When the inside of this mind is too complicated to be told directly.
Selasa, 18 Agustus 2015
Hanya Pemikiran tentang Seorang Kakak
Saya anak pertama dalam keluarga, punya satu adik laki-laki dan satu adik perempuan, yang semuanya manggil saya dengan sebutan "Mas", walaupun saya seringkali memanggil mereka dengan nama panggilan mereka aja. Suatu kali, saya pernah membayangkan gimana rasanya punya kakak, entah kakak laki-laki, atau kakak perempuan. Rasanya menyenangkan juga kayaknya kalo semisal punya kakak, jadi saya bisa manggil figur kakak dengan sebutan "Mas" atau "Mbak". Tapi, sebagai anak pertama, saya nggak bisa merasakannya dengan nyata.
Lalu, saya berusaha mencari seorang figur kakak dari beberapa sanak famili keluarga. Ada salah satu famili perempuan, dia anaknya adik kakek saya, dan saya cukup dekat sama dia karena dia juga anak bungsu yang pastinya nggak punya adik. Namanya mbak Rita. Usia kita terpaut 7 tahun, dan akhirnya saya mulai menganggap dia sebagai figur seorang kakak perempuan yang ideal. Waktu itu saya masih kelas 4 SD, dan mbak Rita ini udah kelas 2 SMA. Saat dia main sama temen-temennya, saya ikutan nimbrung. Saat dia ke mall atau main ke rumah temennya, saya pasti diajak. Terkadang saya bisa jadi sumber kejengkelan buat dia, tapi nggak banyak terjadi sih. Banyak hal menyenangkan yang terjadi pada saat itu. Saya baru bisa merasakan gimana enaknya jadi figur adik. Mbak Rita ini bener-bener figur kakak yang hebat karena bisa mengayomi dan melindungi saya sebagai adik walaupun sebagai adik nggak resmi, bahkan sampai sekarang. Padahal, sebenernya dia tante saya.
Lalu, saya berusaha mencari figur kakak laki-laki. Awalnya, saya menjadikan kakak dari mbak Rita ini sebagai figur kakak laki-laki. Namanya mas Pras. Saya selalu disepelein sama dia, dijadiin "pupuk bawang" istilahnya, dan saya selalu dipanggil dengan sebutan yang aneh saat itu, pokoknya bukan nama panggilan saya sendiri. Saat dia main sama temennya, saya selalu disuruh pulang saat mau ikutan nimbrung, padahal dia cuma main gitar dan nyanyi bareng-bareng temennya. Saat dia ngeband dan futsal, saya selalu ditolak saat mau ikut. Beneran, nyebelin. Walaupun begitu, terkadang dia juga suka ngasih nasihat yang baik saat dia lagi bosen di rumah. Saat itu, saya mulai berpikir bahwa punya kakak laki-laki itu nggak enak, dan membayangkan betapa sulitnya kondisi kedua adik saya di rumah dengan saya sebagai kakak laki-laki mereka.
Saya punya dua sepupu tiri juga (iya tiri, dan saya nggak akan menjelaskan silsilah keluarga saya disini karena super duper ribet). Keduanya kakak-adik, dan nama mereka adalah mbak Tya dan mas Rheza. Selisih umur mbak Tya dan saya adalah 4 tahun, dan selisih umur saya dan mas Rheza adalah... satu bulan. Kedekatan saya terhadap mbak Tya dan mas Rheza ini udah saya ibaratkan sebagai ikatan persaudaraan, apalagi mereka juga manggil saya dengan sebutan "Dek Dika", berasa anak kecil lagi saya. Karena hal itulah, saya mencoba menjadikan mbak Tya sebagai figur kakak perempuan kedua, dan mas Rheza sebagai figur kakak laki-laki kedua. Aaand it works.
Mbak Tya walaupun nggak begitu caring dan protektif kayak mbak Rita, tapi orangnya lebih asyik, secara dia lebih muda dari mbak Rita dan sifatnya lebih ceria. Dia lebih suka nraktir saya daripada ngajakin saya jalan-jalan, semisal saya pernah ditraktir es krim, makan, dan pulsa.
Beda dari mas Pras yang selalu cuekin dan nyepelein saya, mas Rheza ini sering banget ngajak saya main. Kemana-mana selalu saya yang dicariin. Walaupun sering ngajak main, bukan berarti saya selalu senang saat dia ngajak main. Kenapa? Karena dia kadang ngajak main sesuatu yang ekstrim. Terkadang, saya malah dijadiin objek percobaan sama dia. Contohnya aja, dia ngajak saya jalan-jalan naik motor dan ternyata dia ngebut sampai saya sukses menggigil ketakutan. Lalu, dia juga suka memiting dan mengunci badan saya dengan tubuhnya yang gede, entah apakah itu sebuah keasyikan tersendiri buatnya. Bagusnya mas Rheza ini adalah sifatnya yang suka mencoba hal baru dan suka ngasih nasihat yang berguna juga buat saya. Memorable moment yang masih saya ingat sampai saat ini adalah momen saat saya ditebengin naik sepeda pagi-pagi berkeliling Semarang bareng sama dia. Rasanya asyik banget, walaupun saya hampir jatuh gara-gara dia nge-drill dan hampir ditabrak dokar dari belakang, tapi itulah hal yang saya suka dari seorang kakak laki-laki yang selalu ngajak saya mencari hal baru untuk dilakukan, and it's fun.
