Minggu yang melelahkan, setidaknya buat saya pribadi.
Oh ya, di postingan kali ini saya mau mencurahkan segalanya yang udah tersimpan di benak saya, yang mungkin udah mengendap entah berapa waktu lamanya, yang mungkin aja harus saya gali kembali supaya saya bisa mengosongkan pikiran saya yang rasanya bisa blank kapanpun dan dimanapun.
Saya punya — katakanlah — pekerjaan yang lumayan sibuk. Setiap paginya saya harus berangkat ke sebuah instansi negeri yang jaraknya dari rumah sebenarnya nggak begitu jauh. Tapi, pekerjaan disana nggak semudah yang saya bayangkan meskipun sebenarnya terkesan simpel. Begitu terus setiap Senin-Jumat dari pukul 8 pagi sampai dengan pukul 3 sore.
Saya juga masih punya tanggungan lain: skripsi. Iya, jujur aja skripsi saya bisa dibilang keteteran saat ini. Gimana nggak keteteran, lha wong saya aja udah jarang ngampus akibat pekerjaan yang sedang saya jalani saat ini. Orang-orang bilang, "Udahlah, tinggal dulu aja pekerjaanmu dan selesaikan dulu skripsinya." Selalu begitu. Kalo saya mau — ralat — kalo saya bisa, udah dari dulu saya pasti tinggalin pekerjaan saya dan fokus dengan skripsi yang udah melambai-lambai di depan mata. Tapi kenyataannya, saya nggak bisa. Kenapa? Ada alasan yang membuat saya bertahan di pekerjaan yang saya geluti sekarang. Yang utama adalah: saya butuh uang. Orang-orang mungkin bisa bilang bahwa skripsi yang harus diutamakan, tapi pernah kepikiran nggak sih kalo menyusun skripsi juga butuh uang? Dari keperluan biaya yang paling sederhana aja: kuota internet, lalu biaya ngeprint yang mungkin nggak seberapa, tapi kalo revisinya terus-terusan ya sama aja jadi 'biaya yang seberapa' dong. Oh ya, pemasukan saya bisa dibilang lumayan kalo hanya untuk menyusun skripsi, tapi demi hal yang lain juga — yang nggak bisa saya jelaskan disini karena saking privasinya — jadi alasan saya untuk bertahan di pekerjaan saya selama ini.
Sebenarnya saya juga nggak begitu mempermasalahkan hal seperti ini sih, kadang-kadang. Saya merasa bisa melakukan semuanya sendiri meski di lain waktu saya merasa butuh banget disemangati, didorong, dimotivasi dengan cara yang positif, atau apapun deh yang bisa memberikan dampak yang baik bagi saya ke depannya. Bukannya manja sih, tapi nggak mungkin juga kan kita melakukan sesuatu tanpa motivasi yang kurang?
For whom shall I live this life?
Masalahnya ada pada lingkup keluarga saya yang bisa dikatakan terlalu membebani saya berkat status saya sebagai anak pertama. Memang udah seharusnya sebagai anak pertama, saya pasti memikul beban yang lebih berat ketimbang kedua adik saya dalam keluarga. Tapi tanpa dimotivasi? Wah, jangankan nggak semangat, saya malah lebih merasa saya ini diperas sebelum waktunya. Iya sih, positifnya saya bisa jadi lebih mandiri dari saya yang sebelum-sebelumnya, tapi lama-lama pikiran dan raga saya juga pasti bakal mencapai batasnya, alias LLB: Lelah Lahir Batin.
Saya sempat melakukan pelarian dalam mencari motivasi di figur orang yang saya cinta. Seorang wanita mandiri yang katakanlah bisa aja menjadi sosok yang motivasional dalam hidup saya. Awalnya memang sukses, saya jadi termotivasi untuk melakukan apapun supaya saya bisa seperti dirinya. Tapi lambat laun, karena saya memang mencintai dia apa adanya, motivasi saya jadi berubah agar saya segera cepat-cepat menyelesaikan apa yang udah saya mulai dan menjadi pasangan yang ideal buat dia. Awalnya toh saya merasa terdorong dengan motivasi cinta semacam itu, tapi sayangnya, saya juga teringat sama keluarga. Disini, kebingungan mulai saya hadapi sebagai figur anak pertama dalam keluarga dan sebagai figur laki-laki yang sedang mencinta. Saya mempertanyakan diri sendiri: Sebenarnya, saya melakukan ini demi siapa? Demi keluarga saya? Atau demi seorang wanita yang saya cinta? Karena dua-duanya memang nggak bisa menunggu. Saya harus — katakanlah — mensejahterakan keluarga saya, dan di lain sisi saya juga ingin menjadikan wanita yang saya cinta sebagai istri saya sebelum dianya beralih ke pria lain. Terlebih, wanita yang saya cinta juga lebih tua daripada saya.
Frustasi aja yang saya dapatkan pada akhirnya.
Let it go... Let it gooo...
Sampai suatu ketika, waktu saya sedang mudik ke Boyolali, saya bertemu dengan seorang kakak tiri perempuan yang kecilnya item, dekil, dan manja, sekarang jadi sosok wanita yang tegar, mandiri, sukses, dan tentu aja cantik. Siapa lagi kalo bukan mbak Tya yang pernah saya ceritakan disini. Saya ngobrol banyak sama mbak Tya, mengenai masa depan, kehidupan, dan pekerjaan. Dari situ, secara nggak sengaja saya jadi termotivasi dari kehidupan mbak Tya yang kalo boleh saya bilang masih single and free akibat masa lalunya yang bisa dibilang menyedihkan. Dia bergerak sesuai dengan passion yang dia punya demi diri sendiri, dan dari situlah dia bisa enjoy dengan apa yang dia kerjakan. Bukan demi keluarga, bukan juga demi orang lain. Hanya demi dirinya sendiri, dia udah berhasil jadi wanita karir yang sukses. Bukannya mengajari untuk jadi egois, tapi memang terkadang kita pasti merasa terbebani di saat kita melakukan sesuatu demi cinta atau demi orang lain. She said just let yourself free and do what you want to do. Dari sinilah, pandangan saya mulai berubah, dan menjadikan mbak Tya ini sebagai mentor baru yang harus saya ikuti jejaknya sampai saya sukses dengan passion yang saya bawa sendiri suatu hari nanti.
Kesimpulannya: apapun yang sedang kita kerjakan hari ini, jika kita merasa kurang mampu melakukannya sendirian maka carilah motivasi yang tepat buatmu untuk mendorongmu lebih maju ke depan. Tinggalkan aja beban-beban yang ada di pundak dan fokus dengan apa yang kita mau demi diri sendiri ke depannya. Dengan cara begitu, kita pasti bisa merasa bebas dalam melakukan sesuatu yang kita inginkan.
In another words, if you have difficulties to rule yourself as a lion, you need a lioness to assist you go through. :)
p.s.:
I found the old photos of mbak Tya and I in my house sometime in the past. What a memories! Begin from my stepsister figure, she has became my mentor figure for a better life. Yes, she is a lioness. :)


