Sabtu, 28 Maret 2015

Kuliah Kerja Lapangan - Part 4

Hei, akhirnya blogging lagi setelah sekian lama saya berkutat dengan banyaknya tugas kuliah dan kegiatan-kegiatan kampus yang menguras waktu dan tenaga. Yeah, baru sekarang saya bisa posting cerita mengenai KKL part 4 yang meliputi kegiatan saya dan temen-temen di Jawa Timur Park (atau bisa disingkat Jatim Park) dan di Museum Angkut. Buat dua junior saya yang request agar saya segera posting di blog ini lagi, berbahagialah, karena saya udah mengabulkan keinginan kalian, heuheuheu!


Cerita diawali dari terjaganya saya di pagi hari, kira-kira pukul 06.00. Saat itu saya berpikir sedang ada di rumah karena saking nyamannya ranjang yang sedang saya tiduri, mungkin efek karena saya susah banget dapet posisi yang enak saat tidur di dalam bus. Namun perlahan tapi pasti, saya mulai menyadari bahwa kamar mewah yang saya tempati sekarang pasti bukanlah kamar saya yang mirip kandang kucing. Saya ingat sekarang saya lagi berada di hotel.


Saya lihat si Angger sedang nonton TV dengan asyiknya, sampai lupa ngucapin "Selamat pagi!" ke saya (atau sayanya aja yang terlalu berharap). Masih dalam keadaan agak linglung, saya beranjak dari kasur dan menggeliat nyaman untuk mengusir rasa kantuk sembari menguap lebar-lebar. Saya yang udah berhasil mengumpulkan nyawa kembali ke dalam tubuh, bertanya pada Angger mengenai agenda KKL hari ini. Dia menjawab sebentar lagi waktunya sarapan dan menyuruh saya bergegas mandi dan bersiap-siap karena kita akan bertolak menuju Jatim Park pukul 07.00 tepat.


Saya nggak bisa menikmati aktivitas mandi sepenuhnya karena mengejar waktu. Setelahnya saya menuju hall dan disana udah ada beberapa temen yang lagi sarapan. Saya sarapan semeja dengan Adit, Angger, Bayu, Afhiyan, Hanif, Wahyu, Joko, dan Dona. Suasananya eksklusif banget saat itu. Kita sarapan sembari menikmati pemandangan gunung Arjuna, karena meja kita deket dengan jendela yang mengarah ke gunung, dan jendelanya lumayan besar.



Gunung Arjuna.


Selesai sarapan, saya berjalan-jalan sebentar ke atap hotel bersama yang lainnya dan main ke kamar Adit sembari menunggu makanan turun ke perut supaya lebih lega. Di kamar Adit, saya malah kembali merasakan kantuk karena saya ketemu dengan kasur lagi. Tapi, karena beberapa temen yang lain dateng juga, saya nggak jadi ngantuk. Malah, kita ber-groufie lagi untuk mengenang bahwa kamar hotel yang nyaman ini pernah kita tempati.




Jepretan pertama, belum siap.




Jepretan kedua, malah fokus ke TV.


Setelah itu saya packing, dan mempersiapkan diri untuk turun dan menuju ke bus. Karena masih ngantuk, saya sempet salah melewati anak tangga dan saya hampir jatuh. Yang paling saya syukuri adalah nggak adanya temen-temen saya yang melihat momen memalukan tersebut. Sampai di luar, udara mulai menghangat karena saya kena cahaya matahari.


Masih lumayan ngantuk, akhirnya sampai di samping bus saya duduk di pinggiran jalan sambil mengusap-usap mata saya yang masih bandel. Saya masukin koper ke bagasi bus, dan ngobrol dengan Tafdi dan Wahyu untuk mengusir rasa kantuk.


Tapi usaha saya sia-sia karena disaat mereka ngobrol, saya malah nggak nyambung sendiri.


Beberapa saat kemudian, datanglah Bangkit bersama dengan Jane. Mata saya mendadak seger ketika melihat si Jane pake baju berwarna biru-kehijauan lagi jalan dan berselfie bareng Bangkit. Nggak mau kehilangan kesempatan, saya ambil ponsel saya dan diem-diem mengambil foto mereka berdua sedang selfie di samping bus.





Yeah...


Kantuk saya hilanglah sudah...


