulu, ada kala dimana kamu benar-benar menginginkan
seseorang untuk kamu jadikan pacar, dan ada kala dimana kamu butuh pacar hanya
untuk dijadikan status. Kedua hal yang kontras itu pasti ada di dalam benak
remaja tanggung yang bahkan belum tahu apa arti cinta sebenarnya.
Tapi entah kenapa sampai
sekarang saya masih melakukannya.
Saya masih menunggu seseorang,
jujur aja. Dari beberapa waktu silam sampai dengan sekarang, ada sebuah rasa
yang tak terbantahkan saat saya dekat dengan seseorang yang saya tunggu ini.
Ada perasaan canggung, malu, sebal, dan bahkan sedikit rasa takut saat
saya sedang berada di dekatnya. Tapi dalam lubuk hati yang paling dalam, saya
malah ingin dekat dengannya selama mungkin. Memang sih kelihatan awkward,
saya jadi kelihatan tsundere, tapi begitulah rasanya, begitulah
cinta. Berbeda dengan perasaan terhadap seseorang yang ingin saya dekati hanya
untuk dijadikan selingan aja dalam kehidupan percintaan ini. Saya merasa bebas
dalam berekspresi di depan mereka, bisa ngomong tanpa gagap, dan berani
memandang wajah serta mata mereka secara langsung. Itu semua karena perasaan
yang ada di dalam hati saya hanyalah sebatas rasa suka, bukannya cinta.
Perbedaan yang kontras itulah yang sedang saya pikirkan akhir-akhir ini. Orang
bilang, naksir seseorang itu hanya bertahan maksimal selama 4 bulan aja,
sedangkan kalau perasaan itu masih bertahan lebih dari 4 bulan, itu tandanya
kamu bener-bener jatuh cinta.
Jadi, kalau menunggu seseorang
itu udah pasti jatuh cinta dong ya?
Bisa iya, bisa nggak. Tapi
sebagai diri sendiri, saya bisa menjawab: Iya. Karena kalau saya
udah cinta dengan seseorang, sulit banget buat saya untuk melepasnya, terlebih jika
seseorang yang sedang saya tunggu itu punya status single.
Masalahnya, seseorang yang sedang saya tunggu ini punya status in a
relationship dan saya nggak punya kesempatan untuk mendekatinya lebih
jauh lagi. Eh... mendekatinya pun bagi saya juga perjuangan yang berat.
Kenapa? Lha wong deket sama dia aja udah bikin saya malu,
gimana caranya saya deket sama dia?
Lagian, seperti judul di atas,
menunggu seseorang itu ibarat kamu sedang menjadi hantu.
Kok bisa?
Saya ingin berbagi pemikiran
mengenai hal ini.
Jadi, saya tanya dulu, apa sih yang kamu pikir tentang hantu?
Menakutkan? Menyeramkan? Atau justru bikin penasaran? Kata orang sih, hantu
adalah perwujudan mereka-mereka yang udah meninggal yang tertahan di dunia ini
tanpa bisa lanjut ke dunia sana dan terpaksa tetap 'hidup' di dunia ini tanpa
adanya tujuan. Mereka hanya 'hidup', tanpa passion, tanpa hasrat,
hanya mengambang, walaupun dalam perwujudan yang berbeda. Mereka ingin ada
seseorang yang mau mendoakan agar mereka bisa lanjut ke dunia sana. Yaaa kata
orang sih begitu.
Bagi saya, begitulah rasanya
menunggu seseorang yang kamu harapkan untuk balik mencintaimu. Kamu jadi
hantunya, cinta adalah doanya, dan seseorang itu adalah orang yang selama ini
kamu tunggu-tunggu untuk mendoakanmu, atau dalam hal ini, untuk mencintaimu.
Seberapa banyak cewek/cowok yang hadir dan berlalu-lalang masuk-keluar di
kehidupan, kamu nggak akan benar-benar tertarik kepada mereka, kecuali hanya
satu orang yang sedang kamu tunggu selama ini, yang menurutmu bisa memberi
tujuan untuk hidup. Nggak ada passion dan keinginan sama
sekali untuk mencintai orang yang berbeda. Toh boro-boro mencintai, naksir aja
cepet banget hilangnya. Mungkin kamu bisa mendapatkan seseorang sebagai pengganti,
tapi kamu nggak merasakan sesuatu yang seharusnya kamu rasakan. Kamu nggak akan
mendapatkan passion dan tujuan darinya. Setidaknya, begitulah
yang saya rasakan selama ini.
Berarti, selama ini saya udah
berubah jadi hantu?
Kalau secara majas, mungkin iya,
saya hidup bagai hantu. Yang saya lakukan hanyalah menanti dan menanti
seseorang yang sekiranya bakal masuk ke kehidupan saya suatu hari nanti, entah
itu kapan.
Kenapa hanya menanti? Kenapa
hanya menunggu? Nggak bisakah melakukan sesuatu agar dekat dengan dirinya?
Sayangnya, nggak ada yang bisa saya
lakukan.
