Sabtu, 28 Maret 2015

Jangan Buang Fantasi di Masa Kecil

Pernahkah kalian mempunyai sebuah angan-angan atau fantasi di saat kalian masih kecil? Semisal, kalian punya idola dan suatu hari nanti pengen banget jadi seperti mereka. Pernah nggak kalian merasa begitu?


Post kali ini cuma sekedar hasil pemikiran saya selama berbulan-bulan lamanya.



Begini...




Yeah this is 'me'.



Jauh sebelum saya mengenal Squall Leonhart (Final Fantasy VIII), Sasuke Uchiha (NARUTO), Noctis Lucis Caelum (Final Fantasy XV), maupun Kaito KID (Detective Conan & Magic Kaito 1412), sejak bersekolah di TK saya udah ngefans dengan salah satu superhero Marvel: Spider-Man. Saya mengenal Spider-Man dari video game Marvel Super Heroes yang saya mainin di konsol PlayStation saat itu. Saya tertarik dengan Spider-Man karena jurus yang dia keluarkan lebih unik daripada jurus dari superhero Marvel yang lain. Contohnya, Iron Man bisa mengeluarkan misil dan api, Captain America yang kekar dan kuat, atau Wolverine yang punya cakar tajam di kedua buku tangannya, mungkin di kalangan anak cowok lain mereka terlihat keren dan macho, wuih. Tapi saya sama sekali nggak tertarik. Namun, saat saya melihat Spider-Man yang mampu merayap di dinding, mengeluarkan jaring laba-laba dari pergelangan tangannya, dan jurus-jurusnya yang terkesan 'biasa', saya malah tertarik dan langsung ngefans sama dia. Apalagi desain kostum yang berwarna mencolok merah-biru, saya yang saat itu masih anak-anak langsung tertarik dengan warna yang seperti itu.


Setelah perkenalan dengan Spider-Man tersebut, saya jadi mulai rajin nggambar Spider-Man walaupun masih acak-adut karena bakat nggambar saya belum kelihatan saat duduk di bangku TK. Saya biasa beli gambar Spider-Man di bapak-bapak penjual gambar untuk diwarnai di rumah. Saat saya punya pensil warna pun pensil yang cepet abis pasti warna merah dan warna biru karena sering saya pakai dan saya raut, tentu aja untuk mewarnai sang superhero. Sempat saya pengen beli baju yang ada topeng Spider-Man dengan angan-angan menjadi superhero di dalam rumah sendiri, namun nggak kesampaian karena size baju yang selalu kekecilan. Saya dulu emang gemuk, karena saya anak pertama dan saat itu belum punya adik, makanya saya sangat diperhatikan orangtua sehingga punya badan bongsor nan makmur. Saya juga sering dibelikan baju bergambar Spider-Man dan poster Spider-Man dari kakek, mainan robot Spider-Man sampai penembak jaring ala Spider-Man juga beliau belikan untuk cucu kesayangannya ini.



Poster film Spider-Man


Sampai suatu ketika saya udah SD dan rasa kagum saya terhadap Spider-Man belum pudar, malah bertambah karena seiring saya naik kelas 2 SD, film Spider-Man yang dibintangi Tobey Maguire udah rilis di bioskop. Waktu itu pada tahun 2002, saya ngajak papa dan Rendra untuk nonton Spider-Man di bioskop, dan keinginan saya terpenuhi. Saya sangat bahagia bisa nonton Spider-Man secara live-action, mengingat saya hanya ngerti Spider-Man lewat game dan kartunnya aja. Sesampainya di rumah, saya langsung girang nggambar Spider-Man sampai berlagak seperti Spider-Man dengan membentuk tangan saya ala-ala metal. Puncaknya, saya akhirnya dibeliin tas, kaos, tempat pensil, dompet, sampai arloji yang semuanya bergambar Spider-Man. Saat saya ikut les di salah satu rumah guru saya, saya sampai dikomentarin begini "Dika nih suka banget sama Spider-Man, nanti di kelas Ibu panggil Spider-Man aja gimana?"


