Halo sobat Blogger semua, apa kabar? Semoga semua baik-baik aja tanpa ada kekurangan suatu apapun ya.
Apa kalian menyadari bahwa kalimat yang saya miringin merupakan kalimat yang mengandung pengertian perfeksionis? Ya, tanpa ada kekurangan suatu apapun berarti kita berharap sesuatu dengan sempurna.
Bagi seorang perfeksionis, segala kekurangan nggak bisa dimaafkan. Mereka hanya ingin segala sesuatu yang mereka dapet itu sempurna. Setidaknya, sempurna bagi individual atau sempurna bagi masing-masing orang, karena aspek kesempurnaan di kalangan perfeksionis berbeda-beda.
Contohnya, si A bilang kalo pekerjaannya sempurna, lain lagi dengan si B. Si B mengira pekerjaan si A belum begitu sempurna. Begitu pula sebaliknya.
Jadi, bisa dibilang kesempurnaan merupakan aspek yang relatif di kalangan individu. Tapi jangan lupakan bahwa semua kesempurnaan hanya milik Tuhan, dan itu merupakan aspek yang mutlak.
Sejujurnya saya juga merupakan seseorang yang perfeksionis. Saya punya golongan darah A dan berzodiak Virgo yang kebanyakan orang bilang jika keduanya dimiliki seseorang, dia punya ciri sebagai orang yang perfeksionis. Saya pengen segala sesuatu harus berjalan sesuai keinginan saya. Awalnya, menjadi seorang perfeksionis sangat susah saya jalani, apalagi saya bawaan lahir emang udah begini. Saya nggak pernah bisa tenang jika apa yang saya kerjakan, apa yang saya mau, tidak sesempurna apa yang saya bayangkan. Begitu pula dengan hal percintaan, dan juga mengenai perempuan.
Dalam percintaan, tujuan perfeksionis saya yang paling utama adalah pacaran harus lebih dari satu tahun! Itu keharusan, karena saya nggak suka dengan hubungan dalam jangka pendek. Saya nggak habis pikir dengan pasangan-pasangan sejoli yang cuma bisa bertahan nggak lebih dari 3 bulan. Apanya yang disebut cinta? Dalam jangka waktu 3 bulan, kita belum tahu kekurangan dan kelebihan dari pasangan kita. Bahkan satu tahun pun adalah waktu yang minimum buat kita. Buat saya, cinta yang sebenarnya adalah di saat kita bisa menerima kekurangan pasangan dan mensyukuri kelebihan pasangan kita. Maka dari itu, saya pasti pilih-pilih pasangan dalam jangka waktu yang lama, karena saya pengen cari pasangan yang bener-bener sempurna buat saya.
Saya cari perempuan nggak semua urusan fisik, walaupun saya juga nggak munafik karena kecantikan adalah hal utama dalam saya mencari seorang perempuan untuk dijadikan pasangan saya. Dalam hal perfeksionis ini, selain kecantikan, ada hal-hal lain yang bikin saya susah buat dapetin cewek sesuai dengan kriteria saya. Saya pengen punya cewek yang sempurna buat hidup saya, bukan sempurna buat saya, bukan pula sempurna di mata kebanyakan orang. Karena, sempurna buat saya bukan berarti sempurna buat orang lain. Kriteria awal dari fisik, adalah saya pengen punya cewek yang berkulit putih, berambut panjang, dan nggak terlalu tinggi. Itu sempurna buat saya. Tapi, nggak cuma urusan fisik, saya pengen punya cewek yang bisa jaga saya, yang bisa saya anggap sebagai figur ibu kedua atau kakak saya.
Bukan berarti saya nganggap pasangan saya sebagai pengganti ibu, bukan.
Saya cuma pengen punya pasangan yang bisa mengayomi saya, yang bisa jadi tempat sampah saat saya mau curhat, yang bisa ngurus saya, yang bisa jadi sosok terpenting dalam hidup, serta bisa jadi sosok yang bisa saya lindungi dan sayangi. Saya pengen juga dia bisa mengimbangi hidup saya, dan nggak pengen dia nggak bisa saya imbangi hidupnya, yah walaupun saya pasti akan berusaha buat mengimbangi hidupnya. Dan yang terpenting, saya pengen pasangan saya mau saya perjuangin dan berjuang bersama-sama, bukan cuma mau diperjuangkan aja. Dan arti figur ibu kedua selain hal itu adalah saya pasti mengabdikan hidup saya pada pasangan saya selayaknya seorang Ratu. Saya nggak bohong, karena ada seseorang yang udah pernah mengalami itu semua bersama saya.
Kriteria saya banyak ya? Dan tahu nggak? Saya udah ketemu sama sosok seperti itu, tapi sayangnya dia udah nggak mau berjuang lagi bersama saya. Saya nggak akan membahas mengenai hal itu sekarang, karena saya sekarang lagi fokus membicarakan masalah psikologis saya yang bernama perfeksionis ini.
