Saya nggak tahu harus bilang apa di awal-awal post begini. Saya cuma mau menyampaikan apa yang saya pikirin saat ini. Dari pagi hari saat saya bangun, sholat subuh, mandi, sampai akhirnya berangkat kuliah, lalu saya di kampus, terus pulang. Lalu saat saya main, entah ke pantai, entah ke tempat-tempat hijau, entah kemana pun saya pergi...
Selalu ada dia di dalam ingatan saya...
Kalian tahu nggak gimana rasanya kalo tempat keseharian kalian yang dulunya biasa aja, sekarang jadi penuh memori menyakitkan? Karena saya sering banget ngajak dia kemanapun saya pergi, dari rumah saya, tempat wisata, warung makan kecil-kecilan, kantor saya, sampai kampus saya sendiri, jadinya semua tempat yang saya singgahi untuk kehidupan saya sehari-hari penuh dengan ingatan tentang dia juga. Gimana nggak menyakitkan? Lha wong itu lingkungan saya sendiri, itu habitat saya sendiri, tapi kok ada aja ingatan yang menyakitkan padahal saya udah lama tinggal dan beraktivitas di tempat itu.
Saya sampai nggak habis pikir gimana caranya bisa lupa sama dia. Setiap tempat yang saya kunjungi dan lewati, pasti ada aja memori mengenai saya sama dia saat ke tempat itu, dan hal itu menyakitkan mengingat dia sekarang udah ada orang lain di sisinya. Sedangkan saya?
Saya mau cerita satu hal yang barusan saya alami di kampus sore tadi.
Siang sekitar jam 2 tadi tumben-tumbennya turun hujan. Deres, tapi untungnya nggak ada petir yang menyambar. Kebetulan waktu itu saya lagi ngerjain tugas di gazebo deket gedung prodi kuliah, dan setelah selesai saya kumpulin di ruang dosen. Keluar dari ruang dosen, saya lihat hujan udah lumayan reda. Entah kenapa, tiba-tiba saya flashback, mengingat dia yang dulu pernah saya ajak ke kampus saya hanya untuk nemenin saya lapor sama dosen, lalu kita seneng-seneng di taman area kampus. Saya masih inget banget rok panjangnya yang berwarna cokelat, bikin dia makin anggun kalo jalan...
Saya membayangkan saat-saat ini...
Flashback lagi sebelum waktu itu, saya pernah ajak dia ke kampus karena dia ngajak latihan naik motor, dan saya sempet ngasih dia jersey away Manchester United. Flashback terus berjalan sampai dia bukan jadi milik saya lagi, udah 2x saya ajak ke kampus dengan status mantan melekat pada dirinya...
Apa kalian bisa ngerasain betapa menyedihkannya hal itu?
Kampus, tempat saya nongkrong, belajar, menggila, dan suka utang ke ibu kantin, sekarang jadi salah satu tempat paling menyakitkan buat saya. Kemanapun saya melangkah, entah ke tempat parkir, area fakultas saya, atau taman kampus, semuanya dipenuhi oleh dirinya. Padahal, tiap 5 hari dalam seminggu saya harus pergi kesana. Gimana bisa saya lupa sama dia? Bener-bener menyakitkan.
Setelah saya flashback, entah kenapa saya punya keinginan untuk jalan-jalan mengarungi hujan yang udah nggak begitu derasnya. Saya nggak sembarangan jalan. Saya inget-inget sekali lagi gimana dia jalan bareng saya saat itu, saya inget-inget rutenya, dan saya kembali menapaki saat-saat dimana kita berjalan dan akhirnya berhenti di suatu tempat di area kampus. Dan akhirnya, saya berhenti di taman deket perpustakaan pusat, dimana kita biasa duduk-duduk sambil ngobrol dengan santainya disana.
Saya rela hujan-hujanan dan berdiri di deket bangku dimana kita biasa duduk disitu. Saya inget kembali memori-memori kita yang dulu pernah terjadi dengan manisnya, namun sekarang begitu menyakitkan. Hampir setengah jam lamanya saya berdiri di depan pohon yang dikelilingi oleh bangku dari semen dimana kita biasa duduk dan cari WiFi buat internetan. Semakin saya terhanyut oleh memori-memori yang dulu pernah terjadi, semakin saya merasakan sesak yang begitu luar biasa. Semuanya bagaikan proyektor di kepala saya, terekam dan terlihat dengan begitu jelasnya apa aja yang pernah kita lakuin disana. Dan semakin berjalannya waktu, air mata saya mulai menetes lagi, dan lagi...