Saya masukin kembali ponsel ke kantong dan mendapati si Tafdi dan si Wahyu sedang bersiap groufie dengan temen-temen yang lain. Saya bergegas nimbrung dan akhirnya join groufie dengan mereka. Entah kenapa, saya cuma berpikir bahwa kegiatan KKL ini merupakan kesempatan emas untuk menambah stok Display Picture BlackBerry Messenger.



Dari kiri ke kanan: Wida, Wijay, Tafdi, saya, Fuah, Nikmah, Henni, Wahyu, dan Mayang.




Groufie lagi




Si Wahyu ilang digantiin Bayu.




Bayu gantian ilang.




Saya dalam keadaan candid.


Setelah ber-groufie ria, akhirnya kita bergegas berangkat menuju Jatim Park. Jaraknya nggak terlalu jauh dengan Hotel Batu Wonderland, karena waktu itu saya taksir kira-kira butuh waktu 15 menitan buat sampai ke Jatim Park.


Sampai di Jatim Park, saya jadi bersemangat saat ngelihat sebuah poster singa berukuran gede terpampang di dinding sisi kanan jalan. Saya berpikiran bahwa ada singa di dalam Jatim Park, dan memutuskan untuk mencari sang singa saat masuk ke dalam nanti. Sesampainya di pintu masuk, saya diberhentikan oleh temen-temen untuk (lagi-lagi) groufie bersama dengan dua dosen yang saat itu juga udah berpenampilan kece abis.




Cuma sedeket itulah saya bisa deket dengan Jane, hahaha.




Belum full-team.




Full-team juga akhirnya.


Saat itu saya merasa nggak ada batas antara mahasiswa/mahasiswi dengan para dosen, jadi kita bisa membaur dengan leluasa untuk having fun bersama.


Kita mulai masuk satu per satu. Tiket masuk ke Jatim Park ini sedikit unik, bentuknya menyerupai gelang dan terbuat dari kertas, tapi nggak basah kalo kena air. Saya bertanya-tanya material apakah yang digunakan untuk membuat tiket masuk semacam ini, dan yang terlintas di pikiran saya adalah kertas minyak yang biasa digunakan untuk membungkus makanan ala-ala warteg. Namun saya tepis pikiran tadi dan menyadari bahwa tempat se-elite ini mana mungkin menggunakan kertas minyak pembungkus untuk membuat tiket masuk.


Err... maaf, saya jadi out of topic.


Sesampainya di dalam, kita memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat beraneka ragam patung. Patung-patung tersebut seperti menceritakan kegiatan selamatan beserta replika tumpeng dan sesajenan di tengah patung-patung yang membentuk lingkaran. Saya dan Adit mencoba untuk berulah disini, dan dengan gaya selenge'an yang nggak tahu hormat, saya berfoto seperti ini.




Pak, doakan jodoh saya masih perawan ya...




Ini kita seolah lagi manja sama si Bapak biar dikasih uang saku.




Karena nggak dikasih uang saku, akhirnya kita tantang dan marahin si Bapak.



Setelahnya, beberapa temen terpencar. Ada yang masih sibuk foto-foto, ada yang sibuk lihatin patung dan barang-barang antik, dan ada juga yang bengong karena nggak tahu gimana caranya mengoperasikan sebuah handycam. Saat itu saya bersama Nasila, Adit, Angger, Wahyu, dan Bayu. Kita muter-muter menelusuri wilayah Jatim Park yang luas. Wilayah bagian depan sih isinya semacam bangunan, patung, dan suasana daerah-daerah yang ada di Indonesia. Contohnya seperti di Bali, Kupang, Jawa, dan lain sebagainya. Di wilayah bagian dua terdapat alat-alat peraga ilmu pengetahuan yang banyak jenisnya. Mulai dari alat peraga cermin sampai yang berhubungan dengan listrik juga ada. Saya paling terkesan di wilayah dua ini, karena ada alat-alat peraga aneh yang ternyata punya banyak relevansi dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, seperti fisika dan kimia. Detailnya nggak usah saya ceritain panjang lebar, karena ada beberapa foto yang akan menjelaskan semuanya.




Saya di antara patung-patung khas Bali.




Saya nggak tahu ini budaya khas mana, tapi saya suka patung singanya.




