Hei, akhirnya blogging lagi setelah sekian lama saya
berkutat dengan banyaknya tugas kuliah dan kegiatan-kegiatan kampus yang
menguras waktu dan tenaga. Yeah, baru sekarang saya bisa posting cerita
mengenai KKL part 4 yang meliputi kegiatan saya dan temen-temen di Jawa Timur Park (atau bisa
disingkat Jatim Park) dan
di Museum Angkut. Buat dua
junior saya yang request agar saya segera posting di
blog ini lagi, berbahagialah, karena saya udah mengabulkan
keinginan kalian, heuheuheu!
Cerita diawali dari
terjaganya saya di pagi hari, kira-kira pukul 06.00. Saat itu saya berpikir
sedang ada di rumah karena saking nyamannya ranjang yang sedang saya tiduri,
mungkin efek karena saya susah banget dapet posisi yang enak saat tidur di
dalam bus. Namun perlahan tapi pasti, saya mulai menyadari bahwa kamar mewah
yang saya tempati sekarang pasti bukanlah kamar saya yang mirip kandang kucing.
Saya ingat sekarang saya lagi berada di hotel.
Saya lihat si Angger sedang nonton TV dengan
asyiknya, sampai lupa ngucapin "Selamat pagi!" ke saya
(atau sayanya aja yang terlalu berharap). Masih dalam keadaan agak linglung, saya beranjak
dari kasur dan menggeliat nyaman untuk mengusir rasa kantuk sembari menguap
lebar-lebar. Saya yang udah berhasil mengumpulkan nyawa kembali ke dalam tubuh,
bertanya pada Angger mengenai agenda KKL hari ini. Dia menjawab sebentar lagi
waktunya sarapan dan menyuruh saya bergegas mandi dan bersiap-siap karena kita
akan bertolak menuju Jatim Park pukul 07.00 tepat.
Gunung Arjuna.
Jepretan pertama, belum siap.
Jepretan kedua, malah fokus ke TV.
Setelah itu saya packing, dan mempersiapkan diri untuk
turun dan menuju ke bus. Karena masih ngantuk, saya sempet salah melewati anak
tangga dan saya hampir jatuh. Yang paling saya syukuri adalah nggak adanya
temen-temen saya yang melihat momen memalukan tersebut. Sampai di luar, udara
mulai menghangat karena saya kena cahaya matahari.
Masih lumayan ngantuk, akhirnya
sampai di samping bus saya duduk di pinggiran jalan sambil mengusap-usap mata saya
yang masih bandel. Saya masukin koper ke bagasi bus, dan ngobrol dengan Tafdi
dan Wahyu untuk mengusir rasa kantuk.
Tapi usaha saya sia-sia karena
disaat mereka ngobrol, saya malah nggak nyambung sendiri.
Beberapa saat kemudian,
datanglah Bangkit bersama dengan Jane. Mata saya
mendadak seger ketika melihat si Jane pake baju berwarna biru-kehijauan lagi
jalan dan berselfie bareng Bangkit. Nggak mau kehilangan
kesempatan, saya ambil ponsel saya dan diem-diem mengambil foto mereka berdua
sedang selfie di samping bus.
Yeah...
Kantuk saya hilanglah sudah...
Saya masukin kembali ponsel ke kantong dan mendapati si Tafdi dan si Wahyu sedang bersiap groufie dengan temen-temen yang lain. Saya bergegas nimbrung dan akhirnya join groufie dengan mereka. Entah kenapa, saya cuma berpikir bahwa kegiatan KKL ini merupakan kesempatan emas untuk menambah stok Display Picture BlackBerry Messenger.
Dari kiri ke kanan: Wida, Wijay, Tafdi, saya, Fuah, Nikmah, Henni, Wahyu, dan Mayang.
Groufie lagi
Si Wahyu ilang digantiin Bayu.
Bayu gantian ilang.
Saya dalam keadaan candid.
Setelah ber-groufie ria, akhirnya kita bergegas berangkat menuju Jatim Park. Jaraknya nggak terlalu jauh dengan Hotel Batu Wonderland, karena waktu itu saya taksir kira-kira butuh waktu 15 menitan buat sampai ke Jatim Park.
