Selasa, 17 April 2018

Having a Secret Admirer, Happy or Creepy?



Tanggal 14 Februari kemarin, atau biasa kita kenal dengan sebutan Valentine’s Day, saya mendapatkan sebuah kejadian yang sebenernya nggak pernah terpikirkan sebelumnya. Kejadian ini jujur aja bikin saya merasa campur aduk antara penasaran, waswas, sekaligus senang. Emang kejadian apa sih?


Kejadian saya diberi sesuatu oleh seseorang secara diam-diam, atau dengan kata lain, dia adalah secret admirer.


Di suatu siang pukul 11, saya lagi di perpustakaan karena harus merevisi skripsi yang sebenernya nggak begitu rumit. Tas saya tinggal di loker, dan saya cuma ngambil laptop serta lembaran-lembaran skripsi yang udah dicorat-coret sama dosen. Butuh kira-kira satu jam bagi saya untuk merevisi, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk keluar dan menuju ke dekanat karena harus mengurus surat permohonan keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT).


Setelah sampai di dekanat, saya buru-buru ambil berkas-berkas yang diperlukan guna melengkapi syarat permohonan keringanan UKT karena udah mepet dengan jam istirahat. Sesampainya di meja petugas yang mengurus hal ini, ternyata ada beberapa berkas yang kurang dan ada pula yang belum saya tandatangani. Beruntung, karena Ibu Petugas di dekanat ini baik hati, saya dipersilakan melengkapi berkas-berkas ini dan beliau akan menunggu.


Saya lari menuju ke fotokopian di dekat kantin. Setelah meletakkan tas seadanya dan mengambil berkas-berkas serta laptop, saya mengetik apa aja berkas yang kurang, mengkopi proposal skripsi yang udah di-acc sebagai tanda bukti, dan menandatangani bekas yang belum saya tandatangani. Saya nggak tahu udah menghabiskan berapa lama untuk hal tersebut, tapi setelah selesai, saya langsung kembali menuju ke dekanat karena merasa nggak enak dengan si Ibu Petugas yang menunggu.


Setelah proses pengecekan berkas dan bertanya ngalor-ngidul mengenai hal UKT, saya keluar dari ruangan si Ibu Petugas ini. Waktu jalan, hape saya berdering. Ternyata ada telepon WhatsApp dari Widya yang bersama dengan Zulfa juga ikut mengurus surat permohonan ini. Dia nanya gimana proses pengajuan berkasnya, dan karena saya pengen menjelaskan secara langsung, ya udah saya susul dia ke gedung B9.


Di gedung B9, saya ketemu Widya dan Zulfa yang lagi sibuk ngurus rekap nilai sebagai tanda bukti pengajuan berkas dan nemenin mereka untuk beberapa saat. Nah, kejadiannya mulai dari sini. Waktu saya mau masukin bolpoin yang ada di saku celana karena kurang nyaman waktu saya lagi duduk ke dalam tas, tiba-tiba saya menemukan sebuah benda kecil, lembut, berbulu, dan pas di genggaman (bukan, bukan marmut).


Benda apa coba?




Yep, mini teddy bear.


Saya bingung seketika, ini boneka punya siapa ya? Saya inget-inget lagi, awal waktu saya berangkat ke kampus, saya nggak melihat adanya boneka mini ini di dalam tas, pun juga waktu saya ngambil charger laptop waktu di perpustakaan maupun saat mengambil bolpoin waktu di fotokopian. Saya berasumsi, ‘Oh, mungkin memang ada, tapi saya nggak menyadarinya’ tapi kalo dipikir lagi, saya kan nggak punya boneka di rumah. Lantas, boneka ini punya siapa? *garuk-garuk kepala*


Widya dan Zulfa juga bingung waktu saya tunjukin bonekanya ke mereka. Tapi ketimbang repot mikir hal ini, mereka lebih concern ke berkas-berkas mereka. Setelah itu saya sempat bertanya ke adik kelas yang sempat menyapa saya duluan, dan tentu aja dia nggak tahu-menahu soal ini, dan parahnya... dia ngira saya accuse dia yang udah kasih boneka ini ke saya. Meski sempat curiga sih, tapi saya kan cuma nanya, hehehe!




