Senin, 29 Agustus 2016

Keluar dari Zona Nyaman? Nggak Deh!



"Don't leave your comfort zone, just make it bigger."

Saya rasa, quotes dari Stefan Gentz di atas nggak begitu familiar di telinga kita. Udah sering banget kita mendengar motivator dan mereka-mereka yang berusaha 'seolah-olah bijak', yang mengajak orang lain untuk keluar dari Comfort Zone atau zona nyaman. Berbagai macam argumentasi yang membuat kita sebaiknya keluar dari zona nyaman pun dibuat. Misalnya, zona nyaman itu melenakan, zona nyaman itu bisa membelenggu diri sendiri sehingga kita sulit berkembang, dan lain sebagainya. Intinya, mereka mengajak orang lain untuk keluar dan jauh dari zona nyaman.


Saya juga nggak ngerti kenapa, banyak dari mereka mempunyai persepsi bahwa zona nyaman identik dengan sesuatu yang negatif.


Buat saya, kenyamanan adalah suatu hal yang utama dalam segala aspek hidup. Nyaman dengan keluarga menciptakan kerukunan keluarga. Nyaman dengan lingkungan kuliah membuat saya betah berada di kampus dengan para dosen serta teman-teman. Nyaman di lingkungan kerja membuat saya semakin produktif bekerja. Bahkan nyaman dengan pasangan pun bisa membuat hubungan menjadi awet. Dan sekarang saya udah mulai bisa menikmati kegiatan PPL karena udah nyaman dengan lingkungan dan orang-orang di tempat saya mengajar. Kalau hidup di zona nyaman dianggap nggak baik, lalu apa kamu mau hidup di Crisis Zone alias di wilayah penuh ancaman dan ketidaknyamanan? Tentu aja nggak, kan?




Siapa sih yang nggak mau nyaman?



Saya sendiri nggak sependapat bahwa kita harus keluar dari Comfort Zone untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Manusiawi banget kok, setiap orang pasti menginginkan kenyamanan. Nggak logis dan malah aneh kalau kita justru menghindar dari kenyamanan. Contoh kecil nih, semisal saat ini kamu tinggal di kos sempit yang berukuran 2x3 meter yang aksesnya sulit. Untuk sampai ke kos tersebut, kamu harus melewati gang yang nggak bisa dilalui sepeda motor sekalipun. Sampai kos, pemandangan kiri kanan cuma tembok. Kos ini bisa kita sebut dengan Crisis Zone.


Lalu tiba-tiba atasan kamu ngasih bonus, yaitu rumah mewah di Graha Candi Golf yang kamu pasti tahu suasananya nyaman banget. Lokasinya lumayan strategis, hijau, dan ada fasilitas kolam renang Water Blaster, gym, lapangan golf, dan pusat olahraga lainnya di dalamnya. Graha Candi Golf ini bisa kita sebut Comfort Zone.




Mau tinggal di kos sempit seperti ini? Atau...






...mau tinggal di perumahan seperti ini? :)



Nah, kira-kira pilih tinggal di mana, kos kamu sebelumnya, atau perumahan Graha Candi Golf? Secara logika, kamu pasti mau dong tinggal di Graha Candi Golf dengan segala kenyamanan yang ditawarkan ketimbang di kontrakan tadi.


Secara naluriah, sebagai manusia kamu pasti ingin merasa comfort alias nyaman. Lalu tentang gembar-gembor "keluar dari comfort zone", ada cara berpikir yang perlu diluruskan. Yang saya tangkap sih, selama ini orang-orang mengajak keluar dari Comfort Zone karena alasan takut terbelenggu dan lupa untuk bergerak maju. Artinya, solusi terbaik adalah mengombinasikan kemajuan dan Comfort Zone. Gimana caranya? Yaitu kamu harus tetap bertahan di area yang nyaman sambil mengembangkan area nyaman tersebut seluas-luasnya. Bukan menyakiti diri padahal sebenernya kenyamanan udah diraih.


Singkatnya, Comfort Zone kudu diperluas, bukan untuk ditinggalkan. Kalau bisa nyaman, kenapa memilih yang nggak nyaman? Comfort Zone bisa berwujud fisik, bisa juga bersifat psikis. Hidup ini untuk disyukuri dengan menikmati apa yang kita miliki sembari terus mengembangkan nikmat tersebut. :)