Selasa, 08 Desember 2015

Cara Meninggalkan Kesan Baik yang Mudah



Setiap interaksi yang kita lakukan dari pagi sampai malam hari adalah kesempatan kita untuk mempengaruhi orang lain. Mempengaruhi orang lain ini identik dengan mengembangkan relasi pertemanan. Lalu, apa yang didapat dari relasi pertemanan yang luas? Ya semakin banyak teman, semakin banyak karakter yang akan kita temui, dan semakin kita belajar tentang arti kehidupan.


Tapi bibit pertemanan ini nggak tumbuh begitu aja, butuh treatment khusus yang harus kita lakukan supaya bibit ini tumbuh sesuai harapan. Treatment khusus inilah yang disebut "Seni Berkomunikasi". "Seni Berkomunikasi" ini juga butuh media buat merambat, di jaman sosial media sekarang ini udah banyak banget tempat buat berkomunikasi untuk menyebar bibit pertemanan.


Sama seperti membangun rumah, "Seni Berkomunikasi" ini juga punya pondasi. Pondasi ini adalah sesuatu yang menopang semuanya. Kalo pondasinya lemah ya bibit yang kita tanam nggak bisa tumbuh. Pondasi ini biasa disebut dengan "kesan". Kesan penting banget sih menurut saya, sebaik apapun seni berkomunikasi kita kalau kita ninggalin kesan yang nggak baik dan nggak tahan lama udah deh. Habis, tamat, nggak ada kompromi, nggak ada cerita mengembangkan relasi pertemanan. Terus gimana caranya ninggalin kesan yang baik dan tahan lama? Nih coba simak penjelasan di bawah ini ya.



1. Taruh Minat Kita terhadap Minat Orang Lain


Nggak bisa dipungkiri, fokus terhadap diri sendiri selalu mendominasi pikiran kita. Fokus ini mempengaruhi cara berpikir, bertindak, dan berkomunikasi. Akibatnya cap "manusia adalah makhluk paling egois" pun jadi susah dihilangkan dan jangan harap bibit pertemanan bisa tumbuh dari sana. Bahkan dampak terburuk dari keegoisan manusia yang nggak terkontrol adalah perang dimana-mana, untuk membuktikan siapa yang paling kuat dan berkuasa.


Terus gimana caranya supaya kita nggak egois? Cara gampangnya adalah dengan menaruh minat kita ke minat orang lain, daripada menghabiskan waktu buat memikirkan diri sendiri, mending menghabiskan waktu untuk berhubungan dengan teman, kolega, dan sebagainya. Cari tahu masalah apa yang bisa kamu bantu, atau usaha apa yang bisa kamu promosikan.


Menaruh minat kita ke minat orang lain bukan berarti mengganti minat kita menjadi minat yang sama dengan orang tersebut, tapi "tertariklah dengan minat orang lain". Kesan pertama yang ditimbulkan dari ketertarikan minat kita ke orang lain ini kuat banget dan bagus buat dicoba. Dengan begitu, kamu bisa memiliki banyak teman dalam hitungan menit jika kamu dengan tulus tertarik dengan minat orang lain ketimbang dalam hitungan berbulan-bulan mencoba membuat orang lain tertarik terhadap kamu.



2. Tersenyumlah!


Senyuman nggak butuh biaya. Senyuman memperkaya orang yang menerima, tanpa membuat miskin orang yang memberi. Senyuman hanya membutuhkan waktu yang sekejap, tapi memori yang ditinggalkan akan bertahan selamanya. Nggak ada orang yang begitu kaya dan berkuasa yang tidak membutuhkan senyuman. Nggak ada orang yang terlalu miskin sampai nggak bisa memberi senyuman kepada orang lain. Tapi senyuman nggak bisa dibeli, nggak bisa didapat dari mengemis, serta nggak bisa dicuri atau dipinjam. Karena senyuman nggak memiliki harga sampai seseorang memberikannya.


