Terkadang, hidup bisa menjadi perjalanan yang sepi. Tapi menjadi seorang introvert apalagi INFJ, hidup bisa menjadi lebih terisolasi pada level yang lebih dalam. Kita menghadapi perjuangan kontradiksi yang nggak pernah berakhir, salah satunya adalah kita selalu memiliki keinginan kuat untuk terhubung secara mendalam dengan orang lain, namun masalahnya kita juga mudah lelah dan mudah putus asa oleh interaksi sosial. Kasarannya, kita selalu merasa nggak cukup mempunyai hubungan dengan orang tanpa koneksi yang dalam, dan kita juga merasa terlalu banyak terhubung dengan orang lain pada saat mencari seseorang yang bisa terkoneksi dengan kita. Dengan kata lain, hal ini adalah sebuah paradoks yang tak terhindarkan untuk kita para INFJ.
Sebenarnya, INFJ bukan satu-satunya tipe kepribadian Myers-Briggs yang berjuang melawan rasa kesepian, dan bukan pula satu-satunya introvert yang ingin terhubung secara mendalam dengan orang lain yang berjuang dengan cara bersosialisasi lebih.
Sebagai seorang INFJ, saya sering ngerasa kesepian secara intens di waktu-waktu tertentu, dan saya percaya ini adalah pengalaman yang biasa bagi mereka juga yang sesama introvert-intuitive-feeling-judging ini. Saya merasa bahwa saya ini adalah seseorang yang berjiwa kreatif, yang berpikir dan merasakan banyak hal terutama yang orang-orang lewatkan. Bentuk utama ekspresi diri saya adalah melalui seni, musik, dan kata-kata (quotes). Saya biasa mengekspresikan semuanya melalui gambar, melalui musik-musik yang saya dengarkan, dan ya, saya juga suka membaca dan mengekspresikan sesuatu dari kegiatan menulis juga. Sedangkan ekspresi bagi saya adalah sesuatu yang sangat pribadi dan mendalam. Saya nggak bermaksud mengekspresikan sesuatu dari dalam hati dan pikiran saya untuk diperhatikan dan dikagumi. Sebaliknya, saya menciptakan, saya mengkreasikan, atau saya mengekspresikan sesuatu karena jiwa saya memiliki suatu hal untuk dikatakan, dan saya perlu menemukan sebuah cara untuk mengekspresikannya secara alami.
Dengan kata lain, tujuan paling penting dari setiap bentuk ekspresi (baik melalui gambar, musik, quotes, maupun tulisan) yang saya buat adalah supaya saya bisa terhubung dengan jiwa-jiwa orang lain. Masalahnya, kadang di saat saya sedang menikmati sebuah gambar, atau merasa sangat terinspirasi oleh lagu atau kalimat dalam sebuah buku namun nggak ada orang yang bisa diajak sharing mengenai hal tersebut (entah karena mereka nantinya nggak tertarik atau mereka malah nggak akan paham apa yang saya maksud), bagi saya hal itu dapat menjadi pengalaman yang sangat menyebalkan akibat saya jadi merasa sendiri bahkan di lingkungan pribadi. Saya pernah suatu kali mengikuti beberapa kegiatan yang sebetulnya nggak saya sukai, rasanya seperti harus memaksakan diri keluar dari zona nyaman, namun demi bisa bertemu dengan orang-orang yang sekiranya mempunyai kesepemahaman dengan saya, saya lakukan hal tersebut berulang kali. Sampai saya menyadari bahwa saat mengikuti kegiatan tersebut saya hanya mendapatkan pengalaman baru tanpa adanya pertemuan dengan orang-orang yang saya inginkan. Memang melelahkan, tapi saat itu saya nggak tahu lagi harus berbuat apa demi bisa bertemu dengan orang-orang yang serupa dengan saya.
Saya menyadari bahwa mencari seseorang yang berpikiran sama sangatlah susah, terutama karena sifat dan kepribadian saya, serta standar yang saya buat sendiri. Tapi saya masih ingin bertemu orang-orang dengan minat dan pola pikir yang sama untuk bertukar ide dan berkolaborasi dengan mereka. Karena itu, saya selalu berjuang untuk menemukan kesamaan dan keseimbangan di dalam lingkungan dan circle yang saat ini saya tempati.