Ini sofa atau kursi biasanya dipake saat upacara nikahan adat Jawa.




Saat kalian masuk ke sini, seolah kalian punya banyak klon di cermin.




Yang lain nimbrung juga akhirnya.



Setelah puas berkeliling di wilayah satu dan wilayah dua Jatim Park, inilah saat yang saya tunggu-tunggu: Masuk ke wilayah tiga Jatim Park! Tentu aja kalian semua udah ngerti bahwa wilayah tiga merupakan tempat dimana banyak wahana permainan tersedia. Contohnya banyak, ada Sky TrainPendulumJet CoasterPirate ShipTiger Coaster, dan lain-lain. Saya dan kawan-kawan udah girang pengen nyobain wahana yang paling ekstrim yang ada disana. Sebelumnya, sewaktu di hotel, saya dan temen-temen udah sepakat untuk mencoba banyak wahana ekstrim yang ada di Jatim Park.


Awalnya kita bingung mau mencoba wahana yang mana. Setelah jalan kesana-kemari kayak orang kesasar, tiba-tiba saya lihat si Wijay dan si Wida udah berada di atas. Maksud saya bukannya mereka terbang melayang gegara ketiup angin, tapi mereka udah naik wahana Sky Train, semacam wahana kereta mini yang relnya berada tinggi beberapa meter di atas permukaan tanah. Saya, Nasila, Adit, Angger, dan Wahyu langsung bergegas menuju tempat start dari Sky Train tadi.


Tempat start berada di atas, dan kita harus melewati tiga tangga zig-zag untuk sampai ke pos start-nya. Ada dua petugas yang  melayani disana. Kita ngantre karena harus nunggu kereta sampai ke pos finish dan baru kita bisa menempati kereta yang kosong. Saya ngantri dan naik bareng Nasila. Setelah dapet kereta kosong, saya mempersilakan Nasila naik duluan dan sebagai cowok yang gentle, saya ambil tempat di belakang kemudi, yang terdiri dari setir dan pedal untuk mengayuh kereta.


Awalnya sih saya biasa aja karena di pemandangan di sebelah kiri saya masih pos start, pemandangan di sebelah kanan ketutupan si Nasila, dan belum ketahuan seberapa tinggi kereta yang saya naiki bersama Nasila ini. Setelah kereta mulai jalan, saya juga mulai deg-degan dan mengayuh pedal dengan grogi. Pos start udah terlewati dan kanan-kiri saya nggak ada apapun selain pemandangan dari ketinggian dan jika kalian melihat ke bawah... orang-orang bakal terlihat seperti kecoak berjalan: Kecil, dan terlihat rapuh, menggambarkan betapa tingginya kereta ini berjalan di atas rel yang sempit dan terlihat nggak kokoh. Rel masih lurus, dan saya panik karena takut jatuh jika saya nggak fokus nyetir, apalagi jika rel mulai berbelok.


Saat saya ngelihat ke bawah lagi, saya bergidik ngeri jika seandainya saya dan Nasila bakalan jatuh. Saya berpikir

"Saya harus gentle, saya bawa cewek disini. Kalo saya gagal, mau ditaruh mana muka saya nanti... Eh itu pun kalo saya masih hidup."

Saya mulai berkeringat dingin, dan ngelihat rel mulai berbelok. Saya merasa ada beberapa hal yang aneh dengan kereta yang saya naikin ini: Pertama, saya ngayuh pedal pelan, tapi kenapa kereta berjalan makin cepat? Kedua, kenapa si Nasila nggak terlihat jiper sedikitpun?!

Saat rel mulai berbelok, sekuat tenaga saya banting setir ke kanan dan pedal mulai saya lepas. Anehnya, kereta malah makin cepet. Saya kaget dan terpekik "Hah?!" Tapi, ketika saya ngelihat ke arah Nasila, dia malah sibuk selfie sendiri. Saya mikir "Ini bocah nggak ada rasa takut atau gimana sih..."