Saya udah bilang, bahwa dia
udah ada yang punya, dan segala yang saya lakukan untuknya bernilai nol alias
nggak membawa efek apapun. Jadi, bisa dibilang saya nggak bisa melakukan
sesuatu agar dekat dengan dirinya. Padahal, sebenarnya passion saya
berada disitu. Saya bisa aja melakukan hal ini ke cewek lain, tapi sebagai
akibatnya, saya nggak ada tujuan. Sama aja saya kayak hantu: 'Hidup'
tanpa passion. Saya mungkin bisa mendapatkan sesuatu, tapi saya nggak tahu
mau diapakan sesuatu itu untuk kedepannya. Nggak ada gunanya mendekati
seseorang yang selama ini kamu nggak merasakan apa-apa terhadapnya. Kamu cuma
akan buang-buang waktu, tenaga, pikiran, dan uang.
Suatu hari, saya menyadari hal ini dan memutuskan untuk keluar
dari loop yang memutar-mutar saya sejak lama. Singkatnya, saya
memutuskan untuk kembali lagi menjadi 'manusia'. Gimana caranya? Dengan
cara me-refresh semuanya. Mensugesti pikiran bahwa cewek bukan cuma
dia di dunia ini, untuk melupakan bahwa saya sedang menunggu seseorang, sampai saya
menghapus kontaknya di BBM agar saya nggak mengganggu kehidupannya lagi. Saya
ingin meninggalkan kesan bahwa saya menjauhi dia, padahal nyatanya itu semua
hanya dalih yang saya lakukan karena saya sering salah tingkah dan malu
setengah mati kalau ngobrol sama dia, apalagi kalau berhadapan langsung. Lalu,
segala sugesti juga udah saya tanamkan di kepala, sampai saya bikin tujuan
jangka pendek yang — anehnya — udah hampir semuanya terealisasi. Di saat
tujuan-tujuan jangka pendek ini udah hampir semuanya tercapai, saya malah jadi
susah untuk membuat tujuan baru lagi. Malahan, saya jadi nggak tahu setelah ini
harus melakukan apa, dan bagaimana.
Sampai akhirnya, demi melupakannya
lebih jauh lagi, saya nekat untuk 'berteman' dengan orang yang sekiranya
bisa saya jadikan selingan di masa kekosongan ini. Yeah,
awalnya nggak buruk-buruk amat. Saya jadi bisa ketawa dan senyum-senyum lagi,
walaupun untuk sementara. Seperti yang saya bilang di atas, saya bisa
mendapatkan apa yang saya mau untuk sementara, tapi namanya juga selingan,
lama-lama saya merasa nggak ada passion dengan orang yang saya
jadikan pengisi kekosongan ini. Saya jadi merasa bersalah harus meninggalkan
dia tanpa sebab, yang ada hanyalah alasan saya meninggalkan dirinya karena
kerugian yang saya derita karenanya. Ya gimana nggak rugi, dari awal cocok aja
enggak. Asal ada tujuan jangka pendek, semua saya lakukan. Seperti yang saya
bilang di atas, saya hanya buang-buang waktu, tenaga, pikiran, dan terlebih
uang.
Pertanyaannya sekarang
adalah: Gimana cara menghentikan ini semua?
Saya lagi-lagi balik jadi
hantu, hanya menanti dan melakukan apa yang biasanya saya lakukan dalam hidup.
Makan, minum, kuliah, main, refreshing, hang-out,
kumpul bareng temen-temen, dan lain sebagainya. Semuanya saya nikmati, tapi
kadang di titik tertentu, saya punya keinginan untuk — setidaknya — punya
seseorang untuk diajak berbagi bersama. Banyak orang yang dekat, dan banyak
orang yang ingin mendekatkan. Tapi sayangnya, jawaban yang saya punya selalu
sama:
"Mending single dulu daripada salah pilih lagi."
Selalu begitu. Bisakah saya mengganti 'target' untuk
ditunggu? Siapa tahu, kalau saya mengganti target yang dimaksud, target baru saya
nggak akan setega ini untuk membuat saya menunggu lagi dan lagi selama ini.
Bukannya saya berharap untuk
segera dapat seseorang yang tepat atau si dia akhirnya luluh dan ngerti
seberapa lama saya menunggunya, tapi saya bener-bener kesiksa dengan penantian
yang nggak ada ujungnya ini. Pengen rasanya saya hilangkan perasaan ini ke dia,
dan hidup bebas tanpa terikat dengan pikiran-pikiran yang muaranya selalu
mengarah ke dia yang saya tunggu. Tapi masalahnya, saya nggak bisa
menghilangkannya, caranya aja saya nggak ngerti. Tapi kata temen, bagusnya 'kejelekan'
yang saya punya ini menandakan bahwa saya sebenarnya orang yang setia. Entah
itu benar atau fitnah bagi siapapun yang membaca ini, saya nggak begitu peduli
karena saking kesiksanya dengan mental perfeksionis yang saya punya sejak lahir
ini. Ditambah dengan insecurity yang menjangkiti, alhasil, saya
jadi makin complicated dalam menentukan tipikal seseorang yang
saya inginkan.
Intinya adalah, nggak semua
cowok mengejar banyak cewek. Satu pun udah cukup, asal cowok tersebut
bener-bener yakin bahwa cewek itulah yang tepat. Tapi sayangnya ya... penantian
panjang mau nggak mau pasti menghalanginya.



