Sesuai dengan niat saya untuk membahas mengenai kegiatan KKL yang saya ikuti beberapa hari yang lalu, maka sekaranglah waktu yang pas untuk memulainya. Saya akan bercerita sedikit demi sedikit, part demi part, atau episode demi episode (halah...) mengenai kegiatan KKL ini dan semoga nggak ada bagian yang terlewatkan di pembahasan saya kali ini.
Ini dia keluarga besar Pendidikan Bahasa Jepang Unnes angkatan 2013!
Saya berangkat KKL pada hari Minggu, 8 Februari 2015 pukul...
kurang lebih pukul 7 malam. Destinasi kita adalah ke Surabaya dan Malang,
dimana kegiatan KKL dilakukan di Nihonjin Gakkō atau Surabaya
Japanese School (Sekolah Orang Jepang) dan Universitas Negeri
Surabaya, yang keduanya berada di kota Surabaya. Saat di dalam bus, awalnya saya
duduk bersama dengan kedua temen saya yang bernama Angger dan Aufa, tapi
seterusnya, terutama di bagian belakang bus, penduduk tempat duduk mulai
amburadul alias ganti-ganti orang. Yah... tapi karena udah pewe sih
saya tetep stay di seat saya sembari dengerin
lagu dan menikmati pemandangan di luar jendela bus.
Di dalam bus, saya menikmati keramaian yang disebabkan oleh
temen-temen saya yang mulai menggila. Ada yang nyanyi keras-keras, ada yang
main gitar, ada yang ngebanyol, dan ada juga yang menderita karena menahan
hasratnya untuk buang air kecil. Saya bahagia saat itu, karena saya udah bisa
membaur dengan temen-temen kuliah saya, dan seterusnya saya ikutan menggila. Saya
ikutan nyanyi, saya ikutan ngebanyol, dan bahkan saya jadi korban banyolan temen-temen
saya. Dan hal yang paling saya syukuri adalah absennya bau dan suara muntahan
dari seseorang yang ada di dalam bus. Jujur aja saya paling jijik ngelihat
orang lagi muntah. Yah, mungkin ada yang muntah, tapi saya hargai mereka yang
menyembunyikan hal itu dari temen-temen yang lain.
Kok saya jadi bahas muntah ya?
Dalam bus, saya bener-bener menikmati suasana dan susah untuk
tidur, walaupun temen saya ada yang bilang kalo saya kadang tertidur tiap
beberapa menit sekali. Saya juga parno waktu itu, karena jika ada orang yang
tidur duluan di dalam bus, temen-temen saya yang super jahil bakalan memotret
wajah orang yang sedang tidur tersebut. Saya pikir... "Anjrit, gue musti bobo cantik nih..." dan sebagai hasilnya, saya mungkin
tertidur tiap beberapa menit sekali. Bukan apa-apa sih, karena saya waswas: saya
takut dipotret, dan saya takut kalo ngiler. Kampret banget, karena saat tidur
pun saya harus jaim. Tapi nggak
masalah, karena untungnya saya bisa mengimbangi kejahilan mereka dengan
tidur-tidur ayam yang lumayan nyenyak.
Skip, skip, dan skip lagi, akhirnya kita sampai di sebuah
penginapan, kalo nggak salah namanya adalah Pondok Haji. Saya lupa dimana
lokasinya, tapi kemungkinan masih kota Surabaya. Sesampainya disana sih saya
cuma merebahkan diri di kasur, mandi, dan sarapan bareng temen-temen yang lain.
Mengambil kesempatan, saya banyakin lauknya dan mengurangi nasi yang ada
dalam buffet saat sarapan. Kenyang sih, tapi akhirnya saya
nggak habis juga. Satu hal yang saya takutkan saat sarapan adalah saya takut
kebelet boker saat perjalanan nanti, makanya saya nggak menghabiskan seluruh
makanan yang saya ambil. Nyesel rasanya, tapi demi keamanan diri, ada baiknya
mencegah daripada kebelet di jalan.
Sebenernya ada beberapa foto yang menjelaskan suasana sarapan saat
di Pondok Haji ini, tapi saya belum mendapat file fotonya dari temen saya yang
pegang kamera. Saat saya udah ada file fotonya, pasti saya update kesini.
Saya pakai jas almamater saya, dan mulai packing untuk
persiapan kegiatan di Nihonjin Gakkō.
Sebelum berangkat, ada baiknya foto dulu bareng dosen.
Dalam perjalanan, saya ngelihat suasana kota Surabaya yang lebih
parah macetnya daripada kota Semarang. Ada banyak mall, gedung-gedung tinggi (saya
ngebayangin ada Spider-Man lagi
berayun disana), ada pusat kota yang luas, patung Hiu Sura dan Buaya yang
jadi simbol kota, bahkan banjir juga ada. Di sepanjang perjalanan, saya juga
diperdengarkan lagu-lagu mellow nan galau yang bikin saya
teringat sama Vanny. Kampret bener yang nyetel lagu begitu, mengingat kegiatan
ini harusnya untuk bersenang-senang, bukan untuk bergalau-galau. Tapi toh saya
menikmati lagunya, dan saya bersyukur juga karena lagu-lagu mellow nan
biadab tersebut mengingatkan saya akan janji untuk membeli oleh-oleh buat
Vanny.
