Senin, 13 Agustus 2018

Contradicted Minded



Sebenarnya ada banyak yang ingin saya buang kesini, terutama mengenai betapa susahnya menjadi seorang laki-laki yang baru aja ngerti bahwa dirinya berkepribadian INFJ, kepribadian yang katanya sih langka, cuma ada 1% dari semua populasi. Kenapa saya bisa bilang susah? Karena salah satu sifat alami INFJ yang selalu bermuara ke kontradiktif atau paradoks, yang bahkan udah saya alami sejak sebelum saya ngerti kalau saya ini INFJ.


Apa maksudnya kontradiktif atau paradoks?


Mungkin kamu bisa mengerti sedikit dari gambar ini di bawah:


Kami ingin dilihat dan diapresiasi, namun kami nggak suka terlalu diperhatikan. Kami ingin membuat orang-orang di sekitar merasa senang dan nyaman dengan kami, meski hal tersebut membuat kami stress dan tertekan juga. Kami ingin sendirian dan merasa bebas karenanya, tapi kami juga ingin ada yang menemani. Kami sangat bisa kok berpikir secara logis, tapi kami mau-mau aja mengesampingkan logika jika intuisi kami justru mengatakan sesuatu yang berbeda. Menjadi seorang INFJ berarti kami merasa seperti dua orang dalam satu tubuh, dan kami mau tidak mau harus sangat berusaha menyeimbangkan keduanya.


Iya, saya selalu mengalami keinginan yang bertentangan. Maksudnya seperti gambar di atas: Saya terkadang pengen banget dilihat sama orang, tapi saya nggak suka jadi pusat perhatian. Hal ini kadang saya lakukan dengan membuat beberapa story WhatsApp, misalnya, dan kemudian jika udah ada cukup orang yang melihat story saya, saya buru-buru menghapusnya agar jumlah orang yang melihat story tersebut nggak akan bertambah banyak. Saya pengen banget sendirian, tapi saya juga pengen ada yang nemenin. Hal ini biasanya saya atasi dengan mengajak cukup satu orang teman untuk menemani saya ke tempat-tempat saya biasa menyendiri, misalnya pantai, kafe, maupun bioskop. Saya bisa aja bilang nggak peduli sama orang lain, tapi diam-diam saya mencemaskan orang tersebut dan menghubunginya dalam keadaan menyesal karena justru saya malah menghubunginya. Begitulah sebuah kontradiksi terjadi, hal yang sering banget saya alami bahkan sebelum saya mendeklarasikan diri sendiri sebagai seorang INFJ, yang awalnya saya takuti karena mengira saya mengidap bipolar disorder. Kontradiktif adalah kejadian dimana seseorang merasakan dua keinginan dalam satu waktu dan biasanya bertentangan, sedangkan bipolar sendiri adalah perubahan suasana hati yang mendadak dan ekstrem, misalnya dari bahagia tiba-tiba langsung nangis sesenggukan. Puji syukur bagi Tuhan, saya nggak mengidap sindrom perubahan mood secara mendadak tersebut.


Lalu apa hubungannya antara saya dan kontradiktif yang saya alami dalam post kali ini?


Iya lagi-lagi ini menyangkut masalah percintaan karena saya emang nggak bisa jauh-jauh dari masalah tersebut akibat kepribadian INFJ juga yang selalu konstan mencari pasangan yang bisa mengerti. *ngeles*


Ceritanya... tentang masa lalu-lalu banget aja ya, dimulai ketika saya mencoba mendekati seorang cewek yang bisa dikatakan teman lama saya, bahkan sejak kami masih duduk di bangku TK. Udah saya ceritakan disitu kalau saya mendekati dia dengan cara yang nggak umum dilakukan oleh pria kebanyakan; saya mengekspresikan ketertarikan saya dengan tindakan bukannya kata-kata. Misalnya: saya gambar wajahnya sebagai inisiatif untuk kado ulang tahunnya, baik sama adiknya, kasih beberapa saran buat kakaknya yang mau bikin bisnis makeup artist, dan masih banyak lagi. Tapi sayangnya, dia seakan nggak menangkap semua maksud yang udah saya lakukan dan hal tersebut seolah mendorong saya untuk mengatakannya secara gamblang bagaimana perasaan saya terhadapnya.


Sebagai seorang INFJ, hal tersebut sangatlah sulit untuk dilakukan.


