Malem ini saya lelah. Bukan, bukan lelah hati atau lelah perasaan dan sebagainya. Tapi, saya bener-bener lelah karena kegiatan kampus yang mulai menggila padatnya. Saya baru aja balik dari kampus dan rencananya mau ngerjain tugas yang lumayan banyaknya. Tapi, berhubung saya lagi capek dan nggak mood untuk mengerjakan tugas kuliah, mungkin saya akan share suatu kejadian yang sedikit ada relevansi dengan realita kehidupan kebanyakan orang.
Jadi... tadi siang, saya dan teman-teman bersiap akan mengikuti perkuliahan, dan kami jalan berombongan menuju ruangan tempat dimana perkuliahan itu dilaksanakan. Sambil jalan, saya dan teman-teman juga ngobrol, sesekali bercanda dan berseloroh seperti biasanya. Lama kelamaan, topik obrolan beralih dari tugas kuliah, butler, dan akhirnya sampai ke topik mengenai saya dan Jane akhir-akhir ini.
Oh iya, saya belum cerita mengenai hubungan antara saya dan Jane akhir-akhir ini (yah walaupun saya merasa nggak enak juga menyebutnya dengan istilah "hubungan"). Jadi, sejak berakhirnya kegiatan KKL tempo lalu, saya dan Jane berkuliah beda rombongan belajar, atau bisa saya singkat dengan kata rombel. Nah, karena kita beda rombel, saya jadi jarang banget lihat dia di sekitar kampus. Bisa dibilang, saya ketemu dia cuma di saat-saat tertentu aja. Semisal saat di kantin atau saat latihan drama di kampus. Iya, saya ikut kegiatan kampus dan drama merupakan salah satunya. Maka dari itu, lambat laun saya pikir hubungan saya dan si Jane jadi merenggang.
Kembali ke topik awal. Karena teman-teman saya membahas mengenai hubungan saya dengan Jane akhir-akhir ini, saya punya semacam "alert" kalo mereka bakal menghubungkan atau menjodohkan saya dengan Jane lagi, dan ternyata emang bener. Saya yang udah bisa menduga dari awal cuma bisa menepis obrolan mereka dengan sesuatu yang bikin mereka agak kaget, menurut saya.
Begitu kira-kira yang saya bilang.
Saya nggak ngerti. Entah mereka terkejut atau hanya nggak percaya dengan apa yang saya bilang, mereka merespons jawaban saya dengan berbagai macam hal. Ada yang ragu dengan bilang "Ah masaaa?", ada yang masih men-ciye-ciye-kan saya, dan ada juga yang sarkas ke saya:
Begitu kira-kira ucapan sarkas dari salah seorang teman saya.
Saya awalnya nggak menganggap penting omongan sarkas dari temen saya itu. Dia bisa bilang begitu karena dia nggak tahu apa yang saya alami dan saya rasakan. Ya memang sih saya orangnya begini, cuek dengan orang yang sok ngerti dengan keadaan dan kepribadian saya. Buat apa kita harus menjelaskan seperti apa sebenarnya diri kita ke orang lain jika mereka sebenarnya nggak mau tahu sama sekali? Saya nggak mau capek atau repot-repot, biar orang lain menilai bagaimana diri kita walaupun asumsi dan persepsi mereka salah. Tapi karena saya udah niat pengen share disini, saya akan bercerita sedikit alasan mengenai saya yang menyerah mengejar Jane.
Sepulang dari KKL, saya masih berbunga-bunga karena udah sukses menyanyikan sebuah lagu, memberi mawar, memberi kado, dan memberi segala perhatian yang saya bisa berikan ke Jane. Saya berharap nantinya akan bisa lebih dekat dengan Jane, walaupun memakan waktu lama, buat saya itu nggak masalah. Saya percaya, proses yang baik pasti hasilnya juga baik.
Tapi keadaannya berbeda dengan apa yang saya perkirakan sebelumnya. Dia justru menjauhi saya dengan berbagai macam cara: Chat dari saya nggak dibales, sikapnya yang makin dingin ke saya, dan (walaupun ini kata temen saya) dia sedikitpun nggak mau menolehkan wajahnya ke arah saya saat saya ada di deketnya. Saya mencoba bersabar menghadapi tingkahnya, dan lambat laun saya berinisiatif untuk bersikap biasa terhadapnya. Saya berusaha bersikap layaknya teman biasa, dan kalian tahu apa yang terjadi?
