Dulu saya kira, menjadi seorang highly-sensitive person yang punya intuisi dan kepekaan lebih itu enak. Hidup bakal jadi lebih mudah untuk dijalani, berasa kayak Spider-Man dengan spider-sense miliknya gitu. Tapi ternyata nggak juga. Dengan intuisi dan kepekaan lebih, kamu bisa ngerti latar belakang seseorang, watak seseorang, dari baik sampai jeleknya bahkan sebelum kamu kenal sama dia. Alhasil jadi pilih-pilih circle pada akhirnya, di samping susah juga membaur sama banyak orang akibat kamu terlalu sensitif sama energi dan perasaan mereka, meskipun sisi positifnya dengan mengetahui perasaan seseorang, kamu bisa jadi tempat curhat yang baik buat mereka.
Saya udah nggak bisa berada di tempat ramai apalagi sumpek belakangan ini, akibat kepekaan saya dalam menangkap energi, emosi, dan perasaan orang-orang yang lambat-laun terakumulasi dan bisa mengakibatkan saya lemas kalo kelamaan di tempat tersebut. Di mall aja saya kesusahan, apalagi di tempat yang memiliki energi-energi berat lainnya. Btw, ada juga kok tempat-tempat sepi yang punya energi berat, macem museum atau tempat-tempat bersejarah. Cuma alam tempat yang bersahabat bagi saya saat ini, macem pedesaan, bukit, pegunungan, atau minimal wisata alam.
Oh ya satu lagi, manusia itu beragam, begitu pula energi yang mereka pancarkan dari kepribadian dan perasaan mereka. Mau berkomunikasi secara langsung maupun lewat smartphone, yang namanya energi juga nggak bisa bohong lho, tetep aja kebaca oleh seseorang yang memiliki kepekaan lebih. Ada saat dimana saya langsung klop dengan seseorang yang baru aja kenal. Ada saat dimana saya males ketemu sama seseorang yang udah lama kenal. Ada juga saat dimana saya bener-bener menghindar dari orang-orang yang katakanlah paling dekat sama saya. Namanya juga intuisi ya, pasti saya juga refleks melakukan hal-hal di atas ke orang-orang sebagai defense mechanism.
Uniknya, di saat saya deket atau berada di radius sekitar orang-orang yang memiliki — katakanlah — guna-guna, susuk, laku astral negatif, atau justru deket sama orang yang diguna-guna malahan, defense mechanism yang saya rasakan malah lebih ke bersifat fisik. Misalnya, saya pernah kenal sama seseorang yang punya laku pelet dan tampil cantik karena susuk, di saat saya deket sama dia, saya ngerasa pusing macem migrain. Lalu, di saat saya dateng ke suatu warung yang punya penglaris atau ke suatu tempat yang punya energi astral atau energi negatif, begitu masuk saya langsung mual sampai mau muntah. Nah gimana coba kalo saya yang jadi korban? Semisal saya yang kena pelet atau saya yang kena guna-guna? Wah rasanya nano-nano, nggak bisa konsenlah, berasa begolah, ngelakuin apapun jadi kikuklah.
Last but not least, my spider-sense told me to keep the mind calms down and the emotion in relax, as nothing will change if I rush anything that is unpredictable. The art of waiting isn't about we sit down and doing nothing while waiting for something we want, but rather improve ourselves to be better inside and to be brighter outside while we're waiting.
Oh, one more thing:
Oh, one more thing:



