Sains nggak hanya membicarakan mengenai logika dan perhitungan yang kompleks dan rumit, namun dibalik itu semua ternyata sains juga menyimpan banyak mitos yang masih dipercaya oleh banyak orang sampai saat ini. Apa aja sih?
Saya akan membahas sepuluh mitos yang mungkin masih dipercayai oleh banyak orang sampai saat ini.
1. Pembagian Otak Kanan-Kiri Mempengaruhi Gaya Belajar
Mitos ini saya taruh di nomor satu karena saya lihat populer banget dan impact-nya cukup luas. Guru-guru di sekolah pun banyak yang percaya dan hal ini bisa mempengaruhi anak didiknya. Pada derajat tertentu, menelan konsep ini metah-mentah malah bisa berbahaya.
Dikotomi otak kanan-kiri lahir dari salah tafsir sebuah eksperimen sains terhadap otak (split brain experiment) di tahun 1960-an. Walaupun ada distribusi kerja di masing-masing bagian otak, faktanya otak kanan dan kiri kita tidak pernah terisolasi satu sama lain dan selalu bekerja sama ketika melakukan suatu kegiatan apapun.
2. Buruan Ambil, Keburu 5 Detik!
“5 Seconds Rule” adalah kepercayaan yang bilang bahwa butuh waktu 5 detik buat bakteri di lantai untuk mengkontaminasi makanan yang jatuh ke lantai. Kalo bisa ambil makanan yang jatuh dari lantai dalam waktu kurang dari 5 detik, makanannya masih bagus buat dimakan karena bakteri belum sempat “menyentuh” makanan tersebut. “5 Seconds Rule” ini tidak lebih dari anjuran supaya kita nggak buang-buang makanan.
Dan faktanya, sedikit kontak aja dengan lantai, bahkan 1 detik aja, bakteri-bakteri di lantai pasti langsung mengkerubuti makanan yang jatuh itu. Penelitian menujukkan, nggak ada perbedaan yang signifikan pada jumlah bakteri pada makanan yang jatuh ke lantai dalam 2 detik dengan jumlah bakteri pada makanan yang jatuh ke lantai yang sama selama 6 detik. Iya, hal sesimpel ini aja ada penelitiannya lho.
3. Manusia Baru Memakai 10% Kekuatan Otaknya
Kalo emang otak kalian baru dipakai 10%, kalian nggak akan bisa membaca tulisan ini. Fakta bahwa kalian lagi segar bugar di depan laptop baca tulisan ini, adalah bukti kalo otak kalian udah berfungsi sepenuhnya. Jika hanya 10% bagian otak kalian yang bekerja, kalian pasti udah stroke.
Sama dengan mitos otak sebelumnya, mitos ini juga lahir dari salah tafsir sebuah eksperimen sains. Mitos ini bisa populer karena seakan memberi pengharapan (palsu) pada pelajar yang nilainya jelek atau pas-pasan bahwa ada cara instan untuk mengaktivasi 90% bagian otak lainnya. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, usaha keras memang harga mati untuk meraih apa yang kita inginkan. Everything has its price. Einstein sendiri bilang, "I have no special talent. I am only passionately curious."
Padahal, walaupun satu bagian pada lidah bisa mendeteksi suatu rasa sedikit lebih cepat, semua bagian pada lidah ini bisa merasakan semua jenis rasa dengan level intensitas dan sensasi yang sama.
Sebenarnya gampang banget kalo kalian mau membuktikan peta rasa pada lidah itu keliru. Ya coba aja kalian taruh garam di ujung depan lidah kalian, pasti kalian bisa merasakan rasa asin. Taruh gula di pangkal lidah, kalian bakal tetap bisa merasakan rasa manis.
Berbagai penelitian dan dekontruksi pemahaman terkait peta rasa pada lidah yang lahir seabad lalu ini sudah banyak dilakukan. Yang terbaru adalah penelitian pada 2014 yang berhasil mengungkap bahwa ada 8.000 sensor yang tersebar di lidah dapat merasakan berbagai rasa secara merata, nggak per bagian.
Yang masih menjadi misteri adalah kenapa konsep yang udah kedaluwarsa ini masih diajarin di sekolah. Nggak hanya di Indonesia aja, di kurikulum Amerika sana, materi ini masih masuk jadi bahan ajar.