Dia masih berusaha menjauhi saya.
Suatu waktu, saya bertanya hal-hal umum mengenai dia semisal mengenai jadwal latihan drama atau bertanya mengenai keberadaan temen saya yang lain ke dia melalui chat. Saya menunggu balasannya, dan sebagai teman kampusnya yang (berusaha) baik, saya berpikir positif bahwa dia pasti bales chat "umum" dari saya. Tapi kenyataannya beda. Dia cuma membaca chat saya dan nggak membalasnya.
Saya bersyukur sedari awal nggak berharap dia akan membalas chat saya karena takut kecewa. Saya tanya ke temen lain, dan akhirnya dibales. Nah, disitu perbedaannya. Saya pengen banget tanya gimana caranya jadi temen yang baik untuknya, karena saya merasa udah mampu jadi temen yang baik bagi orang lain. Karena kesabaran saya udah habis, saya memutuskan untuk nggak peduli lagi dengan apapun mengenai dia walaupun secara pribadi saya masih menganggapnya sebagai teman dan hanya berkomunikasi dengannya jika ada hal-hal yang perlu dan penting aja.
Saya paling nggak suka dengan orang yang nggak bisa bersikap biasa walaupun orang itu tahu adanya sesuatu dari diri kita yang membuat mereka nggak nyaman. Sebagai contoh, ketika kalian sedang naik bus bersama teman yang gampang banget mabuk perjalanan, lalu dia muntah dengan menggunakan kantong plastik di hadapan kalian, apa kalian akan langsung menjauh dari teman kalian hanya karena dia muntah? Saya tahu rasa jijik pasti ada, tapi kalian pasti merasa nggak enak jika harus menjauh dari teman kalian kan? Terlebih dia udah sopan dengan menggunakan kantong plastik. Dalam bahasa Jawa, keadaan tersebut dinamakan pekewuh. Nah, hubungannya disini adalah apa kalian akan menjauhi seseorang yang digosipi punya hubungan sama kalian? Atau malah beneran punya rasa terhadap kalian? Apakah salah jika seseorang mempunyai rasa pada kalian? Kalo kalian suka terhadap seseorang itu, katakan iya. Kalo kalian nggak suka terhadap seseorang itu, cukup minta maaf dan katakan tidak.
Tapi kalo nggak menjauh, ntar dibilang PHP (Pemberi Harapan Palsu), gimana dong?
Pertanyaan itu sering saya denger dari teman-teman saya. Menurut saya, selama kalian hanya memiliki niat untuk berteman dengan orang suka dengan kalian, kalian nggak salah. Yang salah adalah orang yang terlalu berharap kepada kalian, yang mengartikan hubungan kalian secara lain. Mereka yang mengartikan hubungan itu lebih dari sekedar pertemanan akan kecewa dan men-judge kalian dengan istilah PHP. Jadi, biarkan aja kalian dicap PHP, karena niat kalian hanya ingin melanjutkan pertemanan. Cuma jawaban sesimpel itu yang bisa saya berikan. Justru kalo kalian menjauhi orang yang memiliki rasa pada kalian, kalian yang akan dosa. Kenapa? Pertama, merenggangkan hubungan pertemanan. Kedua, memperburuk hubungan silaturahmi. Ketiga, akan terjadi banyak kesalahpahaman. Jadi kesimpulannya, jangan jauhi orang yang suka pada kalian, tetaplah berhubungan seperti layaknya teman biasa. Lama-lama, orang yang suka pada kalian akan mengerti suatu saat nanti. Menyukai seseorang juga susah, karena kita nggak akan tahu kapan, dimana, dan kenapa kita menyukai seseorang itu. Jangan jadikan perasaan suka itu sebagai penyebab memburuknya sebuah hubungan pertemanan.
Walaupun saya nggak begitu serius dan malah nggak suka dengan sikap Jane yang seperti itu, saya bisa maklum karena dia emang udah punya pacar bahkan sebelum saya digosipi ada hubungan sama dia. Saya menjauh dari Jane bukan karena benci, tapi karena saya nggak mau ribet. Dia bukan PHP, tapi saya yang salah karena terlalu dekat. Yah, begitulah analoginya dari penjelasan di atas barusan.
Saya menjauh dari Jane juga karena satu alasan lagi, yang pastinya kalian juga ngerti dan bahkan istilahnya pun nggak asing di telinga kalian.
