Sabtu, 01 Agustus 2015

Alasan Orang Perfeksionis Sering Susah Tidur



Saya sering membahas mengenai susahnya jadi orang yang punya tipikal perfeksionis, mulai dari standar yang tinggi mengenai segala hal sampai dengan penghindaran kejadian traumatis secara berlebihan dengan menuntut adanya kesempurnaan. Nah, bahkan orang perfeksionis pun bisa punya masalah dalam hal tidur. Kok bisa? Saya uraikan sebabnya di bawah.


Kesulitan tidur pulas dan nyenyak di malam hari, biasanya disebabkan oleh berbagai pikiran mengenai kualitas tidur itu sendiri. Umumnya, orang yang selalu sulit terlelap di malam hari memiliki sifat perfeksionis. Setidaknya sih begitulah kesimpulan Dr. Janet Kennedy, PhD., Sleep Specialits, yang dikutip situs mode Elle.


Seseorang yang memiliki karakter perfeksionis, tanpa disadari, menuntut kesempurnaan tidur malam dengan memiliki sejumlah standar mengenai kualitas tidur terbaik. Ternyata, beban standar terbaik itu membuat mereka semakin sukar pulas di waktu malam.


Sebenarnya, pikiran-pikiran seperti apa sih yang membuat para perfeksionis nggak bisa terlelap di malam hari? Berikut uraian yang dibeberkan oleh Kennedy:


1. Tuntutan harus tidur malam sekian jam

Normalnya, tidur malam yang disarankan oleh para pakar medis adalah selama delapan jam setiap hari. Para perfeksionis memahami bahwa delapan jam merupakan waktu tidur terbaik, maka mereka pun menuntut diri untuk bisa memenuhi standar tersebut.

Menurut Kennedy, kapasitas dan jenis istirahat yang dibutuhkan setiap orang berbeda-beda, tergantung dari aktivitas harian masing-masing orang. Jadi, meskipun sejumlah studi menyatakan bahwa tidur terbaik adalah tujuh atau delapan jam per hari, belum tentu standar itu cocok untuk tubuh kita.

Nah, beban memenuhi waktu standar tidur inilah yang membuat perfeksionis susah tidur. Sebenarnya, kata Kennedy, jika aktivitas Anda di siang hari tidak terlalu melelahkan, waktu istirahat cukup, dan asupan makanan juga baik, maka tubuh pun akan dengan sendiri mengatur masa tidur sesuai kebutuhan. Intinya, jangan memaksakan diri untuk tidur. Sebab, tuntutan itulah yang akhirnya membuat kita terjaga sepanjang malam.


2. Tuntutan untuk selalu tidur nyenyak setiap malam

Setiap orang memiliki pola tidur yang nggak sama. Ada orang yang langsung pulas ketika kepalanya menyentuh bantal, tetapi ada juga orang yang butuh waktu untuk mengantuk setidaknya 15 hingga 20 menit. Tapi, perbedaan ini bukan sesuatu yang salah. Sebab, setiap orang memiliki siklus tubuh dan kadar lelah yang berbeda-beda. Jangan bebani pikiran untuk bisa sama dengan orang lain.

Hal lain yang sering menyiksa pikiran para perfeksionis adalah kekesalan karena terbangun tengah malam. Padahal, menurut Kennedy, hal tersebut normal. Namun, para perfeksionis menanggapinya terlalu serius sehingga rasa kecewa pada diri sendiri karena terbangun di tengah malam membuat mereka susah untuk kembali tidur.


3. Tuntutan harus selalu produktif

Nggak ada orang yang senang dengan rasa letih berlebihan dan merasakan lemas sepanjang hari. Tapi yah, kondisi yang demikian itu nggak melulu dikarenakan kurangnya tidur malam. Bisa jadi penyebabnya adalah kadar gula yang fluktuatif, stres, dan juga cuaca. Oleh karena itu jangan terlalu menyiksa pikiran bahwa stamina menurun karena tidur malam yang nggak begitu maksimal.

Banyak kajian dan studi yang mengatakan bahwa tidur cukup bisa meningkatkan performa kerja. Nah, hal tersebut merupakan momok bagi para perfeksionis yang selalu memberikan 110% (lebih dari 100% lho) potensi diri untuk mendapatkan yang terbaik. Jadi, saat merasa kurang tidur, si perfeksionis merasa panik dan lagi-lagi memaksa tubuh untuk beristirahat lebih baik. Namun, beban tersebut membuat mereka terus berpikir sepanjang malam ketimbang beristirahat.


Yah, begitulah nggak enaknya jadi orang perfeksionis...