Setelah dia ninggalin saya, saya nggak tahu harus gimana lagi buat menjalani hidup. Bayangkan, seseorang yang sempurna buat kamu pergi dari hidupmu, apa yang kamu lakukan sebagai perfeksionis? Tujuan hidupmu yang sempurna itu bakalan rusak kan? Dan mau nggak mau kamu harus membuat tujuan hidup baru yang nggak sesempurna tujuan hidupmu yang dulu.
Saya udah ketemu, bahkan memiliki seseorang yang sempurna buat saya. Di angan-angan saya, dia bakalan jadi seorang ibu bagi anak-anak saya kelak, dan dengan cara apapun juga, entah cara yang baik atau buruk, saya berjuang mempertahankan dia. Saya terlalu idealis saat itu, dan dengan sifat perfeksionis saya, saya yakin pasti akan terwujud karena selama ini kita udah berhubungan dengan jangka waktu yang nggak sebentar, yaitu 4 tahun. Rasa sakit dan susah, rasa senang dan bahagia, semua udah kita cicipi, dan saya percaya dia bakalan mau bertahan sama saya sampai akhir hidup kita masing-masing.
Namun itu cuma isapan jempol buat saya sekarang ini.
Bukannya saya egois mempertahankan dia yang bahkan nggak kuat menjalani hubungan dengan saya, tapi saya teramat sayang sama dia, saya nggak mau lepas dari dia. Bisa dibilang, cinta dan sayang yang saya berikan ke dia udah 100% sempurna, dan saya berpikir kesabaran saya bisa mempengaruhinya agar dia juga bisa sabar buat saya. Tapi nyatanya nggak demikian. Rasa percaya yang berlebihan akhirnya mengecewakan saya. Dengan perginya dia, dan hanya perfeksionis yang tersisa di hati saya, saya nggak bisa menemukan perempuan yang seperti dia di hidup saya. Karena dia, is awesomely perfect for me.
Parahnya, sisi psikologis saya sampai agak terganggu karena hal itu.
Di kampus, kata temen saya, saya agak terkenal di kalangan cewek-cewek di jurusan saya kuliah. Saya juga bingung, apa yang menarik dari diri saya sebenernya? Dan dengan rasa penasaran, baru tadi saya akhirnya memberanikan diri tanya ke temen saya siapa-siapa aja yang gosipnya naksir sama saya, dan dia tunjukkin beberapa dari mereka secara diam-diam. Jujur, ada yang cantik, ada yang fisiknya sesuai sama kriteria saya, tapi parahnya...
Saya sama sekali nggak tertarik dengan mereka.
Saya pikir ini masalah biasa, dan acuh sama masalah ini. Tapi, saya mulai parno. Saya inget-inget lagi semenjak saya pacaran sama mantan saya, saya nggak naksir ataupun tertarik dengan cewek lain. Bahkan caranya pedekate pun saya lupa! Dan hal itu jadi masalah besar buat saya kalo saya putus. Karena sejak awal saya percaya mantan saya bakal mau bertahan sama saya sampai kapanpun, dan asumsi saya salah. Saya kena batunya. Sampai sekarang saya belum naksir atau suka sama cewek lain selain mantan saya. 100% saya masih cinta sama mantan saya, dan saya nggak tahu harus gimana lagi. Bayangin aja, kamu cinta sama orang tapi dia nggak cinta sama kamu padahal dulunya kalian pernah bersama. Kalo kata Cita Citata sih, sakitnya tuh disini.
Dan anehnya sampai saat ini saya masih menganggap dia sebagai pacar saya (sebenernya sih udah kayak tunangan).
Entah kenapa, se-perfeksionis itukah diri saya sampai saya sangat berat untuk melepaskan seseorang yang sempurna buat saya? Apalagi saya punya firasat bahwa kepribadian ini bisa berdampak kegilaan dari sisi psikologis saya saat ini, yaitu nggak bisa menerima kenyataan. Sampai saat ini saya kencengin berdoa dan beribadah, karena saya takut banget jadi gila. Kalo saya dateng ke psikiater, saya takut dianggap nggak waras sama keluarga dan temen-temen saya, apalagi saya juga orangnya introvert. Saya berharap banget dia mau kembali di kehidupan saya, karena dia seolah bagian dari hidup saya. Kalo dipisahin, saya nggak bakal bisa apa-apa. Doain aja saya nggak bakalan kenapa-kenapa ya. Jadi perfeksionis itu susah, dan bagaimanapun juga, itu merupakan sifat bawaan lahir yang sangat sulit buat dihilangkan.
Yah, mungkin segini aja unek-unek dari saya yang perlu saya kurangin. Buat semua yang baca, saya minta doanya agar masalah saya sesegera mungkin bisa cepat selesai. Aamiin.
Akhir kata, thanks for reading.