Karena saya takut karma.
Begini...
Seperti yang kalian tahu, Jane udah punya cowok. Lalu, saya tiba-tiba muncul dan dekat sama Jane. Dengan segala cara, saya berusaha merebut perhatian Jane agar dia bisa putus dengan cowoknya tersebut dan akhirnya jadian dengan saya.
Menurut kalian, image apa yang cocok untuk saya berdasarkan cerita di atas?
Yap, cowok perebut pacar orang.
Beberapa bulan yang lalu, saya pernah cerita disini mengenai putusnya saya dengan Vanny karena disebabkan oleh adanya orang ketiga. Padahal awalnya, saya percaya bahwa lamanya hubungan yang udah saya dan Vanny jalani akan membuat dia bertahan ke saya sampai ke tahap serius. Jadi, apapun yang dia lakukan, mau berteman dengan siapapun entah cewek atau cowok, atau kegiatan apapun yang dia jalani, nggak akan berpengaruh banyak terhadap hubungan yang udah kita lalui, dan saya percaya itu. Dan kalian tahu kenyataannya nggak demikian. Di saat kita marahan, saya berikan dia waktu untuk melakukan apapun yang dia mau entah bersama teman-teman, keluarga, atau kegiatannya, dia malah menjalin hubungan dengan orang lain dan itu ternyata udah terjadi sebelum saya dan dia marahan.
Coba kita bayangkan kisah di atas dengan tokoh yang berbeda: Saya sebagai orang ketiga, Jane sebagai Vanny, dan cowoknya Jane sebagai saya. Sama kan?
Walaupun nggak begitu sama dengan kisah cinta saya yang kandas, tapi inti skenario dari kisah di atas sama: Adanya orang ketiga yang merusak hubungan. Saya nggak mau dicap sebagai cowok perebut pacar orang. Saya takut karma. Saya juga nggak mau disamakan dengan cowok yang udah merebut Vanny dari saya. Saya nggak mau suatu saat nanti cewek saya akan direbut oleh cowok lain dua kali (bukan berarti juga dulu saya punya Vanny karena merebutnya dari cowok lain, bukaaan). Jadi sebisa mungkin, saya berusaha menjauh dari Jane, berusaha nggak mengganggu hubungannya, dan terus bersikap layaknya teman biasa.
Nah, karena saya menjauh dari Jane, nggak mungkin juga saya terus menunggunya sampai putus dengan cowoknya. Hidup ini lebih keras dari cerita Disney maupun Marvel. Jika kalian nggak mau kecewa, kalian harus berusaha serealistis mungkin dalam menghadapi hidup. Saya pernah berpikir, hidup ini cuma sekali, dan sampai kapan saya mau menunggu seseorang yang bahkan nggak ada waktu untuk menoleh ke arah saya sama sekali? Jadi, saya juga memutuskan untuk melanjutkan pencarian dan sampai saya menemukan orang yang tepat untuk saya, saya nggak akan berani pacaran dan menjalin hubungan serius dengan cewek-cewek di sekitar saya. Saya jamin.
Yah... saya nggak berani menjamin juga sih sebenernya. Walaupun saya ngebet banget pengen cari pasangan baru yang lebih dari sebelumnya, terkadang saya lebih merasa nyaman sendirian. Kenapa? Karena saat jomblo begini, saya bisa bebas melakukan apapun yang saya mau, saya bisa bebas berteman dengan siapapun yang saya mau, dan saya bisa bebas punya kegiatan apapun yang saya mau tanpa harus lapor ini-itu ke seseorang dan tanpa dikenai aturan ini-itu dari seseorang. Saya akui sih, dulu saya sempat merasa terkekang saat masih menjalani hubungan dengan Vanny karena ketatnya aturan yang dia berikan dan sifat cemburuannya yang berlebih. Walaupun lama-lama saya terbiasa dan masih sayang dia juga. Maka dari itu, saya merindukan kebebasan seperti ini. Jadi, sampai saat ini saya masih bingung sebenarnya saya pengen cari cewek lagi atau terus sendiri begini sampai saya bosan. Menurut kalian, apa yang harus saya lakukan? Sembari menunggu kepastian mengenai dua hal tersebut, saya akan fokus di kegiatan yang udah saya jalani selama ini.
