Saya heran seharian ini kena dua kali hal buruk. Setelah ada momen mengecewakan yang terjadi mengenai sesuatu yang sedari awal udah saya harapkan, kali ini ada kelakuan buruk dari orang-orang di sekitar. Saya sebut mereka dengan sebutan orang-orang aja agar nggak menjadi fitnah nantinya.
Dari mana saya mulai cerita ya...
Emm... Jadi yah, sebagian orang yang bener-bener kenal saya pastilah ngerti dengan sikap saya yang selenge'an dan suka guyon. Walaupun terkadang saya akui suka agak kelewatan saat bercanda, tapi mereka yang udah bener-bener ngerti saya pasti akan memaklumi. Dan di saat saya agak kelewatan itulah, mereka yang bener-bener bisa memaklumi saya terkadang memberitahu kalo candaan saya udah kelewatan, tanpa ada rasa marah dan jengkel yang berlebihan. Mereka tahu betapa bodohnya mereka kalo memasukkan candaan saya ke dalam hati.
Toh dalam lingkungan saya, bukan cuma saya kok yang suka bercanda seperti itu.
Temen-temen saya banyak yang suka bercanda, bahkan ada satu orang temen yang saya hormati karena sense of humor-nya yang tinggi. Saya kadang berpikiran bahwa humor merupakan salah satu faktor terpenting untuk menjalin hubungan pertemanan dengan baik, malah makin mempererat. Bayangin, bedakan antara sahabat dan temen kalian. Mungkin gambaran ini bisa membantu memperjelas situasinya.
Ketika kalian ngomong di depan temen:
A: Eh, apa kabar? Lama nggak ketemu ya. Gimana? Sehat-sehat aja kan?
B: Oh iya, baik kok. Kamu gimana? Sehat juga kan yah?
Ketika kalian ngomong di depan sahabat:
A: Hei bro! Masih hidup aja lo, gimana kabar? Keliatan suram amat lo sekarang, haha.
B: Haha, kampret! Gue baik, alhamdulillah. Lo gimana? Kucing lo udah melahirkan?
Bisa lihat gimana perbedaannya? Bisa disimpulkan candaan terkadang bisa mempererat hubungan menjadi lebih intimate.
Jadi tadi, saya ketemu dengan salah satu temen yang berkuliah di
mata kuliah yang sama dengan saya. Singkatnya, kita kerja kelompok dan satu
kelompok terdiri dari empat orang termasuk saya. Saya udah lumayan deket dengan
ketiganya dan karena ini udah memasuki akhir semester empat, saya ngerasa fine-fine aja
dengan mereka.
Di saat pembagian tugas, saya
cuma didiemin oleh salah satu temen yang saya sebut di atas tadi. Jadi, saya
nggak dikasih bagian untuk mengerjakan tugas apapun. Saya bingung, dan akhirnya
saya tanya ke dia.
"Kok aku nggak dikasih bagian buat ngerjain tugas kita?""Lo bisa apa sih... suka canda doang. Saya nggak percaya lo bisa ngelakuin tugas kita, soalnya nggak pernah keliatan serius. Lo baca presentasinya aja yah minggu depan."
Jleb.
Di saat itulah saya merasa
seperti seorang anak kecil yang mencampuri urusan orang dewasa. Saya jadi
bertanya-tanya, apakah saya ada salah? Akhirnya saya tanya ke dia lagi.
"Saya ada salah ya sama lo? Kalopun ada, saya minta maaf deeeh..."
"Jangan bercanda ah, lagi serius ini."
Kampret banget.
Saya udah berusaha minta maaf
dengan tulus dan berharap saya tahu apakah ada yang salah dengan diri saya, dia
malah ngira saya bercanda. Jadi, setiap yang saya lakukan di hadapannya, semua
dia anggap candaan. Mungkin kalo saya marah pun, dia akan menganggap marah saya
sebagai candaan. Barangkali sampai saya tonjok dia, baru dia bisa ngerasa kalo saya
beneran marah.
Saya jadi nggak ambil pusing
dengan keputusannya karena dia emang ketua kelompok kita. Kalopun dia mau saya
nggak berbuat apa-apa, dengan senang hati saya akan menuruti apa maunya. Toh, saya
jadi lebih santai dalam mengerjakan tugas-tugas saya lainnya. Nah, selepas
kejadian itu, saya jadi berpikir dan merenungkan hal tersebut.
Iya, saya 100% paham kalo dunia ini nggak cuma dihuni oleh
orang-orang yang punya selera humor aja. Ada orang serius, orang pemarah,
sampai orang yang nggak punya sense of humor sama sekali juga
ada. Dari kejadian di atas, saya paham bahwa temen saya termasuk orang yang
serba serius di segala situasi, dan saya menghargai hal itu. Tapi apa dia nggak
mengerti sedikitpun bahwa orang yang suka bercanda juga punya sisi serius
mereka masing-masing? Berarti dia nggak menghargai saya dong?