| Hangout to cafe, my new habit to expanding circle. |
Pada akhirnya, baru-baru ini saya sering berkunjung ke beberapa kafe di Semarang — sebuah kegiatan yang tentu aja saya sukai — di samping untuk membuang rasa jenuh dan mencari ketenangan, saya juga melakukan hal ini untuk mencari beberapa orang baru yang nantinya mungkin bisa aja mempunyai pemikiran yang sama dengan saya. Oh ya, saya juga udah biasa menjadi konselor gratisan bagi mereka yang ingin curhat kepada saya dengan cara mereka ikutan nimbrung ke kafe yang sedang saya kunjungi. Melalui kegiatan sharing seperti itulah saya bisa menilai, menimbang seseorang apakah mereka mempunyai pemikiran yang sama dengan saya melalui beberapa feedback yang udah saya berikan di saat mereka curhat. Dengan cara seperti ini memang sih kesannya saya seperti dipaksa lagi untuk keluar dari zona nyaman (yang biasa saya lakukan dengan cara menunggu) namun hasilnya worth it juga. Saya jadi bisa mendapatkan koneksi yang lebih dalam dengan teman-teman saya, dan hal itulah yang membuat saya jadi bersemangat untuk terus mencari koneksi yang lebih dalam dengan seseorang terutama yang mempunyai pemikiran dan pemahaman yang sama dengan saya. Memang sih belum ketemu, tapi saya percaya dengan kegiatan ini pasti nanti akan keluar juga hasilnya.
Setelah pengalaman ini, saya menyadari pelajaran penting mengenai sesuatu yang bisa menguatkan saya, yang akan saya bawa untuk waktu yang lama, yaitu:
Jangan memaksakan diri untuk bersosialisasi ketika kamu sudah tahu bahwa hal itu nggak akan ada gunanya bagimu.
Tentu aja ada pengecualian untuk pemikiran ini. Terkadang manfaat besar datang ketika kita mendorong diri kita keluar dari zona nyaman, secara hal-hal akan menjadi menyenangkan juga di saat kita bertindak di luar kebiasaan yang kita lakukan. Tapi selebihnya nggak apa-apa kok untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang nggak akan berhasil untuk kita. Dan juga, para INFJ biasanya cukup pandai untuk mengetahui apakah sesuatu akan berhasil atau tidak sebelumnya.
![]() |
| Let's get a coffee and talk it all. |
Beberapa orang mungkin berhasil berinteraksi dengan orang lain, dan menyuarakan pikiran mereka akan memberi energi pada mereka, dan tentunya hal tersebut akan membantu mengklarifikasi ide-ide mereka. Tetapi sebagai seorang introvert, saya melakukan hal tersebut dengan cara yang berbeda, dan bagi saya nggak ada yang salah dengan hal itu. Dalam hal ini, saya menyadari bahwa saya nggak perlu merasa malu untuk tidak terlibat dalam percakapan dengan siapa pun pada sebuah acara yang saya ikuti. Saya lebih biasa mendengarkan, dan di dalam pikiran saya, saya toh bisa memperoleh banyak hal. Dari situ biasanya saya mencari dan membaca buku-buku yang berkaitan, melakukan riset secara online, merenungkan aspek-aspek buku yang selaras dengan saya dan orang-orang yang terkait, dan kemudian mencatat hal tersebut di pikiran saya sendiri, kesannya seperti eksperimen sosial pribadi sih. Hal seperti itu udah biasa bagi saya, yang menurut saya pun merupakan pencapaian yang patut dibanggakan.
![]() |
| Sometimes I'm just getting confused of myself, tho. |
Memang sih, paradoks atau kontradiksi batin ini akan terus menciptakan tantangan dalam hidup bagi INFJ seperti kita. Saya nggak bilang kita mesti menutup semua pintu baru menuju ke luar zona nyaman untuk peluang masa depan. Tapi ketika kita memberi diri sendiri izin untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang kelihatannya nggak akan berhasil, itu udah beda cerita dan tentu aja hal itu sangat berguna nantinya.
Bersosialisasi kadang memang rumit dan melelahkan. Jadi ya, kalo ada hal-hal tertentu yang membuat kita nggak nyaman untuk benar-benar mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dari sebuah momen maupun event, jangan merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri jika kita keluar dan menarik diri. Kita toh nggak akan ketinggalan soal apa pun. Lagipula, INFJ adalah tipe introvert yang gemar berpikir secara mendalam, dan nggak ada yang mengenal kita lebih baik dari diri kita sendiri. Nggak apa-apa untuk melepaskan diri dari tekanan sosial yang nggak perlu di samping hal itu terlalu menguras energi. Fokus pada kreativitas diri dengan cara yang tenang dan tentu aja enjoyable. Akan ada kok koneksi yang kaya makna yang bisa dibuat di pikiran dan keseharian kita sendiri.
Dan suatu hari, percaya aja kita akan menemukan seseorang yang sama dengan kita, dan di saat itu terjadi, ikatan yang kita buat dengannya akan jauh lebih kuat dan bermakna ketimbang ikatan dengan orang-orang yang lainnya.