Sampai di Jatim Park, saya jadi bersemangat saat ngelihat sebuah poster singa berukuran gede terpampang di dinding sisi kanan jalan. Saya berpikiran bahwa ada singa di dalam Jatim Park, dan memutuskan untuk mencari sang singa saat masuk ke dalam nanti. Sesampainya di pintu masuk, saya diberhentikan oleh temen-temen untuk (lagi-lagi) groufie bersama dengan dua dosen yang saat itu juga udah berpenampilan kece abis.
Cuma sedeket itulah saya bisa deket dengan Jane, hahaha.
Belum full-team.
Full-team juga akhirnya.
Saat itu saya merasa nggak ada batas antara mahasiswa/mahasiswi
dengan para dosen, jadi kita bisa membaur dengan leluasa untuk having
fun bersama.
Kita mulai masuk satu per satu.
Tiket masuk ke Jatim Park ini sedikit unik, bentuknya menyerupai gelang dan
terbuat dari kertas, tapi nggak basah kalo kena air. Saya bertanya-tanya
material apakah yang digunakan untuk membuat tiket masuk semacam ini, dan yang
terlintas di pikiran saya adalah kertas minyak yang biasa digunakan
untuk membungkus makanan ala-ala warteg. Namun saya tepis pikiran tadi dan
menyadari bahwa tempat se-elite ini mana mungkin menggunakan kertas
minyak pembungkus untuk membuat tiket masuk.
Err... maaf, saya jadi out
of topic.
Sesampainya di dalam, kita
memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat beraneka ragam patung.
Patung-patung tersebut seperti menceritakan kegiatan selamatan beserta replika
tumpeng dan sesajenan di tengah patung-patung yang membentuk lingkaran. Saya
dan Adit mencoba untuk berulah disini, dan dengan gaya selenge'an yang
nggak tahu hormat, saya berfoto seperti ini.
Pak, doakan jodoh saya masih perawan ya...
Ini kita seolah lagi manja sama si Bapak biar dikasih uang saku.
Karena nggak dikasih uang saku, akhirnya kita tantang dan marahin si Bapak.
Setelahnya, beberapa temen terpencar. Ada yang masih sibuk foto-foto, ada yang sibuk lihatin patung dan barang-barang antik, dan ada juga yang bengong karena nggak tahu gimana caranya mengoperasikan sebuah handycam. Saat itu saya bersama Nasila, Adit, Angger, Wahyu, dan Bayu. Kita muter-muter menelusuri wilayah Jatim Park yang luas. Wilayah bagian depan sih isinya semacam bangunan, patung, dan suasana daerah-daerah yang ada di Indonesia. Contohnya seperti di Bali, Kupang, Jawa, dan lain sebagainya. Di wilayah bagian dua terdapat alat-alat peraga ilmu pengetahuan yang banyak jenisnya. Mulai dari alat peraga cermin sampai yang berhubungan dengan listrik juga ada. Saya paling terkesan di wilayah dua ini, karena ada alat-alat peraga aneh yang ternyata punya banyak relevansi dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, seperti fisika dan kimia. Detailnya nggak usah saya ceritain panjang lebar, karena ada beberapa foto yang akan menjelaskan semuanya.
Saya di antara patung-patung khas Bali.
Saya nggak tahu ini budaya khas mana, tapi saya suka patung singanya.
Ini sofa atau kursi biasanya dipake saat upacara nikahan adat Jawa.
Saat kalian masuk ke sini, seolah kalian punya banyak klon di cermin.
Yang lain nimbrung juga akhirnya.
Setelah puas berkeliling di wilayah satu dan wilayah dua Jatim
Park, inilah saat yang saya tunggu-tunggu: Masuk ke wilayah tiga Jatim
Park! Tentu aja kalian semua udah ngerti bahwa wilayah tiga merupakan
tempat dimana banyak wahana permainan tersedia. Contohnya banyak, ada Sky
Train, Pendulum, Jet Coaster, Pirate Ship, Tiger
Coaster, dan lain-lain. Saya dan kawan-kawan udah girang pengen nyobain
wahana yang paling ekstrim yang ada disana. Sebelumnya, sewaktu di hotel, saya
dan temen-temen udah sepakat untuk mencoba banyak wahana ekstrim yang ada di
Jatim Park.