Saya inget-inget sekali lagi,
di saat kita lagi duduk bareng bersama temen-temen lain, disaat saya
ngelempar jokes, dan temen-temen lain juga menceritakan sebuah
guyonan, dia cuma diem dan terkadang cuma memperlihatkan senyum simpul. Bahkan
di saat kita ketawa terbahak-bahak karena ada salah satu lelucon temen saya
yang emang absurd abis, dia malah senyum sinis. Saya nggak
tahu apa otaknya udah miring atau gimana, yang jelas saya ngerti bahwa selera
humornya minimum sekali.
Bukan selera humornya yang
minimum itu yang saya permasalahkan, tapi sikapnya ke saya yang nggak gitu
menghargai yang saya sesalkan. Maka dari itu, mulai detik ini saya akan
berhati-hati dalam melempar jokes ke temen-temen saya. Bukan
cuma dia kok kasusnya. Ada banyak sekali temen-temen saya yang selera humornya
rendah. Semisal, ada temen saya yang suka ketawa kalo denger jokes mengenai
sesuatu yang lucu atau mengenai pengalaman temen yang lain, tapi dia
bener-bener tersinggung kalo dia sendiri dijadiin lelucon. Lalu, ada juga temen
saya yang sekali dicandain, dianya langsung ngambek dan marah besar. Ayolah,
saya nggak abis pikir dengan pola pikiran mereka. Kalopun situasinya lagi
bercanda, silakan ejek saya balik asalkan dalam tahap yang wajar dalam guyonan
kalo mereka mau. Dan jikalau mereka tersinggung, tolong kasih tahu saya karena saya
akan lebih menghargai hal tersebut dan langsung meminta maaf daripada mereka
tiba-tiba merajuk dan menjauhi saya dengan beribu alasan.
"Jika saya tidak punya selera humor, sudah dari dulu saya akan melakukan bunuh diri."
Saya
udah ada daftar siapa-siapa aja temen-temen saya yang punya selera humor
tinggi, menengah, sampai dengan siapa yang punya selera humor rendah sekali. Saya
nggak ngerti gimana reaksi mereka saat saya berubah jadi lebih kalem dan serius
nantinya, tapi percayalah saya melakukan hal ini agar saya nggak menyakiti
perasaan temen-temen saya lagi. Saya juga udah nggak mau lagi diremehkan orang
lain karena sifat saya yang emang sejak dulu suka banget bercanda. Saya
dianggap nggak bisa serius sama sekali sih soalnya. Ada banyak kok kasus dimana
saya cuma dianggap angin lalu karena hal ini. Mungkin mereka menilai bahwa
semua omongan saya bener-bener nggak penting dan nggak ada gunanya ditanggapi.
Just be flexible, man...
Saya bisa serius, sangat bisa malahan. Dalam
keadaan genting, saya bisa tanggap. Dalam keadaan formal, saya bisa sopan. Saya
berusaha fleksibel di segala situasi. Walaupun terkadang insting humor saya
akan bekerja jika ada suasana yang membosankan dalam situasi tertentu, misalnya
saat saya melakukan presentasi. Saya bersikap begitu untuk mencairkan suasana
yang mulai terlalu serius, dan saya berpikiran suasana yang mulai mencair bisa
menambah fokus dari temen-temen saya yang menyaksikan presentasi saya. Bahkan
dengan dosen pun saya bisa bercanda walopun dengan skala yang lebih rendah dari
candaan saya ke temen-temen.
Saya akan berubah mulai saat
ini, jadi seseorang yang lebih serius, lebih kalem, dan saya akan candain temen
saya yang bener-bener punya selera humor tinggi. Maaf banget jika perubahan
sikap saya nantinya bikin kalian nggak nyaman dengan sedikit kecanggungan saat
ketemu, tapi saya percaya perubahan emang butuh pembiasaan, terlebih waktu.
Dalam blog ini? Tentu aja saya
akan tetap menyelipkan candaan-candaan seperti biasanya karena ini merupakan
blog pribadi saya. Kalian yang membaca, tentu mau nggak mau akan bertemu dengan
salah satu candaan saya yang kemungkinan akan menyakiti perasaan kalian.
Barangkali aja sih.
It's time to show them the dark side, eh?
Maaf ya, saya agak sinis dalam postingan kali ini karena lagi kesel udah diremehin gitu aja. Nggak cuma dari satu orang, tapi dari banyak orang yang selama ini udah saya tahu, tapi saya diam untuk menyenangkan hati mereka saat membicarakan sesuatu di belakang saya. Mungkin ini saatnya menunjukkan sedikit dari dark side yang ada dalam diri saya kepada lingkungan sekitar.





