Yep, Friendzone.
Entah dari mana asal dari satu kata ini, atau entah dari mana ini semua asalnya, sejujurnya saya nggak tahu sama sekali. Kebanyakan orang menyebutnya dengan istilah "PHP" alias Pemberi Harapan Palsu. Sebagian kecil menyebutnya dengan, yah, istilah Friendzone. Kira-kira apa sih Friendzone itu?
Om Wikipedia sendiri membahas Friendzone secara detil di website pribadinya.
"In popular culture, the "friendzone" refers to a platonic relationship where in one person wishes to enter into a romantic or sexual relationship, while the other does not. It is generally considered to be an undesirable situation by the lovelorn person. One sign of being friend zoned is being told that they are "considering" the relationship, or if a friend needs to help by asking for them. Once the friend zone is established, it is said to be difficult to move beyond that point in a relationship."
Bahwa dikatakan, Friendzone merupakan hubungan dimana seseorang menyukai, atau bahkan mencintai lawan jenisnya sementara lawan jenisnya tersebut menganggapnya tidak lebih dari teman biasa, atau kakak, atau teman yang benar-benar baik.
Saya sendiri sebenernya juga nggak paham mau menjelaskan gimana, nggak pernah ngerasain soalnya.
Jadi, tadi pagi, kebetulan jadwal kuliah kosong karena dosen lagi nggak bisa hadir. Seorang teman cerita sama saya, tanya-tanya ngalor-ngidul dia harus gimana. Wajahnya lesu, eh histeris, err.. berapi-api mungkin, alah siapa peduli. Pokoknya dia cerita dengan gamblang kalo dia jadi korban "Friendzone" ini.
Suatu waktu, dia diajak ketemu oleh temennya, kebetulan temennya itu cewek (iyalah...) dan bisa dibilang udah deket lah sama si temen saya ini, sebut aja namanya si A. Nah temen si A ini namanya si F. A cerita kalo dia diajak makan sama si F di sebuah mall di kawasan Simpang Lima. Si A heran, kok tumben F ngajak dia main, padahal sehari-harinya si F itu jarang ngontak A.
Akhirnya A mengiyakan ajakan F tersebut.
Sore hari, A jemput F di di suatu tempat, namanya taman KB, deket Smansa. Dia nunggu katanya sampe setengah jam lebih 13 menit (dia emang detil orangnya, hebat) dan akhirnya si F itu sampai. Sambil boncengan, mereka pergi ke mall buat makan bareng.
Entah kenapa... cewek memang makhluk yang aneh.
Lalu, si A ini cerita sama saya kalo sebenernya dia udah ngerasa panas-dingin aja waktu di deket F. Dia secara gamblang bilang kalo sebenernya dia suka sama F sejak dulu, tapi dia nggak berani buat menyatakan perasaannya, malah nyatain perasaannya ke saya (cuma cerita ding). Dengan adanya kesempatan itu, si A punya niat buat menyatakan perasaannya ke F malam itu juga.
Karena masih sore, akhirnya A memberanikan diri ngajak F nonton film The Insidious: Chapter 2 di bioskop deket mall. Sambil berdoa, komat-kamit semoga diiyakan ajakannya, A berharap. Tanpa disangka-sangka...
F mengiyakan ajakan A tanpa ragu-ragu.
Cewek memang kadang nggak bisa ditebak.
Mereka nonton, di tengah jejeritan kaum hawa yang parno nonton film horor itu, mereka bercanda, sesekali pegangan tangan. A ini bilang kalo seandainya si F itu pacarnya, dia bakal melakukan lebih dari itu (memang otaknya isinya mesum semua).
Singkat cerita, mereka akhirnya pulang setelah nonton film di bioskop. Berbekal uang yang pas, si A ini beliin si F satu kotak cokelat gede plus minuman isotonik. Dia, akhirnya, memberanikan diri melakukan sesuatu yang sakral.
A nembak F saat itu juga.
F, yang bingung mau bilang apa, cuma bisa nge-blush saking gugupnya. A nungguin. Setelah lama membisu, akhirnya si F bilang sesuatu yang nggak disangka-sangka sama si A. F cuma pengen ngasih hadiah ulang tahun kepada A, atas ulang tahunnya yang ke-18.
Jadi, si F itu ngajak ketemuan, makan bareng, mau mau aja diajak nonton sambil pegangan tangan, hanya karena mau nyerahin kado ulang tahun buat A.
Awalnya, A berterima kasih dan yakin 99% F bakalan mau nerima pinangan pacarannya.
Tapi si F nolak dengan halus, halus banget, sehalus bedak.
F bilang, selama ini A udah baik banget sama dia. Dia dulunya dianterin pulang terus sama si A, ditraktir sesekali sama si A, curhat mulu sama A, dan sebagainya. F, selama ini, cuma nganggep A itu lebih dari sahabatnya, lebih dari kakaknya, tapi kurang dari seorang pacar. Jadi, A bisa dibilang orang yang selalu ada buat F sebagai "teman pria yang sangaaaaat baik."
A melongo saking herannya.
Berasa dikecewain sama F, akhirnya dengan lunglai dia nerima hadiah dari F dan memberikan cokelat dan minuman isotoniknya. Mengantarkan F kembali ke asalnya, dan pulang sambil ngegalau ria. A bertekad, katanya, buat menjauhi F, semampu dia bertahan. *ceilah...*
Sialnya, F nggak mau ditinggal pergi maupun dijauhin sama A ini.
Akhirnya, A pun nyerah. Dia tetep bersikap biasa sama F entah sampai kapan.
Ini kata dia waktu cerita sama saya:
"Ben lah aku kayak ngene iki, lara sih sakjane, tapi nggo deknen aku ora apa-apa."
(Biarlah gue seperti ini, sakit sih sebenernya, tapi buat dia gue nggak masalah.)
Sakit memang.
Jadi, saya baru tahu apa itu "friendzone", gimana kejadiannya, siapa korbannya. Intinya, friendzone itu saat cinta kamu ditolak karena kamu dianggap laki-laki yang terlalu baik, atau kamu itu... yah begitulah. Memang mirip dengan istilah PHP, tapi friendzone ini korbannya adalah para kaum laki-laki.
Saran sih, kalo emang udah kejebak situasi friendzone ini, lebih baik kuatin tekad agar bisa jauh-jauh dari cewek-cewek kampret yang punya "alert" untuk jadi tukang friendzone buat kamu. Kalo bisa, jangan terlalu baik sama seorang cewek.
Bersikaplah cuek, Bro.
Agar nantinya kamu nggak jadi korban friendzone seperti ini. Banyak yang bilang, susah keluar dari zona teman ini. Tapi yah, kalo udah nasib, jalani aja dengan tekad yang kuat. Bikin statement kalo suatu hari kamu akan menemukan cewek yang sama, atau lebih, dari cewek yang mengakalimu dengan friendzone di hari ini.
By the way, sebenernya friendzone itu dilakukan cewek dengan tak sengaja. Beda dengan PHP yang dilakukan cewek ataupun cowok dengan sengaja.
Yep, itu aja sih.. Semoga berguna hehe.