Selasa, 25 Mei 2021

Love Advice from Me to Myself


 Jika ditanya,

"Kenapa kamu mencintai seseorang?"

Dulu pasti saya jawab, "Untuk menebus kesalahan saya selama ini karena udah kehilangan seseorang." Alhasil, dengan mindset berupa redemption seperti itulah saya pasti gagal dalam berhubungan dengan seseorang karena saya mempunyai mindset mencintai untuk memperbaiki. Lain halnya sekarang, jika ditanya demikian, sejauh ini jawaban yang terpikirkan adalah, "Saya mencintai untuk melengkapi."  Tanpa mengubah atau memaksa, hanya mendampingi dan menerima bagaimanapun situasinya.


Mendampingi dan memiliki adalah dua hal yang sering disalahartikan sebagai sebuah kesamaan. Ibarat sarung pedang yang nggak akan pernah bisa memiliki pedangnya, begitupun sebaliknya. Mereka hanya saling mendampingi dan melengkapi. Pedang akan berkarat jika tak memiliki sarungnya, dan sarung pedang tak akan ada gunanya sendirian. Yang memiliki adalah pemegang keduanya: Tuhan selaku pemilik kita sebagai pedang maupun sarung pedang. Konsep 'heart of sword' ini saya adaptasi dari ajaran Hiten Mitsurugi mengenai keikhlasan hati yang bisa ditemui di animanga Rurouni Kenshin.


Masih menganggap anime dan manga sebagai hal yang kekanakan? Think again. :)


Bunga rumpai.



Satu hal lagi yang terpikirkan oleh saya adalah, "Saya mencintai bukan untuk memiliki, namun untuk memelihara."


Konsep tersebut saya dapatkan ketika saya berada di sebuah taman di dekat kawasan rumah. Ada seorang anak kecil yang berulang kali memandang terpesona ke arah setangkai bunga rumpai berwarna ungu di tepi taman. Setelah beberapa saat dia memandangi bunga tersebut, dia memetiknya. Sembari mengobrol dengan ibunya, dia menggenggam dan memainkan bunga tersebut dengan tangan mungilnya sampai bunga tersebut rusak, kelopaknya jatuh menyisakan tiga kelopak lainnya yang masih utuh. Setelah ibunya mengajaknya untuk pulang, anak tersebut membuang bunga rumpai ungu yang tadinya mekar dengan indah di tepi taman, sekarang terbuang tak berdaya di jalan aspal yang kotor dan berwarna gelap.


Jadi apa yang saya pikirkan dari kejadian tersebut?


Keinginan memiliki memang wajar dipunyai oleh manusia, namun semua itu ada batasannya sebab keinginan memiliki yang terlampau dalam justru akan menjadi sifat posesif yang tentu aja bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain. Seperti halnya anak kecil di atas, dia menggenggam dengan eratnya bunga rumpai yang tadinya baik-baik saja sampai bunga tersebut rusak oleh tangan kecilnya. Lain halnya jika si anak nggak ingin mengambil bunga tersebut tetapi dia berusaha untuk memandanginya saja, apalagi menyiramnya, dan merawatnya sampai bunga-bunga yang lain bermekaran. Tentu bunga rumpai tersebut akan bertambah banyak seiring berjalannya waktu. Begitu pula di saat kita berhubungan dengan seseorang. Terlalu posesif akan membuat orang lain menderita sebab dia akan merasa terkekang. Lagipula, kita nggak memilikinya sejak awal, karena kita bukan milik siapa-siapa, begitu juga seseorang yang kita cintai. Kita adalah milik kita sendiri. Yang bisa kita lakukan di saat memiliki hubungan dengan seseorang adalah saling memelihara dengan cinta dan kasih sayang, sampai kita bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi sejalan bersama pasangan kita. Oleh karena itu, cinta di antara kedua orang akan bisa terus tumbuh dan berkembang layaknya bunga rumpai yang seandainya dirawat juga dengan baik oleh seseorang.


