Yeah, meskipun film Captain America: Civil War udah tayang sejak tanggal 29 April lalu, tapi hype-nya masih kerasa sampai sekarang. Kenapa? Disamping dengan hadirnya banyak superhero di dalam filmnya, ceritanya juga bagus banget. Kenapa saya bisa bilang bagus? Nah, kali ini saya mau membahas sedikit mengenai film yang udah lama banget saya tunggu ini. Baru sekarang saya bisa me-review film favorit gara-gara blog susah keakses akibat lupa enkripsi, tapi tenang aja guys, saya akan me-review selengkap yang saya bisa.
Oke, pertama dari segi cerita. Memang sih udah bisa ketebak dari alurnya yang mengenai 'perang saudara' atau perang sesama superhero karena ideologi yang berbeda. Udah banyak spoiler-spoiler yang nyebar dari website satu ke website lainnya mengenai cerita dari Civil War ini. Tapi, bagusnya film ini adalah walaupun kamu udah membaca spoiler yang disediakan oleh website atau media apapun, kamu bakalan tetep penasaran untuk nonton filmnya secara langsung. Kenapa? Karena oh karenaaa... ada media yang memberikan spoiler kalau #TeamCap yang menang, dan ada pula yang memberikan spoiler kalau #TeamIronMan yang menang.
Hayo lhooo...
Bagusnya Civil War disini adalah, ceritanya bener-bener bisa memecah-belah fans dengan ke-kompleks-an yang nggak terlampau rumit alias dengan cerita yang begitu sederhana. Kok bisa? Emm... sedikit spoiler ya (spoiler lagi deh yang dibahas), cerita Civil War ini bermula ketika para superhero dihadapkan oleh sebuah perjanjian bernama Sokovia Accords yang dibuat oleh PBB untuk mengatur segala jenis kegiatan dan aksi-aksi yang akan dilakukan oleh para superhero tersebut. Kenapa diatur? Karena banyak superhero ketika menjalankan aksi-aksi heroiknya juga turut memakan korban, entah korban jiwa ataupun korban-korban materiil lainnya. Penduduk dunia tentu aja khawatir dengan keadaan yang seperti itu. Nah, pemerintah disini mengusahakan agar hal tersebut nggak terjadi sekaligus meyakinkan penduduk dunia bahwa Avengers — grup dengan sekumpulan superhero jempolan — nggak akan mengulangi kesalahan yang sama, dengan Tony Stark sebagai Iron Man yang menyetujuinya (akibat menyadari kesalahannya dalam menciptakan Ultron di film Avengers: Age of Ultron sebelumnya) bersama dengan Black Widow (Natasha Romanoff), The Vision, War Machine (James Rhodes), dan Black Panther (T'Challa), dibantu pula oleh Spider-Man (Peter Parker).
Nah, di lain pihak, akibat trauma gara-gara S.H.I.E.L.D. — organisasi pemerintah terpercaya — pernah disusupi oleh HYDRA (organisasi jahat besutan Uni Soviet), Steve Rogers sang Captain America menolak tegas Sokovia Accords yang diberikan oleh PBB dengan alasan dapat mengekang kebebasan para superhero dalam menjalankan aksi-aksi heroiknya. Gimana kalau ada orang yang membutuhkan pertolongan sedangkan pemerintah nggak memberi ijin untuk menolong mereka? Gimana kalau mereka menolong orang yang toh sebenarnya nggak perlu-perlu amat ditolong? Nah, pertanyaan semacam itu ada di kepala Captain America. Dibantu oleh Scarlet Witch (Wanda Maximoff), Ant-Man (Scott Lang), Falcon (Sam Wilson), beserta Hawkeye (Clint Barton), mereka sepakat menolak menandatangani perjanjian tersebut. Awalnya, mereka damai-damai aja walaupun berbeda ideologi mengenai Sokovia Accords ini. Sampai akhirnya ada sebuah tragedi pengeboman yang menewaskan T'Chakka, ayah dari Black Panther yang merupakan Raja Wakanda. Pelaku dari tragedi tersebut? Winter Soldier, sahabat lama Captain America yang udah dicuci otak oleh HYDRA.
Winter Soldier yang asli.
Cantik kaaan, si agen yang satu ini.
Nah, poin cerita klimaks disini adalah kubu Captain America berusaha menyelamatkan 'Bucky' dari kejaran pemerintah karena dia difitnah, 'Bucky' ini udah nggak pernah membunuh lagi setelah kejadian di film Captain America: The Winter Soldier, dia cuma dicuci otak sama HYDRA, terlebih si 'Bucky' ini sahabat Captain America sejak kecil. Captain America pengen banget menjelaskan itu semua ke kubu Iron Man beserta pemerintah, bahwa mereka semua salah paham! Nah tapi sayangnya...
Diketahui, dulunya si 'Bucky' ini membunuh orangtua dari Tony Stark, yaitu Howard Stark dan Maria Stark, dalam keadaan alter ego-nya sebagai Winter Soldier yang bergerak bagaikan robot alias bergerak berdasarkan perintah HYDRA.
Apa Tony Stark bakalan santai-santai aja mengetahui hal itu? Apalagi selama ini Steve Rogers tahu mengenai hal itu tapi dia menutup-nutupinya dari Tony Stark. Apa dia bisa menerima?
