Lho, kok bisa populer?
Iya, soalnya dulu saya bikin akun Friendster pakai identitas palsu, dan registrasi dengan email yang amat sangat nggak jelas: dika.uchiha@konoha.co.id. Alay banget. Saya bikin akun Friendster dengan nama Sasuke Uchiha, secara dia merupakan tokoh anime favorit saya waktu itu (masih kelas VII SMP lhooo) dan dengan lagak-lagak cool yang saya buat-buat, akhirnya makin banyak orang yang add saya di Friendster dan makin banyak pula temen saya. Yah walaupun cuma temen di dunia maya, tetep aja mereka asik saat diajak ngobrol, terutama mengenai dunia manga-anime yang dulu menjamur banget di kehidupan SMP.
![]() |
| Wuih keren kan ya si Sasuke ini, hahaha. |
Sempat saya kenal dekat dengan 3 orang di Friendster, dan itu pun cewek semua. Dari iseng-iseng nge-add Friendster mereka sampai kenalan nggak jelas dari mana mulainya, akhirnya saya deket sama mereka bahkan sampai sekarang. Satu orang saya jadikan figur kakak perempuan, karena emang dia usianya lebih tua daripada saya dan saya juga pengen punya kakak perempuan sejak dulu. Nama Friendster-nya Rei Uchiha kalau nggak salah. Saya juga bingung kenapa marga Uchiha saat itu bisa jadi tren yang keren banget di kalangan remaja. Entah karena sama-sama pakai marga Uchiha lalu kita jadi kakak-adik di sosmed, saya juga nggak ngerti. Lalu satu orang lagi pakai akun bernama InuYasha. Awalnya saya kira dia cowok karena dia pakai akun dengan tokoh karakter cowok, yaitu InuYasha tadi, tapi ternyata saya salah. Dia cewek tulen, dan dari kepribadiannya sih saya menyangka dia tipikal cewek pemalu. Si Rei Uchiha dan si InuYasha ini lebih dulu saling kenal daripada mereka kenal saya. Akhirnya yah... saya jadi nimbrung sama mereka tiap kali main Friendster, dan bisa dibilang hubungan kita bertiga menyerupai persahabatan walaupun nggak pernah bertatap muka dan nggak pernah saling melihat wajah satu sama lain.
![]() |
| Ino Yamanaka dari serial Naruto Shippuden. |
Lalu seorang lagi saya kenal dengan nama akun Ino Yamanaka. Yep, lagi-lagi karakter di anime Naruto, I know, I know... Saya waktu itu nge-add dia karena dia populer banget di Friendster. Entah itu karena dia pakai akun cewek yang foto profilnya seksi (Ino seksi kan ya?) atau karena sifatnya yang sok jaim waktu bales testimoni dari orang lain, saya nggak gitu inget juga. Yang pasti, waktu saya kenalan sama dia entah sampai berapa lama, akhirnya saya mulai ngerti sifat aslinya yang "motherly" dan sebenarnya dia nggak jutek-jutek amat. Saya rasa dia cuma memainkan perannya sebagai si Ino di Friendster. Kalau dia ada masalah, dia langsung cerita ke saya tanpa ba-bi-bu dan saya pikir dia nggak gitu punya temen yang bisa diajak curhat walaupun friend list di Friendster-nya sendiri jumlahnya 4000 orang lebih. See, punya temen banyak kadang nggak seberharga itu.
Jaman Friendster berakhir, dan dimulailah jaman Facebook. Saya bikin akun Facebook pada saat kelas VIII SMP pertengahan, dan saat itu paket internet dari beberapa provider lagi murah-murahnya. Walaupun sama dalam hal situs pencarian teman, tapi Facebook agak berbeda dengan Friendster. Kalau di Friendster kita bisa bikin akun seenak jidat pakai email abal-abal dan nama palsu, di Facebook kita nggak bisa melakukan hal itu. Awalnya saya harus bikin akun email Yahoo! dulu, baru saya bisa sign up di Facebook. Pertama kali saya main Facebook, saya pakai nama Dika Uchiha (yeah, Uchiha again and again) dan pakai foto Sasuke untuk foto profil. Saat saya ngelihat beberapa temen pakai nama dan foto asli mereka di Facebook, lama-lama saya jadi minder juga dan memutuskan untuk mengikuti tren mengubah nama dan foto diri sendiri sehingga originalitas akun Facebook saya udah terjamin. Herannya, setelah saya mengubah akun Facebook dengan mengganti nama dan foto diri saya sendiri, yang add akun saya malah semakin banyak, walaupun kebanyakan mereka udah saya kenal dan mayoritas temen-temen SMP. Saat itu saya jadi berpikir bahwa originalitas akun sosmed merupakan hal yang lebih baik daripada bersembunyi di balik karakter anime favorit.
