Kemarin, seperti biasanya saya ada kuliah pagi, dan masuk pada pukul 07.00. Hari itu sebenernya saya ada 4 mata kuliah yang harus dihadiri yaitu Bunpo (Japanese Grammar), Dokkai (Japanese Reading), Manajemen Sekolah, dan Psikologi Pendidikan. Namun karena ada permasalahan, saya memutuskan untuk masuk satu mata kuliah aja dan meninggalkan 3 mata kuliah sisanya. Dokkai lagi diliburkan, Manajemen Sekolah saya nggak diabsen sama dosennya jadi nggak ada gunanya juga saya hadir, sementara itu Psikologi Pendidikan saya males banget buat berangkat karena diadakan pada pukul 15.00 (dan syukurnya saya baru tahu kalo dosennya kemarin juga nggak hadir). Jadi, saya cuma mengikuti kuliah Bunpo dan itu pun berakhir pada kurang lebih pukul 09.00.
Selesai kuliah Bunpo, saya nggak tahu lagi mau ngapain karena nggak ada kerjaan yang bisa saya lakukan. Awalnya sih saya nongkrong di gazebo kampus bersama dengan temen-temen lain yang sedang nggak ada kuliah, main UNO sama mereka, dan sempet latihan jadi butler sama Rahma dan Ayu alias kedua 'atasan' saya. Tapi karena makin lama jadi makin membosankan, senpai (kakak kelas) saya yang namanya mas Riyanto yang sedari awal ikutan nimbrung bareng kita, punya usul untuk pergi ke suatu tempat buat main. Saya awalnya ngusulin buat nongkrong di Freshasan deket kampus (mumpung saya punya tiket diskonan 20% disana), tapi karena mas Riyanto lagi puasa Rajab, batal sudah rencana pergi ke Freshasan. Akhirnya mas Riyanto ngusulin untuk main ke Curug Lawe, sebuah curug (air terjun kecil alias cascade) yang letaknya deket sama kampus, tepatnya di perbatasan Ungaran-Gunungpati. Saya tertarik juga buat pergi kesana, karena tempatnya deket dengan kampus dan seumur-umur saya belum pernah secara langsung main ke air terjun.
Kalo nggak salah ada 11 orang yang setuju dengan usulan mas Riyanto dan ikut main kesana. Mulai dari mas Riyanto, saya, Aufa, Adit, Hanif, Dona, Ai, Intan, Henni, Nova, dan Mayang. Kita kesana naik motor berboncengan, jadi ada 5 buah motor yang kita pake. Tempatnya emang nggak begitu jauh dari kampus, kira-kira butuh waktu 15 menit buat sampai ke sana. Setibanya di sana, kita cuma perlu membayar parkir motor. Tarifnya Rp 48.000 untuk 10 orang kalo nggak salah. Setelahnya, kita bisa beli makan atau minum untuk perbekalan karena kita akan berjalan kaki sepanjang kurang lebih 1 km untuk sampai ke air terjunnya. Saya dan Adit mampir sebentar beli bakso ojek karena kita merasa lapar.
Awalnya kita jalan di jalan setapak yang masih enak untuk dipijak.
Pemandangan kanan-kiri masih pepohonan yang nggak begitu lebat.
Saya menyempatkan diri untuk selfie sebelum menantang alam, hahaha.
Ini Nova, terpotret secara candid.
Seperti ini tangga yang kita lewati.
Kira-kira begini kondisinya.
Ini Ai dan Dona, sementara di sebelah kiri ada jurang, dan sebelah kanan ada sungai.
Ini Adit dan Intan, mesra di bawah satu payung.
Kita teruuuus melewati jalan seperti tadi sampai 400-500 meter jauhnya. Di tengah-tengah perjalanan tadi ada juga jembatan yang menghubungkan hutan satu dengan hutan lainnya yang dipisahin oleh jurang. Ada juga sungai (kali ini sungai beneran) yang airnya deras dan dingin tapi jernih. Sempet terjadi insiden memalukan yang saya alami, karena saking licinnya sandal yang saya pake, saya hampir terpeleset saat nyebur ke sungai dan akhirnya malah sandal saya yang hanyut kebawa arus sungai. Untung ada mas Riyanto yang baik hati yang bersedia ngambilin sandal saya dengan susah payah, hehehe. Arigatou, senpai!
Ini foto saat di jembatan pertama. Dari depan: Mas Riyanto, Dona, Adit, Ai, Intan.
Selfie lagi.
Ini di jembatan kedua. Dari depan: Henni, Nova, Intan, Dona, Adit (gak kelihatan), Mayang, Mas Riyanto.
Ini di sungai tempat saya hampir kepeleset. Ada Aufa, Ai, dan Hanif.
Saya nyempilin jas ujan di tas karena saat itu abis ujan.
Bersiap jalan lagi.
Taraaaa!
Taraaaa lagi!
Lebih deket lagi...
Bagian bawah curug.
Air terjun dengan ketinggian kurang lebih 10-15 meter ini keren banget saat dilihat dari bawah. Airnya deras, dan ketika saya mencoba mengambil foto dari dekat, saya berasa lagi dicuci salju ala-ala cuci motor. Jadi, kalo kalian cuma berdiri di deket air terjun, lama-lama kalian akan basah kuyup juga. Di saat seperti inilah rasa lelah dan capek saya hilang berkat pemandangan air terjun yang menakjubkan yang ada di depan mata kepala saya. Oh ya, nggak lupa kita juga berfoto ria disitu.
Yeay!
Saya cuma foto-foto aja bisa basah kuyup.
Saya lagi bantuin Nova yang hampir aja terpeleset, hahaha.
Groufie dulu.
Groufie lagi.
Dan saat kembali menyusuri jalan sempit beserta got besar dan jurang di awal-awal saya cerita tadi, karena sandal brengsek yang lagi saya pake, lagi-lagi saya hampir terpeleset. Nova yang sat itu jalan di belakang, kadang jengkel campur histeris saat lihat saya hampir terpeleset, geli saya dengernya,
Sesampainya di parkiran, kita melepas lelah sejenak sembari bercerita dan membahas tentang perjalanan yang udah kita tempuh selama menuju dan kembali dari Curug Lawe. Ai dan Nova hampir kena hipotermia saking dinginnya, tangan Adit luka karena sesuatu tapi dia nggak sadar, jas hujan saya sobek, tas dan bawaan saya serta temen-temen juga basah karena hujan. Menyenangkan rasanya bisa bercerita mengenai pengalaman yang udah kita jalani dan lalui sama-sama. Kita sepakat nggak akan pernah melupakan momen yang indah namun berbahaya ini. Saya sempet selfie juga buat mengenang bahwa saya pernah berada di Curug Lawe ini. Kalo tadi selfie sebelum saya menantang alam, sekarang selfie setelah menantang alam.
Dengan memakai jas hujan serta basah kuyup seperti ini, saya jadi lebih mirip tukang becak.
Sampai ketemu di post selanjutnya.


















