Rabu, 29 April 2015

Jalan-jalan ke Curug Lawe



Kemarin, seperti biasanya saya ada kuliah pagi, dan masuk pada pukul 07.00. Hari itu sebenernya saya ada 4 mata kuliah yang harus dihadiri yaitu Bunpo (Japanese Grammar), Dokkai (Japanese Reading), Manajemen Sekolah, dan Psikologi Pendidikan. Namun karena ada permasalahan, saya memutuskan untuk masuk satu mata kuliah aja dan meninggalkan 3 mata kuliah sisanya. Dokkai lagi diliburkan, Manajemen Sekolah saya nggak diabsen sama dosennya jadi nggak ada gunanya juga saya hadir, sementara itu Psikologi Pendidikan saya males banget buat berangkat karena diadakan pada pukul 15.00 (dan syukurnya saya baru tahu kalo dosennya kemarin juga nggak hadir). Jadi, saya cuma mengikuti kuliah Bunpo dan itu pun berakhir pada kurang lebih pukul 09.00.


Selesai kuliah Bunpo, saya nggak tahu lagi mau ngapain karena nggak ada kerjaan yang bisa saya lakukan. Awalnya sih saya nongkrong di gazebo kampus bersama dengan temen-temen lain yang sedang nggak ada kuliah, main UNO sama mereka, dan sempet latihan jadi butler sama Rahma dan Ayu alias kedua 'atasan' saya. Tapi karena makin lama jadi makin membosankan, senpai (kakak kelas) saya yang namanya mas Riyanto yang sedari awal ikutan nimbrung bareng kita, punya usul untuk pergi ke suatu tempat buat main. Saya awalnya ngusulin buat nongkrong di Freshasan deket kampus (mumpung saya punya tiket diskonan 20% disana), tapi karena mas Riyanto lagi puasa Rajab, batal sudah rencana pergi ke Freshasan. Akhirnya mas Riyanto ngusulin untuk main ke Curug Lawe, sebuah curug (air terjun kecil alias cascade) yang letaknya deket sama kampus, tepatnya di perbatasan Ungaran-Gunungpati. Saya tertarik juga buat pergi kesana, karena tempatnya deket dengan kampus dan seumur-umur saya belum pernah secara langsung main ke air terjun.


Kalo nggak salah ada 11 orang yang setuju dengan usulan mas Riyanto dan ikut main kesana. Mulai dari mas Riyanto, saya, Aufa, Adit, Hanif, Dona, Ai, Intan, Henni, Nova, dan Mayang. Kita kesana naik motor berboncengan, jadi ada 5 buah motor yang kita pake. Tempatnya emang nggak begitu jauh dari kampus, kira-kira butuh waktu 15 menit buat sampai ke sana. Setibanya di sana, kita cuma perlu membayar parkir motor. Tarifnya Rp 48.000 untuk 10 orang kalo nggak salah. Setelahnya, kita bisa beli makan atau minum untuk perbekalan karena kita akan berjalan kaki sepanjang kurang lebih 1 km untuk sampai ke air terjunnya. Saya dan Adit mampir sebentar beli bakso ojek karena kita merasa lapar.



Awalnya kita jalan di jalan setapak yang masih enak untuk dipijak.




Pemandangan kanan-kiri masih pepohonan yang nggak begitu lebat.




Saya menyempatkan diri untuk selfie sebelum menantang alam, hahaha.




Ini Nova, terpotret secara candid.


Setelah melewati jalan setapak tadi, akhirnya kita menuruni sebuah tangga untuk masuk ke sebuah wilayah hutan beserta jurang yang dalam serta ada sebuah sungai yang mengalir deras di bawahnya. Saat itu di pikiran kita mungkin hanyalah pikiran untuk bersenang-senang semata untuk melepas penat setelah UTS berakhir. Kita berjalan lagi melewati sebuah jalan kecil mirip trotoar, sementara di sebelah kiri adalah jurang, dan sebelah kanan ada sungai buatan (lebih mirip got besar) yang airnya jernih serta mengalir dengan lumayan deras. Kita harus hati-hati saat lewat di jalan itu karena sempit dan lumayan licin (sandal yang saya pake ini punya Adit yang juga licin buanget saat itu), jadi kalo kita terpeleset, ada dua kemungkinan yang akan terjadi: Kita tepeleset kecebur di sungai di sebelah kanan, atau kita akan terperosok ke jurang di sebelah kiri. Lagipula, saat itu juga lagi turun hujan yang lumayan deras.



Seperti ini tangga yang kita lewati.



Kira-kira begini kondisinya.



Ini Ai dan Dona, sementara di sebelah kiri ada jurang, dan sebelah kanan ada sungai.



Ini Adit dan Intan, mesra di bawah satu payung.


Kita teruuuus melewati jalan seperti tadi sampai 400-500 meter jauhnya. Di tengah-tengah perjalanan tadi ada juga jembatan yang menghubungkan hutan satu dengan hutan lainnya yang dipisahin oleh jurang. Ada juga sungai (kali ini sungai beneran) yang airnya deras dan dingin tapi jernih. Sempet terjadi insiden memalukan yang saya alami, karena saking licinnya sandal yang saya pake, saya hampir terpeleset saat nyebur ke sungai dan akhirnya malah sandal saya yang hanyut kebawa arus sungai. Untung ada mas Riyanto yang baik hati yang bersedia ngambilin sandal saya dengan susah payah, hehehe. Arigatou, senpai!