Balik ke Friendster, saya tanya ketiga temen saya tadi apakah mereka punya akun Facebook karena saya pengen add akun mereka. Setelah bertanya kepada ketiganya, akhirnya saya mengetahui identitas asli dari si Rei Uchiha, si InuYasha, dan si Ino Yamanaka ini. Si Rei Uchiha punya nama asli Raisa (bukan Raisa artis itu yaa), dan saat nge-add akunnya, dia masih bersekolah di SMA di Pamekasan kelas X kalau nggak salah. Saat ngelihat foto profilnya waktu pertama kali, saya senyum sendiri karena menyadari bahwa lebih baik mengenal orang yang memakai identitas asli mereka daripada saya harus melihat foto karakter anime saat mau ngontak dia. Cewek Taurus, dan wajahnya agak-agak mirip orang Jepang. Kadang saya bertanya-tanya sendiri apa kak Raisa ini punya darah orang Jepang, tapi saya nggak pernah menanyakannya karena takut hal itu merupakan privasi. Doi sekarang lagi ikut program magang di Jepang dari Unair, dan saya masih berhubungan baik sama dia melalui LINE dan Facebook.
Lalu si InuYasha di Facebook masih pakai nama samaran, dan foto profilnya masih menggunakan foto anime. Saya agak kecewa juga sih karena belum ngerti si InuYasha ini sebenernya siapa dan gimana perawakannya. Tapi setelah beberapa waktu, melalui sms (karena nomer saya disebar ke dia oleh kak Raisa saat itu) dia akhirnya memberanikan diri kenalan ke saya secara "original". Namanya Clarissa, saya panggil dia Icha, dia panggil saya Dika-san. Iya, dia lebih ngerti Jejepangan daripada saya saat itu, buktinya dia manggil nama saya dengan honorifik -san untuk menghormati. Orangnya asik kalau diajak personal chat melalui sms atau aplikasi chat, walaupun saya juga masih suka sok cool ke dia waktu itu. Sampai suatu ketika saya bisa lihat wajah aslinya di Facebook. Dia manis, dan saya rasa dia Chinese. Dia juga ngerti saya kayak gimana. Dia berasal dari Juwana, yang sampai saat ini saya nggak ngerti itu di daerah mana, hahaha, deket Pati bukan sih? Dia bilang Juwana deket dengan Semarang, tapi saya selalu lupa untuk mencari tahu. Sampai saat ini saya masih berhubungan baik sama dia, dan terakhir saya ucapin dia selamat ulang tahun tanggal 28 kemarin via BBM. Sekarang doi kuliah di Singapura, entah di universitas mana dan ngambil apa, saya belum tanya lebih jauh lagi.
Terakhir si Ino Yamanaka ini. Nama aslinya Tia, saya lupa nama lengkapnya, hehe. Dia juga Chinese sama kayak si Icha, cuma lebih tua umurnya, dan lebih manis wajahnya. Dia juga lebih tua setahun dari saya sih sebenernya. Dia dari Jakarta, dan kagetnya ternyata selama kenal dia di Friendster, dia udah punya cowok yang dia pajang namanya di relationship status info Facebook. Saya kaget aja karena selama ini saya deket sama dia, tapi ternyata dia udah ada cowok, hahaha. Udah saya ceritain sebelumnya kalau dia punya sifat "motherly", suka ngasih perhatian yang berlebihan ke saya, dan suka banget care kalo saya ada masalah, bahkan masalah yang sepele sekalipun.
Beralih ke Twitter. Saya sebenernya udah punya Twitter pas sesaat setelah saya bikin Facebook. Cuma saat itu saya belum ngerti gimana cara mainnya, dan saya acuhkan buat sementara akun Twitter itu. Nah, waktu saya mulai berhubungan sama Mutia, salah satu mantan pacar saat SMP, dia yang ngajarin gimana caranya main Twitter. Dia ngajarin apa itu tweet, gimana caranya reply, gimana caranya bikin direct message, dan yang paling utama gimana caranya retweet. Dia juga jelasin apa itu following dan followers di Twitter. Dia juga yang ngenalin saya ke website-website yang enak dipakai buat Twitter-an, semacam Tuitwit, Tweete, atau Ubertwitter. Di Twitter, saya nggak pernah absen nge-retweet tweet-tweet dia. Saya juga tahu dia punya dua orang kakak perempuan dari Twitter sebelum saya pertama kali apel ke rumahnya di daerah Rinjani sana. Saya mulai jadi sosmed addict waktu pacaran sama Mutia ini. Dia punya blog juga, yang awal-awalnya berisi mengenai kehidupannya sehari-hari dan lambat laun (bahkan sampai sekarang) jadi her own fashion blog. Dia JUGA yang ngenalin dan ngajarin saya gimana caranya blogging, terutama pakai blogspot. Sejak saat itu saya jadi doyan blogging, entah mau ngisi blog pakai artikel-artikel berguna atau artikel-artikel konyol lainnya. Waktu dia baca blog saya, dia ketawa, dan saya inget saat dia ngasih saran untuk bikin satu blog aja supaya ramai dikunjungi pengunjung dan saya bisa nge-post banyak. Saya nggak gitu tertarik mau dapet berapa pengunjung atau mau nge-post berapa di blog, karena saya cuma ngikut-ikut dia. Bisa dibilang, hidup saya jadi lebih modern dan nggak lepas dari sosmed berkat kehadiran Mutia.
