Minggu, 30 November 2014

Sebuah Kebetulan yang Disesali



Apa kalian semua percaya adanya sebuah kebetulan? Semisal kalian berharap ingin dibelikan sesuatu oleh orangtua kalian, tapi kalian belum meminta, baru berharap. Dan besoknya, orangtua kalian membelikan sesuatu yang kalian inginkan. Pasti kalian seneng bukan main 'kan? Apa itu sebuah kebetulan? Atau memang kalian sebenarnya ditakdirkan untuk mempunyai sesuatu yang kalian inginkan?


Jujur, saya nggak percaya sebuah kebetulan itu ada.


Kebetulan itu menurut saya adalah sesuatu yang memang dikehendaki oleh Tuhan untuk umat-Nya. Sesuatu yang dikehendaki tersebut biasanya di luar nalar manusia, sehingga kita yang mengalaminya menganggapnya sebagai sebuah kebetulan, bahkan keajaiban atau mukjizat.


Kebetulan itu sendiri biasanya dikaitkan dengan keberuntungan. Ingat pepatah "Orang pintar kalah dengan orang beruntung (bejo)" Orang bejo di sini mungkin adalah mereka-mereka yang rajin beribadah dan meminta apa yang mereka inginkan kepada Tuhan, dan orang-orang pinter di sini adalah mereka-mereka yang melakukan apapun sesuai logika untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sudah jelas kan kenapa orang pinter kalah dengan orang beruntung (bejo)?


Dan disini saya akan menceritakan sebuah kebetulan yang barangkali saat ini saya sesali keberadaannya.


Singkat cerita, kemarin pagi saya dihubungi kakek saya dan ditanya mengenai kegiatan kuliah saya. Cuma percakapan biasa antara kakek dan cucu, dan saya anggap kakek saya mungkin lagi kangen sama saya karena emang beberapa hari ini saya jarang banget berkunjung.


Siangnya, saya main sama Ardan dan Aryo. Nggak kemana-mana sih, cuma main PES 2013 doang di rumah Aryo, dan sempat kehujanan saat mau beli bakso di kawasan Jangli bersama Ardan.



Bakso ojek sih sebenernya.



Di waktu hujan kita juga sempat ber-selfie, hehehe.


Sorenya, saya pulang ke rumah.


Dan betapa terkejutnya saya saat ortu saya bilang kakek membelikan saya sebuah ponsel baru. Android, ponsel yang sedang berjaya saat ini, dibelikan kakek untuk saya entah apa alasannya. Ortu saya bilang, kakek saya merasa kasihan sama saya saat ponsel BlackBerry saya rusak tempo lalu dan saya harus berusaha sendiri (walaupun dengan bantuan mantan saya saat itu) untuk membeli ponsel yang baru. Walaupun sebenarnya saya berpikir hal ini nggak perlu, tapi saya makin menghormati kakek saya karena kejadian ini. Saya nggak berani nolak pemberian kakek saya.


Kalo kalian penasaran, ini ponsel yang kakek saya belikan. Samsung Galaxy Core 2 DUOS.








Lalu, apa yang saya sesali dari kejadian kebetulan ini?


Tempo lalu, saya sedang bersama mantan saya jalan-jalan sekalian makan. Tiba-tiba dia bercerita kalo dia pengen banget dibeliin ponsel yang sama oleh ibunya, karena kedua adiknya sudah dibelikan ponsel baru. Dia mungkin merasa envy atau iri karenanya. Saya tawarkan bantuan untuk menabung bersama, seperti yang kita lakukan saat saya pengen banget beli BlackBerry baru karena yang lama memang sudah rusak, tapi dia menolak. Dia pengen sesegera mungkin mendapatkan ponsel itu, tanpa adanya usaha, dan tanpa adanya penantian. Saya pahami dia, dan tetep ngasih uluran bantuan kalau-kalau dia berubah pikiran dan butuh bantuan saya untuk merealisasikan keinginannya.


Saat itu saya masih sayang banget sama dia, dan belum menganggap bahwa kita sebenarnya sudah putus.


Saya berdoa, mengharap bahwa saya bisa buat dia bahagia dengan memberinya ponsel yang dia mau. Saya akhirnya memberanikan diri menghubungi atasan saya di kantor BPS Semarang (karena saat ini saya jadi freelance disana) untuk menanyakan adakah pekerjaan yang bisa saya ambil. Atasan saya bilang proyek selanjutnya masih tahun depan, dan memberikan saya uang saku sebesar Rp 250.000,00. Saya syukuri itu, walaupun dengan uang segitu saya belum bisa membeli ponsel Samsung yang dimau mantan saya.


Saya pernah bilang ke dia bahwa uang saya juga uang dia, dan saya kerja juga karena dia.