Nasila yang menyadari saya lagi parno bak murid nakal yang menunggu giliran dipanggil guru BK, akhirnya memberi tahu saya bahwa kereta yang kita naikin ini sebenernya udah otomatis jalan. Setir dan pedal yang ada di kereta cuma aksesoris aja, alias mau kalian kayuh sekenceng mungkin atau mau kalian banting setir sekuat mungkin, nggak bakal ngaruh sama keretanya. Saya diam-diam mengakui kebodohan dan ke-ndeso-an saya ini, sementara Nasila ketawa girang melihat kegondokan saya. Untuk menghibur saya, dia ngajak saya selfie di atas ketinggian yang sebenernya bikin saya nggak nyaman.




Saya parno lho ini sebenernya...



Nasila lalu bercerita, pacarnya yang bernama mas Bagas ternyata takut ketinggian. Entah gimana kisahnya sehingga Nasila tahu mas Bagas takut ketinggian ini, saya nggak begitu ingat karena saat itu saya fokus melihat pemandangan di bawah saya. Saya melihat ada beberapa wahana yang menarik di bawah, dan memutuskan untuk menaiki wahana yang udah temen-temen sepakati bersama setelah kita selesai naik Sky Train ini: Wahana Pendulum.


Setelah saya dan Nasila turun dari Sky Train, kita nunggu Adit, Angger, dan temen-temen yang lain sampai ke pos finish. Segera, setelah semuanya berkumpul, kita bergegas menuju wahana Pendulum untuk menguji seberapa gila dan seberapa kuatnya adrenalin kita. Juga saat itu mungkin kita juga pengen pamer seberapa beraninya kita naik wahana ekstrim ini di hadapan temen-temen yang lainnya.


Akhirnya kita sampai di wahana Pendulum yang ternyata baru aja dibuka. Alhasil, saya, Adit, Nasila, Angger, dan temen-temen yang ikutan naik wahana ini bisa langsung masuk ke wahana tanpa antre terlebih dahulu. Saat itu yang saya pikirkan hanyalah segera duduk di seat Pendulum dan kita bisa ketawa sama-sama. Tapi kenyataan berbeda dengan apa yang saya pikirkan.


Saat saya udah duduk di seat dan petugas mulai mengunci sabuk pengaman, saya jadi super tegang. Rasanya saya pengen keluar dari Pendulum dan nggak jadi naik wahana ekstrim ini. Tapi harga diri dipertaruhkan saat itu. Bayangin aja, awalnya kalian semangat banget pengen naik Pendulum, gimana harga diri kalian jika tiba-tiba kalian pengen keluar dan nggak jadi naik? Tengsin abis. Maka dari itu, saya memilih bertahan, dan berpikiran positif bahwa wahana ini memang bener-bener super asyik.


Wahana mulai jalan, saya diputer-puter bak mixer lagi ngaduk adonan kue. Awalnya putarannya lambat, namun makin lama makin kencang. Saya berteriak keras waktu itu, bukan karena takut, tapi karena girang. Saya juga bisa denger suara teriakan si Adit, Nasila, Angger, dan si Intan yang duduk di sebelah kiri saya. Saya bahagia saat itu, dan belum menyadari betapa ngerinya wahana yang saya naiki.






"Woooohooooo! Gilaaaaa! Seruuuuu! Woeeeeyyy! Kampret enak abis cuy kayak lagi ajeb-ajeb!"


Begitulah teriakan kegirangan saya saat itu.

  
Makin lama, Pendulum makin naik ke atas, tepat di pertengahan. Jadi saya saat itu seperti dipontang-panting dan diputer-puter bak pendulum jam dinding (iyalah namanya juga Pendulum) yang ujungnya sampai tengah-tengah (saya susah banget jelasin bagian ini, seriusan). Saya makin girang, dan kata-kata yang nggak seharusnya saya katakan mulai keluar dari mulut saya. Adit ikut-ikutan. Dan selama periode pontang-panting level pertengahan itu pula, saya masih belum menyadari betapa ngerinya wahana yang saya naiki ini.





Muka saya jelek amat kalo lagi teriak.




Apalagi si Adit.




Si Nasila mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuka mulut lebar-lebar.



"Huahahaha! Muahahaha! Sialan! Kampret! Muahahaha! Woahahahaha!" kira-kira begitu teriakan saya.


