Jumat, 24 Januari 2020

Apakah Ini Cinta atau Panggilan Jiwa ya?


Ada saat-saat dimana kita pernah merasa seperti jatuh cinta pada seseorang, padahal kita nggak menyukai orang tersebut, bahkan masuk kriteria kita aja enggak. Dan anehnya, kita pengen tahu banget semua hal tentang mereka, atau kita hanya ingin berada di sana untuk mereka. Namun, setelah kita ada untuk membantu mereka, tiba-tiba kita seperti kehilangan minat terhadap mereka dan nggak tahu kenapa alasannya.


Kalau kamu pernah mengalami kejadian seperti di atas, kamu mungkin baru aja mengalami fenomena panggilan jiwa.


Apa itu Panggilan Jiwa?


Panggilan jiwa adalah seruan permintaan tolong atau teriakan bantuan dari satu orang ke orang yang lainnya melalui jiwa. Jiwa di sini adalah perantara atau media yang dapat digambarkan sebagai sesuatu yang lebih tinggi dari hal-hal yang bersifat fisik, dan biasanya terjadi melalui doa atau permintaan kepada alam semesta, kepada Tuhan, atau kepada apa pun kepercayaan kita. Mereka yang menjawab panggilan doa-doa tersebut biasanya adalah orang-orang yang sangat sensitif, parapsikolog, orang yang mempunyai rasa kemanusiaan tinggi, indigo, maupun para empath. Jika kita termasuk salah satu di antara kategori di atas, ketika kita menjawab panggilan jiwa dari orang lain (terutama untuk pertama kalinya), kita mungkin merasakan hal-hal seperti:
  • Perasaan jatuh cinta dengan seseorang.
  • Kita mungkin terobsesi dengan orang tersebut. Kita nggak bisa mengeluarkan dia dari kepala kita apa pun yang terjadi, alias kepikiran terus.
  • Kita mungkin merasakan keinginan untuk menghubungi dia terus-menerus, meskipun kita tahu hal itu kadang nggak masuk akal atau di luar kebiasaan kita.
  • Kita mungkin merasa perlu untuk berada di sampingnya untuk support dia atau memberi dia kenyamanan.
  • Meskipun begitu, kita mungkin aja sebenarnya nggak menyukai orang tersebut dari segi pemikiran, emosional, atau secara fisik.
  • Kita mendengar atau merasakan pikiran yang bukan milik kita yang memberitahu untuk membantu di saat dia dalam kesulitan.

Lalu gimana cara kita untuk membedakan antara cinta dengan seseorang atau sekadar menjawab panggilan jiwa untuk membantu seseorang?


Well... definisi tentang cinta sampai saat ini masih selalu diperdebatkan. Secara pribadi, saya mendefinisikan cinta sebagai sesuatu yang membuat diri kita merasa lengkap. Cinta bukanlah keinginan untuk menyelamatkan seseorang atau mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dari mereka. Cinta lebih kepada kita bisa selaras dengan orang lain, dan orang lain juga bisa selaras dengan diri kita. Ada keseimbangan dan komitmen tak terucap di situ tanpa perlu adanya take and give yang direncanakan serta tanpa perlu adanya ikrar-ikrar yang keluar dari mulut. Kita bisa menerima seseorang dengan apa adanya, dengan kelebihan dan kekurangan yang dia miliki. Semua mengalir gitu aja dari awal hingga akhir. Cinta sifatnya lebih universal dari segala aspek.


Sedangkan panggilan jiwa biasanya datang dengan rasa kasihan dan kebutuhan untuk membantu orang lain (supaya kita nggak merasa sendirian, misalnya). Pada umumnya ada rasa simpati yang mendasari, bahwa kita merasa perlu dan ingin membuat hidup seseorang menjadi lebih baik, atau malah adanya perasaan obsesif bahwa kita harus berada dalam hidup mereka dengan beberapa cara, seolah kita mengatakan, "Akulah yang harus bisa membuat hidupnya jadi lebih baik daripada hidupnya saat ini!"


Jika kita kebingungan dalam membedakan, mending gunakan aja perasaan kita dan bertanya kepada diri sendiri apakah yang kita rasakan ini benar-benar cinta atau sekadar panggilan jiwa. Jika terasa benar, maka jawaban umumnya, ya, yang kita rasakan hanyalah sekadar panggilan jiwa.


Lalu gimana dong kalau yang kita rasakan terhadap orang lain hanyalah panggilan jiwa?


Pengalaman menjawab panggilan jiwa (apalagi pengalaman pertama kali) bisa aja memalukan, lho. Pernah suatu ketika saya merasakan panggilan jiwa dari seseorang (terutama dari seorang perempuan), saya benar-benar nggak tahu gimana cara deketin dia. Mau bilang saya tahu permasalahan seseorang, ntar dikira sotoy. Mau bilang kalau saya ada untuk membantu, nanti dikira nggombal. Saya jadi merasa bodoh sejadinya. Maka dari itu, saya biasanya begini aja sekarang: Selalu bersikap terbuka kepada siapapun yang mau berkeluh kesah sama saya, dan biarkan aja waktu yang menjawab. Orang-orang yang membutuhkan saya akan datang dengan sendirinya sesuai dengan kapasitas yang bisa saya bantu untuk permasalahan mereka. Dan dalam segi percintaan, saya lebih suka menunggu siapapun yang datang kepada saya tanpa keinginan untuk meminta bantuan atau berkeluh kesah sama saya. Untuk saat ini sih.