Saya puas terisak di tempat itu, selain karena hujan bisa menyembunyikan air mata yang jatuh keluar, di tempat itu juga sepi banget, nggak ada orang lewat sama sekali. Saya berandai-andai apa emang Tuhan membiarkan saya menangis lepas disana? Jika emang benar demikian, Tuhan pastilah tahu betapa nggak relanya saya karena kekasih yang dulu pernah mengisi hidup saya sekarang udah pergi dan mungkin akan sangat susah untuk kembali. Sampai saat ini saya nggak bisa meminta untuk diberikan seseorang sebagai pengganti dirinya. Doa yang selalu terucap hanyalah bahwa saya ingin dia kembali ke kehidupan saya, entah bagaimana caranya.
Puas menangis di tempat itu, saya memutuskan untuk pulang. Orang-orang begitu herannya melihat saya basah kuyup berjalan pelan menyusuri jalan dan rela kehujanan pula. Satu orang temen pun nggak ada yang nyamperin saya, karena emang udah pulang semua atau emang nggak ada temen saya di area kampus, saya nggak tahu. Saya nggak peduli apa yang dibicarain orang-orang mengenai saya yang basah kuyup kayak orang gila, dan berjalan menuju parkiran dengan pelannya.
Di perjalanan, saya nggak begitu fokus, tapi saya sadar bahwa itu bisa membahayakan hidup saya. Saya mencoba untuk fokus, dan akhirnya di perjalanan saya berinisiatif untuk mampir ke masjid dekat rumah untuk beribadah sekaligus menenangkan pikiran. Setelah saya sampai di masjid, akhirnya saya beribadah, berdoa dengan khusyuknya hanya untuk meminta ketenangan dalam hidup, dan kemudian saya merenung...
Dari sekian banyak tempat, hanya masjidlah tempat dimana nggak ada satu pun ingatan dan memori tentang dia.
Saya inget-inget sekali lagi... Masjid, masjid, masjid... Nggak ada satupun kenangan spesial maupun kenangan konyol tentang dia di masjid. Jujur saya nggak pernah sholat berjamaah sama dia di masjid, saya juga nggak pernah tahu dia sholat di masjid, dan saya nggak pernah sekalipun tahu apa dia sering melakukan kegiatan di masjid. Jika ada kenangan mengenai dia di masjid, itu pun cuma masjid dekat rumah dia yang biasa jadi tempat saya jemput dan nganter dia saat kita mau pergi main, malam mingguan, atau hanya sekedar ketemu untuk makan. Jadi, selama saya nggak pergi ke masjid deket rumahnya, saya pikir nggak apa-apa... Walaupun masjid deket rumah dia merupakan salah satu masjid favorit saya untuk beribadah, tapi tetap aja kenangan menyakitkan mengenai dirinya selalu ada.
Dari sini saya mulai menyadari bahwa Tuhan mungkin menginginkan saya untuk banyak menghabiskan waktu di masjid. Entah supaya saya bisa lupa sama dia, entah supaya saya bisa makin khusyuk beribadah, atau entah ada tujuan lainnya, saya percaya tujuan itu pasti baik hasilnya. Cuma itu yang bisa saya tarik kesimpulan dari permasalahan saya saat ini. Walaupun saya aslinya pengen banget masalah yang satu ini segera selesai, tapi untuk saat ini saya masih diuji oleh Tuhan. Saya nggak akan menyerah, dan akan tetap terus berdoa dan memohon agar semuanya kembali ke sedia kala. Saya capek, dan muak juga hidup di bawah bayang-bayang seseorang yang nggak mencintai saya lagi, tapi melupakan dia pun rasanya masih mustahil buat saya karena kejadian di atas yang barusan saya ceritakan. Saya nggak tahu lagi harus gimana dan satu-satunya cara yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa, berdoa, dan berdoa sekaligus berharap agar ini semua segera selesai...
Saya sangat berharap Tuhan akan memberikan apa yang saya mau sesuai dengan doa yang saya panjatkan tiap hari dan tiap saat... Saya pengen banget... pengen banget semuanya berjalan normal kembali, dan kehidupan saya nggak akan sesuram ini nantinya...


