Sabtu, 13 Juni 2015

Pengalaman Ikut Nihon Matsuri 2015



Hari Sabtu, tanggal 6 Juni 2015 lalu, saya mengikuti acara yang diadakan oleh prodi Pendidikan Bahasa Jepang Unnes, tempat saya menimba ilmu sekarang. Acara tersebut ialah Nihon Matsuri Unnes 2015. Buat lebih jelasnya mengenai apa itu Nihon Matsuri Unnes 2015, silakan cari di sini, karena saya nggak akan menjelaskan definisi dari acara tersebut. Sekarang saya akan lebih menceritakan bagaimana pengalaman saat mengikuti acara tersebut.




Saya mencoba bernarsis ria di Opening Ceremony Nihon Matsuri 2015


Sebelum acara Nihon Matsuri 2015, selain ngampus untuk menuntut ilmu, saya juga disibukkan oleh banyaknya kegiatan ini-itu, antara lain latihan, latihan, dan latihan (semuanya kegiatan latihan ya?). Dalam Nihon Matsuri 2015 ini, saya didapuk oleh kakak kelas serta temen saya untuk ikut drama dan menjadi seorang butler. Dramanya sendiri bercerita mengenai seekor siluman rubah berekor sembilan yang dikendalikan oleh orang jahat. Seorang Yuusha (pendekar) dan seorang Miko (biarawati) harus menghentikan mereka. Dalam drama tadi, saya berperan sebagai seorang teman dari Yuusha yang mengajarkannya ilmu pedang dan akhirnya disandera oleh orang jahat yang menguasai siluman rubah tadi. Kasian ya? 




Butler Kaito, alias nama panggung saya saat menjadi seorang butler.


Lalu, Nihon Matsuri 2015 juga mengadakan Butler Cafe, yaitu sebuah cafe yang mempunyai beberapa orang pelayan pribadi yang akan melayani tamu selama berada di dalam cafe tersebut. Nama Butler Cafe tersebut adalah Asahi Mansion. Dalam hal ini, saya berperan sebagai seorang butler yang bernama Kaito. Kaito sendiri merupakan seorang butler yang mempunyai kepribadian flamboyan yang pandai merangkai kata-kata dan merupakan seseorang yang enak diajak ngobrol (itu definisi saya sendiri, alias ngarang). Dalam cafe tersebut, ada dua menu set makanan yang bisa dipesan. Antara lain Set A yang terdiri dari Chicken Steak, Miso Soup, Ice Tea, dan Pancake, serta Set B yang terdiri dari Omurice, Miso Soup, Ice Tea, dan Pancake. Tahu apa yang saya pikirin? Iya, sebagai seseorang yang hobi makan, saya rasa menunya kurang bervariasi. Tapi karena saya nggak boleh menikmati menu dari cafe tersebut karena bekerja disitu, saya nggak bisa komplain.




Kedelapan butler Asahi Mansion (pose yang norak banget, sumpah...)


Dalam cafe terdapat delapan orang butler yang bisa di-booking (udah kayak artis prostitusi aja ya istilahnya...) oleh tamu selama satu slot, dan satu slot sendiri kira-kira waktunya 45 menit. Delapan butler tersebut ialah Kira, Kyouya, Hikoza, Haido, Jin, Takumi, Yuya, dan Kaito alias saya sendiri. Coba tebak kira-kira yang mana aja mereka semua. Saya belum berani menguak identitas asli dari ketujuh butler lainnya karena adanya suatu alasan yang akan saya jelaskan nanti di bawah, tapi ketujuh butler tersebut bisa dibilang temen-temen deket saya sendiri. Para butler tadi pake seragam yang sama, tapi dengan penampilan dan karakteristik yang berbeda-beda. Sebelum tampil sebagai butler tadi, saya berharap nggak ada yang mem-booking saya sehingga kerja saya nggak akan jadi berat nantinya.


Dari pagi sampai siang, saya jadi butler, dan melayani tamu-tamu yang dateng dengan mengantarkan makanan yang telah dipesan kepada mereka, dan sesuai harapan, yang mem-booking saya cuma beberapa orang hehehe. Saya kadang ngasih assist kepada butler lain yang di-booking dengan menemani mereka ngobrol dengan tamu selama beberapa saat dan juga memperkenalkan diri dan butler lainnya di hadapan tamu. Ada sih, tamu dari Jepang yang bawa anak tiga orang, satu cowok, dan dua cewek. Mereka masih kecil, dan salah satunya masih balita. Entah kenapa saya gemes banget saat lihat mereka, dan berinisiatif buat ngajak ngobrol salah satunya pake bahasa Jepang. Kira-kira begini...

"Halo tuan puteri kecil, nama saya Kaito. Adik namanya siapa?"

"Emmm... Em.... Eeemmm..."

"Pake bahasa Jepang aja, nggak apa-apa, dia bisa kok, jangan malu."
tiba-tiba emaknya nimbrung.

"Kalo Adik mau memperkenalkan diri, nanti saya kasih sesuatu. Adik namanya siapa?"

"Emmm... Em.... Eeehhh..."




Dia cuma menatap saya dengan pandangan terpesona.