Sebagai seorang INFJ, saya udah tentu sangat peduli terhadap bagaimana perasaan orang lain. Meskipun saya sendiri juga punya opini dan emosi yang kuat, yang terpenting bagi saya tetaplah keharmonisan antar teman, keluarga, maupun orang-orang terdekat. Saya sering memastikan segala apa yang saya lakukan nggak akan membuat orang lain merasa terganggu ataupun marah. Orang mungkin bisa bilang bahwa sifat seperti itu merupakan sifat yang baik dan terkesan nggak egois, tapi kalau di masalah percintaan seperti apa yang udah saya alami ini, imbasnya nggak main-main.


Usia segini, saya udah nggak mau cari pasangan cuma untuk sekadar main-main dan bersenang-senang. Jadi kalau semisal saya punya pacar, ketemu-makan-main doang udah jadi hal yang terlalu biasa buat saya. Saya mencari seseorang untuk bisa diajak membangun bersama, yang katakanlah dimulai dari nol sampai bisa berumah tangga suatu hari nanti, dan tentu aja bisa saling pengertian. Saya lihat teman saya tadi punya potensi untuk menjadi pasangan yang bisa diajak membangun bersama.


Nah disini masalah mulai datang di saat saya mendekati teman saya ini.


Saya benar-benar bingung dan nggak tahu gimana caranya mengekspresikan perasaan saya ke dia melalui kata-kata. Saya jujur aja takut ditolak, tapi setelah saya pikir lagi ada alasan lain kenapa saya susah mengungkapkan hal tersebut. Di samping takut ditolak, saya lebih cemas kalau-kalau pengakuan perasaan saya ke dia justru malah membuat dia terganggu. Salah-salah malah nanti hal ini bisa menyebabkan hubungan pertemanan saya sama dia juga kena imbasnya. Saya nggak mau perasaan saya ke dia malah akhirnya merusak pertemanan kami, tapi saya juga pengen banget dia tahu kalau saya suka sama dia.


Oh ya, saya orangnya memang sering diliputi rasa bersalah yang berlebihan, apalagi kalau itu juga berasal dari apa yang udah saya perbuat. Akibat hal itu saya juga sering menyalahkan diri sendiri dengan berkata: "Kamu nggak seharusnya berbuat begini, bego..." Kalau dipikir lagi memang sih orang normal pasti akan menganggap kalau nembak cewek itu bukan sesuatu yang bisa dianggap salah, tapi saya takut aja. Mungkin hal ini juga karena imbas saya selalu menjaga perasaan orang lain dan butuh waktu yang lama untuk bisa lepas dari rasa bersalah yang saya alami.


Dan akibat hal itu juga, saya kadang suka overthink kalau misalnya ada cewek yang deketin saya duluan. Tanpa sadar, saya pasti memberi batas antara saya dan cewek tersebut. Hal ini saya lakukan karena saya takut kalau-kalau nantinya ada rasa sama dia dan saya nggak mau kehilangan teman meski hanya satu orang pun karena ulah sentimen saya sendiri. Penampilan udah nggak menarik minat saya terhadap lawan jenis, soalnya, melainkan dengan kedekatan yang cukup serta komunikasi yang baik dan sepemahaman. Maka dari itu saya pasti mencari calon pasangan di circle teman-teman saya sendiri, meskipun ada ketakutan tersendiri bahwa hal itu jugalah yang bisa membuat hubungan pertemanan saya jadi runyam. Berkat itu saya jadi terbiasa memendam perasaan saya sampai saya sendiri yakin apakah kalau hal ini dilanjutkan akan membawa hal baik atau buruk. Kontradiktif kan? Ya jelas...


Satu-satunya cara agar seorang laki-laki INFJ macam saya bisa dapet pasangan adalah ceweknya yang harus gerak duluan. Iya, ceweknya yang harus usaha duluan supaya saya juga yakin bahwa saya nggak akan menghancurkan hubungan pertemanan saya dengan dia hanya karena sentimen asmara. Kalau mau sedikit ekstrem, saya kadang juga berpikir kalau saya yang ditembak duluan, semuanya pasti akan menjadi lebih mudah. Ngerti kan susahnya jadi laki-laki berkepribadian INFJ? Mana ada cewek yang mau inisiatif apalagi nembak duluan, hehehe!


Pada akhirnya saya memberanikan diri untuk menembaknya meskipun nggak secara langsung, dan kontradiksi lain pun terjadi.


