Selasa, 17 April 2018

Belajar dari Pengalaman Membeli Sepatu



Halo teman-teman semua, percaya nggak sih kalo memilih sepatu itu sebenarnya nggak jauh beda dengan mencari jodoh? Kesimpulan ini saya dapatkan setelah menghabiskan waktu senggang untuk berburu sepatu, karena sepatu lama udah nggak bisa dipakai lagi. Seperti apa sih persamaannya? Saya jelaskan satu-satu di bawah ini.


1. Kamu Nggak Selalu Bisa Meraih Tipe Idealmu



Hal ini terjadi beberapa kali saat saya sedang mencari sepatu baru tempo lalu. Ketika saya menemukan model yang bagus dan sesuai selera, harganya ternyata kelewat mahal... Tapi waktu saya menemukan model lain yang juga bagus, dengan harga murah, bahannya malah relatif nggak tahan lama. Begitu pula saat saya menemukan sepatu yang kuat, tahan lama, dan harganya terjangkau — saya justru merasa desainnya kurang bagus.
Puncaknya, dan yang paling bikin saya sebal adalah saat saya menemukan sepatu yang relatif perfect: modelnya menarik, harganya lumayan murah, dan bahannya tampak awet. Sesaat, hampir aja saya mau membeli sepatu tersebut... tapi, dengan sangat menyesal, mbak-mbak pramuniaga yang sedang melayani mengatakan bahwa nomor yang sesuai dengan kaki saya lagi out-of-stock! Saya cuma bisa menerima dengan lapang dada walaupun di dalam hati agak-agak dongkol juga.
Jadi, apa sih intinya?
Kita bisa aja sih membayangkan tipe ideal kita sedemikian rupa. Tapi, kalau bukan jodoh yaa... kita bisa apa?

2. Kamu Harus Bisa Berkompromi dalam Memilih



Terkadang, sepatu yang bagus harganya kelewat mahal. Lain waktu, kita kadang bingung sendiri bahwa sepatu yang desainnya jelek bisa dihargai sedemikian mahalnya (baca: gara-gara merk/brand). Bisa juga kita menemukan sepatu yang murah-meriah dan tahan banting, tetapi desainnya kurang memuaskan.
Ketika dihadapkan dengan dunia (dan pilihan) yang nggak sempurna, kita pun harus bisa berkompromi. Coba deh turunkan standar, dan seimbangkan pilihan paling optimal dengan apa yang tersedia. Sebagai seorang perfeksionis, saya mungkin nggak bisa mendapatkan yang cantik dan sempurna — meskipun begitu, yang penting adalah bahwa dia bisa menemani saya dalam menjalani hidup dan menempuh medan yang berat. Ehh... maksud saya sepatunya ya. Tentunya sepatu yang terbaik adalah yang bisa dipakai menemani keseharian (kuliah, jalan-jalan, dsb.) serta bisa diandalkan menembus medan yang berat (naik-turun bus, lewat jalanan yang berdebu, dsb). Saya yakin kalian paham apa yang saya maksud.

3. Jumlah Sepatu Kamu = Kemampuanmu dalam Mengendalikan Diri = Stabilnya Keuanganmu




Banyak orang, dan biasanya kaum hawa sih, curhat mengenai nggak stabilnya kondisi keuangan mereka. Dalam beberapa kasus hal ini diakibatkan oleh banyaknya pasang sepatu yang mereka beli — entah karena sepatu itu sekadar `lucu`, ataupun karena sepatu itu `lucu banget`. Perlahan-lahan, keuangan pun kolaps karena hal itu.
Hal yang sama terjadi dalam hal mencari jodoh lho kalo dipikir-pikir. Jumlah pacar (ataupun istri bagi yang udah menikah, barangkali) mengindikasikan kemampuanmu dalam mengendalikan diri sendiri. Bahkan jika kamu nggak hati-hati, keberadaan dari banyaknya simpanan ini berpotensi membuat dirimu ambruk secara finansial — karena saking banyaknya pengeluaran yang harus kamu tanggung sih, hahaha. Makanya jangan punya banyak pacar ya, apalagi istri.

4. Pilihlah yang Cocok dengan Kepribadian Kamu




Ini adalah hal yang penting, sebab model sepatu yang kamu pilih harus sejalan dengan kepribadianmu. Jangan beli sepatu warna merah deh, misalnya, kalo kamu memang orang yang lebih suka berpenampilan serius. Apalagi jangan beli sepatu warna pink kalo kamu nggak merasa punya kesan girly. Dan jangan beli sepatu bola kalo kamu nggak suka main bola; soalnya pernah sih seorang temen pake sepatu bola waktu ngampus. Saat naik tangga, dianya jatuh karena pul sepatu bola yang licin sama lantai. Selidik punya selidik, ternyata dia nggak bisa main bola (dan nggak bisa mengontrol kakinya dengan sepatu ber-pul itu) dan cuma ikut trend. Tentunya juga ya, ini termasuk "jangan beli sepatu anak-anak" kalo kamu adalah seorang remaja. Ngerti kan maksud saya? Biar nggak dianggap aneh gitu.
Maksudnya, keserasian adalah hal yang penting. Pilih aja deh yang kira-kira sesuai denganmu, walaupun mungkin nggak sepenuhnya — daripada mengambil yang jelas-jelas akan bentrok sama kepribadian kamu.

*****

Tadinya, saya merasa mendapat cukup banyak pelajaran dari kunjungan ke toko sepatu ini. Tapi, meskipun begitu, ternyata masih ada tambahan juga dari seorang temen saya yang kebetulan juga sempat mampir ke toko sepatu sesaat sebelum liburan semester berakhir.
Beberapa lama setelahnya, saya ngobrol dengan temen saya ini. Waktu itu saya sempat menyampaikan beberapa dari empat poin mengenai sepatu di atas ke dia, sebelum akhirnya menanyakan pendapat dia soal ini.
Tanggapannya?

"Bener juga, Ka. Aku jadi inget kemaren jalan-jalan, terus ngelihat ada sepatu yang bagus. Keren abis! Sayangnya... aku udah punya yang lain… Nggak bisa ngambil deh."

Kesimpulannya?
Nah, itulah yang disebut komitmen. Dalam hal bersepatu aja juga ada komitmennya tersendiri, apalagi dalam mencari jodoh. Ya, kan?