Segini aja cerita yang pengen saya share, maaf kalo ada kata-kata yang menyinggung pihak yang udah saya sangkutkan disini, dan terima kasih udah berkenan mampir dan membaca tulisan nggak guna ini.
See you to the next post!
Jadi... tadi siang, saya dan teman-teman bersiap akan mengikuti perkuliahan, dan kami jalan berombongan menuju ruangan tempat dimana perkuliahan itu dilaksanakan. Sambil jalan, saya dan teman-teman juga ngobrol, sesekali bercanda dan berseloroh seperti biasanya. Lama kelamaan, topik obrolan beralih dari tugas kuliah, butler, dan akhirnya sampai ke topik mengenai saya dan Jane akhir-akhir ini.
Oh iya, saya belum cerita mengenai hubungan antara saya dan Jane akhir-akhir ini (yah walaupun saya merasa nggak enak juga menyebutnya dengan istilah "hubungan"). Jadi, sejak berakhirnya kegiatan KKL tempo lalu, saya dan Jane berkuliah beda rombongan belajar, atau bisa saya singkat dengan kata rombel. Nah, karena kita beda rombel, saya jadi jarang banget lihat dia di sekitar kampus. Bisa dibilang, saya ketemu dia cuma di saat-saat tertentu aja. Semisal saat di kantin atau saat latihan drama di kampus. Iya, saya ikut kegiatan kampus dan drama merupakan salah satunya. Maka dari itu, lambat laun saya pikir hubungan saya dan si Jane jadi merenggang.
Kembali ke topik awal. Karena teman-teman saya membahas mengenai hubungan saya dengan Jane akhir-akhir ini, saya punya semacam "alert" kalo mereka bakal menghubungkan atau menjodohkan saya dengan Jane lagi, dan ternyata emang bener. Saya yang udah bisa menduga dari awal cuma bisa menepis obrolan mereka dengan sesuatu yang bikin mereka agak kaget, menurut saya.
"Jane lagi, Jane lagi... Ya emang sih dulu aku mengharap, tapi sekarang udah nggak. Kalo ada yang suka, ambil aja..."
Begitu kira-kira yang saya bilang.
Saya nggak ngerti. Entah mereka terkejut atau hanya nggak percaya dengan apa yang saya bilang, mereka merespons jawaban saya dengan berbagai macam hal. Ada yang ragu dengan bilang "Ah masaaa?", ada yang masih men-ciye-ciye-kan saya, dan ada juga yang sarkas ke saya:
"Alah, kalian percaya emang? Selama ini Dika ngomong apa pernah serius sih?"
Begitu kira-kira ucapan sarkas dari salah seorang teman saya.
Saya awalnya nggak menganggap penting omongan sarkas dari temen saya itu. Dia bisa bilang begitu karena dia nggak tahu apa yang saya alami dan saya rasakan. Ya memang sih saya orangnya begini, cuek dengan orang yang sok ngerti dengan keadaan dan kepribadian saya. Buat apa kita harus menjelaskan seperti apa sebenarnya diri kita ke orang lain jika mereka sebenarnya nggak mau tahu sama sekali? Saya nggak mau capek atau repot-repot, biar orang lain menilai bagaimana diri kita walaupun asumsi dan persepsi mereka salah. Tapi karena saya udah niat pengen share disini, saya akan bercerita sedikit alasan mengenai saya yang menyerah mengejar Jane.
Sepulang dari KKL, saya masih berbunga-bunga karena udah sukses menyanyikan sebuah lagu, memberi mawar, memberi kado, dan memberi segala perhatian yang saya bisa berikan ke Jane. Saya berharap nantinya akan bisa lebih dekat dengan Jane, walaupun memakan waktu lama, buat saya itu nggak masalah. Saya percaya, proses yang baik pasti hasilnya juga baik.
Tapi keadaannya berbeda dengan apa yang saya perkirakan sebelumnya. Dia justru menjauhi saya dengan berbagai macam cara: Chat dari saya nggak dibales, sikapnya yang makin dingin ke saya, dan (walaupun ini kata temen saya) dia sedikitpun nggak mau menolehkan wajahnya ke arah saya saat saya ada di deketnya. Saya mencoba bersabar menghadapi tingkahnya, dan lambat laun saya berinisiatif untuk bersikap biasa terhadapnya. Saya berusaha bersikap layaknya teman biasa, dan kalian tahu apa yang terjadi?
Dia masih berusaha menjauhi saya.
