Jumat, 15 Maret 2019

Understanding Nowadays: Easy to Say, but Hard to Do



Kamu tahu kenapa saya selalu mencari seseorang yang bisa mengerti? Atau kenapa saya lebih mementingkan konsep understanding atau kesepahaman dalam membangun sebuah hubungan?
Saya  jujur aja ya  pernah menjalani hubungan dengan beberapa cewek, sering hangout juga sama temen-temen yang kebanyakan cewek, sampai-sampai seorang sahabat saya nyeletuk, "Kamu tiap main kok selalu jalan bareng cewek yang beda-beda gitu sih? Nggak risih?"


Jujur aja saya awalnya risih, risih kalau dikatain orang yang enggak-enggak. Di samping akibat teman-teman cowok saya mulai sibuk dengan dunianya sendiri (jaim juga barangkali kalau mau kasih kabar ke temen-temen cowok yang lain), ada beberapa orang teman yang jujur aja udah berubah, nggak asyik kayak dulu lagi. Entah karena faktor kerjaan, lingkungan baru, jabatan, atau memang proses pendewasaan mereka yang udah nggak sejalan lagi sama saya.


Saya mah santai-santai aja karena memang di usia segini, kita akan mengalami proses pendewasaan dan peningkatan frekuensi diri. Maka dari itu, orang-orang yang udah nggak se-frekuensi dengan kita, pasti lambat laun akan mulai mencari teman-teman lain yang satu frekuensi dengan mereka. I totally ain't bothered by it, because I too have met people who are in one frequency as I am. Salah satu tandanya adalah mulai lebih banyaknya teman-teman cewek dan berubahnya saya menjadi seseorang yang lebih open minded atau terbuka berkat hadirnya orang-orang yang satu frekuensi dengan saya. Terbuka di sini dalam artian: saya menjadi lebih perasa dan lebih memahami sesama.


"Let me analyze and understand you."


Kembali lagi ke topik awal. Dari situlah saya mulai menganalisa, mempelajari bagaimana cara memahami sifat orang-orang dan bagaimana memperlakukan mereka dengan baik  terutama cewek  karena di samping teman-teman saya sekarang ini kebanyakan kaum perempuan, saya juga ingin mendapatkan pasangan hidup yang bisa mengerti saya apa adanya, yaitu dengan cara mengenali teman-teman saya satu per satu. Itu salah satu alasan kenapa saya lebih sering hangout bareng temen-temen cewek; untuk memahami mereka, apakah ada salah satu dari mereka yang bisa jadi pasangan hidup saya yang understanding dan understandable? Itu juga akibat saya pernah:

  • Menjalani hubungan dengan seorang cewek yang menilai saya hanya dari penampilan. I'm not saying that I'm good looking either.
  • Menjalani hubungan dengan seorang cewek yang menilai saya hanya dari bakat dan kecerdasan. You know, my IQ is high enough to be a multilinguist and a detective, my EQ is high enough to be an empath and an artist, and my SQ is totally high to be an old soul and a parapsychologist.
  • Menjalani hubungan dengan seorang cewek yang mau dekat dengan saya karena popularitas semu, apalagi pada masa-masa sekolah.
  • Menjalani hubungan dengan seorang cewek yang hanya ingin dimengerti namun nggak mau mengerti. Oh ya, by the way saya berbakat sekali dalam mendengarkan keluh kesah orang-orang.
  • Menjalani hubungan dengan seorang cewek yang sangat mementingkan materialisme dan finansial, yang bagi saya adalah sebuah kedangkalan dalam sisi psikologis.
  • Menjalani trauma patah hati dengan seorang cewek yang sebetulnya sepemahaman namun gagal dengan adanya orang ketiga akibat campur tangan orangtua.