Awalnya kita bingung mau
mencoba wahana yang mana. Setelah jalan kesana-kemari kayak orang kesasar,
tiba-tiba saya lihat si Wijay dan si Wida udah
berada di atas. Maksud saya bukannya mereka terbang melayang gegara ketiup angin, tapi mereka udah naik
wahana Sky Train, semacam wahana kereta mini yang relnya berada
tinggi beberapa meter di atas permukaan tanah. Saya, Nasila, Adit, Angger, dan
Wahyu langsung bergegas menuju tempat start dari Sky Train tadi.
Tempat start berada
di atas, dan kita harus melewati tiga tangga zig-zag untuk
sampai ke pos start-nya. Ada dua petugas yang melayani disana. Kita
ngantre karena harus nunggu kereta sampai ke pos finish dan
baru kita bisa menempati kereta yang kosong. Saya ngantri dan naik bareng
Nasila. Setelah dapet kereta kosong, saya mempersilakan Nasila naik duluan dan
sebagai cowok yang gentle, saya ambil tempat di belakang kemudi,
yang terdiri dari setir dan pedal untuk mengayuh kereta.
Awalnya sih saya biasa aja
karena di pemandangan di sebelah kiri saya masih pos start, pemandangan di
sebelah kanan ketutupan si Nasila, dan belum ketahuan seberapa tinggi kereta
yang saya naiki bersama Nasila ini. Setelah kereta mulai jalan, saya juga mulai
deg-degan dan mengayuh pedal dengan grogi. Pos start udah terlewati dan
kanan-kiri saya nggak ada apapun selain pemandangan dari ketinggian dan jika
kalian melihat ke bawah... orang-orang bakal terlihat seperti kecoak
berjalan: Kecil, dan terlihat rapuh, menggambarkan betapa tingginya
kereta ini berjalan di atas rel yang sempit dan terlihat nggak kokoh. Rel masih
lurus, dan saya panik karena takut jatuh jika saya nggak fokus nyetir, apalagi
jika rel mulai berbelok.
Saat saya ngelihat ke bawah
lagi, saya bergidik ngeri jika seandainya saya dan Nasila bakalan jatuh. Saya
berpikir
"Saya harus gentle, saya bawa cewek disini. Kalo saya gagal, mau ditaruh mana muka saya nanti... Eh itu pun kalo saya masih hidup."
Saya mulai berkeringat dingin,
dan ngelihat rel mulai berbelok. Saya merasa ada beberapa hal yang aneh dengan
kereta yang saya naikin ini: Pertama, saya ngayuh pedal pelan, tapi
kenapa kereta berjalan makin cepat? Kedua, kenapa si Nasila
nggak terlihat jiper sedikitpun?!
Saat rel mulai berbelok, sekuat
tenaga saya banting setir ke kanan dan pedal mulai saya lepas. Anehnya, kereta
malah makin cepet. Saya kaget dan terpekik "Hah?!" Tapi,
ketika saya ngelihat ke arah Nasila, dia malah sibuk selfie sendiri. Saya
mikir "Ini bocah nggak ada rasa takut atau gimana sih..."
Nasila yang menyadari saya lagi
parno bak murid nakal yang menunggu giliran dipanggil guru BK, akhirnya memberi
tahu saya bahwa kereta yang kita naikin ini sebenernya udah otomatis jalan.
Setir dan pedal yang ada di kereta cuma aksesoris aja, alias
mau kalian kayuh sekenceng mungkin atau mau kalian banting setir sekuat
mungkin, nggak bakal ngaruh sama keretanya. Saya diam-diam mengakui kebodohan
dan ke-ndeso-an saya ini, sementara Nasila ketawa girang melihat
kegondokan saya. Untuk menghibur saya, dia ngajak saya selfie di
atas ketinggian yang sebenernya bikin saya nggak nyaman.