Setia itu keren.


Bicara tentang kesetiaan...


Bagi saya yang susah terbuka sama orang lain, kita bisa dapat seseorang yang bisa bikin nyaman dan terbuka tanpa adanya feeling insecure itu udah beruntung banget. Trus kalau memang udah nyaman, pasti komitmen itu dengan sendirinya akan tercipta tanpa adanya ikrar-ikrar yang keluar dari mulut.


Kesetiaan yang bisa bertahan bahkan sampai 10 tahun lebih itu bagi saya udah keren banget, prestasi, meskipun perjalanannya bisa dibilang masih panjang karena dilanjut ke hubungan pernikahan. Setia itu keren, udah. Sekali dapet satu yang bikin kamu merasa dihargai aja (jelas tanpa adanya PENGEKANGAN dalam BENTUK APAPUN), pertahankan. Jarang ada orang setia jaman sekarang, maka jadilah salah satu di antaranya.

"Tapi aku dulu pernah diselingkuhin, pernah dapet pengalaman buruk waktu berhubungan sama seseorang, makanya sebelum diselingkuhin ya aku selingkuh duluan deh."

Itu sama aja ibarat kamu membunuh seorang pembunuh. Dianya mati, tapi giliran kamu sekarang yang jadi pembunuhnya. Nggak akan selesai. Kalau memang dulu kamu punya pengalaman nggak enak soal berhubungan dengan seseorang, harusnya itu justru bisa menjadikan kamu bersikap lebih dewasa dengan belajar memperbaiki diri dari pengalaman yang udah-udah. Kalau nggak mau dikhianati ya jangan mengkhianati. Kalau kamunya yang dikhianati ya biar dia nanggung akibatnya sendiri. Pengkhianat hidupnya nggak akan pernah tenang dan bahagia.


Be my Mary Jane...


Aku terus belajar, supaya aku bisa benar dalam memimpin dan kamu nggak akan punya pasangan yang bodoh nantinya.

Aku berlatih menggambar, supaya aku bisa menikmati tiap momen keindahanmu meski saat kita menua nanti.

Aku pengen menguasai banyak bahasa, supaya kita nggak repot waktu traveling keluar negeri suatu saat nanti.

Aku berusaha dewasa, mendengarkan, dan bertindak sebagai konselor gratisan, supaya aku bisa lebih mengerti kamu, dan di saat kamu ingin berkeluh kesah, kamu bisa lari duluan ke aku.

Aku berusaha sepeka ini sekarang, supaya aku bisa tahu tatkala kamu gundah tanpa harus kode-kodean terlebih dahulu.

Aku belajar masak dan bersih-bersih juga, supaya aku nggak merepotkan kamu terus-terusan saat kita satu rumah nanti.

Tapi jika urusan finansial, tunggu dulu ya. Suatu saat, kita tahu aku yang akan menafkahimu. Masih ada banyak hal di dalam diriku yang ingin kukembangkan terlebih dahulu. Itu semua pun supaya kamu bisa punya pasangan yang unik dan nggak mempunyai ciri yang sama di pria-pria yang lainnya. Beginilah caraku bermuhasabah, beginilah caraku memantaskan diri.


Untuk kamu, yang sekarang udah menjadi pasanganku. :)

Baca Selengkapnya...

Kamis, 25 Maret 2021

Definisi Benar-Salah yang Cukup Membuat Dilema


There is nothing either good or bad, but thinking makes it so. — William Shakespeare

Kadang seperti ada dua sisi di dalam diri ini di saat saya sudah selesai melakukan sesuatu yang menurut saya benar dilakukan. Harap diingat bahwa definisi benar di sini adalah abu-abu, karena setiap orang masing-masing memiliki definisi tentang apa itu benar. Salah satu sisi saya meragukan, “Apa yang saya lakukan ini sudah benar? Ataukah apa yang saya lakukan ini adalah sebuah kekeliruan yang besar?” dan salah satunya lagi berkata, “Kamu sudah membantu orang lain dalam menyelesaikan masalah mereka. Lagipula dari kejadian itu kamu tidak dirugikan, dan kamu pun tidak juga diuntungkan. Kamu hanya memberi jalan, dan tidak semua orang berani dan mau melakukan hal itu.”


