Senin, 09 Juli 2018

Review - Ant-Man and The Wasp


Setelah menyaksikan Avengers: Infinity War pada bulan April lalu, bulan ini kita disuguhkan kembali film superhero besutan Marvel Cinematic Universe: Ant-Man and The Wasp, sebuah sekuel dari film Ant-Man yang cukup sukses pada tahun 2015 silam. Dalam post kali ini, saya mau berbagi sedikit review mengenai film yang udah saya tonton pada hari Kamis kemarin.

Sinopsis


Pasca event Civil War, Scott Lang harus menjalani hukuman sebagai tahanan rumah selama dua tahun akibat konsekuensinya membantu kubu Captain America dalam meloloskan diri dari kubu Iron Man. Sementara itu, Hank Pym beserta puterinya, Hope Van Dyne, juga menghadapi konsekuensi mereka sebagai buronan pemerintah akibat perbuatan Scott yang menunjukkan kepada dunia bahwa dialah sang alter ego Ant-Man. Dalam persembunyian, Hank dan Hope membangun sebuah terowongan yang dapat membuat mereka menjelajahi Quantum Realm, tempat dimana selama ini Janet Van Dyne - sosok istri dan ibu bagi keduanya - terjebak dan masih hidup hingga sekarang. Mereka membutuhkan sebuah alat yang hanya bisa didapat dari seorang mafia black market, dan dalam usahanya mereka membutuhkan bantuan Scott Lang untuk beraksi kembali sebagai Ant-Man dan kali ini dibantu Hope sebagai The Wasp. Namun, di tengah usaha membangun terowongan tersebut muncullah seseorang berjuluk Ghost yang dapat membuat tubuhnya menembus segala benda atau materi apapun dan menginterupsi apa yang akan Hank, Hope, dan Scott selesaikan. Dapatkan mereka menyelesaikan terowongan Quantum Realm dan menyelamatkan Janet dari sana?


Review


Ant-Man and The Wasp bagi saya bukanlah film yang luar biasa seperti Captain America: Civil War, atau Avengers: Infinity War yang telah kita tonton beberapa bulan belakangan. Tapi untuk sekadar popcorn movie, film ini bukan sebuah film yang bisa kamu lewatkan. Dari segi cerita, memang sederhana banget. Tokoh antagonis yang digambarkan jahat karena keinginan pribadinya yang nggak muluk-muluk, tokoh antihero yang digambarkan sedemikian rupa sehingga bisa dibedakan motifnya dengan tokoh antagonis, serta tentu aja tokoh superheronya yang makin kesini digambarkan makin apik.

The Wasp yang diperankan oleh Evangeline Lilly mampu berduet dengan baik bersama Paul Rudd yang memerankan Ant-Man. Saya sempat mengira bahwa Ant-Man pasti akan mendapatkan porsi scene yang lebih banyak ketimbang The Wasp, namun di film ini Ant-Man dan The Wasp memiliki scene duration yang sama banyaknya. Team up keduanya bisa dikatakan gabungan teamwork dan romance yang dibumbui oleh humor kocak khas Marvel. No over kissing scenes, but yes there are. Janet Van Dyne yang diperankan oleh Michelle Pfeiferr disini juga kelihatan anggun meski udah berusia paruh baya, terlihat klop dengan Hank Pym yang terlihat tua namun angkuh yang diperankan dengan baik pula oleh Michael Douglas.

Oh ya, jangan lupakan juga trio X-Con alias sahabat-sahabat Scott Lang di film pertama yang berhasil mengocok perut dengan lawakan mereka yang khas ini. Michael Peña sebagai Luis masih berhasil membuat penonton tertawa dengan lawakannya yang menceritakan sesuatu dengan super detail! Bisa dianalogikan dia adalah 'human jukebox' karena saking detailnya Luis dalam menceritakan suatu hal. Tapi yang saya rasakan di film ini adalah meski lawakannya makin lucu, Michael Peña disini tampak kurang diberi keleluasaan untuk berimprovisasi, nggak seperti di film pertama. Maka dari itu, scene humor Luis di film ini agak berkurang.

Meski film ini mempunyai cerita yang standar dan yaaaa... gitu-gitu aja, tapi dari awal ceritanya udah dibangun dengan baik dan solid, jadi nggak heran meski dirilis setelah Avengers: Infinity War sekalipun, film ini masih ramai ditonton kalangan fans maupun movie goers. Terlebih, Ant-Man and The Wasp ini menceritakan lebih rinci mengenai Quantum Realm yang pastinya akan menjadi kunci di film-film Marvel Cinematic Universe selanjutnya.

Oh iya, ada dua scene tambahan di film ini, seperti biasa di bagian mid credit scene dan post credit scene. Spoiler warning aja ya bagi yang belum menonton:


  • Di mid credit scene, kita bisa melihat Hank Pym, Hope Van Dyne, dan Janet Van Dyne yang menjadi debu akibat ulah Thanos dalam film Avengers: Infinity War.
  • Di post credit scene, kita hanya bisa melihat... semut raksasa yang bermain drum.


Mungkin itu aja spoiler yang bisa saya berikan di post ini, hehehe!


Score


Over all, saya beri nilai 8/10 untuk film ini karena dengan cerita yang standar, film ini masih dapat menghibur karena ceritanya yang dibangun dengan solid, karakternya yang pas dengan scene duration yang seimbang, serta tentu aja dengan humornya yang khas yang bisa membuat kita berpikir "Humor seperti ini cuma ada di film Ant-Man."



Intermezzo




Saya udah ada rencana buat nonton Ant-Man and The Wasp hari Jumat tanggal 6 Juli, tapi alangkah beruntungnya saya karena seorang rekan kantor mengajak saya untuk nonton film ini sehari lebih awal, yaitu pada hari Kamisnya. Tiket udah dia belikan, dan saya hanya tinggal nemenin dia nonton di Cinema XXI DP Mall Semarang. Rupanya, dia awalnya udah ngajak teman seruangan dia untuk nonton bareng film ini, tapi apa daya temannya ini nggak masuk kerja pada hari itu karena lagi sakit. Beruntung, secara saya juga dekat sama dia, akhirnya saya deeeh yang diajak nonton Ant-Man and The Wasp ini secara cuma-cuma hehehe!

Punya temen sama-sama penyuka film superhero memang menyenangkan rasanya. Apalagi punya pasangan yang juga sehobi nonton film ginian, hehehe!

Okay, see you soon!