Suatu waktu, saya bertanya hal-hal umum mengenai dia semisal mengenai jadwal latihan drama atau bertanya mengenai keberadaan temen saya yang lain ke dia melalui chat. Saya menunggu balasannya, dan sebagai teman kampusnya yang (berusaha) baik, saya berpikir positif bahwa dia pasti bales chat "umum" dari saya. Tapi kenyataannya beda. Dia cuma membaca chat saya dan nggak membalasnya.
Saya bersyukur sedari awal nggak berharap dia akan membalas chat saya karena takut kecewa. Saya tanya ke temen lain, dan akhirnya dibales. Nah, disitu perbedaannya. Saya pengen banget tanya gimana caranya jadi temen yang baik untuknya, karena saya merasa udah mampu jadi temen yang baik bagi orang lain. Karena kesabaran saya udah habis, saya memutuskan untuk nggak peduli lagi dengan apapun mengenai dia walaupun secara pribadi saya masih menganggapnya sebagai teman dan hanya berkomunikasi dengannya jika ada hal-hal yang perlu dan penting aja.
Saya paling nggak suka dengan orang yang nggak bisa bersikap biasa walaupun orang itu tahu adanya sesuatu dari diri kita yang membuat mereka nggak nyaman. Sebagai contoh, ketika kalian sedang naik bus bersama teman yang gampang banget mabuk perjalanan, lalu dia muntah dengan menggunakan kantong plastik di hadapan kalian, apa kalian akan langsung menjauh dari teman kalian hanya karena dia muntah? Saya tahu rasa jijik pasti ada, tapi kalian pasti merasa nggak enak jika harus menjauh dari teman kalian kan? Terlebih dia udah sopan dengan menggunakan kantong plastik. Dalam bahasa Jawa, keadaan tersebut dinamakan pekewuh. Nah, hubungannya disini adalah apa kalian akan menjauhi seseorang yang digosipi punya hubungan sama kalian? Atau malah beneran punya rasa terhadap kalian? Apakah salah jika seseorang mempunyai rasa pada kalian? Kalo kalian suka terhadap seseorang itu, katakan iya. Kalo kalian nggak suka terhadap seseorang itu, cukup minta maaf dan katakan tidak.
Tapi kalo nggak menjauh, ntar dibilang PHP (Pemberi Harapan Palsu), gimana dong?
Pertanyaan itu sering saya denger dari teman-teman saya. Menurut saya, selama kalian hanya memiliki niat untuk berteman dengan orang suka dengan kalian, kalian nggak salah. Yang salah adalah orang yang terlalu berharap kepada kalian, yang mengartikan hubungan kalian secara lain. Mereka yang mengartikan hubungan itu lebih dari sekedar pertemanan akan kecewa dan men-judge kalian dengan istilah PHP. Jadi, biarkan aja kalian dicap PHP, karena niat kalian hanya ingin melanjutkan pertemanan. Cuma jawaban sesimpel itu yang bisa saya berikan. Justru kalo kalian menjauhi orang yang memiliki rasa pada kalian, kalian yang akan dosa. Kenapa? Pertama, merenggangkan hubungan pertemanan. Kedua, memperburuk hubungan silaturahmi. Ketiga, akan terjadi banyak kesalahpahaman. Jadi kesimpulannya, jangan jauhi orang yang suka pada kalian, tetaplah berhubungan seperti layaknya teman biasa. Lama-lama, orang yang suka pada kalian akan mengerti suatu saat nanti. Menyukai seseorang juga susah, karena kita nggak akan tahu kapan, dimana, dan kenapa kita menyukai seseorang itu. Jangan jadikan perasaan suka itu sebagai penyebab memburuknya sebuah hubungan pertemanan.
Walaupun saya nggak begitu serius dan malah nggak suka dengan sikap Jane yang seperti itu, saya bisa maklum karena dia emang udah punya pacar bahkan sebelum saya digosipi ada hubungan sama dia. Saya menjauh dari Jane bukan karena benci, tapi karena saya nggak mau ribet. Dia bukan PHP, tapi saya yang salah karena terlalu dekat. Yah, begitulah analoginya dari penjelasan di atas barusan.
Saya menjauh dari Jane juga karena satu alasan lagi, yang pastinya kalian juga ngerti dan bahkan istilahnya pun nggak asing di telinga kalian.
Karena saya takut karma.
Begini...