Dulu di sosmed juga saya bertemu dengan seseorang yang saya jadikan figur seorang kakak. Yap, namanya kak Raisa. Kak Raisa ini saya jadiin figur kakak karena sifatnya yang ceria dan superior daripada saya. Dia tahu segalanya dari apa yang saya ingin tahu darinya. Semisal, dia bakal menjelaskan dengan sabar dan panjang lebar mengenai hal-hal yang saya ingin tahu, atau sesekali dia mengajari saya bahasa Inggris saat saya ada PR yang pertanyaannya nggak bisa saya jawab. Saat ini dia lagi di Jepang, dan saat saya ingin tahu mengenai hal-hal yang berhubungan dengan Jepang, saya selalu tanya padanya. Malahan, terkadang saya dibantu saat ada tugas mengenai Jejepangan yang nggak saya tahu, mengenai Kanji atau grammar misalnya. Walaupun nggak se-intense dulu, kak Raisa ini masih saya hubungi saat kita sama-sama ada waktu senggang melalui LINE.
Sampai seiring berjalannya waktu, dan kondisi mulai berangsur-angsur berubah.
Saat ini mbak Rita udah berkeluarga dan mempunyai satu orang anak. Otomatis, dia udah bener-bener sibuk dengan keluarga ditambah lagi sibuk dengan pekerjaannya. Saya masih suka main ke rumahnya, tapi sering juga saat saya main ke rumah, dianya nggak ada karena kerja. Yang ada di rumah hanyalah budhe beserta Chazka, anak dari mbak Rita ini. Saya sering main-main sama Chazka untuk membalas budi betapa baik dan pedulinya mbak Rita dulu terhadap saya (dan anaknya ini perawakannya mirip saya semasa kecil, by the way). Walaupun masih bisa ketemu, tapi udah nggak sesering dulu, dan entah kenapa saya merasa kecewa. Iri? Cemburu? Barangkali... Karena perhatian mbak Rita ke saya udah teralihkan ke anak semata wayangnya. Perlahan saya menyadari bahwa keadaan emang udah berubah, walaupun dalam hati saya masih menganggap mbak Rita sebagai kakak, tapi nyatanya dia adalah tante saya... Mengenai mas Pras, saya udah nggak begitu peduli dan menganggap dia sebagai om aja karena emang dia makin tua dan udah berkeluarga pula, hehehe.
Mbak Tya juga udah bekerja di Jakarta sekarang, jadi saya nggak bisa sering-sering ketemu dan dia juga nggak bisa lama-lama main sama saya dan mas Rheza. Sedih sih... Mas Rheza juga udah kerja ikutan mbak Tya di Jakarta, jadi yah... no elder sister and elder brother figure this time. Kesibukan yang udah bikin kedekatan kita jadi merenggang seperti ini, walaupun kita masih berhubungan baik.
Disaat saya lagi down, atau lagi bad mood, atau lagi butuh saran dan nasihat, atau malah lagi butuh dimanja... saya seringkali menginginkan adanya sosok kakak lagi dalam kehidupan, terutama kakak perempuan. Kenapa kakak perempuan? Karena kakak perempuan merupakan figur kedua dari seorang ibu. Kakak perempuan lebih care, lebih protektif, lebih tahu gimana caranya memperlakukan seorang adik, dan lebih bisa ngasih nasihat dibandingkan dengan kakak laki-laki (yah walaupun saya juga sebenernya adalah seorang kakak laki-laki sih). Iya saya terkadang, walaupun jarang banget, suka manja juga, tapi udah bukan saatnya saya manja-manja lagi sama orangtua, terutama mama, karena saya harus bisa membahagiakan orangtua balik. Lalu dengan siapa saya bisa bersikap begitu? Ke figur kakak perempuan, tentu aja. Masalahnya, saya nggak bisa lagi meminta waktu untuk diperhatikan ketiga orang yang saya jadikan figur kakak perempuan tadi karena kesibukan yang mengikat.
Jadi, apa yang harus saya lakukan sekarang? Udah nggak mungkin lagi menemukan figur kakak perempuan yang ideal karena rata-rata orang yang lebih tua daripada saya pasti udah pada bekerja, dan pastinya nggak akan punya waktu buat saya. Saya jadi merenungkan: apa ini nggak enaknya jadi anak pertama ya... Sekuat-kuatnya anak pertama, semandiri-mandirinya anak pertama, dan setangguh-tangguhnya anak pertama, pasti butuh dimanja juga, dan pasti butuh diperhatiin juga. Tapi di masa ini, udah bukan saatnya lagi bersikap begitu ke orangtua, walaupun boleh, tapi udah bukan saatnya. Lalu, gimana saya bisa mengatasi ini? Mengatasi kangennya saya merasakan jadi adik dan punya kakak.
Jadi saya berpikir... saya harus bisa menemukan seorang pasangan yang bisa juga menjadi figur kakak perempuan bagi saya. Seorang pasangan yang bisa mengayomi, melindungi, dan tentu aja care sama saya.
Melindungi? Harusnya cowok kan yang melindungi cewek?
Iya, saya paham bahwa cowok yang harus melindungi cewek. Saya cuma ingin ada kriteria seperti itu dalam diri pasangan saya kelak. Karena melindungi merupakan sifat seorang kakak, kalo dalam hal pasangan, ini punya arti bahwa kita akan saling melindungi satu sama lain. Memang susah untuk mencari seseorang yang memenuhi kriteria yang kita inginkan, tapi kalo kita mau berusaha, pasti bisa. Udah bukan saatnya lagi untuk cari pasangan berdasarkan kriteria fisiknya aja. Saya nggak tahu juga kenapa bisa tiba-tiba berpikiran seperti itu, tapi ya cuma itulah hal yang paling masuk akal yang bisa mengatasi masalah saya sebagai anak pertama ini. Kalo bukan dalam diri pasangan yang nantinya bakal selalu ada buat kita, lalu dalam diri siapa lagi? Maka dari itulah, udah bukan saatnya lagi cari pasangan hanya untuk main-main aja, itu yang saya pikirkan.