Sesampainya di Nihonjin Gakkō, kita berbaris rapi untuk mengikuti
intruksi dari staff Nihonjin Gakkou, yang kemungkinan adalah
guru disana. Lalu kita diarahkan untuk menuju ke sebuah ruangan untuk
mendengarkan penjelasan apa itu Nihonjin Gakkō dari sang kepala sekolah, dan
mengikuti sesi tanya-jawab mengenai sekolah itu. Jadi intinya, Nihonjin Gakkō
itu adalah tempat dimana anak-anak dari orang Jepang (yang orangtuanya bekerja
di Indonesia atau orangtuanya beda negara) bersekolah dan diajarkan materi yang
mirip dengan materi pembelajaran di Jepang. Kelas dibagi menjadi beberapa
sub/bagian, dan saya rasa sistemnya seperti di TK, SD, SMP, dan SMA walaupun
semuanya di dalam satu lokasi.
Begini suasananya.
Setelahnya kita dipersilakan untuk
melihat-lihat suasana sekolah dan mendapat kesempatan untuk mengobrol atau
bercakap-cakap dengan murid-murid disana. Sempat, saya ngelihat ada siswi yang
cantik abis lagi papasan sama saya. Kira-kira seumuran dengan anak SMA. Pengen
sih saya sapa "Konnichiwa...", tapi setelah mendengarkan
dia ngoceh pake bahasa Jepang cepet banget bak Woody Woodpacker ketawa, saya
mengurungkan niat saya untuk menyapanya. Nggak lucu dong kalo jadinya begini:
Saya : "Konnichiwa,.."
Dia : "Konnichiwa. Asdfghjklqwertyuiop?
!@#$%asafdghdyuyw?"
Saya : "Anu... anu... itu..."
Otak saya bisa meletup nantinya.
Lalu, saya beserta rombongan mini yang
tiba-tiba aja ngumpul, berjalan menyusuri ruangan demi ruangan dan menemukan
ada beberapa anak seumuran anak SD kelas dua. Temen saya yang namanya Emfina
sempet nanya-nanya ke anak-anak itu dan seterusnya mereka malah main
kejar-kejaran bak film-film India. Emfina ini sampai banjir keringat saking
girangnya. Saya jadi pengen nyoba nanya salah satu anak, dan saya deketin
seorang anak laki-laki yang punya gaya rambut yang sama dengan saya.
Saya : "Konnichiwa." (Selamat siang.)
Anak : "Konnichiwa!" (Selamat siang!)
Saya : "Nani wo shitteiru no?" (Lagi ngapain
sih, Dik?)
Anak : "ORIGAMI!!!" (LAGI BIKIN ORIGAMI,
BAWEL!!!)
Dongkol rasanya digalakin sama bocah.
Setelah itu saya pergi dan ketemu sama si
Bayu. By the way, si Bayu ini adalah temen yang tadi menderita
gara-gara nahan hasrat pengen buang air kecil di bus. Tiba-tiba dia minta
difotoin dan saya mengiyakan dengan syarat saya harus difoto juga setelahnya.
Yak, adegan fotografer dan model abal-abal dimulai.
Cukup satu aja deh yang diupload.
Setelahnya saya mampir ke ruangan
olahraga. Ruangannya keren abis, nggak cuma keramik yang biasanya ada di
aula-aula olahraga kayak di sekolah-sekolah pada umumnya di Indonesia. Di
ruangan olahraga ini, lantainya alus banget, kayaknya sih terbuat dari papan
kayu yang dipoles dan dipernis sedemikian rupa sehingga jadi licin. Kalo mau
masuk ke situ, sepatu harus dilepas. Awalnya sih saya sama temen saya yang
namanya Dona nggak tahu ada aturan seperti itu dan masuk kesitu masih
mengenakan sepatu, tapi untungnya nggak ketahuan.
Di ruangan olahraga itu saya sempet main
basket bareng Angger, Ai, Lis, dan Wijay. Entah kenapa, tiap ada bola entah
bola sepak, bola basket, atau bola voli, saya pengen banget mainin bola itu
sesuai dengan olahraga yang menggunakannya. Kecuali bola bakso, kalo itu pengen
banget saya makan, hehehe. Setelah puas bermain basket karena saking keselnya, saya
menemukan ada piano yang terletak di ujung ruangan. Tanpa ba bi bu lagi, saya
buka piano itu dan mencoba memainkan beberapa melodi.
Thanks buat Aufa dan Nana untuk ketiga foto di atas.
Karena suaranya yang cukup keras untuk didengar, saya merasa nggak enak karena kemungkinan bisa mengganggu siswa-siswa yang lagi belajar, dan akhirnya saya berhenti memainkan piano tersebut. Saya lalu diajak selfie oleh beberapa temen, dan inilah foto-foto selfie yang kita ambil dari kamera milik Aufa.
Dari kiri ke kanan: Wahyu, Angger, Ai, Lis, saya, Wijay, Widya, Ester, dan Nana.
Saya paling nggak bisa nahan ketawa lihat si Ai dalam foto ini.
Ya ampun Ai... hahaha!
Akhirnya bener juga.
Aufa: "Sakitnya tuh disini..."
Aufa: "Sakitnya pindah kesini..."
Tutup hidung kalian ya, nafasnya Aufa emang bau.
Saya sarankan kalian pakai obat tetes mata setelah melihat foto-foto selfie kita barusan.
Setelahnya sih... seinget saya, kita briefing sebentar di ruangan awal kita berkumpul tadi. Lalu ada sesi penyerahan kenang-kenangan dari kita buat sang kepala sekolah, lalu tetep, kita foto bareng di depan Nihonjin Gakkō untuk kenang-kenangan.
Sesi penyerahan kenang-kenangan.
Awalnya segini...
Lalu membludak segini...
Tadaaa! Full team!
Yap, berakhirlah kegiatan pertama KKL di Nihonjin Gakkō. Kegiatan selanjutnya adalah menuju Universitas Negeri Surabaya, dan akan saya ceritakan di part dua entah nanti atau keesokan harinya. Terima kasih bagi yang udah baca, tunggu kelanjutannya di part dua.




