Hati-hati Lho, Panggilan Jiwa Bisa Menjebak

Panggilan jiwa yang disalahpahami sebagai perasaan cinta, bisa menyebabkan konsekuensi yang nggak diinginkan, lho. Misalnya, ketika panggilan jiwa dikira sebagai jatuh cinta, kita bisa aja menjalin hubungan dengan seseorang, atau bahkan malah akhirnya menikah sama dia. Setelah sekiranya "sesi membantu hidup seseorang" udah berakhir, perasaan ingin menyelamatkan seseorang yang sejak awal terasa indah tersebut juga lama-kelamaan akan hilang. Jadi cinta dan daya tarik yang dari awal kita rasakan nggak akan lagi ada, dan sekarang kita mungkin udah terikat dengan orang yang sebenarnya bukan kriteria kita. Mudah aja berpikir positif bahwa hanya kejenuhanlah penyebab dari hilangnya perasaan tersebut, dan mungkin kita akan berjuang untuk mendapatkan perasaan lama itu kembali, atau lebih buruk, kita malah berpura-pura bahwa kita masih merasakan hal yang sama. Perlu juga dicatat bahwa terkadang orang yang kita bantu bisa menjadi sangat terobsesi dengan kita. Karena di saat kita membantu dia, dia mungkin menginginkan lebih dari apa yang kita tawarkan, atau mereka bahkan menginginkan terus-menerus kehadiran kita seperti orang kecanduan/terlalu obsesif.

Gimana Cara Mengetes bahwa Apa yang Kita Rasakan hanyalah Panggilan Jiwa?


Terkadang kita sebagai penjawab panggilan jiwa mungkin sedang dalam kondisi nggak siap untuk membantu orang lain. Kita mungkin mendapatkan dorongan kuat untuk membantu, namun mungkin aja dorongan itu akan menghilang saat kita udah memberikan bantuan, dan kita harus bisa menyadari itu. Kita nggak harus melakukan apa-apa lagi setelahnya, biarkan orang tersebut berkembang dengan segala masukan dan bantuan yang udah kita berikan, dan itu hanya masalah waktu. Kadang-kadang orang memerlukan beberapa upaya sebelum mereka dapat melakukan apa yang perlu mereka lakukan untuk diri mereka sendiri. Seperti biasa, terus periksa perasaan kita di saat orang lain datang kepada kita. Jika mereka berubah setelah kita bantu, itu berarti mereka hanya datang untuk meminta pertolongan.


Ketika Panggilan Jiwa Berjalan Dua Arah...


Panggilan jiwa bukan berarti harus hanya kita aja yang membantu orang lain. Panggilan jiwa juga bisa bekerja secara dua arah. Dalam artian, kita memiliki sesuatu yang dibutuhkan orang lain, dan orang tersebut ternyata juga memiliki apa yang selama ini kita butuhkan alias dia menjawab panggilan kita (misalnya: sesama orang sensitif, sesama indigo, atau sesama empath). Panggilan semacam itu merupakan sebuah berkah dan kedua belah pihak akan bisa saling membangun satu sama lain.

Apa yang Bisa Kita Dapatkan dari Menjawab Panggilan Jiwa Seseorang?


Secara umum yang kita dapatkan adalah sebuah pengalaman, terlebih dalam hal membantu sesama. Semakin banyak panggilan yang kita jawab, semakin kita jadi mahir dalam menjawab dan menyelesaikan permasalahan orang lain. Hal ini akan memungkinkan kita untuk tumbuh sebagai pribadi yang kuat, mandiri, dan peka, serta orang-orang akan mencari bantuan kita berdasarkan pengalaman orang yang udah kita bantu dari mulut ke mulut.


Kesimpulan!

Panggilan jiwa bersifat lebih umum daripada yang sejak awal kita yakini. Memahami konsep antara cinta dan panggilan jiwa bisa menempatkan keduanya dalam perspektif baru untuk diri kita. Bahkan kita bisa aja menerima beberapa panggilan jiwa sekaligus. Jika kita mendapatkannya, berusahalah untuk merangkul orang-orang yang ingin kita bantu, tapi jangan sampai menjadi budak mereka. Beberapa orang dapat bertahan sebentar, dan beberapa orang juga dapat bertahan selama bertahun-tahun meminta solusi dari kita, tapi bersiaplah ketika ada orang-orang baru yang datang. Mau nggak mau kita harus mengabaikan mereka yang selalu meminta bantuan tanpa adanya effort untuk mengubah nasib diri mereka sendiri demi kebaikan bersama. Anggap aja perbuatan kita ini adalah berkah bagi sesama dan sebagai salah satu cara untuk membantu menyembuhkan dunia yang makin lama makin melupakan kemanusiaan saat ini.