Otak tengah adalah penghubung otak depan dan otak belakang. berfungsi mengontrol respon penglihatan, pendengaran, gerakan bola mata dan dilasi pupil, gerakan motorik, kewaspadaan (alertness), serta mengatur suhu tubuh. Sedari kecil, otak tengah kita sudah berfungsi. Gampang aja untuk mengatehaui apakah program Aktivasi Otak Tengah ini bener atau nggak. Sesuai dengan fungsinya, kalo bener otak tengah kita masih "tidur” atau belum aktif, berarti pergerakan bola mata jadi abnormal, kena penyakit Parkinson, hingga stroke.
Hebohnya lagi, program Aktivasi Otak Tengah diiringi dengan klaim fantastis, seperti setelah anak diaktvasi otak tengahnya, ia jadi bisa melihat dengan mata tertutup dan jenius dalam hitungan hari. Wah gimana masyarakat awam nggak tertarik ya dengan cara instan seperti ini? Apalagi orang tua yang sangat mendambakan anaknya jadi seorang jenius.
Oh iya, mau kasih catatan sedikit tentang gambar di atas. Bukan berarti para cuber (pemain rubik cube) nggak bisa menyelesaikan rubik dengan mata tertutup ya. Menyelesaikan rubik's cube dengan mata tertutup emang bisa dilakuin tanpa ngintip. Ratusan ribu cuber di dunia udah buktiin itu bisa bahkan ada kompetisinya tersendiri. Soal kecurangan itu juga ada, tapi jumlahnya nggak signifikan dan yang ketauan curang udah diproses secara resmi (di-banned dari kompetisi resmi, dll). Mereka bisa melakukan itu dengan mempelajari pattern atau rumus dari rubik's cube itu sendiri.
Nah, ini juga salah satu mitos yang masih masuk ke pelajaran sekolah. Katanya, manusia cuma punya 5 indera. Bahkan ada pula yang bilang ada indera keenam, which is nonsense.
Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang bertanggung jawab untuk memproses informasi sensorik untuk kemudian dikirim ke otak agar bisa diinterpretasi. Gagasan tradisional “Manusia hanya punya 5 indera” sebenarnya hanya penyederhanaan di bangku sekolah yang lahir sejak jaman Aristoteles. Tapi seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, sains makin bisa mengidentifikasi bahwa faktanya, indera manusia itu banyak lho, bahkan lebih dari 6. Manusia memiliki total hingga 21 indera, meliputi indera tekanan, rasa gatal, suhu, posisi tubuh (proprioception), ketegangan otot, rasa sakit (nociception), keseimbangan (equilibrioception), zat kimia dalam tubuh (kemoreseptor), rasa haus, rasa lapar, waktu, dan lain-lain.
Lima indera itu minimum. Mengatakan kalo manusia cuma punya 5 indera itu seperti meremehkan kerja tubuh kita yang kompleks ini.
Padahal mah image negatif pada “bahan kimia” dan image positif pada “herbal” itu misleading ya. Faktanya, semua hal yang ada di sekitar kita adalah bahan kimia. Seluruh tubuh kita tersusun dari jutaan molekul dan senyawa kimia. Benda yang kalian gunakan tiap harinya, mulai dari meja, teflon penggorengan, baju, sampe alat elektronik, juga terbentuk dari bahan kimia. Bahkan segala sesuatu yang berasal dari alam, juga bahan kimia. Air yang kalian minum, udara yang kalian hirup, api yang kalian nyalain, hingga sebutir beras yang kalian makan, semuanya juga merupakan bahan kimia kan?
Bahan kimia bisa jadi berbahaya, nggak peduli bahan kimia itu kita langsung dapat dari alam atau udah melalui proses pabrik (yang toh juga berasal dari alam). Suatu bahan kimia bisa jadi berbahaya atau bermanfaat bergantung pada cara dan dosis pemakaiannya. Selain itu, produk herbal yang mengklaim dirinya langsung diperoleh dari alam bisa juga berbahaya jika tidak melalui proses atau standar kesehatan yang ditetapkan lembaga resmi pemerintah.
Wah, kalo ada, kalian sebaiknya memperingatkan mereka bahwa yang mereka lakukan bisa jadi keliru. Antibiotik berasal dari kata anti dan bio (hidup). Berarti digunakan untuk membunuh sesuatu yang hidup. Antibiotik, secara definisi, membunuh bakteri. Nah, batuk, sakit telinga, sakit tenggorokan, pilek, flu, dan demam ringan itu umumnya disebabkan oleh virus. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus. Walaupun memang dalam beberapa kasus penyakit yang disebabkan oleh virus ini, terkadang berpotensi "mengundang" bakteri, sehingga dalam diagnosa tertentu diperlukan antibiotik.
