Kamis, 05 November 2015

Tahapan-tahapan Kehilangan yang Pernah Dialami Seseorang



Pernahkah kamu ditinggal pergi seseorang? Entah itu sementara atau selama-lamanya? Atau kehilangan orang yang paling disayang? Semisal pacar, saudara, atau bahkan orangtua? Gimana dengan pikiran dan perasaan kamu? Kacau? Dunia terasa hampa? Atau apa?


Apa sih yang terjadi saat kita merasakan kehilangan?


Disini saya akan sedikit menjelaskan tahapan-tahapan kehilangan menurut Grief Theory dari Kübler-Ross.


Elisabeth Kübler-Ross meneorikan bahwa untuk menghadapi kehilangan, seseorang akan mengalami tahap yang disebut dengan DABDA, yang terdiri atas: Denial - Anger - Bargaining - Depression - dan Acceptance saat seseorang sedang mengalami breakdown.


Penjelasan kelima tahap tersebut saya uraikan seperti di bawah ini:


1. Denial (Penolakan atau Penyangkalan)



The first reaction is denial. In this stage individuals believe the diagnosis is somehow mistaken, and cling to a false, preferable reality.

Artinya, reaksi pertama dari kelima tahapan tersebut adalah penolakan. Dalam tahap ini seseorang percaya bahwa keadaan yang sekarang dialaminya adalah suatu kesalahan, dan cenderung untuk mempercayai hal yang salah.

Dalam tahap ini, seseorang merasakan bahwa apa yang terjadi itu nggak nyata dan cenderung menggangap bahwa realita yang ada itu suatu kebohongan, hal ini wajar apabila seseorang itu pada awalnya nggak mampu menerima kejadian berat tersebut.

Contohnya, saat kamu ditinggal pergi seseorang yang kamu sayang untuk sementara atau selamanya, pada awalnya kamu pasti akan berpikir:

"Ah, ini cuma mimpi. Sebentar lagi gue pasti bangun dari mimpi buruk ini."

"Ini nggak mungkin. Haha, ini nggak mungkin terjadi."

"Ini pasti bercanda." dan lain sebagainya.


2. Anger (Kemarahan)



When the individual recognizes that denial cannot continue, it becomes frustrated, especially at proximate individuals. Certain psychological responses of a person undergoing this phase would be:

"Why me? It's not fair!"

"How can this happen to me?"

"Who is to blame?"

"Why would this happen?" etc.

Jadi, ketika orang tersebut sadar bahwa penolakan tadi nggak bisa berlanjut, dia bakal frustasi, apalagi jika dia kehilangan orang yang sangat dekat dengannya. Beberapa respon psikologis dalam tahap ini bisa berupa:

"Kenapa harus gue?! Nggak adil!"

"Kenapa hal ini bisa terjadi ke gue sih?!"

"Gue harus nyalahin siapa coba?"

"Kenapa ini mesti terjadi?!" dan sebagainya.

Dalam tahap ini seseorang mulai sedikit menerima dengan realita, tapi di satu sisi, dia juga merasa hal ini bukanlah suatu hal yang dapat diterima. Saat seseorang berada dalam tahap ini, dia akan mencari kambing hitam atau seseorang (atau bahkan sesuatu) untuk dipersalahkan, entah itu tetangga sebelah, kucing lewat, tahayul, bahkan mungkin pemerintah.

Intinya tahap ini adalah tahap dimana rasionalisme atau kelogisan seseorang sangat sulit bekerja.


3. Bargaining (Negosiasi atau Penawaran)



The third stage involves the hope that the individual can avoid a cause of grief. Usually, the negotiation for an extended life is made in exchange for a reformed lifestyle. People facing less serious trauma can bargain or seek compromise.

Tahap ketiga ini mengkaitkan harapan bahwa seseorang akan menghindari sebab dari kehilangan tersebut. Biasanya, jika tahap negosiasi berlanjut cukup lama, akan ada perubahan dalam pola hidupnya. Orang yang menghadapi trauma serius dapat mencari kompromi agar perasaan luka tersebut bisa menjadi lebih ringan.