Saya cuma bisa tersipu malu mendengarnya.


Sampai suatu ketika Naruto booming di kalangan anak-anak sampai remaja kala itu. Karena adanya Naruto, saya perlahan mulai melupakan Spider-Man dan beralih ngefans dengan Sasuke Uchiha. Saya mulai nggambar Sasuke, tapi karena terbatasnya pernak-pernik mengenai Naruto, saya nggak bisa banyak mengkoleksi sesuatu yang berhubungan dengan Naruto. Saya cuma ada koleksi komik dan ikat kepala khas Konoha saat itu. Lalu, game Final Fantasy VIII favorit saya juga ikut menghalangi saya dari Spider-Man karena tokoh utamanya, Squall Leonhart, juga bikin saya terkesima dengan sifatnya yang cool dan pedangnya yang nggak kalah keren. Di sekolah, saya jadi ikut-ikutan sok cool dan temen-temen saya kadang kesel menghadapi sifat saya yang berubah-ubah. Iya, dulu saya sempat jadi bocah labil juga. Intinya, ingatan mengenai Spider-Man terhalang sudah.



Poster film Spider-Man 3.


Kelas VII SMP, saya kembali dipertemukan dengan Spider-Man. Waktu itu saya nonton Spider-Man 3 sendirian di bioskop, karena saat itu papa sedang sibuk-sibuknya dan si Rendra gampang kena mabok perjalanan apalagi kalo saya ajak dia naik angkot atau bus. Waktu itu saya nonton sendirian di E-Plaza, dan sempat ditanya mbak-mbak penyobek tiket apa saya seriusan nonton sendirian. Saya dengan polosnya mengangguk, dan toh walaupun sendirian saya masih bisa menikmati aksi dari The Wall Crawler menghadapi para musuhnya, yaitu Venom, Sandman, dan Hobgoblin. Tapi saya juga kecewa karena ekspektasi saya terhadap filmnya juga salah, apalagi mengenai kostum Black Symbiote yang dipakai Spider-Man waktu itu.


Setelah nonton Spider-Man 3, saya jadi ngefans lagi dengan Spider-Man tanpa gangguan dari Naruto maupun Squall. Tapi tanpa disangka-sangka, justru temen-temen saya yang menghalangi saya dari si Web-Head. Saat itu sedang booming hal-hal berbau Jejepangan macem anime, manga, dan gaya rambut. Ada juga booming mengenai geng-gengan dan sesuatu berbau kebarat-baratan. Karena saya nggak mau dianggap cupu karena ngefans dengan Spider-Man saat itu, akhirnya saya join temen-temen saya untuk menyukai apa yang mereka suka. Avenged Sevenfold menjadi bukti bahwa dulu saya juga sempet terpengaruh oleh temen-temen sebaya, membentuk band dan geng juga menjadi salah satu buktinya. Sekali lagi, Spider-Man terlupakan.



Poster film The Amazing Spider-Man.


Sampai pada tahun 2012, saat saya duduk di kelas XII SMA, film The Amazing Spider-Man yang dibintangi Andrew Garfield rilis dan booming di kalangan remaja. Cuma film Spider-Man yang ini saya nggak nonton di bioskop, karena saya juga lebih fokus ke Vanny saat itu, jadi ngumpulin uang untuk nonton The Amazing Spider-Man bukanlah sebuah prioritas. Tapi karena saya juga udah punya smartphone, jadi saya bisa download dan nonton filmnya melalui smartphone saya. Walaupun nggak seseru nonton di bioskop, tapi worth it lah karena saya masih bisa mengikuti Spider-Man sampai saat itu. Lagipula, waktu itu saya juga lebih suka menghabiskan uang saya bersama Vanny daripada untuk pergi ke bioskop.