Saya parno lho ini sebenernya...
Nasila lalu bercerita, pacarnya yang bernama mas Bagas ternyata
takut ketinggian. Entah gimana kisahnya sehingga Nasila tahu mas Bagas takut
ketinggian ini, saya nggak begitu ingat karena saat itu saya fokus melihat
pemandangan di bawah saya. Saya melihat ada beberapa wahana yang menarik di
bawah, dan memutuskan untuk menaiki wahana yang udah temen-temen sepakati
bersama setelah kita selesai naik Sky Train ini: Wahana
Pendulum.
Setelah saya dan Nasila turun
dari Sky Train, kita nunggu Adit, Angger, dan temen-temen yang lain
sampai ke pos finish. Segera, setelah semuanya berkumpul, kita bergegas menuju
wahana Pendulum untuk menguji seberapa gila dan seberapa kuatnya adrenalin kita.
Juga saat itu mungkin kita juga pengen pamer seberapa beraninya kita naik
wahana ekstrim ini di hadapan temen-temen yang lainnya.
Akhirnya kita sampai di wahana Pendulum yang
ternyata baru aja dibuka. Alhasil, saya, Adit, Nasila, Angger, dan temen-temen
yang ikutan naik wahana ini bisa langsung masuk ke wahana tanpa antre terlebih
dahulu. Saat itu yang saya pikirkan hanyalah segera duduk di seat
Pendulum dan kita bisa ketawa sama-sama. Tapi kenyataan berbeda dengan
apa yang saya pikirkan.
Saat saya udah duduk di seat dan
petugas mulai mengunci sabuk pengaman, saya jadi super tegang. Rasanya saya
pengen keluar dari Pendulum dan nggak jadi naik wahana ekstrim
ini. Tapi harga diri dipertaruhkan saat itu. Bayangin aja, awalnya kalian
semangat banget pengen naik Pendulum, gimana harga diri kalian jika
tiba-tiba kalian pengen keluar dan nggak jadi naik? Tengsin abis.
Maka dari itu, saya memilih bertahan, dan berpikiran positif bahwa wahana ini
memang bener-bener super asyik.
Wahana mulai jalan, saya
diputer-puter bak mixer lagi ngaduk adonan kue. Awalnya putarannya
lambat, namun makin lama makin kencang. Saya berteriak keras waktu itu, bukan
karena takut, tapi karena girang. Saya juga bisa denger suara teriakan si Adit,
Nasila, Angger, dan si Intan yang duduk di sebelah kiri saya. Saya
bahagia saat itu, dan belum menyadari betapa ngerinya wahana yang saya naiki.
"Woooohooooo! Gilaaaaa! Seruuuuu! Woeeeeyyy! Kampret enak abis cuy kayak lagi ajeb-ajeb!"
Begitulah teriakan kegirangan saya saat itu.
Makin lama, Pendulum makin
naik ke atas, tepat di pertengahan. Jadi saya saat itu seperti
dipontang-panting dan diputer-puter bak pendulum jam dinding (iyalah namanya
juga Pendulum) yang ujungnya sampai tengah-tengah (saya susah banget jelasin
bagian ini, seriusan). Saya makin girang, dan kata-kata yang nggak seharusnya saya
katakan mulai keluar dari mulut saya. Adit ikut-ikutan. Dan selama periode
pontang-panting level pertengahan itu pula, saya masih belum menyadari betapa
ngerinya wahana yang saya naiki ini.
Muka saya jelek amat kalo lagi teriak.
Apalagi si Adit.
Si Nasila mengerahkan seluruh tenaganya untuk membuka mulut lebar-lebar.
"Huahahaha! Muahahaha! Sialan! Kampret! Muahahaha! Woahahahaha!" kira-kira begitu teriakan saya.
