Saya jalan keluar dari gedung perkuliahan, dan menuju taman deket perpustakaan pusat untuk ke sekian kalinya. Bukannya saya nggak ada kerjaan atau apa, tapi saya pengen mengenang lagi memori-memori yang masih mengendap disana. Setahu saya, jika ingin melupakan seseorang, baiknya jangan dipaksakan. Saya pengen terhanyut kembali ke masa-masa manis bersama seorang cewek bernama Giovanni Cahya Pratiwi yang terjadi di kampus ini.
Sambil jalan, saya masang earphone dan mulai dengerin lagu galau secara acak. Saya jalan di area kampus yang udah kayak hutan begini. Masih sepi, kalo hujan malah makin sepi. Dan akhirnya saya duduk lagi di bangku terakhir kita bersua.
Lihat bangku kosong di atas? Dulunya nggak kosong dan selalu ada yang mendampingi dimanapun saya berada. Di saat seperti ini saya membayangkan bahwa dia masih ada buat saya, masih ada di samping saya, masih duduk di sebelah saya dengan ketawanya yang lebar dan bikin saya gemes...
Sakit rasanya...
Saya memandangi sekitar dan karena nggak ada orang, saya terisak lagi akhirnya, walaupun nggak se-ekstrim kemarin. Saya jujur aja nggak kuat kalo disuruh menahan perasaan sedih lama-lama. Menangis memang bukan solusinya, tapi alangkah baiknya kamu nangis kan kalo lagi galau? Supaya pikiran nggak sumpek dan mood jadi lebih ringan dan mulai membaik. Bukannya cengeng, tapi saya pernah mendengar perkataan serupa dari banyak orang, dan itu terbukti.
Oke saya mungkin sedikit lebay dengan melakukan hal seperti ini di kampus, tapi perasaan nggak bisa dibohongi kan? Kamu mau menyembunyikannya serapat dan sedalam apapun, perasaan nggak akan bisa ditahan. Harus bisa kamu keluarkan secepat kamu bisa. Ibarat orang kentut, makin ditahan, perut akan makin sakit. Sama dengan orang sedih, makin ditahan, perasaan sedih makin numpuk dan akhirnya jadi sakit. Jalan keluarnya hanyalah menangis untuk meredakan sakitnya. Sama halnya juga dengan orang jatuh cinta, jika kamu punya perasaan terhadap seseorang, katakanlah. Semakin ditahan juga akan semakin sakit jadinya.
Saya bertanya-tanya apa yang sedang dia lakukan sekarang. Kuliah, nugas, main sama temen-temennya, pacaran sama cowok lainnya, tanpa saya pastinya. Dan sering juga saya bertanya-tanya apa yang dia rasakan setelah nggak adanya saya di kehidupannya. Senangkah? Bahagiakah? Atau justru sedihkah? Saya nggak tahu... Yang jelas, mungkin berbeda dengan apa yang saya rasakan sekarang.
Bisa dibilang saya sedang dalam masa penantian sekarang. Bukan penantian kayak waktu dipingit, bukan... Maksud saya disini adalah saya menunggu orang yang tepat yang masuk di kehidupan saya untuk menggantikan posisi dia sebagai pasangan. Dan selama masa penantian itu pula, saya nggak akan menaruh hati pada orang lain dan tetap menyimpan rasa buat mantan saya, masih berharap dia kembali. Tapi jika memang ada orang yang bener-bener "ngeh", dan saya ngerasa "klik" sama dia, sebisa mungkin saya akan berjuang buat mendapatkan dia apapun dan bagaimanapun caranya. Tentunya orang itu juga harus lagi jomblo ya, saya nggak mau punya predikat sebagai cowok perebut pacar orang.
Saya emang begini, nggak seagresif cowok lain yang kalo putus bisa langsung cari penggantinya walaupun cuma sebagai pelarian. Sahabat saya ada yang seperti itu, dan saya nggak bisa mengikuti caranya. Saya juga nggak suka jadiin orang sebagai pelarian, karena saya paham udah sedewasa ini perasaan juga nggak boleh dibuat main-main. Saya lebih suka menunggu, dan feeling saya pasti bisa merasakan bahwa "orang ini nantinya pasti bisa saya jadikan pasangan" jika saya udah menemukan seseorang yang... pas. Contohnya aja mantan saya. Udah saya ceritain kan, dulu saya nunggu dia sampai dia putus sama pacarnya, dan akhirnya kita pacaran juga bisa dibilang lama dan udah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya pengen punya pasangan yang bisa dan mau menerima kekurangan dan menerima saya apa adanya. Mempertahankan memang lebih susah, buktinya dia nyerah begitu aja dan lebih memilih orang lain daripada saya. Nyerah memang mudah, tapi saya yakin, perjuangan dan usaha untuk mempertahankan akan berbuah manis nantinya.
Entah gimana nantinya ke depan, saya nggak begitu paham dan nggak mencoba untuk menerka-nerka dengan siapa saya nantinya. Life must go on, and let it flow freely. Ikuti arus kehidupan aja, karena saya pasrah dan percaya Tuhan akan memberikan segala yang terbaik buat saya.
Udah ya, mau pulang, apalagi WiFi udah agak lemot di area sini. Segini dulu keluh kesah yang saya utarakan, karena jika masalah saya ini belum selesai, keluh kesah saya akan tetap berlanjut juga.
Akhir kata, see you next post.