Saat SMA, saya mulai mencari jati diri dan berusaha menemukan kepribadian yang seperti apakah yang saya punya. Saya sempat merenung, dan memikirkan diri sendiri dari sejak TK sampai SMA. Saya merasa diri saya ini kalem, nggak suka kekerasan, mahir di satu bidang yaitu bahasa dan seni, suka humor, ngebanyol, dan suka jahil pula, banyak omong dan lumayan cerewet, di kala ada masalah selalu berusaha ceria dan berusaha menutupi masalah saya, dan saya nggak suka gonta-ganti pasangan. Tapi saya ragu, apa saya sebenernya emang seperti itu? Terkadang saya sendiri mengakui bahwa saya labil, dan nggak bisa stay di salah satu sikap. Bukannya saya berkepribadian ganda, tapi mood saya gampang banget berubah tergantung suasana.


Saya tiba-tiba aja memikirkan Peter Parker, identitas asli dari sang Manusia Laba-laba. Karena saya fans berat dari Spider-Man, saya tahu sifat dari Peter Parker ini. Saya merenung lagi, dan memutuskan untuk meniru Spider-Man. Bukan dari keahlian untuk merayap dan menembakkan jaring laba-laba, tapi dari kepribadiannya.


Saya mau cerita sedikit mengenai si Peter Parker ini.


Peter Parker bukan orang yang spesial, dan bukan pula orang yang terkenal di lingkungannya. Dia tipikal remaja cupu yang selalu berkutat dengan tugas-tugas sekolahnya, nggak punya banyak teman tapi punya beberapa sahabat yang diklaimnya sebagai keluarga sendiri. Cerdas di bidang IPA, dan sering di-bully oleh temen sekelasnya: Flash Thompson.



Peter saat digigit laba-laba super.


Setelah dia digigit seekor laba-laba berkekuatan radioaktif, dia mulai menjalani hidup baru dengan alter ego sebagai The Human Spider. Eits, bukan, dia belum jadi superhero, melainkan seorang pegulat. Dia jadi pegulat demi mendapatkan uang untuk membuat Mary Jane - tetangganya - terkesan dengan membeli sebuah mobil baru.



Kehidupan awal Peter sebagai Spider-Man.



Setelah insiden kematian pamannya, Peter memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai pegulat amatir dan banting setir ke arah yang lebih baik: menjadi superhero, dan mengganti namanya menjadi Spider-Man. Kematian pamannya membuat Peter bertambah dewasa, namun kepribadiannya nggak pernah berubah: Selalu ceria, suka bercanda, dan makin rendah hati. Sifatnya yang seperti itulah yang akhirnya mempertemukan dia dengan Gwen Stacy yang kemudian jadi pacarnya. Hubungan yang mendewasakan keduanya itu akhirnya kandas oleh kematian Gwen. Peter depresi pada awalnya, tapi setelah mendapat nasihat dari bibi May, dia kembali ke kehidupannya dan mulai move on dari kematian Gwen Stacy dengan bersikap ceria seperti biasanya: "I'm still your good neighborhood, Spider-Man!"




Peter Parker setelah bertahun-tahun jadi Spider-Man


Disitu saya mulai menyesuaikan dan meniru sifat dan kepribadian Peter Parker. Orang bilang, menjadi orang lain itu susah, lebih baik jadi diri sendiri. Tapi yang saya rasakan berbeda. Saya dengan mudahnya meniru kepribadian Peter Parker, dan sejak saat itulah kepribadian Peter Parker melekat pada diri saya sampai sekarang: Humoris, easygoing, bersabar, nggak mudah marah, dan bertanggung jawab.



Lihat gimana Spider-Man menanggapi musuh-musuhnya yang selalu serius: Dia tetep easygoing dan bahkan melempar humor pada musuhnya



Rapunzel and Spider-Man



Temen saya yang namanya Ginda juga begitu. Dia bilang sejak dulu ngefans dengan Rapunzel, dan seneng banget ketika saya manggil dia dengan sebutan Princess Rapunzel. Saya tanya dia kenapa segitu senengnya dia dipanggil Rapunzel dan kenapa dia pengen jadi Rapunzel. Dia jawab bahwa kepribadiannya dan kepribadian Rapunzel nggak jauh berbeda, karena itulah dia pengen jadi si Rapunzel. Untuk meyakinkan saya, dia manggil saya dengan panggilan Spider-Man.