Dari situ saya jadi sangat menginginkan adanya seseorang yang bisa klop sama saya, dalam artian dia bisa menerima bagaimana diri saya apa adanya dan mau berusaha mengerti bagaimana cara memperlakukan saya dengan semestinya. Cukup, dari situ juga saya pasti akan memberikan feedback yang sama karena memang itulah yang sedari awal saya inginkan. Nggak perlu muluk-muluk harus cantik, harus tajir, harus ngehits. Apaan coba? Semua itu juga akan memudar seiring bertambahnya usia, dan faktor-faktor seperti itu nggak akan bisa selamanya stabil, apalagi kalau udah ada di dalam hubungan yang serius layaknya pernikahan. Tapi dengan memiliki seorang pasangan yang sepemahaman, kita akan bisa menjadi diri kita sendiri tanpa harus berulang kali menjelaskan ke pasangan bahwa kita ini begini atau begitu, dan kita pun nggak perlu memaksakan diri untuk bisa nyambung ke mereka atau sebaliknya, mereka nggak perlu susah-susah untuk mengubah diri agar bisa nyambung dengan kita.


Tapi pertanyaannya adalah: kenapa bisa sesusah ini menunggu dan mencari seseorang yang understanding?


Give and take.


Ada yang pernah bilang, seseorang yang menginginkan adanya pasangan yang sepemahaman berarti mempunyai frekuensi tinggi yang mengalahkan segala egonya, menginginkan adanya seseorang yang mempunyai frekuensi yang sama tinggi dengan dirinya. Ego disini berarti faktor dalam hal penampilan, finansial, nafsu, latar belakang kehidupan, maupun hal-hal duniawi lainnya yang memiliki sebuah kedangkalan dalam sisi humanisme. Kesepemahaman adalah identiknya dua orang dalam segi kepribadian dan pola pikir, yang bisa diartikan lagi sebagai satu frekuensi yang sama. Bagi orang-orang yang memiliki frekuensi rata-rata yang masih dikuasai ego, tentu normal dengan mudahnya mendapatkan pasangan dengan frekuensi yang serupa, namun dengan catatan: minimnya kesepemahaman di antara mereka. Namun belakangan ini, ego sudah bisa menggantikan kesepemahaman tersebut dengan memberikan kenyamanan semu, memudarkan makna kesakralan dari pernikahan itu sendiri, membuat mereka lupa: "Untuk apa sih orang itu menjalani pernikahan?" Dengan dasar apa pernikahan itu dilakukan? Kebelet nafsu? Calon pasangan kaya raya? Atau apa? Kamu itu dasarnya menikah karena seumur hidup nanti akan menjalani kehidupan dengan seseorang yang satu rumah dengan kamu. Kalau dalam satu rumah nggak ada kesepemahaman, mau kamu ribut terus dengan seseorang yang hidup di bawah satu atap dengan dirimu akibat sering cekcok atau salah paham?


Lagipula, kalau gitu makna cinta sendiri itu apa bagimu?


Waiting.

Oh ya, saya nggak keberatan menunggu seseorang yang bisa sepaham dengan saya, yang penting nantinya saya nggak akan menikahi seseorang dengan risiko mengambil 'kucing dalam karung.' Jalani sebuah pernikahan karena adanya konsep kesepemahaman, bukan karena menuruti ego, finansial, maupun hawa nafsu belaka yang sekarang ini malah jor-joran di-'kampanyekan' bahkan oleh salah seorang (maaf) uztad atau kyai (masa bodohlah, kayak beneran dia orang alim aja) yang mengatakan pernikahan itu cara untuk menjauhkan diri dari zina. I'm sorry to be sarcastic, lha otak kita itu gunanya apa? Manusia diciptakan berbeda dengan hewan karena bisa mengontrol nafsunya. Jika kita menikah karena menuruti hawa nafsu belaka, di samping kita setara dengan hewan, kita juga menganggap bahwa kaum hawa hanya sebatas objek pemuas nafsu semata. Nggak menutup kemungkinan saya juga mengatakan dari sudut pandang gender sebaliknya.


Kesimpulannya, mikir deh sekali-sekali. Jangan ngikut doktrin sesat mulu. Kita ini manusia, jangan lupa akan eksistensi diri kita sendiri sebagai apa di Bumi ini; Khalifah, bukan suatu makhluk yang setara dengan robot-fauna. Carilah seseorang yang bisa menerima, mengerti, dan mengimbangi diri kita sendiri murni karena cinta dan kasih sayang karena memang itulah kelebihan manusia. Bukan karena ego dan hawa nafsu semata. No offense, but it is my personal complain opinion.


Cukup sekian, dan terima kasih sudah membaca. :)