Nope. Saya sendiri juga bakalan ngamuk kalau jadi Tony Stark.
#TeamCap
#TeamIronMan (minus Spider-Man)
Clash!
Nah disini bagusnya. Plot twist yang bisa memecah fans Marvel ada di klimaksnya. Saya merasakan sendiri hal itu. Awalnya saya memihak Captain America karena saya memegang prinsip 'Say No to Pengekangan Kebebasan dan Aturan yang Memaksa', tapi setelah tahu betapa kasihannya Iron Man (dan Spider-Man yang masuk ke kubu dia), saya jadi berpindah ke kubu Iron Man. Jadi siapa pemenang dari film ini? #TeamCap? Atau #TeamIronMan?
Ternyata bukan keduanya.
Lho kok bisa? Jadi, siapa pemenangnya?
Pemenangnya adalah Helmut Zemo, sang antagonis utama film ini.
Helmut Zemo
Saya nggak akan menjelaskan bagaimana bisa si Zemo ini menang dalam film ini — jarang banget pula tokoh antagonis menang dalam sebuah film superhero — namun yang pasti usaha Zemo dalam memecah belah Avengers ini sukses berat! Salut saya untuk Christoper Markus selaku penulis cerita film Captain America: Civil War yang juga menjadi poin plus film ini.
"Lo punya tangan metal? Keren bro!"
"Halo, Captain! Gue... fans berat lo?"
Nggak afdol rasanya kalau saya nggak memposting beberapa scene dari Spider-Man disini, hihihi.
You're awesome, dude!
Itu poin plus dari filmnya, dan yang pasti ada pula poin negatif dari suatu film. Pertama, mengenai tokoh Crossbone yang begitu... sedikit mendapat porsi peran yang seharusnya dia bisa beraksi lebih dari itu. Kalau dia bisa join sama Zemo, pasti filmnya bakalan seru lagi. Tapi mengingat film seru itu durasinya panjang, mungkin alasan ini yang menjadikan Crossbone sebagai antagonis kelas teri doang, berbeda dengan Zemo yang merupakan antagonis kelas kakap. Lalu efek CGI disini lebih, lebih, lebih kasar ketimbang Avengers: Age of Ultron! Nggak tahu deh, tapi semoga aja Marvel Cinematic Universe bakalan bisa (dan mau) memperbaiki hal ini.
Alur di pertengahan cerita juga terkesan agak serius, bagi pecinta Marvel mungkin nggak masalah, malah justru lebih bisa membuat kita mengerti lebih jauh lagi mengenai plot yang akan terjadi dalam film. Tapi bagi fans awam Marvel, hal ini malah membuat mereka ngantuk. Banyak lho temen saya yang mengatakan bahwa film ini membuat mereka ngantuk di pertengahan cerita. Tapi yah, kalau plotnya nggak jelas, nanti malah bisa bikin rancu para penontonnya. Ini masih bisa dimaklumi sih, asal jangan seperti film Batman v Superman (no offense) yang banyak banget narasi tapi minim action yang bikin para fans superhero pun terkantuk-kantuk. Ini merupakan PR buat Zack Snyder selaku sutradara film DC Extended Universe.
Yeaaaahhh... segitu aja hal yang bisa saya bahas mengenai film Captain America: Civil War. Oh yah, di bagian mid-credit scene (SPOILER ALERT), kamu bisa melihat Captain America membebaskan semua teman-temannya untuk benar-benar membentuk Secret Avengers (semoga!).
Di bagian post-credit scene... — bagian yang bikin saya hype sekali, sodara-sodara — ada scene yang memperlihatkan bahwa Peter Parker menerima gadget baru dari Tony Stark. Gadget apa? Gadget yang menyatu dengan Web-Shooter dengan fungsi memberikan sinyal warning berupa cahaya berlogo topeng Spider-Man kepada musuh yang akan Peter hadapi nanti.
Spider Signal!
Semacam warning signal buat musuh nanti.
Mesra banget, jadi envy... *lho?*
Yap, segini aja yang bisa saya ulas. Jadi makin nggak sabar nunggu Avengers: Infinity War di tahun 2018 nanti. Eits, sebelum itu tentu aja dong saya nggak akan melewatkan film solo Spider-Man terbaru nantinya, Spider-Man: Homecoming, yang akan tayang pada bulan Juli 2017.
Emm... intermezzo sebentar...
Saya pada akhirnya nonton Captain America: Civil War sendirian tanpa ditemani oleh siapapun! Iya, serius lho, soalnya ribet amat sih ngajak temen buat nonton, kebanyakan alesan waktu seriusan diajak, xixixi! Saya rela-rela aja nonton sendirian, karena udah nggak sabar nonton film yang udah saya tunggu sejak tahun 2015 lalu, ditambah lagi saya nggak mau diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan "Eh itu siapa sih?" "Nanti ceritanya gimana ini?" "Oh, Captain America itu musuhnya Iron Man?" daaaan pertanyaan-pertanyaan monoton lainnya saat saya sedang serius nonton filmnya di bioskop. Nggak asyik, soalnya.
Dan oyah, saya udah nonton filmnya tiga kali dan nggak bosen-bosen waktu nonton scene di bandara Jerman. Apa kamu juga demikian?





