Beberapa orang mungkin terlalu lemah untuk memberikan senyuman kepada kita, tapi tersenyumlah ke mereka. Karena nggak ada orang yang lebih membutuhkan senyuman selain mereka yang nggak memiliki senyuman lagi untuk diberi.


Lagian, senyum bikin kamu makin ganteng bagi yang cowok dan makin cantik bagi kamu yang cewek, kan?



3. Ingat Nama!


Nama bukan sekedar nama. Nama adalah pengungkapan karakter, kepribadian, dan lain sebagainya. Beberapa suku di Afrika malah masih percaya jika nama seseorang adalah kekuatan utama yang menentukan kemampuan, dan akhirnya merembet sampai ke takdir orang tersebut. Cara penerapannya juga gampang banget, kalau biasanya kamu cuma nyapa "Hai!" atau "Halo!" ke seseorang, mungkin sekarang kamu bisa menambahkannya seperti misalnya "Halo, Dika." atau sapaan sejenis yang ditambah embel-embel nama di belakangnya.


Apa sih artinya mengingat nama seseorang bagi kita?


Artinya, ingat nama seseorang itu secara nggak langsung kita mengirim pesan kalau orang tersebut penting buat kita. Kalau nama lawan bicara aja nggak inget, lawan bicara kita bakal berpikir kita juga nggak terlalu penting untuk diingat, dan jangan harap bibit pertemanan bisa tumbuh dari sini.



4. Menyimak


Menyimak nggak kalah penting dari tersenyum, lho. Pernah ada seorang gitaris profesional melakukan perjalanan dengan sebuah pesawat. Sebelum take-off, dia melihat seseorang melempar-lempar gitarnya di kereta barang sampai rusak berat. Gitaris ini mencoba untuk cerita ke pramugari, tapi sang pramugari malah bilang itu bukan urusannya dan kalau mau komplain silahkan komplain dengan petugas kereta barang. Si gitaris pun keluar dan komplain ke petugas yang bersangkutan. Hasilnya? Nihil. Ternyata tetap nggak didengarkan. Sampai tiba di kota tujuan pun pihak bandara tetap nggak ada satupun yang menggubris keluhan si gitaris. Setahun berlalu dan semua upaya dilakukan, pihak pesawat tetap nggak mau ganti rugi.


Namun sang Gitaris selalu punya dua hal: Sesuatu untuk dikatakan dan medium penyampaiannya. Jika pihak pesawat nggak mau mendengarkan mungkin para penggemarnya akan mau. Lalu, sang gitaris pun membuat lagu yang liriknya menyinggung maskapai tersebut dan di-upload di YouTube. Dan nggak disangka, dalam 2 minggu videonya sudah di-view sebanyak 4 juta kali oleh penggemarnya. Saham pihak maskapai pun turun 10% dan kerugiannya bisa sampai $100 juta lebih. Berpuluh kali lipat dari harga gitar kalo seandainya pihak maskapai mau mendengarkan keluhan dari awal.


"Menyimak adalah kekuatan untuk memberikan apa yang sangat diinginkan orang lain - keinginan untuk didengar dan dimengerti." Begitulah orang bijak mendefinisikannya.



Berkomunikasi mungkin jadi kegiatan utama kita sehari-hari. Baik dengan keluarga, teman, kenalan baru, saudara, dan lain sebagainya. Apalagi di jaman dimana media sosial berkembang pesat banget kayak sekarang, menebar bibit pertemanan itu juga harusnya gampang banget. Yang bisa punya pengaruh, yang punya kekuatan menyimak, serta yang murah senyumlah yang berkuasa karena pada dasarnya manusia itu cuma pengen kebutuhannya terpenuhi, dan yang saya bahas tadi lebih ke kebutuhan psikologis kita sehari-hari.



By the way, itu kan kesan baik, kalo ninggalin kesan jahat gimana caranya ya? Gampang, banyak banget caranya, lakuin aja kebalikan dari keempat poin di atas, percaya deh musuh kamu bakal nambah, tapi mending jangan dicoba.