Karena penasaran banget, dan merasa termata-matai (emang ada ya kosakata termata-matai?), saya memutuskan pulang ke rumah. Tapi sebelum itu, saya sempat bikin status di WhatsApp mengenai boneka ini, bertanya siapa yang udah memasukkan boneka ini ke dalam tas saya, dan mengeluh karena seseorang udah melanggar privasi saya dengan membuka tas saya secara sengaja, meski hanya untuk sekedar memasukkan boneka mini ini. Oh ya, saya sejatinya suka surprise, tapi berhubung hanya ada boneka mini ini tanpa sepucuk surat atau tanda-tanda yang lain di dalam tas, saya malah merasa... waswas, concern. Di dalam benak cuma ada, ‘Ini sebenernya dari siapa sih? Dan kapan dia masukin boneka ini ke dalem tas? Kok aku nggak ngerti?’ karena bener-bener nggak adanya petunjuk APAPUN mengenai si empunya teddy bear ini. Tapi karena kasian, saya memutuskan untuk membawa teddy bear malang ini pulang ke rumah.




Sesampainya di rumah, saya tanya si Intan, adik cewek saya, perihal boneka ini. Mungkin aja kan itu punya dia dan entah gimana terselip ke dalam tas saya. Dan seperti yang udah saya duga, itu bukan bonekanya. Saya coba buka hape, ternyata ada beberapa balasan dari teman-teman yang menanggapi status saya, dan mayoritas dari mereka menyatakan hal yang sama: I have a secret admirer. Sejenak saya termangu. Sebenernya bukan hal baru sih buat saya mengenai secret admirer ini, karena saya memang punya beberapa, dulu maupun sekarang, baik yang saya ketahui maupun yang nggak saya ketahui, hehehe! *ngacir*


Memang pernah ada pengalaman serupa waktu saya SD, SMP, dan SMA, tapi jujur deh, baru kali ini di kampus saya mengalami kejadian begini. Saya sempat punya asumsi, bahwa di lingkungan kampus saya yang mahasiswa serta mahasiswinya mayoritas berasal dari luar Semarang, seseorang yang dengan berani atau blak-blakan mengungkapkan apa yang dia rasa atau yang dia pikirkan kepada seseorang melalui cara apapun merupakan sebuah hal yang langka. Atau bisa dibilang, mayoritas orang-orang yang mengenal saya mempunyai kepribadian pemalu. Lantaaas, apakah seseorang yang memberikan saya teddy bear ini merupakan orang Semarang? I have no idea...


Saya jadi berpikir, sebelumnya kalo kemana-mana di kampus, pasti saya bergerombol dengan teman-teman, atau setidaknya bersama dengan satu orang teman. Berhubung teman-teman saya mayoritas udah pada lulus (poor me...), sekarang kalo di kampus saya kemana-mana sendirian, mungkin dari sinilah keberanian si pemberi boneka ini berasal. Saya awalnya penasaran waktu menemukan boneka ini di dalam tas, tapi karena nggak adanya petunjuk sama sekali, saya malah sempat khawatir juga jangan-jangan yang naruh boneka ini sebenernya adalah seorang cowok (ini jaman LGBT, nggak ada salahnya kan waswas). Tapi berhubung nggak mau mikir macem-macem, ya udah deeeh saya syukuri masih ada yang perhatian meski caranya nggak terlalu saya suka.




Buat siapapun kamu yang udah memberi saya boneka ini, saya hargai, saya berterimakasih juga meski lebih afdol kalo dikasih cokelat ketimbang boneka berpesankan ‘Love’ ini. *ngacir* Tapi tolong jangan diulangi deh, minimal kasih petunjuklah kamu itu siapa. Saya nggak akan marah mau saya tahu atau nggak tahu kamu itu siapa, yang jelas saya tahu aja kalo saya ini ada yang memperhatikan. Memperhatikan diam-diam itu nggak enak lho... (padahal saya yang masih penasaran wkwkwk!)


Sekarang, boneka ini duduk anteng di sudut jendela, menemani saya di kamar sampai sekarang.