Minggu, 14 Februari 2016

Redemption on Valentine's Day








Perasaan apa ini sebenarnya?


.....


Di saat kamu lelah melihatnya bahagia bersama yang lain, di saat kamu menyesali apapun yang telah kamu perbuat kepadanya di masa-masa silam, di saat kamu merasa begitu kurang membahagiakan dirinya saat masih bersamamu… Sebegitu naifnya dirimu merasa bisa membahagiakan dirinya sehingga kamu merasa belum puas untuk membahagiakannya saat sudah tak lagi bersama, dan kamu menginginkan sekali adanya kesempatan untuk mengulangnya, walaupun hanya satu kali saja.


Perasaan seperti itu sudah lama sekali bersarang di dalam benakmu, aku tahu itu.


Apapun kamu lakukan untuk bisa mendapatkan perhatiannya kembali, walaupun dengan cara yang bisa dibilang bodoh. Menulis betapa menyedihkannya dirimu setelah kehilangan dirinya di blog pribadimu, lalu membandingkan dirinya dengan menceritakan ketiga mantan pacarmu yang lain, menceritakan beberapa wanita yang kamu suka untuk melupakannya (yang nyatanya mereka semua hanyalah sebagai bentuk pelarianmu saja), menghibur diri sendiri dengan tips-tips anti galau yang nyatanya tak mempan sama sekali jika diterapkan olehmu sendiri, sampai sering sekali menggambar wanita yang paling dibencinya seolah-olah kamu aslinya memang menyukainya sejak awal. Mereka memang mirip, namun tidak dalam hal kepribadian.


Dirinya merupakan wanita lembut yang disokong oleh kepribadian tegas (dan galak juga sesekali, tipikal wanita Leo), sedangkan wanita yang lumayan mirip dengan dirinya tak lebih dari wanita kuper yang kamu sendiri menganggap dirinya aneh. Kamu sering sekali dituduhnya menyukai si wanita kuper itu, padahal sebenarnya kamu hanya membandingkan saja dirinya dengan mantan kekasihmu, apa sih kelebihan wanitamu (dulunya) dibandingkan si wanita kuper? Oh, banyak. Salah satu buktinya adalah wanitamu itu lebih mandiri daripada si wanita kuper yang setiap pulang sekolah selalu dijemput oleh ibunya. Sedangkan wanitamu? Bus menjadi andalannya untuk sampai ke rumah, bahkan sampai kuliah. Dia memang pencemburu, dan kamu berusaha menerima kekurangannya itu. Yaaah... walaupun kamu toh akhirnya mengajarinya untuk mengendarai sepeda motor sendiri, yang awalnya kamu was-was sekali karena takut terjadi apa-apa padanya di jalanan Semarang yang memang selalu ramai, akhirnya kamu percaya padanya untuk bisa menjaga dirinya sendiri.


Semuanya itu kamu tulis di dalam blog pribadimu, dan gambar wanita kuper itu masih terpajang rapi di Tumblr kesayanganmu.


Oh, apa sih yang sebenarnya kamu pikirkan?


Kamu ingin sekali tulisanmu dibaca olehnya, dan ingin sekali gambarmu dilihat olehnya. Untuk apa? Berharap belas kasihnya agar ia kembali padamu? Begitu? Jika hanya tulisan-tulisanmu yang menggambarkan betapa menyedihkannya dirimu, itu bisa saja terjadi. Bukan rasa sayang yang kamu dapat, melainkan hanya belas kasihan saja. Kamu mau dikasihani oleh seorang wanita sepertinya? Tidak ‘kan? Tapi, dengan menggambar wanita yang paling dibencinya di Tumblr-mu? Itu sama sekali tidak ada hasilnya. Dia justru malah lebih membencimu dari sebelumnya. Dia lebih bisa melupakanmu dengan mudah karena bisa saja dia berpikir bahwa sejak awal kamu memang menganggapnya kembaran si wanita kuper itu. Untuk apa kamu melakukannya? Balas dendam? Toh kalau iya, kamu pastinya berhasil dengan baik, dengan bukti bahwa dia sekarang meng-unfollow blogmu ini setelah akun Facebook dan Twitter-mu sebelumnya sudah di-block olehnya. Apa yang akan kamu lakukan? Minta maaf padanya? Untuk apa? Atau menyesalinya? Tidakkah kamu merasa capek menyesal terus-menerus? Hidup tidaklah kamu jalani dengan sebuah penyesalan saja. Ada satu hal yang kamu harus tahu, dan ini lebih berharga dari penyesalan yang takkan ada artinya kamu lakukan terus-menerus. Hal ini juga lebih penting dari tindakan move on yang tahun lalu sedang gencar-gencarnya kamu lakukan, namun hasilnya nihil.