Seperti yang kalian tahu, Jane udah punya cowok. Lalu, saya tiba-tiba muncul dan dekat sama Jane. Dengan segala cara, saya berusaha merebut perhatian Jane agar dia bisa putus dengan cowoknya tersebut dan akhirnya jadian dengan saya.
Menurut kalian, image apa yang cocok untuk saya berdasarkan cerita di atas?
Yap, cowok perebut pacar orang.
Beberapa bulan yang lalu, saya pernah cerita disini mengenai putusnya saya dengan Vanny karena disebabkan oleh adanya orang ketiga. Padahal awalnya, saya percaya bahwa lamanya hubungan yang udah saya dan Vanny jalani akan membuat dia bertahan ke saya sampai ke tahap serius. Jadi, apapun yang dia lakukan, mau berteman dengan siapapun entah cewek atau cowok, atau kegiatan apapun yang dia jalani, nggak akan berpengaruh banyak terhadap hubungan yang udah kita lalui, dan saya percaya itu. Dan kalian tahu kenyataannya nggak demikian. Di saat kita marahan, saya berikan dia waktu untuk melakukan apapun yang dia mau entah bersama teman-teman, keluarga, atau kegiatannya, dia malah menjalin hubungan dengan orang lain dan itu ternyata udah terjadi sebelum saya dan dia marahan.
Coba kita bayangkan kisah di atas dengan tokoh yang berbeda: Saya sebagai orang ketiga, Jane sebagai Vanny, dan cowoknya Jane sebagai saya. Sama kan?
Walaupun nggak begitu sama dengan kisah cinta saya yang kandas, tapi inti skenario dari kisah di atas sama: Adanya orang ketiga yang merusak hubungan. Saya nggak mau dicap sebagai cowok perebut pacar orang. Saya takut karma. Saya juga nggak mau disamakan dengan cowok yang udah merebut Vanny dari saya. Saya nggak mau suatu saat nanti cewek saya akan direbut oleh cowok lain dua kali (bukan berarti juga dulu saya punya Vanny karena merebutnya dari cowok lain, bukaaan). Jadi sebisa mungkin, saya berusaha menjauh dari Jane, berusaha nggak mengganggu hubungannya, dan terus bersikap layaknya teman biasa.
Nah, karena saya menjauh dari Jane, nggak mungkin juga saya terus menunggunya sampai putus dengan cowoknya. Hidup ini lebih keras dari cerita Disney maupun Marvel. Jika kalian nggak mau kecewa, kalian harus berusaha serealistis mungkin dalam menghadapi hidup. Saya pernah berpikir, hidup ini cuma sekali, dan sampai kapan saya mau menunggu seseorang yang bahkan nggak ada waktu untuk menoleh ke arah saya sama sekali? Jadi, saya juga memutuskan untuk melanjutkan pencarian dan sampai saya menemukan orang yang tepat untuk saya, saya nggak akan berani pacaran dan menjalin hubungan serius dengan cewek-cewek di sekitar saya. Saya jamin.
Yah... saya nggak berani menjamin juga sih sebenernya. Walaupun saya ngebet banget pengen cari pasangan baru yang lebih dari sebelumnya, terkadang saya lebih merasa nyaman sendirian. Kenapa? Karena saat jomblo begini, saya bisa bebas melakukan apapun yang saya mau, saya bisa bebas berteman dengan siapapun yang saya mau, dan saya bisa bebas punya kegiatan apapun yang saya mau tanpa harus lapor ini-itu ke seseorang dan tanpa dikenai aturan ini-itu dari seseorang. Saya akui sih, dulu saya sempat merasa terkekang saat masih menjalani hubungan dengan Vanny karena ketatnya aturan yang dia berikan dan sifat cemburuannya yang berlebih. Walaupun lama-lama saya terbiasa dan masih sayang dia juga. Maka dari itu, saya merindukan kebebasan seperti ini. Jadi, sampai saat ini saya masih bingung sebenarnya saya pengen cari cewek lagi atau terus sendiri begini sampai saya bosan. Menurut kalian, apa yang harus saya lakukan? Sembari menunggu kepastian mengenai dua hal tersebut, saya akan fokus di kegiatan yang udah saya jalani selama ini.
Segini aja cerita yang pengen saya share, maaf kalo ada kata-kata yang menyinggung pihak yang udah saya sangkutkan disini, dan terima kasih udah berkenan mampir dan membaca tulisan nggak guna ini.
See you to the next post!