Tapi secara umum yang mau saya tekankan di sini adalah persepsi yang keliru bahwa antibiotik adalah "obat-segala-penyakit" yang bisa menyembuhkan hampir semua penyakit ringan, termasuk yang disebabkan oleh virus. Kenapa? Coba ingat-ingat lagi pelajaran Biologi kelas X. Virus itu bukanlah makhluk hidup. Virus punya materi genetik, tapi tidak bisa melakukan aktivitas kehidupan, seperti metabolisme hingga reproduksi, tanpa bantuan inang. Virus itu berada di tapal batas antara benda mati dan benda hidup. Jadi nggak nyambung kan menggunakan antibiotik untuk mengatasi virus?
Minum antibiotik dengan tujuan yang tidak sesuai dengan fungsi dasarnya atau dosis yang ditetapkan dapat menyebabkan bakteri umum lainnya di dalam tubuh menjadi resisten terhadap obat. Hal ini bisa memicu terbentuknya “bakteri super” yang menyebabkan penyakit yang jauh lebih buruk daripada penyakit awal. Ketika dikasih antibiotik pada dosis yang sama, mereka udah nggak mempan lagi. Butuh antibiotik dengan dosis yang lebih tinggi lagi.
Antibiotik juga nggak bisa sembarangan beli di apotek tanpa resep dokter. Namun, sayangnya, kadang ada oknum dokter yang tidak bertanggung-jawab yang suka kasih resep antibiotik untuk pasien dengan gejala sakit ringan. Di sisi lain, terkadang ada juga pasien yang bandel terus langsung minum antibiotik tanpa resep dan diagnosa dari dokter. Dalam konteks ini, penting banget buat pasien untuk mengerti kenapa antibiotik nggak bisa mengatasi virus dan juga secara aktif menanyakan pada dokter apakah hasil diagnosanya memang ada potensi pertumbuhan bakteri, karena jika tanpa alasan yang kuat, konsumsi antibiotik justru berpotensi buruk bagi kesehatan jangka panjang.
Osteoporosis atau tulang keropos adalah keadaan melemahnya tulang karena ketidakseimbangan antara terbentuknya sel tulang baru dan kerusakan tulang. Orang biasanya kehilangan sel tulang seiring bertambahnya usia.
Mengkonsumsi kalsium dengan cukup dan memaksimalkan cadangan tulang pas tulang lagi aktif-aktifnya tumbuh (hingga usia 30 tahun) memang memberikan fondasi penting bagi masa depan. Tapi hal ini nggak mencegah kerusakan tulang di kemudian hari. Kerusakan tulang seiring berjalannya usia adalah hasil dari berbagai faktor, meliputi faktor genetik, kurangnya aktivitas fisik, dan menurunnya kadar hormon dalam tubuh.
Jadi, mengurangi risiko osteoporosis jangan terpaku pada minum susu dan konsumsi kalsium aja. Udah banyak studi yang menemukan bahwa tidak ada hubungan antara asupan kalsium yang tinggi dengan kurangnya risiko patah tulang (lihat The Journal of Nutrition dan NCBI). Tapi kurang asupan kalsium tentu nggak baik juga dong. Cukup aja, jangan terlalu tinggi, danjangan terlalu rendah pula.
Sumber kalsium pun nggak harus terpaku pada susu. Hanya mengandalkan susu sebagai sumber kalsium bisa menimbulkan risiko lain, seperti ada orang yang menderita lactose intolerant, produk susu tinggi akan lemak jenuh yang merupakan faktor risiko penyakit jantung, dan tingginya kadar galaktosa hasil pencernaan susu bisa merusak ovarium dan bisa menyebabkan kanker ovarium. Sumber kalsium lain ada banyak, seperti sayuran hijau (sawi, brokoli, bayam) dan kacang-kacangan.
Faktor lain harus diperhitungkan juga dalam upaya mengurangi risiko osteoporosis. Selain cukup mengkonsumsi kalsium, kita juga dianjurkan untuk cukup dapat vitamin D (paparan sinar matahari yang cukup atau lewat suplemen), vitamin K (pada sayuran hijau), dan olahraga beban secara teratur. Seperti jalan kaki, menari, jogging, angkat beban, naik tangga, badminton/tenis, dan hiking. Aktivitas fisik semacam ini memberikan tekanan pada tulang yang dapat mempertahankan kepadatan tulang sepanjang hidup.