Memang apa sih yang udah saya lakukan?


Baru-baru ini, bisa dibilang saya udah melakukan dan memimpin sebuah kegiatan yang bisa disebut dengan "pemberontakan". Oh bukan, yang saya lakukan bukanlah pemberontakan masif yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat dan mempunyai impact yang besar. Yang saya lakukan hanyalah memimpin para murid saya dalam memberontak kepada atasan saya yang udah kelewat batas dalam melakukan peraturan-peraturan otoriternya.


Saya paling tidak bisa melihat adanya orang-orang yang memiliki sikap otoriter; menggunakan kekuasaan yang mereka miliki untuk berbuat sewenang-wenang tanpa memperhatikan batas, norma, moral, bahkan melanggar hukum. Di samping kepribadian saya sebagai indigo humanis yang anti terhadap penindasan dan pengekangan dalam bentuk apapun, bukan berarti saya tanpa adanya empati sama sekali. Sebagai seorang pengajar, selain tugas saya mengajari murid-murid sedikit-banyak ilmu yang mereka butuhkan, saya juga didapuk menjadi pendengar dan pemberi solusi di saat mereka mengalami masalah ataupun kendala, karena memang seorang pengajar dituntut untuk bisa menjadi figur orangtua pula di lembaga pendidikan tempat dia bekerja, baik yang formal maupun yang non formal. Udah banyak murid yang curhat kepada saya, dan yang paling sering mereka keluhkan adalah mengenai peraturan-peraturan yang sangat ketat (bisa dibilang tidak manusiawi juga) di asrama tempat mereka menimba ilmu, dengan saya sebagai salah satu pengajarnya. Memang bagi saya pribadi, peraturan-peraturan yang dibuat oleh lembaga tempat saya bekerja banyak sekali yang melanggar batas-batas, terutama melanggar HAM. Saya yang awalnya nggak bisa berbuat apa-apa karena posisi saya sebagai bawahan di dalam pekerjaan, lama-kelamaan dibuat marah juga dengan peraturan-peraturan yang sebenarnya nggak merugikan saya sama sekali. Namun nurani saya seperti disakiti berkali-kali. Saya nggak bisa diam aja melihat kondisi murid-murid saya yang kian hari kian menderita, terlebih lagi dengan adanya ketidakpastian akan sesuatu yang belum tentu akan mudah mereka dapatkan di lembaga tempat saya bekerja.


Jadi apa yang saya lakukan? Ya memimpin murid-murid saya untuk berani memberontak. Mungkin memang istilah memberontak terdengar negatif bagi mayoritas orang, tapi yang saya lakukan untuk membantu mereka hanyalah memotivasi mereka untuk berani berpendapat dengan bebas, berani mengutarakan uneg-uneg, segala keluh kesah, untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang telah dilanggar. Mungkin yang saya lakukan terdengar sederhana, tapi puji syukur apa yang sudah saya lakukan pada akhirnya bisa membantu mengatasi penderitaan yang selama ini mereka alami. Banyak murid yang pada akhirnya keluar dari lembaga tempat saya bekerja, dengan harapan saya supaya mereka bisa menemukan lembaga yang lebih manusiawi lagi dalam memperlakukan seseorang, atau mungkin supaya mereka bisa menemukan kegiatan baru lainnya yang lebih positif. Saya memang nggak diuntungkan maupun dirugikan dalam masalah ini, tapi di satu sisi saya merasakan adanya kelegaan yang positif karena dapat membantu para murid saya yang selama ini menderita, dan di satu sisi lainnya saya merasa bersalah karena membuat atasan saya mengalami kerugian.
 

Dan dari sinilah saya mulai termangu, merenungi apa yang udah saya lakukan, memikirkan apa itu benar dan apa itu salah, memikirkan apa itu baik dan apa itu buruk...


