Selasa, 09 Agustus 2016

Sudah Saatnya 100% Melihat ke Depan



Baru bisa menulis lagi, dan kali ini saya pengen langsung to the point aja mengenai apa-apa yang pengen saya tulis — mengenai pemikiran-pemikiran yang selama ini ada di kepala, mengenai emosi-emosi yang selama ini tertahan tanpa bisa terlepaskan dengan baik, dan mengenai apapun yang terlintas di benak saya selama ini.


Saya sedikit bingung gimana memulainya, tapi pernah saya alami sebuah momen dimana perasaan yang tertahan selama bertahun-tahun lamanya sempat membuat saya senewen setengah mati hidup dan saya juga nggak tahu kenapa hal ini bisa terjadi.


Suatu ketika, waktu saya sedang blogging seperti ini, nggak sengaja saya lihat sebuah postingan dari dia — mantan kekasih yang (dulunya) tercinta — yang menceritakan mengenai momen ulang tahunnya yang ke-21 tahun (and happy birthday to you, best wishes as always). Rasa penasaran yang tak terelakkan pun membuat saya mencoba untuk membuka link postingan miliknya. Saya baca paragraf demi paragraf (yang isinya udah bisa ditebak: mengenai kalimat-kalimat impresi seseorang yang sedang jatuh cinta, permohonan maaf, serta beberapa makna kebahagiaan yang tersurat secara jelas), dan beberapa saat lamanya saya terpaku pada sebuah foto yang udah diedit sedemikian rupa. Baru kali ini saya ngerasain amarah sekaligus perasaan lega yang membuat saya bingung harus ngerasain yang mana — karena kalau diibaratkan — kedua perasaan tersebut bakal seimbang seandainya ditimbang di sebuah neraca.


Pertanyaannya: kenapa?


Jawabannya simpel banget, karena untuk pertama kalinya pula saya melihat dengan jelas rupa wajah dari pacarnya yang baru itu, seorang cowok yang telah berhasil merebut dirinya dari saya sekitar dua tahun yang lalu.


Saya ngerasa... marah, karena saya pikir dia udah menyembunyikan pacarnya dari saya selama dua tahun lamanya supaya saya nggak bisa membuat perhitungan ke cowoknya ini. Seandainya aja saya tahu gimana muka-muka pacarnya dan siapa nama lengkapnya sejak awal kita berpisah jalan, kedua hal tersebut udah cukup banget buat saya untuk melacak identitas cowok yang dengan berani-beraninya mencuri (dulunya) tulang rusuk saya. Gimana coba kalau tulang rusuk diambil paksa dari kamu? Nggak usah dibilangpun, pastilah sakit banget rasanya.


Selama dua tahun saya hidup diselimuti oleh rasa sakitnya penasaran, dan kebenarannya aja terungkap baru-baru ini. Saya udah tahu siapa cowok itu baru-baru aja, tapi apa pantes buat saya melakukan perhitungan sama dia SEKARANG JUGA? Tentu aja nggak, udah terlalu terlambat untuk berhasrat meninju muka tuh cowok sampai babak belur, dan udah terlalu lama buat saya untuk menunggu gimana puasnya kalau saya bisa menghajarnya mati-matian. Nggak ada alasan buat saya merebut dirinya kembali karena terhalang oleh waktu. Dua tahun itu terlalu lama, maka dari itu saya hanya bisa marah.


Sekarang saya lagi disibukkan oleh kegiatan PPL dan homestay di rumah saudara yang setiap hari bekerja mulai pukul 10:00 pagi dan pulang pukul 19:00 malam. Nggak ada seseorang untuk diajak bercerita maupun berkeluh kesah, walaupun saya toh udah terbiasa sendiri, tapi perasaan marah ini jelas nggak tertahankan. Kalau aja ini rumah saya, segala hal udah pasti saya lakukan untuk melampiaskan apa aja agar setidaknya saya bisa ngerasa lega, bisa tenang, dan bisa berpikir jernih kembali. Tapi ini toh rumah orang, nggak ada yang bisa saya lakukan kecuali terdiam seraya mendengarkan lagu sendu yang malah bisa memperparah keadaan.


Saya mencoba berkeluh kesah ke salah satu teman yang dulu pernah dicemburuinya, dan... saya malu mengakuinya, saya bisa lega karena hal itu. Detik demi detik, menit demi menit, saya toh akhirnya bisa tertidur juga. Terbangun, dan perasaan marah semalam perlahan memudar menjadi perasaan lega dan bebas yang luar biasa. Saya juga nggak tahu kenapa, saya justru berharap laki-laki tersebut merupakan yang terbaik dan tentu aja yang terakhir baginya. Udah cukup buat kita berdua untuk merasa sakit setelah sekian lamanya, dia dengan seseorang yang dicintainya, dan saya dengan kesendirian yang menenangkan, walaupun dengan keterlambatan yang bisa dibilang sangat lama akibat kebodohan saya sendiri untuk terus mengingat dirinya.




Udah jelas sekarang, saya bakal hapus seluruh kenangan tentang dirinya yang sampai saat ini masih saya simpan dengan baik dengan tujuan untuk mengingatnya. Dia yang sekarang bukanlah dia yang dulu, dan kenaifan ini harus benar-benar saya hilangin mulai dari sekarang. Nggak ada orang yang mau kembali dengan seseorang yang menyakitinya di masa lalu, baik dia, ataupun saya sendiri. Hidup ini nggak seindah film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang berakhir happy ending.

Buat kamu, cowok yang sekarang dicintainya dengan sepenuh hati, tolong jangan sia-siakan dia seperti saya menyia-nyiakan dirinya di waktu silam. Tutupi kekurangannya, dan jadikan kelebihannya sebagai sesuatu yang bisa kamu banggakan. She is 100% yours from now on, and I'm 100% move on until I find the one who can replace her completely. Thank you to be my replacement for her.




The boy who hugs the solitude.


Dan sekarang, untuk sementara yang bisa saya lakukan sekarang ya cuma menghindari keterikatan dengan orang lain biar saya nggak ngerasa sakit kalau nanti-nanti bakalan ditinggalin lagi suatu saat. Hidup ini akan selalu indah, entah ada atau nggaknya seseorang yang ada di samping saya untuk menemani di hari-hari yang makin lama makin nggak menentu ini. Kuncinya adalah percaya pada diri sendiri dan selalu bersyukur dengan apa yang kita punya saat ini. Saya juga percaya, di suatu hari nanti pula, seseorang yang tepat itu akan datang secara indahnya, seperti saat saya bertemu dengannya untuk pertama kali.