Halo, blog tercinta, lama nggak posting apa-apa ya disini. Barusan saya lagi ngelamun, dan mikirin sesuatu yang harusnya nggak
perlu saya pikirin saat liburan sekolah seperti ini. Karena apa? Sesuatu yang
sedang saya pikirin bisa merusak mood dalam sekejap, padahal
seharusnya liburan itu dalam keadaan mood yang lagi
baik-baiknya.
Lalu, apa yang sekarang lagi saya
pikirin?
Daripada saya pikirin terus,
mending saya buang semua yang lagi saya pikirin di blog ini -
yep karena memang itulah gunanya - dan moga-moga aja abis posting,
pikiran dan mood saya bisa baik lagi.
Sesuatu yang sedang saya
pikirin ini berkaitan tentang sekolah.
Iya, tentang sekolah.
Saat lagi ngelamun sendiri,
terlintas pikiran, cuma sekelebat pikiran, yang bikin saya yakin bahwa pikiran
itu adalah satu-satunya tujuan saya sekarang. Pikiran itu adalah: "Saya
pengen cepet-cepet keluar dari SMA - dalam artian lulus – dan lanjut ke universitas
yang saya mau"
Di saat saya bertanya-tanya
dalam hati kenapa saya bisa punya tujuan seperti itu, pikiran saya langsung
memasuki mode "flashback", dimana saya teringat bahwa saya
belajar di sekolah yang nggak saya inginkan sejak awal, dan itu karena kesalahan
dari papa saya yang teledor, tapi saya nggak menyalahkan beliau, karena sistem
pendaftaran sekolah yang dari awal udah bullshit banget alias
sangat ribet, sangat menyulitkan, dibalik tujuannya yang
'katanya' memudahkan pendaftaran.
Err... yah kenapa jadi berubah
gini topiknya...
Yep, saya ngerasa, ini sangat
jujur, bahwa saya sebenernya nggak betah di SMA yang sekarang ini. Sebenernya
nggak ada yang salah dengan lingkungan dan guru-gurunya serta metode pelajaran
yang mereka ajarkan. Tapi, yang saya sesalkan cuma... nggak, bukan cuma, tapi
banyak yang saya sesalkan.
Mungkin seperti :
1. Nggak ada temen dari SMP
yang masuk ke SMA yang sekarang, dan otomatis itu buat saya mengulangi
pertemanan dari awal. Kenalan lah, tanya ini-itulah. Padahal, saya nggak
begitu suka hal kayak gitu, saya lebih suka diam, dan nggak mau memulai suatu
hubungan. saya lebih pengen orang mengerti situasi dan keadaan saya daripada
mengerti saya secara kepribadian.
2. Yep, udah saya telusuri secara mendalam bahwa orang-orang, maksud saya, murid-murid disana sebagian besar telah "rusak". Rusak karena alkohol, rokok, dan pergaulan. Hanya beberapa orang - bisa kok dihitung dengan jari - yang bener-bener berbudi baik dan nggak "rusak".
3. Temen-temen sekelas, yap, temen-temen sekelas yang selalu salah sangka tentang saya. Saya emang pendiam, tapi orang pendiam nggak selamanya kuper dan nggak pinter (saya nggak bilang bodoh). Saya penyendiri, bukan berarti saya sombong. saya paling muak tentang ini semua, apalagi sama orang-orang yang selalu bicarain saya dari belakang.
4. Ada sebuah ungkapan "maling teriak maling". Yaaah... ini yang paling konyol, aneh teriak aneh, alay teriak alay. Ada beberapa orang di kelas yang nganggap saya aneh karena saya suka banget menyendiri, sibuk dengan dunia saya sendiri. Wuih... padahal, dari gaya bicara mereka aja udah bisa dibilang alay, dari penampilan juga, dari yang sok aja udah ketauan kalau dia alay. Pendiem dan penyendiri itu beda lho sama tukang gosip dan tukang pamer.
Nah itu semua yang bikin saya
nggak betah, bener-bener kondisi yang nggak kondusif buat belajar. Tapi, dari
itu semua, sampai sekarang saya masih bela-belain buat belajar disana. Buat
masa depan, buat masuk universitas yang saya mau, dengan nilai-nilai yang nggak
mengecewakan. Itu tujuan, saya 'hanya' ingin belajar di sekolah, bukan buat
cari temen. Kalau emang ada yang nggak suka saya dan sifat saya, tolong jauhin saya,
itu udah cukup, nggak usah ngomongin saya dari belakang. Saya memang berbeda tapi bukan berarti itu jadi alasan bagi kalian untuk membicarakan saya terus setiap harinya.
Semoga aja waktu cepat berlalu.
Bisa cepet-cepet lulus, bisa kuliah di universitas favorit, dan bisa bekerja
buat cari tambahan uang.
That's all my burdens in my
mind.
With my respect to people who read it, forgive me if there is any mistake that I've done.
Thanks and see ya.
