Senin, 30 Mei 2016

You are Just My Type




Hai, folks... Saya lagi mengikuti kegiatan pemaparan proposal KKN nih di perpustakaan pusat kampus. Antreannya buanyaaak banget, dan nomor giliran kelompok KKN saya adalah nomor 67. Padahal, seluruh kelompok KKN yang ada jumlahnya sekitar 70 kelompok. Amsyong...


Lihatlah wajah-wajah kelelahan teman-teman saya yang dengan sabar mengantre giliran sembari... tidur.





Nina bobo...


Di sela-sela nungguin antrean pemaparan proposal KKN gini, nggak ada yang bisa saya lakukan selain buka laptop dan blogging seadanya untuk mengusir rasa bosan. Lha gimana nggak bosan, temen-temen saya pada tiduuur, sedangkan saya sedang dalam keadaan badmood dan tak kunjung dihinggapi rasa kantuk *eh jangan ding...* Mengenai alasan kenapa saya badmood, selain karena bete nungguin antrean yang lama ini, saya juga sempat dibikin sebal oleh seorang teman yang punya sifat kekanakan. Menurut saya, sifat kekanakan merupakan sesuatu yang sangat merepotkan.


Berbicara mengenai kekanakan, entah kenapa saya berpikiran untuk mencari seseorang dengan kepribadian yang dewasa untuk dijadikan sebagai pasangan nantinya. Bukannya saya kebangetan dalam menentukan standar, tapi saya udah lumayan banyak makan asam-garam punya pacar dengan kepribadian yang kekanakan begitu. Kebanyakan cerita sih, saya cuma bisa mengelus dada ketika diperlakukan secara kekanakan oleh seseorang.


Yaaah... tapi siapa yang tahu sih... jodoh bukan kita sih yang menentukan, tapi setidaknya kita bisa menentukan standar. Saya kadang juga bingung dengan sistematika mencari pacar akhir-akhir ini. Saat saya gencar-gencarnya mencari, iya sih ada, tapi kebanyakan nggak sesuai dengan apa yang udah saya standarkan. Misalnya, saya pengen cari cewek yang punya postur tubuh tinggi dan putih. Tapi apa daya, yang available cuma temen-temen (iya, pedekate sama temen sendiri tjuy...) yang kebanyakan berpostur tubuh pendek dengan kulit yang biasa-biasa aja. Saya pengen cari pengalaman baru dengan cewek berpostur tubuh tinggi, karena kebanyakan pengalaman saya cuma berkaitan dengan cewek-cewek berpostur tubuh pendek.


Lalu ada juga dimana saat saya udah berhasil menemukan seseorang dengan standar yang saya harapkan, saat saya deketin, dia malah udah punya cowok atau parahnya lagi... menjauh setelah saya deketin. Susah memang kalau kita naksir temen sendiri yang notabene udah kenal lama, berasa canggung, dan nggak jarang temen yang kita taksir ini malah menjauh, dan sikapnya ke kita berasa seperti seorang stranger. Saya jadi berpikir untuk mencari seseorang yang benar-benar baru, sesorang yang akan saya kenal mulai dari nol. Tapi mengenai siapa dan dimana saya mencarinya, sampai saat ini saya belum tahu. Untuk sementara, saya hanya bisa menunggu.


Bicara tentang pacar-pacaran begini memang terkadang bikin saya terperangah karena saking anehnya.


Disaat saya memutuskan akan menunggu waktu yang tepat untuk mencari seseorang, datanglah seseorang yang saya tahu, namun saya juga belum mengenal dia lebih jauh lagi. Bisa dikatakan acquaintance atau belum saling mengenal, namun kita saling mengetahui satu sama lain. Dan anehnya lagi, standar yang saya tetapkan terhadap tipe cewek yang saya mau ternyata ada di dia. Yah walaupun nggak semua, karena usia doi baru 18 tahun, nggak menutup kemungkinan dia juga punya sifat kekanakan. Awalnya saya ragu apakah harus mendekati seorang cewek seperti dia ini, tapi karena nggak mau kecolongan lagi (baca post saya sebelumnya mengenai Loading), akhirnya saya putuskan untuk mendekatinya demi mengenalnya lebih jauh lagi.




Bisa dibilang, saya sama dia lagi dalam proses bego kayak gini.


Saya belum bisa bercerita banyak disini mengenai siapakah dia dan seperti apa perawakannya, namun yang jelas dia termasuk ke dalam tipe saya. Satu hal yang membuatnya beda cuma satu, dia orang Sunda.


Err... Whatever...