Pendulum naik lagi dan saya bener-bener dibolak-balik secara vertikal. Jadi, wahana berputar 360˚ dan bisa kalian bayangkan, saya duduk secara terbalik dengan kepala berada di bawah dan kaki berada di atas, di ketinggian beberapa meter dan Pendulum sempat berhenti secara vertikal. Saya mulai ngeri saat itu, dan yang bisa saya lihat hanyalah langit biru yang bertaburan awan-awan yang indah selama beberapa detik. Sayabtakut itu adalah hal terakhir yang bisa saya lihat. Lalu, Pendulum mulai mengayun ke bawah dan saya kaget setengah mati. Berasa nyawa masih ketinggalan di atas, serius. Jadi, selama Pendulum berputar ekstrim sampai 360˚, bukan teriakan kegirangan ataupun kata-kata kotor lagi yang keluar dari mulut saya.






"Ya Allah! Astagfirullah! Subhanallah! Ya Allah, ampuni! Ya Allah!"



Yeah... Saya sempat bertobat saat itu.


Selama beberapa menit Pendulum memutar dan memontang-manting saya, akhirnya mulai melambat dan turun perlahan dari ketinggian. Saya masih komat-kamit mengucap doa saat itu. Dan yah... akhirnya Pendulum berhenti, dan akhirnya... saya selamat.




Saya lagi komat-kamit baca doa.




Akhirnya berhenti gerak juga.


Saya girang bukan kepalang setelah turun dari wahana neraka ini, dan melampiaskan kegirangan saya dengan ketawa bareng temen-temen yang lain. Kita ceritain ke temen-temen semua gimana rasanya menaiki wahana super macem Pendulum tadi. Ada yang ngeri, ada yang takut, ada yang pengen nyoba, dan ada yang bersedih lantaran tinggi badan mereka masih kurang dan nggak diperbolehkan untuk menaiki wahana-wahana tertentu, termasuk Pendulum. Temen saya yang namanya Dina bahkan kabarnya sampai nangis karena nggak kuat menahan ngeri saat naik Pendulum barusan.



Begini suasana setelah kita naik Pendulum.


Setelahnya, saya bareng temen-temen yang tadi ikutan naik Pendulum, mencoba untuk masuk ke Rumah Hantu. Disana nggak begitu serem sih, karena hantu yang ditampilkan semuanya hanyalah robot, bukan orang yang memakai kostum hantu atau semacamnya. Dengan diiringi suara-suara yang dibuat dramatis dan menakutkan, saya justru malah parno karena nggak bisa lihat jalan saking gelapnya. Di deket pintu keluar, saya sengaja teriak-teriak histeris agar temen-temen yang akan mencoba masuk ke Rumah Hantu merasa ngeri duluan. Sayangnya saya nggak sempat foto disini.


Saya berjalan lagi mengikuti temen-temen yang rencananya akan bermain Bom-Bom Car. Nah di saat lagi jalan itu saya merasakan ada hal yang aneh yang terjadi di dalam diri saya. Kepala saya pusing, perut berasa mual, dan saya jalan agak terhuyung-huyung. Saya membatin, apakah yang saya rasakan ini adalah efek dari kentut si Angger semalem? Namun setelah saya tanya temen-temen yang lain yang merasakan gejala yang sama dengan saya, ternyata yang saya rasakan adalah efek dari menaiki wahana Pendulum tadi.


Saya absen saat temen-temen yang lain seperti si Adit, Angger, Nasila, dkk. masuk ke arena Bom-Bom Car. Alhasil, saya duduk di luar sembari mencari udara segar agar rasa mual saya hilang. Setelah saya merasa agak baikan, saya memutuskan membeli es krim di stand terdekat agar mood dan keadaan saya berangsur pulih seperti sediakala. Nggak lupa, saya juga beliin si Jane es krim yang sama saat itu, dan untungnya dia mau menerima hehehe. Saya lihat temen-temen yang lain udah keluar dari arena Bom-Bom Car dan saya tanya mereka gimana rasanya. Mereka mengeluh karena durasinya yang terlalu sebentar.



Saya makan es krim sambil ngelihat wahana Tornado sih sebenernya.