Gampang banget untuk tahu kalo mitos ini cacat secara logis dan penuh bias. Kepribadian dan karakter manusia itu kan ada banyak. Gimana bisa karakter yang beragam itu dikotak-kotakkan pada hanya 4 tipe golongan? Katanya golongan darah AB itu jenius dan suka menghasilkan ide cemerlang. Tapi saya atau mungkin orang lain tahu banyak kok orang yang jenius tapi nggak bergolongan darah AB.
Selain itu, sifat orang kan dinamis, bisa berubah seiring berjalannya waktu, bisa jadi karena proses pendewasaan atau kejadian tertentu dalam hidup. Katanya golongan darah O nggak bisa tepat waktu. Misalnya ada si Badrun yang bergolongan darah O suka ngaret. Tapi karena kemudian dia masuk dunia kerja dan nyadar kalo lelet itu bisa mempengaruhi karir, dia pun belajar untuk tepat waktu dan akhirnya bisa jadi pribadi yang disiplin. Nah, apa bisa dibilang si Badrun ganti golongan darah?
Biasnya adalah kalo ada tipe kepribadian di kartun-kartun atau anime golongan darah yang pas beneran dengan karakter diri atau teman kalian, kesesuaian itu diheboh-hebohin terus di-share di timeline sosmed, “Ih beneran ya, golongan darah B itu emang suka blak-blakan”. Coba aja ada karakter di kartun-kartun itu yang nggak cocok dengan dirinya, udah diabaikan gitu aja, nggak diseriusin. Dan itu dilakukan hampir kebanyakan orang yang suka lucu-lucuan baca tipe kepribadian lewat golongan darah. Makanya sistem ini bisa jadi populer.
Mirip kan dengan logika ngaco dan bias pada ramalan bintang/horoskop?
Tapi agak berbeda dengan ramalan zodiak, tipe kepribadian per golongan darah ini ada bumbunya sedikit. Karena dibagi berdasarkan golongan darah, orang mengira ini lebih akurat karena disangkut-pautkan dengan biologis manusia. Padahal di kelas VIII SMP atau XI SMA, kita belajar bahwa golongan darah itu ditentukan dari ada atau tidaknya antigen tertentu di permukaan sel darah merah yang nantinya dapat memicu respon imun jika kita menerima darah dari golongan yang nggak kompatibel dengan darah kita. Di sisi lain, kepribadian atau sifat manusia ditentukan oleh susunan gen yang ada di setiap sel tubuh manusia. So, mendasarkan golongan darah sebagai penentu kepribadian seseorang itu keliru kan?
Penelitian khusus pun telah dilakukan dan ditemukan bahwa nggak ada hubungan antara golongan darah dengan personality atau kepribadian seseorang.
Sebagai penutup, saya mau nanya ke kalian semua, apakah kalian tahu mitos sains lain yang dulu sempat membuat kalian terkecoh? Saya pribadi juga awalnya sempat terkecoh dengan mitos-mitos sains yang gampang banget buat dipercaya ini. Jika kalian mau melengkapi list saya di atas, tambahin mitos sains lain itu di bagian komentar ya. Terima kasih udah mampir dan membaca.
Saya akan membahas sepuluh mitos yang mungkin masih dipercayai oleh banyak orang sampai saat ini.
1. Pembagian Otak Kanan-Kiri Mempengaruhi Gaya Belajar
Dikotomi otak kanan-kiri lahir dari salah tafsir sebuah eksperimen sains terhadap otak (split brain experiment) di tahun 1960-an. Walaupun ada distribusi kerja di masing-masing bagian otak, faktanya otak kanan dan kiri kita tidak pernah terisolasi satu sama lain dan selalu bekerja sama ketika melakukan suatu kegiatan apapun.
2. Buruan Ambil, Keburu 5 Detik!
Dan faktanya, sedikit kontak aja dengan lantai, bahkan 1 detik aja, bakteri-bakteri di lantai pasti langsung mengkerubuti makanan yang jatuh itu. Penelitian menujukkan, nggak ada perbedaan yang signifikan pada jumlah bakteri pada makanan yang jatuh ke lantai dalam 2 detik dengan jumlah bakteri pada makanan yang jatuh ke lantai yang sama selama 6 detik. Iya, hal sesimpel ini aja ada penelitiannya lho.
3. Manusia Baru Memakai 10% Kekuatan Otaknya
Mitos otak yang satu ini menyatakan kalo manusia baru memanfaatkan 10% kapasitas otaknya, 90% lagi masih belum dimanfaatkan dengan optimal. Biasanya mitos ini juga dibarengi dengan mitos serupa, seperti “Einstein sudah bisa memanfaatkan otaknya 16%, manusia biasa baru 10%”.