Pendulum naik lagi dan saya bener-bener dibolak-balik secara vertikal. Jadi, wahana berputar 360˚ dan bisa kalian bayangkan, saya duduk secara terbalik dengan kepala berada di bawah dan kaki berada di atas, di ketinggian beberapa meter dan Pendulum sempat berhenti secara vertikal. Saya mulai ngeri saat itu, dan yang bisa saya lihat hanyalah langit biru yang bertaburan awan-awan yang indah selama beberapa detik. Sayabtakut itu adalah hal terakhir yang bisa saya lihat. Lalu, Pendulum mulai mengayun ke bawah dan saya kaget setengah mati. Berasa nyawa masih ketinggalan di atas, serius. Jadi, selama Pendulum berputar ekstrim sampai 360˚, bukan teriakan kegirangan ataupun kata-kata kotor lagi yang keluar dari mulut saya.
"Ya Allah! Astagfirullah! Subhanallah! Ya Allah, ampuni! Ya Allah!"
Yeah... Saya sempat bertobat saat itu.
Selama beberapa menit Pendulum memutar dan memontang-manting saya, akhirnya mulai melambat dan turun perlahan dari ketinggian. Saya masih komat-kamit mengucap doa saat itu. Dan yah... akhirnya Pendulum berhenti, dan akhirnya... saya selamat.
Saya lagi komat-kamit baca doa.
Akhirnya berhenti gerak juga.
Saya girang bukan kepalang setelah turun dari wahana neraka ini, dan melampiaskan kegirangan saya dengan ketawa bareng temen-temen yang lain. Kita ceritain ke temen-temen semua gimana rasanya menaiki wahana super macem Pendulum tadi. Ada yang ngeri, ada yang takut, ada yang pengen nyoba, dan ada yang bersedih lantaran tinggi badan mereka masih kurang dan nggak diperbolehkan untuk menaiki wahana-wahana tertentu, termasuk Pendulum. Temen saya yang namanya Dina bahkan kabarnya sampai nangis karena nggak kuat menahan ngeri saat naik Pendulum barusan.
Begini suasana setelah kita naik Pendulum.
Setelahnya, saya bareng temen-temen yang
tadi ikutan naik Pendulum, mencoba untuk masuk ke Rumah
Hantu. Disana nggak begitu serem sih, karena hantu yang ditampilkan
semuanya hanyalah robot, bukan orang yang memakai kostum hantu atau semacamnya.
Dengan diiringi suara-suara yang dibuat dramatis dan menakutkan, saya justru malah
parno karena nggak bisa lihat jalan saking gelapnya. Di deket pintu keluar, saya
sengaja teriak-teriak histeris agar temen-temen yang akan mencoba masuk
ke Rumah Hantu merasa ngeri duluan. Sayangnya saya nggak
sempat foto disini.
Saya berjalan lagi mengikuti temen-temen
yang rencananya akan bermain Bom-Bom Car. Nah di saat lagi jalan
itu saya merasakan ada hal yang aneh yang terjadi di dalam diri saya. Kepala saya
pusing, perut berasa mual, dan saya jalan agak terhuyung-huyung. Saya
membatin, apakah yang saya rasakan ini adalah efek dari kentut si
Angger semalem? Namun setelah saya tanya temen-temen yang lain yang
merasakan gejala yang sama dengan saya, ternyata yang saya rasakan adalah efek
dari menaiki wahana Pendulum tadi.
Saya absen saat temen-temen yang lain
seperti si Adit, Angger, Nasila, dkk. masuk ke arena Bom-Bom Car.
Alhasil, saya duduk di luar sembari mencari udara segar agar rasa mual saya
hilang. Setelah saya merasa agak baikan, saya memutuskan membeli es krim di stand terdekat
agar mood dan keadaan saya berangsur pulih seperti sediakala. Nggak lupa, saya
juga beliin si Jane es krim yang sama saat itu, dan untungnya dia mau menerima
hehehe. Saya lihat temen-temen yang lain udah keluar dari arena Bom-Bom
Car dan saya tanya mereka gimana rasanya. Mereka mengeluh karena
durasinya yang terlalu sebentar.
Saya makan es krim sambil ngelihat wahana Tornado sih sebenernya.