Sesaat setelah saya nembak dia, saya malah merasa... bersalah, sekaligus deg-degan. Saya merasa bersalah karena udah mengambil resiko untuk merusak hubungan pertemanan yang udah saya buat, dan saya merasa deg-degan karena pengen diterima juga. Sambil menunggu jawabannya, saya mulai memikirkan banyak hal dan kontradiksi lain terjadi lagi: Kalau saya diterima, apa saya pasti bisa membahagiakan dia? Secara, saya masih belum mapan dan sekarang ini berkutat pada pekerjaan dan menyelesaikan kuliah saya. TAPI, saya juga pengen punya pasangan yang bisa diajak MEMBANGUN BERSAMA dan SEKARANGLAH saat yang tepat untuk mencari pasangan dengan kriteria seperti itu. Gimana caranya menyeimbangkan dua keinginan yang bertentangannya keterlaluan seperti itu coba?


Setelah agak lama menunggu, saya pun... ditolak. Iya, saya nggak malu menceritakannya di sini karena bukan ini inti yang mau saya bahas. Menariknya, dari penolakan itu bukan kesedihan yang saya rasa, melainkan rasa bingung yang mendalam akibat kontradiksi yang lain terjadi untuk yang ke sekian kalinya.


Di satu sisi, saya merasa lega hal ini udah berakhir dan yakin bahwa dia mungkin bukanlah seseorang yang tepat untuk saya. Oh nggak, saya nggak kecewa dengan keputusan yang dia ambil karena saya juga nggak mau memaksanya untuk menyukai saya balik. Saya merasa sedikit senang karena saya toh masih bisa melanjutkan pertemanan saya sama dia dengan baik meski agak canggung di awal. TAPI di sisi lainnya, saya pengen berontak dan menunjukkan ke dia bahwa apa yang saya rasakan terhadapnya itu serius dan saya pengen dia tahu sedalam-dalamnya mengenai hal itu. Jadi ya... baru-baru ini saya mengetes dia dengan cara yang bisa dibilang agak konyol, yaitu dengan cara memposting beberapa story WhatsApp yang saya atur supaya hanya dia yang bisa melihatnya. Apa yang saya posting coba? Saya memposting chat saya sama Alya, salah satu sahabat saya, tentang cerita bohong saya ke Alya bahwa saya belum menembak dia. Dari kebohongan tersebut, saya udah tahu Alya pasti akan mengejek saya sebagai cowok pasif, tapi justru itulah tujuan saya agar si dia tahu bahwa cowok pasif seperti saya pun juga punya cara untuk mengekspresikan perasaan saya tanpa harus menggunakan kata-kata. Bisa dibilang... hal ini merupakan last effort saya untuk memastikan kesempatan saya diterima yang mungkin udah benar-benar 0% sejak awal.


Tapi sialnya, reaksi dia justru tepat seperti apa yang udah saya duga sebelumnya: si dia malah terganggu.


Merasa bersalah lagi, saya langsung memberi dia bukti screenshot kalau hanya dia yang bisa lihat story yang udah saya posting sebelumnya, dan menuliskan beberapa kesan mengenai dia di story lainnya sebelum saya memutuskan untuk benar-benar door slam dia untuk jangka waktu yang belum bisa saya perkirakan. Oh nggak kok, saya masih menganggap dia teman saya, cuman kali ini benar-benar hanya sebatas teman. Hal yang saya lakukan ini sebenarnya punya dua manfaat yang baik kok, secara udah saya pikir matang-matang sejak awal bahwa hubungan saya sama dia memang lebih baik dilanjutkan sebagai sebatas teman. Manfaat pertama, dia nggak akan merasa terganggu lagi dengan sentimen, pemikiran, dan perasaan saya. Manfaat kedua, saya bisa menjalani semuanya dengan normal kembali tanpa beban rasa bersalah yang berarti. Kontradiktif yang saya alami pun berakhir juga sampai di sini, meskipun nggak menutup kemungkinan masih ada kontradiktif-kontradiktif lainnya yang udah menunggu saya di depan sana. Menjadi seorang INFJ memang butuh perjuangan terlebih dalam menyeimbangkan sesuatu, keinginan, bahkan pikiran dan perasaan. Nggak ada keistimewaan berarti menjadi seseorang dengan kepribadian INFJ selain kamu jadi salah satu dari populasi terlangka dan bakat alamimu sebagai seseorang dengan empati yang tinggi. Selebihnya? Perjuangan untuk lebih mengerti diri sendiri aja.


Merupakan sebuah kenikmatan tersendiri bagi saya untuk bisa menuangkan apapun yang saya rasa dan apapun yang saya pikir ke dalam kata-kata seperti ini, bukannya gambar melulu. Saya rasa segini aja beban pikiran yang mau saya curahkan ke dalam blog ini, lega rasanya. Thanks for your attention as you finished to read this from the start until the very end. See you to the next post, and good night!