Yin-Yang


Memang kadang ada orang-orang yang diuntungkan dan dirugikan atas apapun yang kita perbuat, maka dari itulah definisi benar menjadi sebuah ambiguitas yang tidak dapat terelakkan. Namun yang perlu diingat adalah bahwasanya konsep “benar untuk dilakukan” itu disetujui berdasarkan berapa banyak orang-orang yang diuntungkan atau terbantu atas perbuatan kita tersebut dan itu pun tanpa adanya keinginan pribadi untuk diuntungkan dalam pengambilan keputusannya. Kita merasa bersalah karena salah satu pihak mungkin dirugikan, tapi kita juga merasa lega karena salah satu pihak diuntungkan. Jadi bagaimana seharusnya? Yang terjadi biarlah terjadi, toh yang kita lakukan hanyalah sesuatu berdasarkan niat baik tanpa harus bagi kita untuk menjadi oportunis. Hidup itu selalu tentang keseimbangan antara hitam-putih, yin-yang, maupun baik-buruk, selalu ada bayang-bayang selama kita hidup di dalam naungan cahaya. Selama ada orang-orang yang mencintai kita, akan ada orang-orang yang benci terhadap kita. Selama ada orang-orang yang diuntungkan terhadap perbuatan kita, akan ada juga orang-orang yang dirugikan atas perbuatan serupa. Dan juga selama ada kekuatan besar, disitu juga akan ada tanggung jawab yang signifikan. Tergantung, kita mau fokus melihat dari sisi yang mana: entah itu dari sisi positifnya, atau dari sisi negatifnya. Semua tergantung pada pandangan pribadi masing-masing.


Akhir kata, nggak ada satu pun perbuatan kita yang murni benar maupun murni salah. Semua tergantung pada diri kita sendiri mau melihat perbuatan kita dari sisi positif ataupun dari sisi negatif, mana yang paling membuat kita terdorong untuk melakukan suatu hal atau perbuatan. Jika kita berbuat sesuatu yang positif maka kita akan mendapatkan manfaatnya, dan jika kita melakukan sesuatu yang negatif maka kita akan mendapatkan konsekuensinya.
Baca Selengkapnya...

Jumat, 18 Desember 2020

Listening is Essential in Order to Understand Others

"I have a problem..." I started the conversation, and told her, one of my friends, about the point of my problem, hoping to be mere listened.

"Yeah me too!" she answered, "That's exactly what I wanted to tell you. As you have a knack to listen and predict someone else's feeling, will you listen to my story? It's bla-bla-bla..."


I even haven't told any word, but she kept talking anyway. Then, I viewed her background, slightly about her past — forgive me for this clairsentience ability — that she always obeys her parents without objection, that she'd never gotten listened by her parents, siblings, or even friends...


I felt pity of her, and decided to bottle-up my problem instead, opted to listen to her story, acting like a proper counselor to her problematic life.


*****


"Hello?" I greet someone else by WhatsApp call.

"Shalom! How I am surprised— knowing that you make the first call even to me." a young lady's voice answered to my call, "What happened?" she asked.

"I have a problem..." I tried to be straightforward to the point, "Would you want to listen?"

"Oh, so the great parapsychologist can have a problem too, it seems? I thought people's problem are his problem as well." she said it jokingly.

"I'm serious. I think you're the only one who can listen with care, like a mother. I'm sorry if I'm... uh... bothering you, and your husband too."

"Dika, I might not an indigo or so called empath just like you. But a trait of 'motherly figure' can always be found in any good woman in this life, and there are good women you can choose carefully: Find a woman who can listen to you cautiously. Don't act that you can handle anything by yourself like a hero, and don't forget about people who already be there with you since the beginning." she started to tell me more than I expected.

"Yeah," I laughed a bit, noticing that she already spoke like a mother, "you're the one of a kind."


*****


The point can be learned from my experience above is sometimes we forget how to listen each other properly.