Kalo emang otak kalian baru dipakai 10%, kalian nggak akan bisa membaca tulisan ini. Fakta bahwa kalian lagi segar bugar di depan laptop baca tulisan ini, adalah bukti kalo otak kalian udah berfungsi sepenuhnya. Jika hanya 10% bagian otak kalian yang bekerja, kalian pasti udah stroke.
Sama dengan mitos otak sebelumnya, mitos ini juga lahir dari salah tafsir sebuah eksperimen sains. Mitos ini bisa populer karena seakan memberi pengharapan (palsu) pada pelajar yang nilainya jelek atau pas-pasan bahwa ada cara instan untuk mengaktivasi 90% bagian otak lainnya. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, usaha keras memang harga mati untuk meraih apa yang kita inginkan. Everything has its price. Einstein sendiri bilang, "I have no special talent. I am only passionately curious."
4. Lidah Punya Area Tertentu untuk Mengecap Rasa
Dari mana mitos ini lahir? Konsep ini bermula dari sebuah penelitian yang landasannya nggak begitu kuat. Pada tahun 1901, seorang ilmuwan Jerman melalukan penelitian terhadap sensitivitas lidah pada 4 rasa yang umum (manis, asam, asin, pahit). Ditemukan bahwa terdapat perbedaan waktu pada bagian-bagian lidah untuk bisa mendeteksi rasa dari suatu zat makanan. Tapi perbedaan waktunya tipiiis banget dan nggak terlalu signifikan. Entah kenapa, terjadi simplifikasi bahwa perbedaan waktu ini dibilang jadi perbedaan sensitivitas.
Padahal, walaupun satu bagian pada lidah bisa mendeteksi suatu rasa sedikit lebih cepat, semua bagian pada lidah ini bisa merasakan semua jenis rasa dengan level intensitas dan sensasi yang sama.
Sebenarnya gampang banget kalo kalian mau membuktikan peta rasa pada lidah itu keliru. Ya coba aja kalian taruh garam di ujung depan lidah kalian, pasti kalian bisa merasakan rasa asin. Taruh gula di pangkal lidah, kalian bakal tetap bisa merasakan rasa manis.
Berbagai penelitian dan dekontruksi pemahaman terkait peta rasa pada lidah yang lahir seabad lalu ini sudah banyak dilakukan. Yang terbaru adalah penelitian pada 2014 yang berhasil mengungkap bahwa ada 8.000 sensor yang tersebar di lidah dapat merasakan berbagai rasa secara merata, nggak per bagian.
Yang masih menjadi misteri adalah kenapa konsep yang udah kedaluwarsa ini masih diajarin di sekolah. Nggak hanya di Indonesia aja, di kurikulum Amerika sana, materi ini masih masuk jadi bahan ajar.
5. Aktivasi Otak Tengah
Mitos yang satu ini bukan lahir karena salah tafsir temuan ilmiah maupun ilmu yang kedaluwarsa. Mitos ini lahir dari konsep yang ngaku-ngakunya ilmiah, padahal sama sekali tidak berdasarkan ilmu pengetahuan dasar yang valid tentang otak.
Otak tengah adalah penghubung otak depan dan otak belakang. berfungsi mengontrol respon penglihatan, pendengaran, gerakan bola mata dan dilasi pupil, gerakan motorik, kewaspadaan (alertness), serta mengatur suhu tubuh. Sedari kecil, otak tengah kita sudah berfungsi. Gampang aja untuk mengatehaui apakah program Aktivasi Otak Tengah ini bener atau nggak. Sesuai dengan fungsinya, kalo bener otak tengah kita masih "tidur” atau belum aktif, berarti pergerakan bola mata jadi abnormal, kena penyakit Parkinson, hingga stroke.
Hebohnya lagi, program Aktivasi Otak Tengah diiringi dengan klaim fantastis, seperti setelah anak diaktvasi otak tengahnya, ia jadi bisa melihat dengan mata tertutup dan jenius dalam hitungan hari. Wah gimana masyarakat awam nggak tertarik ya dengan cara instan seperti ini? Apalagi orang tua yang sangat mendambakan anaknya jadi seorang jenius.