Selanjutnya saya bersama temen-temen yang lain pergi ke Bioskop 4D yang letaknya cukup jauh dari arena Bom-Bom Car. Tapi setelah sampai di sana, ternyata bioskop belum dibuka, dan kita memutuskan untuk naik wahana... saya lupa namanya, semacam wahana yang kita naiki, lalu kita diputar-putar seperti kipas angin di ketinggian beberapa meter. Ah sudahlah. Tapi saya kembali absen dikarenakan kondisi badan saya masih belum stabil dan rasa mual saya yang belum begitu ilang. Alhasil saya cuma duduk dengan temen-temen lain yang kecapekan karena harus jalan kesana-kemari tanpa henti.
Lihatlah, saya masih tertunduk lemassshhh...
Setelah Bioskop 4D dibuka, saya udah merasa agak baikan dan langsung mengantre agar dapet giliran nonton pertama. Saat itu, sambil mengantre, kita juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama.
Kampret bener si Angger, nutupin wajah saya.
Nah kelihatan juga.
Di dalem bioskop, saya lihat yah nggak beda-beda jauh dengan bioskop pada umumnya. Tapi seat yang berjarak agak longgar dan ada pipa-pipa di depan seat mungkin menjadi pembeda. Sebelum masuk sih kita diberi kacamata agar nonton jadi semakin seru karena dengan memakai kacamata tadi efek film akan terasa nyata.
Film bercerita mengenai kehidupan kelompok gula-gula yang terdiri dari cake, permen, kue jahe, kue manusia salju, dan lain-lain menghindari kejaran si kucing yang ingin memakannya. Sederhana sih ceritanya, tapi efek kejar-kejaran dengan si kucing merupakan bagian terseru dalam film ini. Kita seolah bisa merasakan gimana rasanya si cake lompat dari ketinggian sehingga angin menerpa kita dengan kencang, atau gimana rasanya saat si kue jahe kena cipratan air, atau gimana kelihatannya saat si kucing tersetrum kabel listrik. Seru abis. Durasi film kira-kira 30 menit, dan yah nggak buruk-buruk amat dengan film 4D yang pernah saya coba tonton di Ancol.
Setelahnya... apa ya? Oh iya kita sempet masuk juga ke Rumah
Misteri dan Rumah Pipa, tapi sayangnya saat itu saya nggak
memotret bagaimana keadaannya jadi nggak bisa saya tampilkan foto
mengenai Rumah Misteri dan Rumah Pipa. Jadi, Rumah
Misteri itu di dalamnya terdapat lukisan-lukisan dari neon dan
bercahaya di dalam gelap. Artistik sih, cuma saya agak bingung kenapa
disebut Rumah Misteri. Kalo di Rumah Pipa di
dalamnya seperti labirin yang terdiri dari banyak cermin. Sekali kalian salah
langkah, kalian akan selalu nabrak cermin di depan kalian. Saya sampai
berkali-kali nabrak, sampai temen saya yang namanya Henni yang
berada di belakang saya saat itu ikutan nabrak. Kesel dia akhirnya, hahaha.
Setelah itu, karena durasi udah habis untuk bermain di Jatim Park, kita
akhirnya pulang.
Sepulang dari Jatim Park, kita
mampir sebentar ke Pusat Oleh-oleh Brawijaya. Saya cuma beli
beberapa oleh-oleh macem Jenang Apel, Keripik Apel, Kue
Cookies Apel (iya seriusan serba apel), dan lain sebagainya untuk saya
berikan ke keluarga dan untuk Vanny, yang sebelum putus udah saya janjikan
untuk ngasih dia oleh-oleh setelah pulang dari KKL. Janji harus ditepati dong,
iya kan? Dan juga saya membeli topi khas pelukis, karena bagus sih kalo dipake,
tapi temen-temen saya bilang topi yang saya beli itu topi khas copet,
bener-bener kampret. Bukan apa-apa sih, saya membeli topi karena merasa saat di
Museum Angkut nanti saya akan dalam keadaan bad-haired.
Ini dia Tafdi sang shopaholic, di belakangnya itu baru saya dan Aufa dalam keadaan candid.
Yap akhir kata, terima kasih udah membaca. Sampai ketemu di post selanjutnya.

