In my humble opinion, understanding can be built if we talk and then listen mutually. It couldn't be built if we only talk and talk and talk without any intention to listen to others carefully. That's why, nowadays misunderstanding can be found everywhere, since people now only hear anything they want to hear, such as compliment, gossip, or any useless thing that can be heard anywhere. In fact, something we don't wanna hear can improve ourselves to be better instead, in example: advice or critic. Also, people nowadays always talk about something they want to talk, ignoring the necessity about it, the good or bad about it, without thinking about any consequence they will bear about something they have said in advance. Words are sharper than a sword, so better be careful if we wanna say something.


It can be concluded: conflict and misunderstanding will born if there's no understanding behavior among people, even in family or friend relationship.

Baca Selengkapnya...

Kamis, 19 November 2020

Life Lessons Worth to Remember


For me, there are at least 27 life lessons that are worth to remember, such as:
  1. Nobody has it all figured it out.
  2. Being nice is overrated by people nowadays. But being kind, being fair, be understanding, they’re not worth it because people regard them as not “nice”.
  3. To love means to be vulnerable, so let your guard down.
  4. It’s either good or bad, you can almost learn everything from everybody.
  5. Embrace all of your emotions. Don’t ignore them, don’t mask them, just embrace them so you’ll feel lighter.
  6. Traveling alone is better than being with bad companies.
  7. Unlearning something is just as important as learning it.
  8. Nobody prepares you to watch your parents grow old. Always take care of them.
  9. Own up to your mistakes, and do what you said you will do.
  10. Maturity is about accepting that you won’t get the answers to everything that hurts you the most, so heal anyway.
  11. One of the most important decisions you will make in your life is whom you have children with. So choose your future spouse wisely.
  12. Having women friends are super cool, but DON’T EVER try to sleep with them.
  13. You don’t have to learn everything in a hard way, though.
  14. One day, you’ll need to be forgiven by others, so please learn to forgive others sincerely.
  15. Instead of buying your children anything they didn’t have, it’s better to teach them anything they don’t know.
  16. Never let your inner child die.
  17. If there are people who don’t treat you as good as you treat them, they don’t deserve to be in your life.
  18. Nobody can read minds, so speak up on how you feel.
  19. Don’t ever feel bad about promoting yourself.
  20. If you value your time, it’s better to say “no” to anything that you don’t absolutely want to do.
  21. Spending time alone is one of the best things in life you are able to do.
  22. Don’t forget to celebrate your own accomplishment. Don’t worry, it’s called “self-love”, not “riya”. Because if you care too much about what other people think or say about you, you are EFFECTIVELY becoming their slave.
  23. Be so busy to improve your life so that you don’t have time to JUDGE or CRITICIZE others.
  24. Everyone you love will eventually die, so spend your time with your beloved ones and keep them close.
  25. Listen to UNDERSTAND, not to RESPONSE.
  26. Hang out with people from different races, religions, ethnicities, and social economic occasionally. Your knowledge will eventually grow and you can be an open minded person.
  27. You CANNOT pour anything from an empty cup. Take care of yourself before you take care for others.

Thank you.
Baca Selengkapnya...

Minggu, 04 Oktober 2020

Ashley Johnson - Through the Valley





I walk through the valley of the shadow of death
And I fear no evil because I'm blind to it all
And my mind and my gun they comfort me
Because I know I'll kill my enemies when they come

Surely goodness and mercy will follow me all the days of my life
And I will dwell on this Earth forever more...
Said, I walk beside the still waters and they restore my soul
But I can't walk on the path of the right because I'm wrong

Well I came upon a man at the top of a hill
Called himself the savior of the human race...
Said he come to save the world from destruction and pain
But I said, "How can you save the world from itself?"

Because I walk through the valley of the shadow of death
And I fear no evil because I'm blind...
Oh, and I walk beside the still waters and they restore my soul
But I know when I die my soul is damned

But I know when I die my soul is damned...
Baca Selengkapnya...