Oh iya, mau kasih catatan sedikit tentang gambar di atas. Bukan berarti para cuber (pemain rubik cube) nggak bisa menyelesaikan rubik dengan mata tertutup ya. Menyelesaikan rubik's cube dengan mata tertutup emang bisa dilakuin tanpa ngintip. Ratusan ribu cuber di dunia udah buktiin itu bisa bahkan ada kompetisinya tersendiri. Soal kecurangan itu juga ada, tapi jumlahnya nggak signifikan dan yang ketauan curang udah diproses secara resmi (di-banned dari kompetisi resmi, dll). Mereka bisa melakukan itu dengan mempelajari pattern atau rumus dari rubik's cube itu sendiri.
6. Manusia Cuma Punya Lima Indera
Kita diajarin di bangku sekolah kalo manusia punya 5 indera, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap. Tapi gimana caranya saya bisa merasakan keseimbangan tubuh, akselerasi ketika saya lagi lari, hingga merasakan suhu tubuh naik ketika saya lagi demam?
Nah, ini juga salah satu mitos yang masih masuk ke pelajaran sekolah. Katanya, manusia cuma punya 5 indera. Bahkan ada pula yang bilang ada indera keenam, which is nonsense.
Sistem indera adalah bagian dari sistem saraf yang bertanggung jawab untuk memproses informasi sensorik untuk kemudian dikirim ke otak agar bisa diinterpretasi. Gagasan tradisional “Manusia hanya punya 5 indera” sebenarnya hanya penyederhanaan di bangku sekolah yang lahir sejak jaman Aristoteles. Tapi seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, sains makin bisa mengidentifikasi bahwa faktanya, indera manusia itu banyak lho, bahkan lebih dari 6. Manusia memiliki total hingga 21 indera, meliputi indera tekanan, rasa gatal, suhu, posisi tubuh (proprioception), ketegangan otot, rasa sakit (nociception), keseimbangan (equilibrioception), zat kimia dalam tubuh (kemoreseptor), rasa haus, rasa lapar, waktu, dan lain-lain.
Lima indera itu minimum. Mengatakan kalo manusia cuma punya 5 indera itu seperti meremehkan kerja tubuh kita yang kompleks ini.
7. Bahan Kimia itu Berbahaya!
Wah, mitos ini sepertinya udah lumayan mengakar di pikiran masyarakat. Berkat iklan-iklan produk herbal dan tradisional yang mencoba mengurangi dominasi produk pabrikan modern. Mitos ini bisa mengakar di masyarakat Indonesia, khususnya, karena (saya lihat) ada 2 faktor, yaitu (1) Background budaya Indonesia yang mengandalkan apa-apa langsung ambil dari alam sebelum mengenal produk pabrikan modern dan (2) Kadang harga produk pabrikan modern agak mahal, nggak pas dengan sebagian besar kantong masyarakat Indonesia. Ini jadi peluang bisnis sendiri bagi para produsen produk “herbal” dan “alamiah”. Selanjutnya, melihat adanya tren di masyarakat Indonesia yang menggemari produk “herbal”, mulailah perusahaan-perusahaan besar meluncurkan produk yang ikut mengaku “herbal”.
Padahal mah image negatif pada “bahan kimia” dan image positif pada “herbal” itu misleading ya. Faktanya, semua hal yang ada di sekitar kita adalah bahan kimia. Seluruh tubuh kita tersusun dari jutaan molekul dan senyawa kimia. Benda yang kalian gunakan tiap harinya, mulai dari meja, teflon penggorengan, baju, sampe alat elektronik, juga terbentuk dari bahan kimia. Bahkan segala sesuatu yang berasal dari alam, juga bahan kimia. Air yang kalian minum, udara yang kalian hirup, api yang kalian nyalain, hingga sebutir beras yang kalian makan, semuanya juga merupakan bahan kimia kan?
Bahan kimia bisa jadi berbahaya, nggak peduli bahan kimia itu kita langsung dapat dari alam atau udah melalui proses pabrik (yang toh juga berasal dari alam). Suatu bahan kimia bisa jadi berbahaya atau bermanfaat bergantung pada cara dan dosis pemakaiannya. Selain itu, produk herbal yang mengklaim dirinya langsung diperoleh dari alam bisa juga berbahaya jika tidak melalui proses atau standar kesehatan yang ditetapkan lembaga resmi pemerintah.
8. Minum Antibiotik saat Demam atau Flu, supaya Cepat Sembuh
Hei, ada nggak orang terdekat atau anggota keluarga kalian yang dikit-dikit mengandalkan antibiotik ketika sakit ringan?