Dia tanya perasaan saya gimana setelah dipanggil dengan sebutan Spider-Man. Dan kalian tahu apa yang saya rasain?


Saya senang.


Bukan karena saya udah ngerasa bisa merayap dan menembakkan jaring laba-laba dari pergelangan tangan saya, tapi saya bahagia karena saya merasa saya adalah Peter Parker. Saya merasa udah sukses meniru sang protagonis. Maka dari itu, saya putuskan sampai kapanpun saya akan tetap terus menjadi fans Spider-Man, bahkan sampai saya tua nanti.


Dari cerita di atas, saya menyimpulkan bahwa idola masa kecil kita juga akan menentukan kepribadian apakah yang akan kita punya saat dewasa nanti. Saya yang sejak TK ngefans Spider-Man dan Ginda yang sejak dulu ngefans Rapunzel punya sifat dan kepribadian yang hampir sama dengan idola masing-masing. Kenapa saya nggak meniru sifat dari Squall, Sasuke, Noctis, atau Kaito KID? Squall mempunyai sifat buruk yaitu merasa bisa melakukan semuanya sendirian, Sasuke punya sifat pendendam dan egois, Noctis punya sifat keras dan nggak sabaran, sedangkan Kaito punya sifat seenaknya aja dan kadang nggak tahu aturan. Kenapa saya lebih memilih Spider-Man? Karena saya udah mengenal Spider-Man sejak kecil, dan di masa kecil itulah saya yang belum mengenal sifat-sifat buruk manusia melihat Spider-Man sebagai figur yang benar-benar sempurna dari segi kepribadian, dan saat saya makin dewasa, saya makin mengenal Spider-Man dari segi cerita dan pesan-pesan yang tersirat di dalam komik dan filmnya. Jadi bisa dibilang, masa kecil yang belum tersentuh atau terkontaminasi oleh hal-hal buruk dan negatif bisa kita bawa kembali dengan menghadirkan tokoh idola yang kita sukai sejak kecil, dan kita teladani sifatnya sampai tua nanti. Maka dari itu, jangan buang fantasi maupun seseorang yang kita idolakan pada saat masa kecil. Bawa dan teladanilah jika emang fantasi dan idola kita ini membawa pengaruh yang positif, karena kepribadian positiflah yang menjadi hasil dari ini semua.


Bukannya menyuruh untuk menjadi orang lain, tapi seseorang yang kita kagumi itu merupakan cerminan kepribadian kita sendiri. Bisa dibilang, saya suka Spider-Man sejak awal karena mungkin aja suatu saat nanti kepribadian saya emang mirip dengan Spider-Man, walaupun belum terlihat saat saya kecil. Buktinya saya nyaman-nyaman aja bersikap begini dan alhasil beginilah saya pada akhirnya. Yah, walaupun nggak semuanya benar, tapi pemikiran saya ini juga pakai logika dan ada dua bukti yang menyertai. Nggak ada salahnya untuk mencoba menggali kembali kenangan masa kecil dan serealistis mungkin bersikaplah layaknya orang yang kita kagumi demi kebaikan.


Sebagai penutup, saya ada satu video yang mungkin bisa sedikit menghibur kalian yang mumet dengan pembahasan dari pemikiran-pemikiran saya barusan.





Sampai sini aja pemikiran ini saya sampaikan, kalo ada kesalahan dalam pengucapan, kebingungan dalam mencerna kata-kata saya, atau kalo mungkin ada sanggahan (berasa lagi presentasi aja ya), silakan tulis aja di kolom komentar di bawah. Terima kasih udah membaca.


See you to the next post.