Satu kata akan mewakili apa yang saya rasakan saat menulis post
kali ini: Kosong.
Kenapa kosong?
Begini.
Saya rasa... saya baru aja
terbebas dari penantian setelah sekian lama menderita karena menunggu seseorang
yang bahkan tak kunjung melihat ke arah saya sama sekali. Setelah beberapa kali
proses tarik-ulur karena kelabilan saya yang kadang memutuskan untuk menunggunya
dan kadang memutuskan untuk menjauh darinya, akhirnya terjawab sudah bahwa saya
nggak perlu menunggunya lebih lama lagi. Kenapa? Karena pada hari Jumat
kemarin, saya mengetesnya diam-diam dengan cara mengobrol yang di dalamnya
terdapat jebakan yang dapat membuat saya memutuskan apakah dia memang layak
ditunggu atau nggak berdasarkan jawaban yang dia utarakan. Dengan perasaan
berat untuk mengajak dia ngobrol karena menahan malu, toh akhirnya saya
berhasil juga ngomong duluan (yang lucunya dia juga kaget saat saya ajak
ngobrol karena memang udah lama kita belum ngobrol). Jawabannya nggak membuat saya
terkejut sedikitpun, karena sebelumnya udah saya prediksi dia bakalan menjawab
seperti itu, dan entah gimana bisa perasaan saya — atau lebih tepatnya beban
yang ada di dalam hati saya — lenyap sudah.
Kenapa saya bertanya seperti itu? Karena dalam masa penantian, kamu nggak akan tahu apakah orang yang kamu tunggu itu orang yang tepat atau bukan, melainkan kamu hanya tahu bahwa 'orang ini satu-satunya orang yang berharga dari semuanya', maka dari itu kamu mau-mau aja menunggunya. Dan, alhamdulillah, saya udah diberi tahu jawabannya oleh Sang Maha Pencipta sendiri melalui ide yang entah bagaimana tercetus aja di dalam kepala saya.
Seperti yang Hayley Williams bilang dalam lagunya yang berjudul 'I Caught Myself':
"You're not the one I believe in, with God as my witness."
Intinya, ternyata dia nggak begitu berharga untuk ditunggu.
Hmm... saya agak-agak parno juga sih kalo kepincut dia lagi. Jangan sampai, jangan sampai...
"Haaah..."
Beban saya hilang sih hilang, tapi itu artinya saya belum punya
seseorang untuk diperhatikan lagi. Mungkin untuk waktu yang nggak sebentar,
karena saya memang 'extremely picky' untuk hal-hal yang
berhubungan dengan partner yang tentu aja suatu hari nanti
bakal menemani saya sebagai seorang istri. Saya harap setelahnya saya nggak
akan salah pilih lagi dan bisa ketemu dengan seseorang yang klop luar-dalam. Saya
udah bosen jadi 'hantu' lama-lama.
Namun, beberapa hari setelahnya,
saya merasa aneh. Entah kenapa, saya merasa ada sesuatu yang salah dalam diri saya.
Saya merasa kosong. Saya merasa nggak punya semangat sedikitpun
dalam melakukan sesuatu, dan puncaknya, saya sampai mengalami rasa bosan
yang... nggak biasa. Entah ini imbas dari nggak adanya 'tujuan' untuk
menunggu seseorang lagi, atau nggak adanya seseorang untuk ditunggu lagi, atau
apa. Awalnya, saya menganggap ini biasa karena beban saya memang udah hilang.
Rasanya jadi ringan, plong, dan nggak ada yang begitu berarti buat dipikirin.
Tapi nggak tahu kenapa, lama-lama saya jadi bosan melakukan rutinitas.
Sampai-sampai untuk melakukan rutinitas tersebut, saya nggak bisa melakukannya
dengan benar, walaupun saya bisa melakukannya. Setelah menjalani rutinitas, saya
hanya bisa rebahan di kasur dan mencari jalan keluar termudah yang bisa saya
lakukan: tidur. Entah tidur-tidur ayam, atau benar-benar tidur, karena saya
lebih bisa 'merasa' saat berada dalam mimpi ketimbang di dunia nyata. Oh ya, saya
juga bisa ketawa lagi untuk sesaat waktu menonton One-Punch Man. Saitama, you
saved me.
Haaah... Keanehan apa lagi ini,
astaga...
Sebenernya toh saya yakin masih
punya tujuan, juga masih punya kewajiban yang harus dilakukan, tapi dalam
melakukannya saya bener-bener nggak ada semangat dan terkesan seperti sebuah
robot yang hanya harus melaksanakan misinya. Saya agak bingung juga sih,
sebenernya apa yang saya alami ini wajar atau nggak, tapi rasanya bener-bener
aneh.
Serius.
Saya suatu ketika pernah
berpikir...
'Saya nggak boleh berdiam diri di tempat yang sama dan melakukan sesuatu yang sama berulang-ulang. Saya harus menemukan tempat baru dan orang-orang baru yang bisa ditemui!'
Begitu.
Tapi setelah dipikir-pikir
lagi, memangnya saya harus kemana? Lalu siapa yang harus saya temui? Nah,
bingung sendiri saya jadinya. Tempat baru yang saya pikirkan itu dimana
harusnya? Malahan, semakin saya pikir, semakin pusing kepala saya (dan saya
takut IQ saya jadi jeblok gara-gara mikirin hal ini), alhasil sampai sekarang saya
masih kebingungan namun menemukan jawaban tersimpel yang udah saya pikirkan:
Saya butuh piknik. Saya
kurang piknik.
Terakhir hang-out yang bener-bener hang-out yang saya inget adalah saat di foto ini...
Kalo dipikir-pikir lagi, udah lama saya nggak piknik bareng temen-temen dan having fun bersama. Terakhir kali yang bisa saya ingat adalah saat pergi hang-out sama Wahyu dkk. keliling Semarang. Sebelumnya, belum lama ini saya pergi ke Yogyakarta sih, tapi bukan piknik namanya kalo kamu pergi keluar kota dengan niat untuk mengikuti tes. Piknik menurut saya adalah pergi bareng keluarga atau temen-temen dengan tujuan untuk bersenang-senang dan melepas beban-beban yang ada di pikiran untuk sementara waktu. Jadi, piknik harus bersenang-senang, minimal suasana hati jadi senang dan kamu bisa tertawa. Apa saya harus merencanakan piknik atau having fun sama temen-temen ya setelah ini?
Oh iya! Karena sebentar lagi Tahun Baru, mungkin saya bisa bikin rencana untuk merayakannya bersama keluarga dan kedua sahabat ter...cinta? — Maksud saya, Ardan dan Aryo — supaya saya nggak merasa bosan dan menjamur di rumah. Bikin rencana juga menarik ya kayaknya? Paling tidak, saya jadi bisa melakukan sesuatu dan bukannya nganggur. Suram amat ya kayaknya, persis sama langit di bulan Desember ini: suram, kelabu, mendung terus. Bukan kegiatan saya yang saya maksud, tapi dalem hati saya yang kosong ini karena dilanda kejenuhan. Hoahaha... basi amat omongan saya.
Yah, sebenernya dibilang nganggur pun, saya masih punya tugas-tugas yang belum terselesaikan dan UAS yang belum terlewati. Kurang berani apa saya sampai-sampai tugas-tugas kuliah dan UAS aja nggak saya anggap ada?






