Selasa, 17 April 2018

I Won't Say It's a Goodbye



Pada hari Rabu, tepatnya tanggal 21 Februari 2018, saya untuk pertama kalinya sejak usia 7 tahun, mengunjungi bandara Ahmad Yani. Nggaaak, saya nggak pergi kemana-mana kok (dan mau kemana juga saya? Hehehe!), tapi tujuan saya kesana adalah untuk mengantar sahabat saya semasa kuliah dari semester 1 hingga sekarang, karena yang bersangkutan bakalan pergi ke Jepang selama satu tahun lamanya.




Iya, siapa lagi kalo bukan Angger, hehehe.

Dia bakalan berada di Jepang selama satu tahun lamanya karena bekerja disana. Saya sebenernya agak envy juga sih, secara dia udah bisa ke Jepang sementara saya masih jaga rumah aja di Semarang. Jadi, bisa dikatakan bahwa saya nggak akan ketemu sama Angger selama setahun lamanya nanti. Saya juga nggak tahu setahun kedepan akan mengalami hal apa aja, yang jelas sewaktu si Angger pulang nanti mungkin aja saya udah lulus, atau udah bekerja di tempat lain, dan sebagainya. Maka dari itu, melepas sahabat saya yang satu ini ke bandara merupakan sebuah cara perpisahan terbaik yang bisa saya lakukan.


Menurut saya sih, perpisahan bukanlah hal yang harus disesali, karena saya paham semua orang pasti mempunyai jalan hidup dan impian masing-masing yang harus diraih. Kita juga nggak bisa menahan seseorang untuk terus berada di dalam kehidupan kita, dan maka dari itulah, terus mendukung apapun yang dilakukan orang terdekat adalah cara terbaik untuk menerima perpisahan yang sementara ini. Semua orang saya rasa akan mengalami hal seperti ini.




Bukan cuma Angger, temen kuliah (yang baru-baru ini deket sama) saya yang lain yang namanya Wijay juga saya beri sesuatu yang bisa saya lakukan: Saya kasih dia gambar, yang bisa kamu lihat di foto di atas ini. Yaa bikin orang lain senang sebelum mengejar impian masing-masing juga nggak ada salahnya kan? Hehehe! Meski cuma sementara, bagi saya setiap momen apapun meski momen perpisahan memang harus dijalani dengan sebaik mungkin. This is at least what I could do.





Yaaay! Saya yang paling tinggi.


Kuliah selama 4 tahunan lamanya juga nggak menjamin bahwa kita bakalan bisa terus sama-sama dengan teman-teman seperjuangan, karena di akhir-akhir seperti ini pasti yang ada di pikiran kita hanyalah mengejar apa yang seharusnya kita raih demi kehidupan yang kita inginkan. Tapi satu hal yang pasti: Kita nggak akan pernah saling melupakan, meski nantinya kita akan mempunyai keluarga dan tujuan hidup sendiri-sendiri.


Last but not least, good luck at Japan, guys! We will meet again in time for sure.