Selanjutnya saya bersama temen-temen yang lain pergi ke Bioskop 4D yang letaknya cukup jauh dari arena Bom-Bom Car. Tapi setelah sampai di sana, ternyata bioskop belum dibuka, dan kita memutuskan untuk naik wahana... saya lupa namanya, semacam wahana yang kita naiki, lalu kita diputar-putar seperti kipas angin di ketinggian beberapa meter. Ah sudahlah. Tapi saya kembali absen dikarenakan kondisi badan saya masih belum stabil dan rasa mual saya yang belum begitu ilang. Alhasil saya cuma duduk dengan temen-temen lain yang kecapekan karena harus jalan kesana-kemari tanpa henti.



Lihatlah, saya masih tertunduk lemassshhh...


Setelah Bioskop 4D dibuka, saya udah merasa agak baikan dan langsung mengantre agar dapet giliran nonton pertama. Saat itu, sambil mengantre, kita juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama.




Kampret bener si Angger, nutupin wajah saya.




Nah kelihatan juga.


Di dalem bioskop, saya lihat yah nggak beda-beda jauh dengan bioskop pada umumnya. Tapi seat yang berjarak agak longgar dan ada pipa-pipa di depan seat mungkin menjadi pembeda. Sebelum masuk sih kita diberi kacamata agar nonton jadi semakin seru karena dengan memakai kacamata tadi efek film akan terasa nyata.


Film bercerita mengenai kehidupan kelompok gula-gula yang terdiri dari cake, permen, kue jahe, kue manusia salju, dan lain-lain menghindari kejaran si kucing yang ingin memakannya. Sederhana sih ceritanya, tapi efek kejar-kejaran dengan si kucing merupakan bagian terseru dalam film ini. Kita seolah bisa merasakan gimana rasanya si cake lompat dari ketinggian sehingga angin menerpa kita dengan kencang, atau gimana rasanya saat si kue jahe kena cipratan air, atau gimana kelihatannya saat si kucing tersetrum kabel listrik. Seru abis. Durasi film kira-kira 30 menit, dan yah nggak buruk-buruk amat dengan film 4D yang pernah saya coba tonton di Ancol.



Setelahnya... apa ya? Oh iya kita sempet masuk juga ke Rumah Misteri dan Rumah Pipa, tapi sayangnya saat itu saya nggak memotret bagaimana keadaannya jadi nggak bisa saya tampilkan foto mengenai Rumah Misteri dan Rumah Pipa. Jadi, Rumah Misteri itu di dalamnya terdapat lukisan-lukisan dari neon dan bercahaya di dalam gelap. Artistik sih, cuma saya agak bingung kenapa disebut Rumah Misteri. Kalo di Rumah Pipa di dalamnya seperti labirin yang terdiri dari banyak cermin. Sekali kalian salah langkah, kalian akan selalu nabrak cermin di depan kalian. Saya sampai berkali-kali nabrak, sampai temen saya yang namanya Henni yang berada di belakang saya saat itu ikutan nabrak. Kesel dia akhirnya, hahaha. Setelah itu, karena durasi udah habis untuk bermain di Jatim Park, kita akhirnya pulang.



Sepulang dari Jatim Park, kita mampir sebentar ke Pusat Oleh-oleh Brawijaya. Saya cuma beli beberapa oleh-oleh macem Jenang Apel, Keripik Apel, Kue Cookies Apel (iya seriusan serba apel), dan lain sebagainya untuk saya berikan ke keluarga dan untuk Vanny, yang sebelum putus udah saya janjikan untuk ngasih dia oleh-oleh setelah pulang dari KKL. Janji harus ditepati dong, iya kan? Dan juga saya membeli topi khas pelukis, karena bagus sih kalo dipake, tapi temen-temen saya bilang topi yang saya beli itu topi khas copet, bener-bener kampret. Bukan apa-apa sih, saya membeli topi karena merasa saat di Museum Angkut nanti saya akan dalam keadaan bad-haired.




Ini dia Tafdi sang shopaholic, di belakangnya itu baru saya dan Aufa dalam keadaan candid.


Nah sekian cerita mengenai KKL part 4. Lho, cerita mengenai Museum Angkut-nya mana? Tenang aja, mengenai Museum Angkut akan saya ceritakan secara khusus karena saya tertarik untuk membahas bagaimana sejarah dari Museum Angkut dan apa-apa aja yang ada di sana. Tentu aja masih berkaitan dengan kegiatan KKL final saya ya. Ditunggu aja.


Yap akhir kata, terima kasih udah membaca. Sampai ketemu di post selanjutnya.