Saya juga iseng-iseng bikin Foursquare karena saya pikir asyik juga bisa berbagi lokasi dengan temen-temen, apalagi kalau kita lagi di lokasi yang terkenal, semacam tempat wisata atau tempat nongkrong yang udah punya nama.
Lalu, satu sosmed yang belum lama ini saya bikin adalah Ask.fm. Awalnya saya pikir Ask.fm adalah website mengenai radio. Kenapa? Karena ada embel-embel fm di belakangnya. Dan akhirnya saya tahu bahwa fm merupakan domain dari sosmed ini. Dari beberapa sosmed yang saya bikin, saya ngerasa Ask.fm-lah yang paling absurd dari semuanya.
Kenapa bisa saya bilang absurd?
Karena di Ask.fm kita cuma main wawancara doang. Ketika saya mulai main sosmed Ask.fm ini, ternyata saya cuma diharuskan jawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh question engine. Pertanyaan awal ada 5 buah. Lalu setelahnya, saya mulai gerilya mencari teman untuk mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari mereka untuk saya jawab. Temen yang nanya bisa menyembunyikan identitas mereka melalui pertanyaan anonim, atau bisa juga nanya blak-blakan pakai identitas akun mereka. Jadi intinya kita minta pertanyaan ke temen-temen supaya kita bisa main di Ask.fm, kalau nggak ada yang nanya, ya udah kita nggak bisa apa-apa ngakses ini sosmed. Awal-awal, saya jarang banget dapet pertanyaan, paling-paling pertanyaan dari question engine Ask.fm itu sendiri. Tapi sekarang saya mulai dapet seharinya 4-5 pertanyaan, dan yang bikin saya heran adalah semuanya merupakan pertanyaan anonim. Dan yang bikin saya jengkel, pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan terkadang ngaco. Semisal:
- Kak, udah sarapan belom? Kalo udah, sarapan pake apa? Pake kenangan? Haha (Dia nyindir saya dengan pertanyaan ini saat saya udah putus sama Vanny.)
- Halo ka Keeeev! (Dia nyindir saya pake dimirip-miripin dengan Kevin Aprilio segala. Padahal, mirip aja enggak!)
- Gebetan lo namanya Cindy kan? (Frontal abis...)
Yah emang sih awalnya saya rada-rada jengkel juga dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, karena emang udah resiko saya main Ask.fm dan mengijinkan pertanyaan anonim masuk ke akun saya. Soalnya, kalau saya nggak mengijinkan pertanyaan anonim, bakalan sedikit pertanyaan yang saya terima. Tapi untungnya saya udah mulai paham kalau pertanyaan anonim emang kudu direspon secara woles dan dijawab seperlunya. Kalau udah mengandung ejekan yang kasar atau mengandung SARA, baru pertanyaan itu saya delete dan kalau perlu, saya block user-nya. Nevertheless, Ask.fm juga asyik kok kalo kita lagi bener-bener bosen. Ngeladenin pertanyaan ngaco punya keasyikan tersendiri lho. Untuk sekarang sih, saya udah tutup akun Ask.fm karena kesibukan yang makin menggila setiap harinya. Begitu juga dengan akun Path yang saya rasa nggak begitu ada gunanya lagi buat diakses karena saya masih suka dengan platform Twitter yang punya fitur serupa meski tak sama. Yang duluan ada pasti lebih sreg di hati dong, hehe!
Akun Instagram? Tuh kamu bisa lihat beberapa feeds saya yang saya jadikan widget di sidebar kanan blog ini bersama dengan widget Twitter yang masih berjaya bahkan sampai dengan post ini ditulis.
Yap, segini saja secara saya cuma pengen sharing cerita aja mengenai awal mula punya sosmed. Terima kasih bagi yang udah berkunjung dan membaca.