Uang Rp 250.000,00 akhirnya saya pakai buat nyenengin dia. Kita jalan-jalan, makan, beli baju, dan lain-lain. Saya sempet cerita mengenai masalah di atas dan dari mana saya mendapatkan uang Rp 250.000,00 tadi. Dia berkata nggak perlu saya segitunya buat dia, dan menyarankan saya bekerja untuk diri saya sendiri, bukan untuknya. Saya sedih denger perkataan begitu karena artinya dia udah nggak mengharap saya lagi. Buat saya, kebahagiaan dia merupakan hal terpenting nomor satu yang harus saya perjuangkan.


Sebentar, saya capek ngetik. Saya minum-minum kopi sebentar.


Oke kita lanjutin lagi.


Singkat cerita, setelah kejadian itu, saya berusaha menghubungi dia apakah dia baik-baik aja setelah sampai di rumah. Tapi, tanpa rasa bersalah, dia menghubungi cowok lain melalui telepon, sampai tengah malam. Saya tunggu dia, dan akhirnya saya mencoba menelepon dia balik, tapi nggak diangkat. Saya bergegas sholat malam, dan berdoa apakah ada hal yang bisa saya lakukan untuk membuat mantan saya kembali.


Beberapa hari setelahnya, saya sms dia, saya BBM dia, sampai pada akhirnya saya mengutarakan kekesalan saya pada dia karena dia bener-bener berubah 100% terhadap saya, dan saya berasa dikasihanin dan dimanfaatin selama ini olehnya. Kenapa? Saya berkorban demi dia, agar dia selalu senang saat di samping saya, tapi dia menghubungi cowok lain dan selalu bilang kangen pada cowok itu. Saya bener-bener kesel karena ngga dianggap seperti itu.


Setelah saya meluapkan kekesalan padanya, dia marah, dan menghapus kontak BBM saya. Saya jadi salah tingkah, dan berusaha menjelaskan apa maksud perkataan saya yang sebenarnya melalui sms, dan sungguh-sungguh minta maaf karena udah menyakiti hatinya. Sampai berhari-hari saya kirimin sms dan DM Twitter yang isinya permintaan maaf. Dan akhirnya dengan berat hati saya berkata:

"Tolong jangan putusin tali silaturahmi kita selama 3 hari lamanya, karena aku nggak mau ibadah kita nggak diterima Allah nantinya. Aku rela ninggalin kamu dan nggak akan ganggu kehidupanmu lagi nantinya."

Setelah saya bilang begitu, dia menjawab, akhirnya. Dia bilang nggak peduli sama tali silaturahmi, dan melarang niat baik saya untuk meminta maaf ke keluarganya karena saya sadar punya banyak kesalahan dan saya memang nggak sempurna. Bahkan saya diibaratkan anjing yang terus menggonggong karena saya emang rewel pengen banget dimaafkan. Dia juga sempat menganggap saya sebagai parasit. Saya nggak marah, tapi saya prihatin atas sikapnya ke saya yang berubah menjadi lebih antagonis dan agak bikin saya takut.


Kurang sabar apa saya sebenarnya?


Setelah itu saya berterima kasih ke dia karena udah dihina sedemikian rupa, dan saya bertekad akan menjauh darinya untuk saat ini. Tapi, di saat dia butuh bantuan saya, saya selalu siap menolongnya dari belakang. Dia emang udah pergi, tapi saya yakin perasaan kita nggak akan pernah mati. Di saat dia udah ada pengganti saya, saya masih sendirian nunggu apa yang akan terjadi sama saya nantinya dan berharap dia selalu bahagia sama yang lain, itulah cinta, itulah pengorbanan.


Dan saat ini, saya justru malah dapet ponsel yang dia idam-idamkan. Seandainya dia masih sama saya, atau seandainya dia nggak berhubungan dengan cowok lain selain saya, 100% saya ikhlas ngasih ponsel ini ke dia secara cuma-cuma, dan saya serius. Saya bisa aja ngasihin ponsel ini ke dia sekarang juga, tapi saya juga ragu. Ngasih ponsel yang dia idam-idamkan nggak menjamin dia bakalan mau kembali ke saya, dan lagi-lagi, usaha saya akan sia-sia akhirnya. Pengorbanan saya akan sia-sia juga nantinya...


Saya nggak tahu harus saya apakan ponsel pemberian kakek saya ini. Untuk saat ini mungkin bakalan saya simpen. Walaupun mungkin akhirnya nanti dia kembali ke saya, saya nggak yakin dia belum punya ponsel baru, pasti udah punya. Intinya disini adalah, saya menyesal dia pergi di saat saya udah bisa dan udah mau membahagiakan dia.


Yah... Sekian unek-unek saya untuk saat ini, mungkin untuk ke depannya label Heart to Heart akan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan label yang lain. Akhir kata, terima kasih udah membaca.