Ini foto saat di jembatan pertama. Dari depan: Mas Riyanto, Dona, Adit, Ai, Intan.



Selfie lagi.



Ini di jembatan kedua. Dari depan: Henni, Nova, Intan, Dona, Adit (gak kelihatan), Mayang, Mas Riyanto.



Ini di sungai tempat saya hampir kepeleset. Ada Aufa, Ai, dan Hanif.



Saya nyempilin jas ujan di tas karena saat itu abis ujan.



Bersiap jalan lagi.


Setelahnya, kita mendaki dan menemukan sebuah hutan yang lebat. Tanah di sana agak rawan longsor, dan saya hampir mati terperosok ke jurang di sebelah kiri (lagi-lagi karena sandal jahanam yang saya pake), dan untungnya di depan saya ada Mayang yang dengan sigap narik saya ke atas. Saya deg-degan banget waktu itu, dan berusaha berkonsentrasi untuk lebih berhati-hati kedepannya. Beberapa meter kita mendaki, menuruni bukit, hutan, dan menghindari jurang serta melewati sungai yang deras, akhirnya kita sampai di air terjun Curug Lawe yang indah dan menawan.



Taraaaa!



Taraaaa lagi!



Lebih deket lagi...



Bagian bawah curug.


Air terjun dengan ketinggian kurang lebih 10-15 meter ini keren banget saat dilihat dari bawah. Airnya deras, dan ketika saya mencoba mengambil foto dari dekat, saya berasa lagi dicuci salju ala-ala cuci motor. Jadi, kalo kalian cuma berdiri di deket air terjun, lama-lama kalian akan basah kuyup juga. Di saat seperti inilah rasa lelah dan capek saya hilang berkat pemandangan air terjun yang menakjubkan yang ada di depan mata kepala saya. Oh ya, nggak lupa kita juga berfoto ria disitu.



Yeay!



Saya cuma foto-foto aja bisa basah kuyup.






Saya lagi bantuin Nova yang hampir aja terpeleset, hahaha.



Groufie dulu.



Groufie lagi.


Setelah berfoto-foto ria, kita memutuskan untuk segera pulang, karena Curug Lawe tutup pukul 16.00 (saat itu hampir jam 4 sore), dan saat itu hujan turun dengan derasnya. Kita pulang menyusuri jalan yang udah kita lewati sebelumnya. Kali ini agak berbahaya karena tanah menjadi sedikit berlumpur dan licin, serta aliran singai menjadi sangaaat deras akibat hujan. Saat melewati sungai pun, saya harus copot sandal karena saking licinnya dan saya takut terjadi hal-hal yang bisa merenggut nyawa akibat sandal sialan yang lagi saya pake ini. Saya juga hampir hanyut terbawa aliran sungai yang begitu derasnya, tapi untungnya saya dengan sigap berpegangan pada batu besar di sekitar sungai dan naik ke atasnya. Bener-bener pengalaman yang nggak akan pernah saya lupakan, karena udah 2x hampir celaka, hahaha. Saat itu pandangan saya jadi sedikit kabur karena hujan, sehingga mau-nggak-mau saya harus berjalan merembet ke bebatuan atau pepohonan saat saya akan berjalan di suatu tempat yang menurut saya rawan. Tapi demi pengalaman bareng temen-temen, it's worth it.


Dan saat kembali menyusuri jalan sempit beserta got besar dan jurang di awal-awal saya cerita tadi, karena sandal brengsek yang lagi saya pake, lagi-lagi saya hampir terpeleset. Nova yang sat itu jalan di belakang, kadang jengkel campur histeris saat lihat saya hampir terpeleset, geli saya dengernya,


Sesampainya di parkiran, kita melepas lelah sejenak sembari bercerita dan membahas tentang perjalanan yang udah kita tempuh selama menuju dan kembali dari Curug Lawe. Ai dan Nova hampir kena hipotermia saking dinginnya, tangan Adit luka karena sesuatu tapi dia nggak sadar, jas hujan saya sobek, tas dan bawaan saya serta temen-temen juga basah karena hujan. Menyenangkan rasanya bisa bercerita mengenai pengalaman yang udah kita jalani dan lalui sama-sama. Kita sepakat nggak akan pernah melupakan momen yang indah namun berbahaya ini. Saya sempet selfie juga buat mengenang bahwa saya pernah berada di Curug Lawe ini. Kalo tadi selfie sebelum saya menantang alam, sekarang selfie setelah menantang alam.



Dengan memakai jas hujan serta basah kuyup seperti ini, saya jadi lebih mirip tukang becak.


Yah... Segini pengalaman yang bisa saya ungkapkan ke dalam kata-kata di blog ini. Mohon maafnya untuk temen-temen yang saya ceritakan dalam post kali ini kalo aja ceritanya nggak sesuai dengan persepsi kalian. Dan bagi yang sudah membaca, saya berterima kasih sebanyak-banyaknya.


Sampai ketemu di post selanjutnya.