Wah, kalo ada, kalian sebaiknya memperingatkan mereka bahwa yang mereka lakukan bisa jadi keliru. Antibiotik berasal dari kata anti dan bio (hidup). Berarti digunakan untuk membunuh sesuatu yang hidup. Antibiotik, secara definisi, membunuh bakteri. Nah, batuk, sakit telinga, sakit tenggorokan, pilek, flu, dan demam ringan itu umumnya disebabkan oleh virus. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus. Walaupun memang dalam beberapa kasus penyakit yang disebabkan oleh virus ini, terkadang berpotensi "mengundang" bakteri, sehingga dalam diagnosa tertentu diperlukan antibiotik.
Tapi secara umum yang mau saya tekankan di sini adalah persepsi yang keliru bahwa antibiotik adalah "obat-segala-penyakit" yang bisa menyembuhkan hampir semua penyakit ringan, termasuk yang disebabkan oleh virus. Kenapa? Coba ingat-ingat lagi pelajaran Biologi kelas X. Virus itu bukanlah makhluk hidup. Virus punya materi genetik, tapi tidak bisa melakukan aktivitas kehidupan, seperti metabolisme hingga reproduksi, tanpa bantuan inang. Virus itu berada di tapal batas antara benda mati dan benda hidup. Jadi nggak nyambung kan menggunakan antibiotik untuk mengatasi virus?
Minum antibiotik dengan tujuan yang tidak sesuai dengan fungsi dasarnya atau dosis yang ditetapkan dapat menyebabkan bakteri umum lainnya di dalam tubuh menjadi resisten terhadap obat. Hal ini bisa memicu terbentuknya “bakteri super” yang menyebabkan penyakit yang jauh lebih buruk daripada penyakit awal. Ketika dikasih antibiotik pada dosis yang sama, mereka udah nggak mempan lagi. Butuh antibiotik dengan dosis yang lebih tinggi lagi.
Antibiotik juga nggak bisa sembarangan beli di apotek tanpa resep dokter. Namun, sayangnya, kadang ada oknum dokter yang tidak bertanggung-jawab yang suka kasih resep antibiotik untuk pasien dengan gejala sakit ringan. Di sisi lain, terkadang ada juga pasien yang bandel terus langsung minum antibiotik tanpa resep dan diagnosa dari dokter. Dalam konteks ini, penting banget buat pasien untuk mengerti kenapa antibiotik nggak bisa mengatasi virus dan juga secara aktif menanyakan pada dokter apakah hasil diagnosanya memang ada potensi pertumbuhan bakteri, karena jika tanpa alasan yang kuat, konsumsi antibiotik justru berpotensi buruk bagi kesehatan jangka panjang.
9. Minum Susu Secara Teratur Bisa Mengurangi Risiko Osteoporosis
Dari kecil, kita udah dikasih “doktrin” supaya rajin minum susu karena merupakan sumber asupan kalsium yang bagus untuk kesehatan tulang.
Osteoporosis atau tulang keropos adalah keadaan melemahnya tulang karena ketidakseimbangan antara terbentuknya sel tulang baru dan kerusakan tulang. Orang biasanya kehilangan sel tulang seiring bertambahnya usia.
Mengkonsumsi kalsium dengan cukup dan memaksimalkan cadangan tulang pas tulang lagi aktif-aktifnya tumbuh (hingga usia 30 tahun) memang memberikan fondasi penting bagi masa depan. Tapi hal ini nggak mencegah kerusakan tulang di kemudian hari. Kerusakan tulang seiring berjalannya usia adalah hasil dari berbagai faktor, meliputi faktor genetik, kurangnya aktivitas fisik, dan menurunnya kadar hormon dalam tubuh.
Jadi, mengurangi risiko osteoporosis jangan terpaku pada minum susu dan konsumsi kalsium aja. Udah banyak studi yang menemukan bahwa tidak ada hubungan antara asupan kalsium yang tinggi dengan kurangnya risiko patah tulang (lihat The Journal of Nutrition dan NCBI). Tapi kurang asupan kalsium tentu nggak baik juga dong. Cukup aja, jangan terlalu tinggi, danjangan terlalu rendah pula.
Sumber kalsium pun nggak harus terpaku pada susu. Hanya mengandalkan susu sebagai sumber kalsium bisa menimbulkan risiko lain, seperti ada orang yang menderita lactose intolerant, produk susu tinggi akan lemak jenuh yang merupakan faktor risiko penyakit jantung, dan tingginya kadar galaktosa hasil pencernaan susu bisa merusak ovarium dan bisa menyebabkan kanker ovarium. Sumber kalsium lain ada banyak, seperti sayuran hijau (sawi, brokoli, bayam) dan kacang-kacangan.