Dalam tahap ini, seseorang mulai tawar-menawar dengan keadaan di sekitar untuk mengurangi "perasaan merugi" yang diderita, baik itu terhadap diri sendiri, ataupun orang lain.

Misalnya aja, seseorang akan berkata:

"Ya Tuhan... Ya udahlah hamba pasti bisa move on tapi jangan bikin hati hamba sakit terus-terusan dong..."

"Duh... Udahlaaah jangan begini terus, gue pasti bisa keluar dari permasalahan ini kok..." dan lain sebagainya.


4. Depression (Depresi)



"I'm so sad, why bother with anything?"

"I'm going to die soon so what's the point?"

"I miss my loved one, why go on?"

During the fourth stage, the individual becomes saddened by the mathematical probability of death. In this state, the individual may become silent, refuse visitors, and spend much of the time mournful and sullen.

Lebih jelasnya, dalam tahap keempat ini, seseorang akan dibebani problematika kehidupan. Dalam tahap ini, seseorang mungkin menjadi lebih pendiam, menolak untuk bicara dengan orang lain, dan memilih untuk sendiri.

Dalam tahap ini seseorang udah mulai merasa putus asa, nggak mampu memberikan perhatian pada hal-hal di sekitar, dan cenderung menjauhkan diri dari pergaulan sosial.

Sebagai contoh, mungkin kamu akan berkata seperti ini disaat sedang depresi:

"Gue lagi sedih, jangan ganggu gue."

"Haha... Gue udah kehilangan orang yang gue sayang, kenapa juga gue musti masih hidup?"

"Gue nggak mau mencari seseorang yang bisa gantiin dia." dan lain sebagainya.


5. Acceptance (Penerimaan)



"It's going to be okay."

"I can't fight it, I may as well prepare for it."

"Nothing is impossible."

In this last stage, individuals embrace mortality or inevitable future, or that of a loved one, or other tragic event. People dying may precede the survivors in this state, which typically comes with a calm, retrospective view for the individual, and a stable condition of emotions.

Dan di tahap terakhir ini, seseorang akan lebih menerima kehidupannya dengan tenang, dapat mengerti bahwa kesedihan yang berlarut-larut akan menghambat kemajuannya, dan mulai melihat sisi penerimaan ini dengan emosi yang lebih stabil

Dalam tahap ini, penerimaan dari diri seseorang mulai bisa dirasakan secara stabil, dan seseorang akan terus move on, dengan sesekali melihat ke belakang untuk menjadikan masa lalu sebagai cambuk bagi dirinya untuk terus belajar dan berkembang.


Jadi apakah teori ini hanya untuk orang yang kehilangan karena ditinggal mati atau diputus seseorang yang disayang? Nggak juga sih, bisa juga untuk yang sedang kehilangan pekerjaan, kalah bersaing dalam cinta ataupun asmara, dan hal-hal lainnya yang membuat diri seseorang menjadi nggak utuh sepenuhnya.



Tahapan-tahapan yang terjadi di atas wajar saat berlangsung, tapi harusnya nggak dalam waktu yang lama dan berlarut-larut. Kalo sampai setahun lebih mungkin seseorang itu harus diperiksa ke psikolog atau terapis terdekat.


Contoh konkrit yang terjadi di realita baru-baru ini:

  1. Fans Rossi yang nggak terima bahwa Rossi diberi hukuman.
  2. Salah satu calon-calon menteri atau capres sebelumnya (ataupun pendukungnya) yang jadi sakit jiwa karena kalah.
  3. Ditolaknya cinta seseorang.
  4. Dipecatnya seseorang dari kantor.
  5. Dan lain sebagainya.


Dan pada akhirnya setelah semua kejadian yang berat tersebut, kita toh tetap harus move on dan terus melangkah maju demi kebaikan kita sendiri nantinya.