Apa hal penting yang sedang kita bicarakan ini?


Penerimaan. Kamu melupakan satu hal ini saat kamu berusaha untuk move on demi melupakan semua kenangan tentang dirinya. Kamu belum bisa menerima bahwa dia sudah dengan yang lain, kamu belum terbiasa tidak menerima SMS atau BBM darinya setiap waktu dalam setahun belakangan ini, dan semuanya. Kamu berusaha mencari pengganti dirinya, yang bisa saja kamu temui di setiap teman wanita yang pernah kamu dekati. Tapi namanya juga pengganti, pastilah tak sesempurna yang asli. Kamu terus menunggu seseorang yang persis dirinya datang ke dalam kehidupanmu, padahal itu merupakan hal terkonyol yang pernah kulihat. Aku ini dirimu, Sobat, aku bisa merasakan hawa kekonyolan yang setiap saat kamu pikirkan demi bisa 100% melupakan sang mantan kekasih yang nyatanya lebih berbahaya daripada yang kamu duga. Bagaimana tidak berbahaya? Lha wong diberi waktu untuk menenangkan diri masing-masing saja dia malah jatuh ke pelukan pria lain, apa istilah yang lebih pantas daripada ‘berbahaya’? Sebenarnya ada, tapi aku tidak ingin membuatmu membenci dia lebih jauh lagi.


Sekali lagi pikirkanlah penerimaan.


Berhentilah menuliskan sesuatu yang menggambarkan bahwa kamu selalu bermuram durja dalam blog, dan berhentilah memanas-manasi dirinya dengan menggambar wanita yang ia benci di Tumblr untuk balas dendam, karena takkan ada hasilnya. Terima saja bahwa memang hanya ada satu orang wanita seperti dirinya dan kamu tidak akan pernah bisa bersatu dengannya lagi. Kenapa? Karena memang sudah takdir. Anggap saja kamu dijauhkan dari orang yang salah oleh Tuhan, dan memang itulah kenyataannya. Jika hanya satu orang dirinya dan dia merupakan orang yang salah buatmu, kenapa harus mencari seseorang dengan tipikal yang sama secara fisik dan watak? Kamu akan menemui kegagalan-kegagalan yang lain nantinya, dan penyesalan-penyesalan lagi yang akan kamu hadapi belakangan. Cobalah menerima itu semua dengan lapang dada, dan ikhlaskanlah. Carilah wanita yang berbeda, yang pastinya bisa memberikanmu kenyamanan, ketulusan, dan kesetiaan yang lebih dari dirinya. Hitung-hitung juga lebih cantik, pasti kamu akan lebih bangga memilikinya. Dengan pengalaman yang kurang menyenangkan saat masih bersama sang mantan kekasih, kamu harusnya lebih mawas diri dan bijak memperlakukan pasanganmu entah siapa suatu hari kelak.


Jangan buru-buru mencari juga. Dalam hal mencari, kamu yang lebih tahu dan lebih bisa daripada aku. Aku hanya akan memberitahumu jika ada hal yang salah dan harus dibenahi secepat mungkin. Aku tak ingin kamu menyesal berulang-ulang kali sembari menyembunyikan kesedihanmu dengan topeng tawa dan canda di depan banyak orang. Pelajarilah penerimaan agar kamu lebih legowo dalam menjalani hidup. Dengan mengerti sebuah penerimaan diri, syukur-syukur juga mengerti apa kelebihan dan kekurangan dirimu sendiri, kamu akan lebih bisa move on dan melupakan segala kenangan pahit yang sayangnya sudah terjadi pada dirimu yang mudah sekali trauma oleh sesuatu yang menyakitkan. Bukalah matamu, dan berubahlah. Setelah tulisan ini selesai, maka aku akan segera kembali ke dalam alam bawah sadarmu sebagai seseorang yang akan mengingatkan dirimu akan benar-salahnya perbuatan yang akan kamu lakukan, karena aku ini sebenarnya adalah dirimu.


Berubahlah, karena kamu memang sebenarnya bisa.


Rara, untuk Dika.