Faktor lain harus diperhitungkan juga dalam upaya mengurangi risiko osteoporosis. Selain cukup mengkonsumsi kalsium, kita juga dianjurkan untuk cukup dapat vitamin D (paparan sinar matahari yang cukup atau lewat suplemen), vitamin K (pada sayuran hijau), dan olahraga beban secara teratur. Seperti jalan kaki, menari, jogging, angkat beban, naik tangga, badminton/tenis, dan hiking. Aktivitas fisik semacam ini memberikan tekanan pada tulang yang dapat mempertahankan kepadatan tulang sepanjang hidup.
10. Golongan Darah Mempengaruhi Kepribadian
Nah, ini juga salah satu mitos yang sering berseliweran di Instagram, Path, dsb. Ceritanya, golongan darah itu mempengaruhi personality seseorang. Sebenarnya gagasan ini nggak jauh berbeda dari tipe kepribadian berdasarkan zodiak sih.
Gampang banget untuk tahu kalo mitos ini cacat secara logis dan penuh bias. Kepribadian dan karakter manusia itu kan ada banyak. Gimana bisa karakter yang beragam itu dikotak-kotakkan pada hanya 4 tipe golongan? Katanya golongan darah AB itu jenius dan suka menghasilkan ide cemerlang. Tapi saya atau mungkin orang lain tahu banyak kok orang yang jenius tapi nggak bergolongan darah AB.
Selain itu, sifat orang kan dinamis, bisa berubah seiring berjalannya waktu, bisa jadi karena proses pendewasaan atau kejadian tertentu dalam hidup. Katanya golongan darah O nggak bisa tepat waktu. Misalnya ada si Badrun yang bergolongan darah O suka ngaret. Tapi karena kemudian dia masuk dunia kerja dan nyadar kalo lelet itu bisa mempengaruhi karir, dia pun belajar untuk tepat waktu dan akhirnya bisa jadi pribadi yang disiplin. Nah, apa bisa dibilang si Badrun ganti golongan darah?
Biasnya adalah kalo ada tipe kepribadian di kartun-kartun atau anime golongan darah yang pas beneran dengan karakter diri atau teman kalian, kesesuaian itu diheboh-hebohin terus di-share di timeline sosmed, “Ih beneran ya, golongan darah B itu emang suka blak-blakan”. Coba aja ada karakter di kartun-kartun itu yang nggak cocok dengan dirinya, udah diabaikan gitu aja, nggak diseriusin. Dan itu dilakukan hampir kebanyakan orang yang suka lucu-lucuan baca tipe kepribadian lewat golongan darah. Makanya sistem ini bisa jadi populer.
Mirip kan dengan logika ngaco dan bias pada ramalan bintang/horoskop?
Tapi agak berbeda dengan ramalan zodiak, tipe kepribadian per golongan darah ini ada bumbunya sedikit. Karena dibagi berdasarkan golongan darah, orang mengira ini lebih akurat karena disangkut-pautkan dengan biologis manusia. Padahal di kelas VIII SMP atau XI SMA, kita belajar bahwa golongan darah itu ditentukan dari ada atau tidaknya antigen tertentu di permukaan sel darah merah yang nantinya dapat memicu respon imun jika kita menerima darah dari golongan yang nggak kompatibel dengan darah kita. Di sisi lain, kepribadian atau sifat manusia ditentukan oleh susunan gen yang ada di setiap sel tubuh manusia. So, mendasarkan golongan darah sebagai penentu kepribadian seseorang itu keliru kan?
Penelitian khusus pun telah dilakukan dan ditemukan bahwa nggak ada hubungan antara golongan darah dengan personality atau kepribadian seseorang.
Itu baru 10 dari sekian banyak mitos sains di kehidupan sehari-hari. Agak miris rasanya jika masyarakat kita mengeluarkan uang begitu banyak untuk hal yang tidak punya dasar valid dan terbukti secara ilmiah. Mitos-mitos ini bisa kita tinggalkan perlahan jika sebuah generasi belajar dengan benar, bukan sekedar mencari nilai atau mengandalkan cara instan. Mereka belajar dengan benar-benar menghargai ilmu pengetahuan, pentingnya berpikir kritis, dan kerja keras untuk menciptakan perubahan atau inovasi hidup yang lebih baik.









