“There is nothing either good or bad, but thinking makes it so.” — William Shakespeare
Kadang seperti ada dua sisi di dalam diri ini di saat saya sudah selesai melakukan sesuatu yang menurut saya
benar dilakukan. Harap diingat bahwa definisi
benar di sini adalah abu-abu, karena setiap orang masing-masing memiliki definisi tentang apa itu
benar. Salah satu sisi saya meragukan, “Apa yang saya lakukan ini sudah benar? Ataukah apa yang saya lakukan ini adalah sebuah kekeliruan yang besar?” dan salah satunya lagi berkata, “Kamu sudah membantu orang lain dalam menyelesaikan masalah mereka. Lagipula dari kejadian itu kamu tidak dirugikan, dan kamu pun tidak juga diuntungkan. Kamu hanya memberi jalan, dan tidak semua orang berani dan mau melakukan hal itu.”
Memang apa sih yang udah saya lakukan?
Baru-baru ini, bisa dibilang saya udah melakukan dan memimpin sebuah kegiatan yang bisa disebut dengan "pemberontakan". Oh bukan, yang saya lakukan bukanlah pemberontakan masif yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat dan mempunyai impact yang besar. Yang saya lakukan hanyalah memimpin para murid saya dalam memberontak kepada atasan saya yang udah kelewat batas dalam melakukan peraturan-peraturan otoriternya.
Saya paling tidak bisa melihat adanya orang-orang yang memiliki sikap otoriter; menggunakan kekuasaan yang mereka miliki untuk berbuat sewenang-wenang tanpa memperhatikan batas, norma, moral, bahkan melanggar hukum. Di samping kepribadian saya sebagai indigo humanis yang anti terhadap penindasan dan pengekangan dalam bentuk apapun, bukan berarti saya tanpa adanya empati sama sekali. Sebagai seorang pengajar, selain tugas saya mengajari murid-murid sedikit-banyak ilmu yang mereka butuhkan, saya juga didapuk menjadi pendengar dan pemberi solusi di saat mereka mengalami masalah ataupun kendala, karena memang seorang pengajar dituntut untuk bisa menjadi figur orangtua pula di lembaga pendidikan tempat dia bekerja, baik yang formal maupun yang non formal. Udah banyak murid yang curhat kepada saya, dan yang paling sering mereka keluhkan adalah mengenai peraturan-peraturan yang sangat ketat (bisa dibilang tidak manusiawi juga) di asrama tempat mereka menimba ilmu, dengan saya sebagai salah satu pengajarnya. Memang bagi saya pribadi, peraturan-peraturan yang dibuat oleh lembaga tempat saya bekerja banyak sekali yang melanggar batas-batas, terutama melanggar HAM. Saya yang awalnya nggak bisa berbuat apa-apa karena posisi saya sebagai bawahan di dalam pekerjaan, lama-kelamaan dibuat marah juga dengan peraturan-peraturan yang sebenarnya nggak merugikan saya sama sekali. Namun nurani saya seperti disakiti berkali-kali. Saya nggak bisa diam aja melihat kondisi murid-murid saya yang kian hari kian menderita, terlebih lagi dengan adanya ketidakpastian akan sesuatu yang belum tentu akan mudah mereka dapatkan di lembaga tempat saya bekerja.
Jadi apa yang saya lakukan? Ya memimpin murid-murid saya untuk berani memberontak. Mungkin memang istilah memberontak terdengar negatif bagi mayoritas orang, tapi yang saya lakukan untuk membantu mereka hanyalah memotivasi mereka untuk berani berpendapat dengan bebas, berani mengutarakan uneg-uneg, segala keluh kesah, untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang telah dilanggar. Mungkin yang saya lakukan terdengar sederhana, tapi puji syukur apa yang sudah saya lakukan pada akhirnya bisa membantu mengatasi penderitaan yang selama ini mereka alami. Banyak murid yang pada akhirnya keluar dari lembaga tempat saya bekerja, dengan harapan saya supaya mereka bisa menemukan lembaga yang lebih manusiawi lagi dalam memperlakukan seseorang, atau mungkin supaya mereka bisa menemukan kegiatan baru lainnya yang lebih positif. Saya memang nggak diuntungkan maupun dirugikan dalam masalah ini, tapi di satu sisi saya merasakan adanya kelegaan yang positif karena dapat membantu para murid saya yang selama ini menderita, dan di satu sisi lainnya saya merasa bersalah karena membuat atasan saya mengalami kerugian.
Dan dari sinilah saya mulai termangu, merenungi apa yang udah saya lakukan, memikirkan apa itu benar dan apa itu salah, memikirkan apa itu baik dan apa itu buruk...
 |
| Yin-Yang |
Memang kadang ada orang-orang yang diuntungkan dan dirugikan atas apapun yang kita perbuat, maka dari itulah definisi
benar menjadi sebuah ambiguitas yang tidak dapat terelakkan. Namun yang perlu diingat adalah bahwasanya konsep “benar untuk dilakukan” itu disetujui berdasarkan berapa banyak orang-orang yang diuntungkan atau terbantu atas perbuatan kita tersebut dan itu pun tanpa adanya keinginan pribadi untuk diuntungkan dalam pengambilan keputusannya. Kita merasa bersalah karena salah satu pihak mungkin dirugikan, tapi kita juga merasa lega karena salah satu pihak diuntungkan. Jadi bagaimana seharusnya? Yang terjadi biarlah terjadi, toh yang kita lakukan hanyalah sesuatu berdasarkan niat baik tanpa harus bagi kita untuk menjadi oportunis. Hidup itu selalu tentang keseimbangan antara hitam-putih,
yin-yang, maupun baik-buruk, selalu ada bayang-bayang selama kita hidup di dalam naungan cahaya. Selama ada orang-orang yang mencintai kita, akan ada orang-orang yang benci terhadap kita. Selama ada orang-orang yang diuntungkan terhadap perbuatan kita, akan ada juga orang-orang yang dirugikan atas perbuatan serupa. Dan juga selama ada kekuatan besar, disitu juga akan ada tanggung jawab yang signifikan. Tergantung, kita mau fokus melihat dari sisi yang mana: entah itu dari sisi positifnya, atau dari sisi negatifnya. Semua tergantung pada pandangan pribadi masing-masing.
Akhir kata, nggak ada satu pun perbuatan kita yang murni benar maupun murni salah. Semua tergantung pada diri kita sendiri mau melihat perbuatan kita dari sisi positif ataupun dari sisi negatif, mana yang paling membuat kita terdorong untuk melakukan suatu hal atau perbuatan. Jika kita berbuat sesuatu yang positif maka kita akan mendapatkan manfaatnya, dan jika kita melakukan sesuatu yang negatif maka kita akan mendapatkan konsekuensinya.
Baca Selengkapnya...