Karena dia tampaknya malu-malu buat ngomong sama saya, akhirnya saya kasih dia bunga mawar. Bukannya saya ini pedofil atau apa, tapi saya berinisiatif untuk mengakhiri momen awkward tersebut dan meninggalkan mereka secara sopan. Setelah itu saya cuma jadi babu super dengan nganter makanan dan minuman ke para tamu yang terdiri dari beberapa cewek sampai keluarga dari dosen-dosen, dan akhirnya waktu istirahat tiba.


Saat istirahat, saya melarikan diri ke warteg terdekat untuk makan. Sebenernya jatah makan udah dikasih sih dari pihak dapur, tapi saya nggak mau ngambil karena makanannya cuma steak ayam dan beberapa makanan lainnya tadi (sama seperti menu buat tamu). Saya berinisiatif untuk makan nasi karena sejak pagi belum sarapan. Karena kalo saya nggak makan nasi, saya jadi gampang laper dan akhirnya jadi loyo. Saya makan bareng Takumi dan Yuya saat itu. Setelah makan, saat saya balik lagi, saya kaget bukan kepalang karena setelahnya saya di-booking oleh seorang cewek. Saya yang belum persiapan akhirnya harus ngelayanin dia dengan cara saya sendiri.


Cewek tadi punya wajah Chinese, dan saya udah nggak kaget lagi karena kebanyakan cewek seperti itu punya hobi dan kegemaran terhadap sesuatu berbau Jepang. Saya ajak ngobrol dia, nyari-nyari topik dan melancarkan humor. Dia nanggepin sambil ketawa, kadang malu-malu juga saat saya tanya mengenai hal-hal yang dia suka. Nggak kerasa udah 45 menit lebih dan saya bersyukur bisa melewati proses yang bikin saya malas ini dengan lancar. Untuk selanjutnya, saya jelasin melalui foto-foto aja ya.







Diceritain kalo kita bertiga ini butler paling kompak.



Kita bertiga membully butler yang emang suka kita jahilin.



Udah cool belum?


Dalam drama, udah saya jelasin tadi kalo saya berperan sebagai teman dari Yuusha yang diculik oleh orang jahat yang menguasai siluman rubah berekor sembilan (mirip-mirip cerita Naruto ya?). Ceritanya sendiri bermula dari penduduk sebuah desa yang suka banget merusak pohon, dan siluman rubah berekor sembilan (saya sebut aja Kitsune ya, kepanjangan sih) nggak terima dengan kelakuan para penduduk tadi. Akhirnya Kitsune ngamuk dan mengganggu penduduk-penduduk itu di tempat tinggalnya. Singkatnya, para penduduk tadi minta bantuan ke Onmyouji (semacam seorang pendeta kalo nggak salah) untuk mengatasi Kitsune. Onmyouji menyanggupi asal para penduduk harus membuat patung Kitsune agar dia bisa menyegelnya di patung itu. Para penduduk menyanggupi, dan setelah pertempuran yang sengit (ceilah...), Kitsune berhasil dikalahkan dan disegel dalam patung yang dibuat oleh para penduduk.




Saya berperan sebagai seorang teman Yuusha. Aslinya awal mula kejadian di atas dipentasin saat Opening Ceremony Nihon Matsuri Unnes 2015.


Bertahun-tahun setelahnya, ada orang jahat yang ingin membebaskan Kitsune dadi patung tadi. Dia akhirnya bisa melepaskan Kitsune, dan bersatu untuk menguasai dunia. Yuusha yang saat itu sedang bersama Miko akhirnya mengetahui hal tersebut dan menolong teman-teman Yuusha yang salah satunya disandera oleh orang jahat (yeah itu saya...). Dengan pertarungan yang sengit (ceilah, lagi, hehe), akhirnya Kitsune berhasil dikeluarkan dari orang jahat dan akhirnya kehidupan damai pun terwujud. "Badumtesss!" (Suara drum.)




Kitsune



Yuusha



Miko



Ini Miko pasangan saya, wkwkwk!


Selain saya, yang ikut serta dalam drama ada si Janah sebagai Miko, mas Riyanto sebagai orang jahat, Adit sebagai Kitsune, dan Anggun sebagai Yuusha (Anggun ini cowok lho, jangan salah sangka karena namanya). Temen-temen yang lain juga ikut serta, seperti Afhiyan yang jadi temen Yuusha bersama dengan Rahmat dan saya sendiri, dan banyak lagi. Saya sempet bingung karena saat tampil, BGM yang jadi dubber kita saat perform sesaat mengalami keeroran dan kita mau nggak mau harus menyesuaikan diri dengan keeroran tersebut. Tapi toh saya nggak gitu memperhatikan respon penonton, karena saya pengen acaranya cepet selesai aja waktu itu. Makin cepet acara selesai, makin cepet juga saya bisa pulang ke rumah, berhubung saya juga udah capek banget waktu itu.


Acara Nihon Matsuri 2015 diakhiri dengan perayaan Hanabi (kembang api) dan Lampion Terbang, yang kesemuanya nggak saya hadiri karena saya udah terlelap di rumah, hehehe.



nb: Alasan kenapa saya nggak mengungkap identitas butler-butler lainnya adalah karena adanya penggemar yang suka stalk kita kemanapun kita berada, dan saya parno banget mengenai hal itu. Serius deh.